Tepat di hari pernikahan Aaron.
Zianca dan Aaron akhirnya di pertemukan kembali setelah berpisah selama bertahun-tahun. Ternyata kini Zianca tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Aaron, Lucas pria dingin dan misterius itu kini sangat mencintai dan terobsesi dengan sosok Zianca. Namun di balik hubungan Zianca dan Lucas, ada rahasia besar di dalamnya.
Setelah kembali bertemu, Zianca dan Aaron perlahan memperbaiki hubungan pertemanan mereka. Namun, siapa sangka jika Aaron masih menaruh hati padanya. Lucas yang menyadari hubungan antara Aaron dan Zianca yang tampak tak biasa itu mulai terganggu, ia mulai bersikap semakin posesif dan over-reaction terhadap Zianca, bahkan ia sampai menyakiti Zianca tanpa ia sadari.
Perselisihan semakin memanas di antara ketiganya, hingga akhirnya Lucas sadar jika Zianca selama ini tidak mencintainya, melainkan ingin membalas dendam padanya atas kemaatian kakak perempuannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunita tri maryadi Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 : Pacar Pertama
Zianca hanya terdiam. Dia tidak lagi mau menanggapi ibunya, karena itu tidak akan ada ujungnya. Zianca segera menenggak habis teh hangatnya.
"Tuh liat !! Dasar anak kurang ajar !!! Orang tuanya ngomong malah di cuekinnya !!" Bentak ibunya lagi.
"Udahlah Ma !!! Kamu tu apa-apaan sih !! Selalu aja marahin Zianca tanpa alasan !! Kenapa sih enggak pernah sekalipun kamu dukung apa yang dia kerjakan??!! Memangnya dia salah apa sama kamu hah??!!!" Bentak ayahnya tersulut emosi, ia sangat marah pada istrinya, yang kini terdiam menatap tajam pada Zianca.
Zianca lalu segera bangkit dari duduknya, meraihnya tasnya di lantai.
"Zianca berangkat sendiri aja Pa.." ujar Zianca lirih segera pergi.
"Tuh liat !! Anak kayak begitu yang selalu kamu bela kan Pa?? Bela aja terus !! Biar dia makin kurang ajar !!!" Hardik ibunya keras.
Zianca melangkah cepat keluar, segera memasang sepatunya dan bergegas pergi. Ayahnya mengikuti langkah Zianca dari belakang.
"Kamu mau pergi naik apa?? barengan papa aja yuk.." bujuk ayahnya lembut.
"Nggak pa-pa Pa.. Zianca naik busway aja.." geleng Zianca menyalami ayahnya lalu segera membuka pagar rumahnya.
Sontak Zianca justru terpaku.
Aaron tampak tengah menunggu Zianca keluar sambil duduk di atas kap depan mobilnya.
"Morning.." sapanya tersenyum hangat.
"Halo om.. selamat pagi.." sapa Aaron ramah pada Ryo ayah Zianca.
"Pagi.." angguk Ryo canggung melihat Aaron.
Sementara Zianca hanya tertegun melihat Aaron.
"Kamu siapa ya?" Tanya Ryo asing dengan wajah Aaron.
Aaron mendekat ke arah Ryo lalu menyalaminya.
"Saya Aaron om.. temen satu sekolah Zianca.." serunya ramah.
"Ohh.. iya.. iya.. kamu mau jemput Zianca??" Tanya Ryo mengerti maksud kedatangan Aaron.
"Nggak kok Pa.. dia.." ucapan Zianca di sela Aaron segera.
"Iya om.. saya mau jemput Zianca.." serunya cepat.
"Ohh yaudah kalau begitu buruan berangkat gih.. nanti kalian telat soalnya jalanan pasti macet.." seru Ryo memegang kedua pundak Zianca.
Zianca hanya bengong melihat ke arah ayahnya.
"Nggak pa-pa kok kalau kamu mau berangkat sekolah sama temen kamu.." ujar ayahnya tidak mengerti jika Zianca enggan pergi bersama Aaron.
Aaron tampak segera membuka pintu mobilnya untuk Zianca.
"Buruan gih.. kasian temen kamu nungguin lama daritadi.." ujar Ryo lagi.
Dengan berat hati Zianca akhirnya masuk ke dalam mobil Aaron, ia pun segera mengenakan safety-belt sebelum Aaron berusaha untuk memasangkannya lagi.
"Saya pamit dulu om.. permisi.." pamit Aaron sopan.
"Iya.. hati-hati di jalan ya.. jangan ngebut-ngebut.." sahut Ryo melambaikan tangannya.
Aaron segera mengemudikan mobilnya. Mereka hanya saling terdiam. Zianca terus menatap ke arah jendela di sampingnya.
"Kapan kamu akan berhenti kayak gini??" Gumam Zianca lirih.
"Entahlah.. aku belum berencana untuk berhenti.." jawab Aaron santai.
"Aku enggak suka sama kamu Aaron.." celetuk Zianca dingin.
"Aku enggak nyuruh kamu buat suka sama aku kok.. cukup biarin aku yang suka sama kamu.." jawabnya datar.
"Kenapa harus aku??" Tanya Zianca penasaran.
"Karena aku maunya kamu.."
"Kenapa harus aku????" Seru Ana mengulang pertanyaannya dengan suara lebih tinggi.
Aaron hanya diam mengabaikan pertanyaan Zianca.
"Cih.. bahkan kamu nggak punya satu alasan pun yang bisa kamu katakan.."
Aaron hanya terus diam tidak menggubris Zianca sama sekali.
...****************...
Setiibanya di sekolah, mereka segera keluar dari mobil.
"Makasih tumpangannya.." seru Zianca lirih.
"Nih !!" Seru Aaron mengambungkan tas bekal kecil ke arah Zianca, dengan reflek Zianca pun segera menyambutnya.
"Tadi kamu pasti nggak sarapan dengan baik.."
"Oh.. jadi kamu dengar?" Tebak Zianca yakin jika Aaron mendengar omelan ibunya tadi.
"Enggak kok.." geleng Aaron cuek. "Udah.. jangan banyak tanya.. jangan lupa di makan.." seru Aaron berlalu.
Zianca memperhatikan tas bekal yang tampak berbeda itu dari sebelumnya.
"Kalau udah habis.. tempatnya langsung kamu buang aja.. enggak perlu kamu kembaliin.." seru Aaron lagi melihat Zianca tengah memperhatikan kotak bekal itu.
Zianca hanya terdiam.
'Tempat bekal sebagus gini mau dibuang?? Gila banget ni orang...' batin Zianca.
Punggung Aaron yang tampak bidang dan gagah, terlihat sangat memukau meski hanya melihatnya dari arah belakang. Banyak mata para siswi melihat Aaron dengan kagum dan terpesona, sementara Aaron tampak berjalan dengan sangat cuek pada mereka.
Zianca membanting tubuhnya di atas kursi.
"Lo tumben banget udah dua hari ini bawa bekal mulu.." tanya temennya Vera heran yang duduk di depan Zianca.
Zianca hanya menghela nafas panjang.
"Itu dari si Aaron.." sahut Fina terkekeh menggoda Zianca.
"Diem lo !!" Ketus Zianca kesal.
Seketika temen sekelasnya pada heboh bertanya kebenaran itu. Memang sudah banyak rumor mengatakan jika mereka berkencan, tapi banyak juga teman Zianca yang tau jika Zianca tipikal yang menolak pacaran dan memang tidak mau pacaran satu sekolah.
"Udah ah.. gue nggak ada hubungan apa-apa sama Aaron.. jangan pada ngegosip deh lo !!" Gerutu Zianca semakin kesal.
Tatapan tajam dari arah pintu kelas Zianca tak di sadari olehnya. Seorang gadis molek tengah menemui ketua kelas Zianca di depan pintu untuk mendata siswa siswi yang akan ikut berpartisipasi pada liburan usai ujian sekolah. Gadis itu telah mencalonkan diri sebagai sekretaris kedua Ketua OSIS. Wulan tampak melihat sinis ke arah Zianca yang sedang kesal.
"Zi.. lo ikutan kan??" Tanya ketua kelasnya Zifran.
"Belum tau.. gue belum minta izin.."
"Yaelah.. lo kayak anak SD aja.. apa-apa minta izin.." ledek Zifran terkekeh.
"Ya iyalah Fran.. secara Zianca ini kan anak emas.. makanya beruntung banget kalau Aaron beneran jadian sama doi.. bakal jadi pacar pertamanya Zianca cuyy !!" Sahut Puput meledek Zianca yang menjadi bertambah kesal.
Zianca melempari bukunya kesal pada Puput yang segera berlari keluar kelas menyelamatkan diri.
"Sial*n lo !!"
...****************...
Selama jam pelajaran seperti biasa semua sangat fokus. Tak lama wakil kepala sekolah masuk ke masing masing kelas 12. Sang wakil membagikan form yang harus di isi, form itu berisikan tujuan para siswa setelah kelulusan mereka nanti. Zianca bingung harus mengisi apa, karena disana harus di tanda tangani oleh wali atau orang tua murid. Form itu bertujuan untuk membantu para siswa kelas 12 memenuhi kebutuhan mereka setelah kelulusan. Jika mereka berniat melanjutkan ke jenjang perkuliahan, maka pihak sekolah akan membantu para siswa untuk mengurus segala keperluan untuk mendaftar di kampus pilihan.
Jika ada siswa yang ingin langsung bekerja, mereka akan memberi surat pernyataan bahwa siswa yang bersangkutan ber-predikat baik selama di sekolah, untuk mempermudah siswa itu mencari pekerjaan.
Zianca menatap lama form itu. Dia berencana ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri dengan mencoba peluang beasiswa. Namun ia takut jika orang tuanya akan melarangnya, sementara Zianca benar-benar ingin mencobanya.
"Lo udah tau mau lanjut kemana Zi??" tanya Fina dari samping, Fina dan Zianca memang duduk satu meja, sementara Puput duduk di depan mereka bersama Vera. Namun Vera jarang nongkrong bersama mereka, karena dia punya tongkrongannya sendiri.
"Udah.." jawab Zianca ragu.
"Dimana??" tanyanya penasaran.
"Hmm.. belum tau sih gue bakal lolos apa enggak.. gue belum berani buat bilang-bilang.. ntar deh.. kalau gue lolos.. gue bakal kasih tau lo dan Puput.."
"Sok rahasia banget sih lo.. emang mau kuliah dimana sih??" celetuk Fina penasaran.
"Ada deh.. ntar bakal gue kasih tau kok.. lo sama Puput jadi mau coba di satu kampus??"
"Jadi dong.. lo nggak minat apa satu kampus sama kita berdua??"
"Enggak deh.. bosan gue ketemu sama lo berdua mulu.." geleng Zianca mengejek.
"Sial*n lo !!" gerutu Fina manyun.
Kaka gak ada akhlak