Silvira, wanita berparas cantik yang ditinggal meninggal suaminya, ia memiliki putra kembar yang pintar namun selalu merindukan kasih sayang ayahnya.
Silvira tak sengaja bertemu mantan kekasihnya waktu kuliah dulu. Namun sang mantan sudah berkeluarga, dia sebenarnya sangat menginginkan mantan kekasihnya itu kembali, namun keinginan itu ditepis jauh-jauh setelah mengenal istrinya, dan dia mendapat hidayah untuk belajar agama lebih baik menjadi wanita sholiha agar mendapat pasangan yang sholih pula.
Siapakah lelaki yang memikat hatinya? Bahagiakah kehidupannya selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
"Assalamualaikum," ucap Silvira menyapa Arum yang sedang duduk di teras rumahnya, yang memang menunggu Silvi.
"Waalaikumusalam," jawab Arum sambil menyerahkan bayinya ke pengasuhnya.
Arum segera berdiri menyambut Silvira. Mereka berpelukan dan cipika cipiki.
"Mba gimana, sudah lebih baik kan?" tanya Silvira, karena keluarga Arum baru berduka.
"Iya alhamdulillah, kami saling menguatkan saja," jawab Arum.
"Eh ada apa ini, Mbak manggil aku ke sini," ucap Silvira.
"Bukan manggil sebenarnya, kami dapat amanah dari calon mempelai pria, yuk ke tempat jahit, maa syaa Allah kalian cepet banget prosesnya," ucap Arum sambil menggandeng Silvira ke tempat konveksi baju muslim di rumah bagian depan.
"Ya begitulah Mba, kalau anak-anak sudah suka, dan keluarga merestui ya nunggu apa lagi, sebenarnya aku juga takut, soalnya gak kenal sama sekali, tau-tau nikah aja, tapi aku yakin kalau mas Azam itu mengerti agama, pasti dia tahu juga bagaimana memperlakukan istri, bagaimana mendidik anak, bismillah saja, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, semoga kami bisa saling menerima nantinya," ucap Silvira.
"Maa syaa Allah, iya Mba, semoga Allah mudahkan ya, niatkan semua karena Allah, karena pernikahan itu adalah ibadah yang paling panjang waktunya, bertahun-tahun bahkan sampai puluhan tahun," ucap Arum sambil mengusap-usap lengan Silvira.
"Eh sampai lupa, ini tadi dikasih amanah sama mas Azam, dia ngasih uang ini untuk membeli baju akad, dan untuk katering makan keluarga pas hari akad itu," ucap Arum sambil menyerahkan amplop berisi uang itu, Silvi menerimanya dan membuka amplopnya.
"Mba, kok banyak banget ini uangnya, bentar tak hitungnya," ucap Silvi yang terkejut karena Azam memberi banyak sekali.
"Iya Mba Silvi gunakan saja, kalau sisa disimpan saja,"
"Tujuh juta Mba, mau dipake apa coba.. atau Mas Azam mau undang teman sekantor buat datang makan-makan ya, coba nanti tanyain ya Mba," ucap Silvi.
"Iya, iya nanti biar ditanya sama mas Ammar,"
"Terus, tadi buat baju akad ya, Mba punya gak gamis yang cocok buat akad?" tanya Silvi.
"Punya dong, makanya Mba Silvi tak ajak ke sini, ini pilih aja, ini gamis walimah koleksi terbaru aku," ucap Arum sambil menyerahkan tablet berisi foto-foto koleksi gamis produksinya.
Silvira segera memilih-milih, dan pilihannya jatuh pada gamis satin maxmara warna abu tua potongan A line, dengan payet di ujung tangannya, dipadu jilbab syar'i model pinguin yang pendek di bagian tangan, berbahan sabeth yang lembut.
"Kenapa gak warna putih, biasanya untuk akad, pengantin tuh suka warna putih," ucap Arum.
"Putih itu pasti jarang kepake lagi, kan mubazir Mba," sahut Silvi.
"Hmm baiklah," ucap Arum.
"Udah ya Mba, ini berapa?" tanya Silvi.
"Itu hadiah buat Mba," ucap Arum.
"Jangan Mba, ini tau sendiri aku dikasih uang segini banyak," tukas Silvira.
"Hmm, baiklah aku terima uangnya, tapi aku ganti ini aja ya, plis jangan ditolak pemberianku ini," ucap Arum sambil menyerahkan set sarimbit gamis dan kurta untuk Silvi, Azam, dan si kembar.
"Mbaak, bagus banget maa syaa Allah," ucap Silvira antusias dan senang dengan hadiah dari Arum.
"Makasih lho Mba," ucap Silvira.
"Iya, sama-sama, eh iya kamu sudah ada bayangan untuk kateringnya belum?" tanya Arum.
"Belum Mba, tahu sendiri kan aku baru di kota ini, gak punya kenalan katering," ucap Silvi.
"Ini ada temen kajian Mba yang punya katering, ini kartu namanya, Mba hubungi saja nomornya, nanti bisa diskusi sama orangnya, bilang saja temannya Arum Ummu Rayhan gitu dia sudah paham," ucap Arum.
"Baik Mba, jangan lupa tanyakan mas Azam mau syukuran sekalian gak setelah akad, ini banyak banget uangnya soalnya," ucap Silvi.
"Siap, nanti aku akan sampaikan ke mas Ammar biar ditanyakan ke mas Azam,"
"Okelah, aku pamit ya Mba, makasih banget semuanya, kalau Mbak gak ada aku gak tau lagi mesti gimana," pungkas Silvi. Dia segera pulang karena hari hampir gelap.
💄💄💄
Di waktu yang sama, di tempat berbeda, Azam selesai berbelanja seserahan bersama si kembar, bahkan dia juga membelikan setelan jas untuk si kembar. Setelah mengantarkan semua bahan seserahan ke toko Ammar, Azam mengantar si kembar pulang, di tengah perjalanan mereka mendengar adzan Maghrib berkumandang, Azam mengajak si kembar mampir ke masjid untuk sholat Maghrib. Setelah itu mereka menuju rumah Silvira.
Sesampainya di sana Azam meminta si kembar turun dari mobil dan masuk ke rumah.
"Kalian masuk sendiri ya, Om pulang dulu," ucap Azam.Namun baik Fahri maupun Farhan enggan untuk turun dari mobil Azam.
"Om gak ikut turun?" tanya Farhan.
"Lain waktu saja ya," ucap Azam.
"Om kenapa gak nginap sini saja? Sebentar lagi kan Om nikah sama Mama," tanya Fahri.
"Hmm, kan belum nikah sayang, selama belum menikah kami bukan mahram, apalagi mama kalian adalah seorang janda, Rasulullah melarang kita menginap di rumah janda kecuali menikahinya atau mahromnya," jawab Azam sambil memberi mereka pengertian.
"Oh gitu,"
"Okelah bye..!!" seru si kembar sambil masuk ke dalam rumah.
Selepas melihat si kembar masuk, Azam segera tancap gas menuju rumah Ammar, dimana dia ingin membeli satu set gamis untuk Silvira.
"Assalamualaikum bro," sapa Azam kepada Ammar yang baru keluar dari dalam rumahnya.
"Waalaikumusalam, yuk ke tempat jahit, mau nyari baju kan? Tadi Silvi baru dari sini juga kata dik Arum," sahut Ammar.
"Iya," ucap Azam kemudian dia mengikuti Ammar menuju tempat jahit gamis milik Arum.
"Maaf ya aku jadi ngrepotin kalian lagi," ucap Azam sesampainya di tempat jahit.
"Kami justru senang bisa menjadi perantara ta'aruf kalian, ini pilih saja gamisnya," ucap Azam sambil menunjukkan puluhan gamis di gantungan baju.
"Hmm yang ini saja Mar, aku tidak mau dia terlalu mencolok, aku pilih warna hitam saja," Azam memilih set gamis bahan jet black model abaya yang simple, dengan jilbab non pad lengkap dengan cadar bandana.
"Aku ingin dia suatu saat menutup auratnya secara kaffah termasuk wajahnya dengan memakai cadar, tapi pelan-pelan dulu, semua butuh proses kan," ucap Azam.
"Iya sabar bro, pelan-pelan diberi pengertian, ajakin ke kajian, eh iya, tadi dik Arum bilang Silvi mau tanya apa kamu mau ngundang teman-teman kantor untuk datang, kalau iya dia siapkan nanti makanannya," ucap Ammar menyampaikan pesan dari Silvira.
"Hmm mauku sih akad dulu saja, tapi kalau ada resepsi syukuran sederhana ya gak papa, nanti aku undang teman-teman kantor saja, tapi aku mau acara akad di dalam rumah untuk keluarga saja, lalu makan-makan dan syukuran itu di halaman rumah, tamu laki-laki dipisah dengan tamu perempuan, tau kan maksudku, kamu sampaikan gitu aja," sahut Azam.
wa fiiki baarokalloh ukhti Shakeena..