(Novel Ketiga = Puskesmas Di Tengah Hutan)
Berawal dari rasa geram Nala pada pemilik kos-an membuatnya nekat untuk pindah yang ternyata, malah membawanya kepada pusaran terror ghaib nan mencekam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Misteri
"Ada apa La, kenapa teriak?" tanya Gendis.
Nala terlihat bingung dan terkejut sebelum kemudian menggelengkan kepala.
"Ada apa?"
"Enggak kok mbak, aku jadi takut aja kalau nanti malam denger suara itu lagi."
"Percaya gak kalau aku setiap hari juga dengar?"
"Sejak kapan mbak dengernya?"
"Sejak pertama kali nempatin kossan ini."
"Jadi benar."
"Apanya yang benar?"
"Suara itu akan selalu ada dan tidak akan pernah menghilang."
"Sepertinya begitu. Saranku, biarkan saja!"
"Mbak Gendis sudah terbiasa?"
"Benar."
"Aku masih belum."
"Masih banyak yang belum kamu lihat."
"Apa, ada apa lagi?"
Gendis hanya tersenyum dan kian membuat Nala merasa takut.
"Ayo tidur!"
"Iya mbak."
"Mau televisinya dimatikan atau dibiarkan menyala saja?"
"Dimatikan," jawab Nala cepat.
"Kamu kenapa Nala? jangan bilang kalau kamu takut sama TV?" tanya Gendis lalu tertawa kecil.
Nala nyengir tanpa memberikan jawaban. Gendis merebahkan diri dan langsung memejamkan mata. Sementara Nala kesulitan untuk tidur. Pikirannya melayang ke mana-mana. Akhirnya, ia menuliskan keseluruhan kisah yang diceritakan Gendis dan mengirimkannya kepada Reza melalui pesan whatsapp.
[ Ini kisah nyata? ] - tanya Reza membalas pesan panjang yang Nala kirimkan.
[ Sepertinya iya karena katanya, dia tahu dari cerita warga di sini. Berarti sudah diceritakan secara turun temurun. ]
[ Aku jadi penasaran, apa perlu kita cari tahu besok? ]
[ Aku juga penasaran tapi untuk mencari tahu, biar kupikirkan dulu! ]
[ Baiklah kalau begitu. Kamu tidur gih sudah malam! ]
[ Ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan. ]
[ Apa? ]
[ Tidak bisa sekarang, besok saja! ]
[ Baiklah, sekarang tidur ya!" ]
[ Iya. ]
Nala meletakkan ponselnya di nakas lalu menatap Gendis yang sudah terlelap. Kini, pandangannya beralih ke TV tabung di atas meja dan kemudian mengedar ke seluruh ruangan. Tak ada yang ganjil kecuali acara televisi tadi.
"Bagaimana bisa sama?" benak Nala.
Ternyata, adegan televisi yang membuat Nala terkejut menunjukkan dua orang yang sedang berbincang dimana salah satunya tengah bercerita dan yang satu lagi mendengarkan. Adegan itu sama persis seperti yang tengah Nala dan Gendis lakukan. Bahkan, posisi duduk dan arah pandangannya pun sama. Wajar jika Nala langsung terjingkat kaget. Terlebih, yang seolah mengilustrasikan Gendis di acara televisi itu adalah pemeran gadis yang bunuh diri. Hal ini berhasil mengacaukan pikiran Nala dan membuatnya tak bisa tenang.
"Kenapa bisa begini?" benak Nala.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kenapa acara televisi itu seolah mengilustrasikan kisah yang mbak Gendis ceritakan?"
"Kenapa juga ada adegan dua orang yang yang sedang berbincang persis seperti yang kulakukan dengan mbak Gendis tadi?"
"Yang lebih aneh lagi, pemeran si gadis yang bunuh diri sama dengan yang memerankan mbak Gendis. Apa mungkin....?"
"Ah gila! pikiran macam apa ini? jelas-jelas mbak Gendis di sini dan masih hidup."
"Lantas, bagaimana menjelaskan adegan dalam televisi tadi? mungkinkah hanya sebuah kebetulan?"
"Sungguh aku ingin mempercayainya sebagai sebuah ketidaksengajaan tapi hatiku terus menolak."
Nala menggelengkan kepalanya.
"Otakku sungguh kacau sekarang, sebaiknya aku tidur saja."
Pada akhirnya, Nala menarik selimutnya dan kemudian memejamkan matanya. sementara Gendis bangun dari tidurnya, memandang Nala sesaat lalu mengulas senyum mencurigakan sebelum kemudian kembali memejamkan mata.
...🌸🌸🌸...
Seperti yang telah Nala duga, suara orang mandi kembali terdengar pada jam satu malam.
"Suara ini," gumam Nala seraya membuka matanya perlahan.
"Abaikan abaikan abaikan!"
Suaranya terdengar jauh lebih jelas karena letak kamar mandi dan kamar nomer empat yanga bersebelahan.
"Nala abaikan, jangan pedulikan, tidur saja!" ucap Nala pada dirinya sendiri.
Nala berusaha untuk kembali tidur namun tidak bisa. Akhirnya ia pun terjaga di balik selimut tebalnya. Rasa takut menggelayuti cepat. Nala meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Reza.
[ Suaranya sudah terdengar yang. ]
Di tempat lain, Reza membaca pesan Nala sembari melihat jam di ponselnya.
"Jam satu," gumam Reza pelan.
[ Kamu tenang ya! abaikan saja dan kalau bisa, dibuat tidur! ] - Balas Reza.
[ Aku takut tapi aku coba tenang. Suaranya jelas banget ini.]
[ Baca doa yang! ]
[ Iya sambil aku coba buat tidur. ]
Reza menatap lama papan ketik di ponselnya. Dia bingung harus menuliskan apa sebab dia sendiri telah merasakan betapa ngeri kondisi yang sedang Nala hadapi. Sementara itu, Nala memejamkan matanya sembari menggenggam erat ponsel di tangan.
"Nala.."
Nala terjingkat seketika.
"Astaga mbak Gendis, kaget aku."
"Sekaget itu?"
"Suara orang mandi lagi mbak."
"Kamu gemetar jadi aku panggil, takut kamu kenapa-kenapa."
"Aku takut."
"Gak ada apa-apa kok, aku aja habis dari sana."
"Mbak Gendis kok gak takut sih?"
"Apa yang mesti ditakutin, toh suaranya juga udah hilang sekarang. Sudah-sudah ayo tidur!"
"Sepertinya benar kata Jasmin, aku mulai merasa kalau mbak Gendis aneh," benak Nala.
"Gak tidur La?"
"Tidur kok mbak, ini aku mau tidur."
Gendis mengulas senyum dan kemudian mengganti posisi tidurnya lalu memejamkan mata. Begitu pun dengan Nala.
"Serius, mbak Gendis aneh, ada sesuatu yang mengganjal tapi aku tidak tahu, apa yang mengganjal itu," ucap Nala di dalam hati.
...🌸🌸🌸...
Sekitar pukul lima pagi, Nala terbangun. Gendis masih terlelap di sampingnya. Nala membuka pintu pelan lalu berjalan kembali ke kamar. Sementara Gendis hanya menatap ke arah pintu saat Nala telah menutupnya.
Nala bergegas untuk mandi dan tak lupa menghampiri kamar Gendis hendak membangunkannya, khawatir ia akan terlambat bekerja. Namun ternyata, Gendis malah telah bersiap rapi dan tengah memakai sepatunya.
"Loh.. kan aku yang bangun duluan," benak Nala.
"Ada apa La?" tanya Gendis.
"Aku kira mbak Gendis belum bangun."
"Udah kok."
"Makasih ya mbak udah diizinin menginap semalam."
"Jangan sungkan, kalau mau menginap lagi juga gak apa-apa."
Nala tersenyum.
"Yaudah kalau mbak Gendis udah bangun. Aku mau siap-siap dulu terus ke kampus!"
"Iya."
Nala lantas kembali ke kamarnya lalu mulai berhias. Batinnya dipenuhi tanya perihal kapan Gendis bangun, kapan dia mandi, kenapa waktunya begitu cepat. Namun sudut hatinya yang lain masih mencoba untuk berpikiran positif.
"Mungkin mbak Gendis sengaja gak mandi karena takut terlambat kerja."
Nala tertawa.
"Ya-ya-ya, itu baru masuk akal."
Tak lama kemudian, Reza datang dan mereka pun berangkat bersama ke kampus.
...🌿DONE 🌿...
ada swara g ada bntuk
🏃🏻🏃🏻💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨
makasih Thor 🤗