COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kepulangan seseorang
Hari demi hari dilalui oleh Raihanah dengan baik, dia mulai bisa menempatkan diri dimana dia berada saat ini. Semua santriwati riuh, gempar, saat ada seorang pria melangkah keluar dari masjid setelah sholat ashar. Raihanah juga penasaran dan ikut memperhatikan pria itu.
”Oh, biasa aja. Aku kira kayak apa” imbuh Raihanah dan melangkah pergi. Ia terdiam melihat Zaenab berlari, bahkan melewatinya dan Raihanah melihat kedua mata gadis itu merah dan berair.
”Dia kenapa sih?” ucap Raihanah, lalu berbalik.” Nab, Zaenab!” teriaknya, tapi Zaenab tidak mendengar. Dia seolah tuli dan menerobos masuk diantara santriwati yang lain, bibir Zaenab mengukir senyum. Melihat Mirza, pria itu pulang setelah menyelesaikan pendidikan nya di Yaman.
Raihanah sudah keluar dari asrama putri, dia mendongak ke atas menatap teman-temannya sibuk memperhatikan seseorang dari balkon. Raihanah menoleh dan memperhatikan Mirza.
”Biasa aja ah" santai Raihanah dan berlalu pergi, dia mau membeli sesuatu ke koperasi pesantren. Mirza terdiam memperhatikan gadis bermata coklat kebiruan itu, wajahnya yang cantik dibalut kerudung berwarna maroon. Raihanah belum bisa memakai kerudung segi empat, dia selalu memakai kerudung instan. Gampang dan cepat.
”Masya Allah, a Mirza” ucap Santi. Sontak Zaenab menoleh sinis.
”Ganteng nya, tambah ganteng setelah lama di yaman.” Timpal Zahra.
”Beruntungnya gadis yang akan menjadi istri a Mirza” imbuh Tria.
Zaenab diam dan mundur menjauh dari balkon, meninggalkan semua orang dan Mirza melihatnya sekilas tadi.
”Mau beli apa Rai?” tanya Fahira.
”Aku mau pena yang begini ada gak?” ucap Raihanah menunjukkan pena nya yang sudah habis.
”Ada” jawab Fahira dan Raihanah tersenyum. Raihanah membeli dua dan dia pergi untuk kembali ke asrama.
”Neng” panggil umi Nailah, Raihanah terdiam. Melirik kanan-kiri, entah memanggil siapa istri pak kyai itu.” Kamu, sini” titahnya.
Raihanah terkejut.” Aku?” katanya berbicara sendiri, dan melangkah mendekati umi Nailah.
”Ada apa umi?” ujar Raihanah bertanya.
”Nama kamu siapa?”
”Raihanah” jawab Raihanah.
”Bisa bawa motor gak?”
”Bisa” singkat menjawab. Raihanah merasa canggung berhadapan dengan umi Nailah.
”Bisa anterin umi gak? Ini pesanan kue harus diantar, di rumah lagi gak ada orang. Anterin umi ya” pinta umi Nailah, Raihanah diam dan melirik kanan-kiri. Untuk menolak, mana dia bisa. Suara umi Nailah yang begitu lembut membuatnya merasa terbuai, ternyata seperti yang diceritakan semua orang bahwa istri pak kyai sangat baik.
”Oh ya udah umi, Rai anterin” Raihanah setuju, umi Nailah memberikan kunci motor dan Raihanah naik duluan." Pegangan ya mi” sambungnya.
”Iya, jangan ngebut ngebut” pinta umi Nailah dan Raihanah mengangguk, motor melaju dan Raihanah berusaha santai walaupun dia gugup saat ini. Jika wanita yang dia bonceng lecet, mati dia berhadapan dengan gus Fashan.
Setelah sekian lama, keduanya tak kunjung kembali. Gus Fashan sudah kelabakan mencari uminya, entah kemana uminya pergi.
”Lihat umi gak ya?” tanya Gus Fashan kepada santri.
”Tadi sama santriwati gak tahu kemana Gus" jawab santri dan Gus Fashan terdiam.
”Kalian boleh pergi" ujar gus Fashan, mereka pun pergi dan Gus Fashan kembali ke rumah, dia mengambil kunci motor dan menelepon umi Nailah. Suara motor berhenti di depan rumah membuat gus Fashan penasaran, dia meletakkan kunci motor dan hapenya.
Betapa terkejutnya gus Fashan melihat uminya bersama Raihanah.
”Kamu bawa kabur kemana umi saya?” seru Gus Fashan lantang, tanpa aba-aba dan membuat Raihanah kaget.
”Astaghfirullah hal adzim” seru umi Nailah. Dia tatap wajah merah Raihanah, gadis itu kaget bukan takut.
Plak..
Umi Nailah memukul lengan Gus Fashan.” Siapa yang bawa kabur umi, Raihanah malah bantuin umi. Kamu asal nuduh aja” tutur umi Nailah seraya merangkul bahu Raihanah.
”Ya umi nya ngapain pergi gak bilang-bilang, aku gak tahu” imbuh gus Fashan dan Raihanah menahan tawanya. Umi Nailah mendelik sebal kepada putranya itu, Raihanah mengulurkan sedikit lidahnya, dia buat kedua mata indahnya itu menjadi juling, dia mengejek gus Fashan yang kena marah umi Nailah.
”Dasar bocil” cibir gus Fashan dalam hati.
”Ayo masuk” ajak umi Nailah dan Raihanah mengangguk. Gus Fashan menggeleng kepala dan memilih pergi, dia tenang setelah uminya ada dan baik-baik saja.
Kali pertama Raihanah masuk kedalam rumah pak kyai, dia diminta duduk dan umi Nailah membuatkan minuman dingin. Wanita itu kembali dari dapur dan Raihanah tersenyum, dia menatap kue di atas piring dan menatap minuman dingin berwarna oranye itu, dia sangat haus.
”Ayo di minum, ini kue buat kamu” ujar umi Nailah sangat ramah. Raihanah tersenyum lebar.
”Rai coba ya” ucap Raihanah, mengambil satu kue dan segelas minuman dingin itu.
”Iya” singkat umi Nailah.
Raihanah meminum air nya dua kali tegukan, gelas itu tersisa setengah dan Raihanah meletakkannya kembali. Umi Nailah diam dan terus tersenyum dibalik niqobnya. Raihanah mencoba kue buatannya begitu semangat.
”Ini beneran umi yang bikin?” ucap Raihanah, dia sangat suka kue kukus, wanginya begitu memanjakan hidung.
”Iya, enak gak?”
”Enak banget umi, Rai baru tahu kalau umi jualan kue. Buka toko juga?”
”Cuma jualan di rumah, anak-anak yang bantuin”
Raihanah mengangguk-anggukkan kepalanya dan memakan kue di tangannya sampai habis, Raihanah diam memperhatikan foto gus Fashan saat kecil di dinding.
”Mukanya songong dari kecil ternyata” cibir Raihanah dalam hati.
Dia tersenyum saat mengalihkan pandangannya kepada umi Nailah.
”Umi, Rai harus pergi. Harus siap-siap, kalau mandi lewat dari jam 5. Nanti di hukum” ujar Raihanah, padahal Nailah sendiri yang membuat peraturan tersebut, untuk menerbitkan semua santri agar sholat Maghrib tepat waktu. Mengantri untuk mandi membutuhkan waktu, semuanya harus sudah siap sebelum jam 5 sore.
”Iya, makasih udah mau nganterin umi tadi. Ini kue bawa aja, dan ini juga buat beli pulsa. Terima kasih ya” tutur umi Nailah, memberikan kue dan uang jajan untuk Raihanah. Raihanah menolak dan hanya mengambil kue nya saja.
”Rai mau kue aja umi, gak usah ngasih uang. Kalau butuh bantuan lagi, bilang aja ya” ucap Raihanah sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi putih dan kecil tersusun rapih, membuat wajah cantik itu semakin indah dipandang.
”Gak apa-apa, ayo ambil”
Raihanah tetap menggeleng kepala, jurus teraman adalah dia harus segera pergi.” Rai harus buru-buru, terimakasih kue nya. Assalamu'alaikum”
”Wa'alaikumus Salaam” jawab umi Nailah, dia ikuti langkah gadis itu keluar. Raihanah memakai sandalnya dan melangkah pergi, dia berpapasan dengan Gus Fashan dan saling mendelik sebal.
****
Keesokan harinya, gus Fashan bingung. Zaenab mendadak susah dihubungi, keduanya jarang berkirim pesan, mengobrol di telepon pun tidak pernah. Zaenab terus menghindar karena tidak mau bertemu dengan gus Fashan.
”Apa nomor ponsel aku kamu blokir nab?” gumam gus Fashan, dia yakin nomor wa nya sudah di blokir. Entah apa kesalahannya, jika mau menolak, hanya tinggal bilang tak perlu memutus hubungan dengan cara seperti itu.
Di tempat lain, Raihanah sedang menangis. Tangisan tanpa isak tangis, dia sedang berdebat dengan ibunya Rani. Apa dia dianggap tidak ada di muka bumi ini? Jika tidak ditelepon, mana ibunya itu ingat padanya.
”Mami” suara Raihanah serak.” Aku tahu mami sibuk, tapi aku butuh mami. Apa bisa berbicara di telepon lebih santai, jangan buru-buru terus. Aku kangen sama mami” sambungnya dengan air mata yang terus mengalir.
”Enggak usah cengeng sayang, mami cari uang disini. Untuk kamu juga, papi kamu mana pernah mengirimkan uang. Jangan ganggu mami ya nak, nanti mami telepon lagi”
”Mami!!” teriak Raihanah frustasi.
Rani terdiam mendengar Raihanah berteriak padanya, gadis itu lelah dengan alasan yang sama, yang selalu dia dengar saat menelepon ibunya.
”Sayang, Rai...”
”Aku ini anak mami atau bukan sebenarnya? Aku ikut mami karena mami dulu perhatian sama aku, tapi kenapa setelah mami kerja, mami pacaran sama om-om gak jelas di luar sana. Mami lupa sama aku” suaranya begitu berat, menuntut kasih sayang dari ibunya yang semakin pudar. Dia malah terkadang lupa, jika dia memiliki ibu. Komunikasi berjalan tidak baik diantara keduanya, Rani mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan Raihanah.
”Mana ada begitu sayang” berusaha membujuk.
”Anggap saja aku mati” tegas Raihanah, dia mematikan panggilan sepihak dan mematikkan ponselnya. Dia terus menangis, Raihanah mengusap air matanya. Dia harus segera masuk ke kelas.
Malam hari tiba, gus Fashan mendengar kabar bahwa Zaenab pulang dulu. Dan entah kapan kembali, untuk pertama kalinya, gus Fashan mendapatkan telepon dari Zaenab. Zaenab tidak bisa membiarkan niat baik gus Fashan padanya tidak jelas.
”Gus, saya minta maaf. Saya gak bisa melanjutkan proses ta'aruf sama gus. Jujur saya gak bisa lanjut” tutur Zaenab, tanpa beban, begitu ringan dan seperti sebuah cambukan di hati gus Fashan. Mau bagaimana lagi, pria itu tidak bisa memaksa seorang gadis untuk menerimanya.
”Apa ada calon lain?” ujar gus Fashan penasaran. Zaenab merasa bersalah kepada Gus Fashan, dia tidak jujur.
”Saya minta maaf gus”
”Untuk apa?”
”Saya gak bisa lanjut, karena saya sudah ada janji dengan pria lain. Dia baru pulang dan kami sudah janji untuk bersama setelah dia selesai menyelesaikan pendidikannya” tutur Zaenab. Gus Fashan diam dan dia langsung terbayang Mirza, apa pria yang dimaksud Zaenab Mirza?.
”Apa dia Mirza?” suara gus Fashan berubah.
Deg....
Zaenab merasa gugup. Bagaimana bisa gus Fashan menebaknya.
”Ehmm iya” jawab Zaenab terbata.
Gus Fashan tersenyum kecut, Zaenab hanya mempermainkan perasaannya.” Kamu menerima untuk ta'aruf sama saya, sementara kamu sudah ada niat dengan Mirza?. Saya merasa sangat dipermainkan, terima kasih atas semuanya. Saya gak nyangka kamu bisa begini” tuturnya kesal dan Zaenab panik.
”Gus...”
”Satu lagi, saya gak mau kalau Mirza tahu bahwa saya pernah mengajak kamu untuk ta'aruf. Ingat itu nab, assalamu'alaikum”
”Wa'alaikumus Salaam, gus...."
Tut, panggilan terputus.
Zaenab ingin menjelaskan, tapi gus Fashan merasa tidak perlu ada yang dia denger lagi dari Zaenab. Dia kecewa, pantas Zaenab terus menghindarinya setelah kepulangan Mirza. Dia hanya sebuah selingan yang dijadikan Zaenab.
*****
Hari ini hari Minggu, Raihanah sedang mencuci pakaian bersama santriwati yang lain. Raihanah terlihat sesekali melamun.
”Raihanah, ada nenek kamu” ujar Santi. Raihanah diam, dia melamun dan tidak mendengar Santi.
Zahra memperhatikan Raihanah, dia goyangkan lengan Raihanah sampai gadis itu tersadar dari lamunannya.” Teteh, itu ada neneknya datang” ujar Zahra.
”Oh iya" ucap Raihanah, dia mencuci tangannya lalu pergi untuk segera bertemu dengan nek Riska.
Nek Riska menoleh saat melihat Raihanah berlari kecil, Raihanah menangis dan langsung memeluk neneknya erat. Nek Riska tersenyum dan membalas pelukannya.
”Gimana sehat?” tanya nenek dan Raihanah mengangguk.
”Hiks...” Tangisannya semakin menjadi.
Nek Riska mengusap kepala Raihanah iembut. Raihanah terus menangis pilu. Entah apa yang terjadi nek Riska tidak paham.
”Kamu gak betah Rai?” tanya Nenek.
”Betah nek” jawabnya singkat, masih tetap memeluk neneknya.
”Atau ada yang jahat sama kamu? Bilang sama nenek, nenek patahin tulang lehernya nanti” ucap nenek sangat serius.
Raihanah melepas pelukannya, tersenyum dan nenek mengusap air matanya.” Enggak nek, aku cuma kangen sama nenek”
”Kemarin mami kamu nelepon nenek, katanya kalian berantem?”
”Enggak tahu, Rai gak mau bahas itu” suara Rai berubah, dia tak suka dan nenek diam memperhatikannya. Nenek juga sadar, hubungan anak dan cucunya semakin jauh.
”Apa gak bisa berdamai dengan keadaan, Raihanah gak salah apa-apa. Kalian berdua yang salah, Raihanah tetap cucu terbaikku” gumam nenek. Dia perhatikan Raihanah yang tersenyum, tersenyum untuk menutupi semua kedukaannya.
****
Di sekolah, semua murid memperhatikan sesuatu yang berbeda dari gus Fashan. Pria itu terus melangkah dengan gaya yang berbeda, rambut gondrong nya di potong rapih. Dia lupa membawa pecinya, gus Fashan terus melangkah sambil membawa buku di tangan kirinya. Tangan kanannya masuk ke dalam saku celana. Setelah kemeja abu dan celana hitam membalut tubuh besar dan kekarnya.
”Abang potong rambut?" ucap Fara berbisik. Tumben bener kakaknya memotong rambutnya sependek itu.” Ganteng banget abang Fara, pantes banyak yang naksir.” Imbuhnya lagi.
”Gantengnya pak Fashan” puji murid perempuan saling menimpali.
”Yaaah.....” Seru semuanya saat gus Fashan sudah masuk ke dalam kantor, dan tidak terlihat lagi.
Nida diam dan memikirkan sesuatu, seperti dirinya yang sedang memiliki beban hidup yang begitu berat, atau ingin melupakan sesuatu. Caranya adalah memotong rambutnya, apa Gus Fashan juga sedang ada dalam masalah, dan sedang berusaha melupakan seseorang?.