NovelToon NovelToon
Diujung Harapan

Diujung Harapan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Poligami / Duda / Tamat
Popularitas:399.9k
Nilai: 5
Nama Author: El Geisya Tin

Perjalanan hidup Nayana yang mengalami sakit hati karena suaminya menikah lagi. Padahal saat ini kehidupannya bersama suami belum sempurna dari segi ekonomi, juga karena belum memiliki anak. Rudian suaminya tidak perduli dengan perasaan Nayana karena ia mendapatkan dukungan dari ibunya. Karena ibunya sangat menginginkan cucu dari Rudian.

Meski demikian Nayana tetap sabar, ia tetap bekerja sebagai pelayan restoran demi menopang kehidupan rumah tangganya. Ia tetap tabah menjalaninya walau ia masih belum tau kehidupannya selanjutnya akan seperti apa.

Pertemuannya dengan seorang anak perempuan kecil yang berwajah manis akan menghiasi hari-harinya ditengah cobaan dan ujian yang diterimanya.

Tanpa disadari sebuah hubungan unik antara anak kecil bernama Yoni itu dengan dirinya, telah sesikit demi sesikit menorehkan sebuah perasan berbeda dihati Ares ayah Yoni yang berstatus sebagai duda.

Cobaan yang diterima Naya tidak hanya itu saja, karena takdir membawa Naya untuk tetap merawat suaminya yang jatuh sakit setelah menyakiti dirinya.
kesabaran dan ketabahan Naya diuji sampai berulang kali. Permintaannya untuk bercerai tidak juga dikabulkan suaminya. Hingga suaminya mempunyai takdir lain yang memilukan. Mungkin inilah yang disebut karma.
Bagaimana karma yang harus Rudian, suami Naya hadapi? Dan bagaimana hubungannya dengan Ares?
Yuk baca saja di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 8. Mungkin Salah Lihat

Pagi menjelang, semburat sinarnya menyapa bumi, membelai semua yang ada dipermukaannya dengan lembut. Naya sudah membersihkan dirinya, bersiap hendak bekerja. Semalam Naya kembali tidak bisa tidur.

Setelah obrolan yang menyakitkan dengan ibu mertuanya sore itu, Naya tidak keluar dari kamarnya. Rudian juga tidak menemuinya untuk membahas masalah di antara mereka. Walau ada banyak rasa gundah yang ingin ia ungkapkan pada suaminya, tapi ia memilih diam. Bahkan, laki-laki itu kembali tidak pulang dan memilih untuk menginap di rumah Sarita, setelah mengantarnya pulang.

Naya memilih untuk mencurahkan segenap perasaannya pada sang pemilik jiwa. Ia tak ingin bertengkar dengan suaminya. Sebab hari-harinya sudah sangat melelahkan, apalagi untuk melakukan pertengkaran.

Bekerja menjadi pelayan tidaklah mudah, karena selalu dituntut untuk pandai dalam menata hati, dan mengelola perasaan. Walau sedih walau susah tetap harus tersenyum ramah.

"Halo, Bang?" kata Naya, ia menelpon suaminya, yang semalam Rudian tidak tidur di samping nya lagi. Bahkan, sisa makanan sore itu baru saja ia bereskan setelah sholat subuh hari ini.

Naya berniat untuk tidak membuat sarapan sebab, tenaganya seperti menghilang, karena dari sore ia juga tidak makan nasi lagi.

"Iya, ada apa lagi?" kata Rudian dari balik telepon.

"Abang kapan mau pulang? Apa mau sarapan di rumah ibu?"

"Iya! Jadi nanti kamu berangkat sendiri ya? Gak usah repot-repot bikin sarapan, aku berangkat langsung dari rumah ibu!"

"Oh, sudah tidak ada demo massal lagi, ya?" tanya Naya lagi.

"Tidak! Sudah dulu teleponnya, assalamualaikum!"

Tut!

Suara telpon ditutup secara sepihak oleh Rudian seperti biasanya. Naya mendesis sendiri, meredam rasa nyeri diulu hati, perih.

"Ih, sakit! Apa mungkin setiap wanita pernah merasakan sakit yang sakitnya diatas sakit seperti ini?" gumamnya seorang diri.

Rudian tidak menelpon kalau tidak ditelpon lebih dulu, tidak mengantar Naya ke tempat kerja, tidak sarapan bersama, tidak bertanya apa pun tentang istrinya ditelpon. Laki-laki itu benar-benar berubah, tidak biasanya dia bersikap seperti itu pada Naya.

Setitik air mata kembali jatuh dipipinya. Sembab sisa semalam saja masih ada. Mata Naya semakin merah dan bengkak.

"Haruskah sesakit ini mencintai? Bukankah cinta itu tujuannya bahagia? Apa inikah jalan bahagia? Aku memang menginginkan ridho-Mu, ya Allah. Memang, ridho suami akan membuat Allah ridho juga. Tapi bagaimana bila suaminya tidak mendidik, bahkan, mengingatkanku sholat saja tidak pernah? Haruskah?" Batin Naya.

Naya mencuci wajahnya kembali, menatap dirinya di depan cermin, sambil bicara pada dirinya sendiri.

"Apa aku sudah tak cantik lagi? Apa memang Allah mengujiku dengan tak punya anak? Apa aku memang tak menarik? Tapi Bukankah dulu aku manis hingga Abang saja mau menikahiku?"

Naya tersenyum pada dirinya sendiri. Satu senyuman seolah bisa mengurai satu masalah. Ia menyemangati dirinya sendiri, membuat tekad bahwa, ujian hidup memang tidak akan berahkir sebelum mati. Semua akan ia hadapi, dengan kekuatan yang ada. Kuat bukan tentang bagaimana mendapatkan tapi kekuatan sejati itu ada ketika kita mampu bertahan.

"Baiklah aku akan mencoba bertahan," katanya lirih.

Naya membenahi jilbabnya dan pergi keluar rumah untuk mencari tumpangan umum menuju restoran, ia sudah agak terlambat pagi itu.

Menjelang sore.

Naya sudah menyelesaikan jadwal shift-nya. Semua tugas sudah ia kerjakan sesuai keinginan Bu Nha. Wanita bertubuh gemuk itu puas dengan pekerjaan Naya. Ia hanya tersenyum saat Naya pamit pulang.

Ia menatap restoran sekilas setelah sampai disisi jalan raya, untuk kembali mencari angkutan umum. Kali ini ia memilih menggunakan ojek.

Naya sudah terbiasa seperti itu, ia bersyukur bisa bekerja untuk berbagi rezeki dengan orang lain. Sesaat setelah motor yang dinaikinya berjalan beberapa puluh meter, tiba-tiba ia menghentikan ojek tumpangannya itu.

"Ada apa, Mbak?" tanya tukang ojek itu sambil menepikan kendaraannya.

"Tunggu di sini sebentar saja, ya, Bang!" jawab Naya.

"Apa salah jalan? Tadi bilangnya mau ke perum Alimanan, kan?" Kata tukang ojek sambil menoleh pada Naya yang duduk di belakangnya.

"Iya! Tapi sebentar , saya mau ke sana!" kata Naya sambil berjalan perlahan menuju ke minimarket tak jauh dari tempatnya berhenti. Ia mencoba meyakinkan pandangan matanya pada seseorang yang ia lihat secara selintas tadi.

Deg. Hatinya berdegup.

"Bukankah itu Bang Rudi?" katanya sambil terus mendekat ke arah orang yang mirip dengan Rudian.

"Bukankah ini belum waktunya pulang kerja? Tapi sama siapa, dia? Astaghfirullah, astaghfirullah!" lirih Naya saat matanya memastikan bahwa, apa yang ia lihat itu tidak salah.

Demi apa yang dilihatnya itu, seketika berbagai perasaan berkecamuk muncul berseliweran dibenaknya. Ingin berteriak, marah atau memaki, tapi itu tidak tepat. Itu bukan cara yang elegan, ia punya cara yang lebih bermartabat.

Ia tidak akan menggunakan cara itu, cara yang sering digunakan oleh orang yang memergoki suaminya selingkuh, dengan pasangannya, dan istri sahnya melakukan tindakan yang memalukan. Menjambak, memaki dan berkelahi.

Biasanya, di saat seperti itu pasti sang suami akan membela dan melindungi pasangan tidak sahnya. Ia akan membela wanita selingkuhan nya, karena tidak akan rela melihat wanita di cintainya, di siksa di hadapannya.

Naya menghubungi nomor ponsel suaminya, tapi sekian kali panggilan Naya, diabaikan oleh Rudian. Apa yang ia lihat harus dipastikan kebenarannya, menanyakan siapa wanita lain yang dilihatnya, sambil mengumpulkan beberapa bukti bahwa, Rudian telah bersikap mesra pada wanita yang bukan istrinya.

Naya berharap suaminya akan berterus terang karena ia yakin Rudian orang yang jujur.

Naya akhirnya menyerah, dan berbalik arah, setelah memfoto dua orang itu dengan ponselnya. Apalagi sosok Rudian dan wanita itu sudah hilang entah kemana. Masih jelas dalam penglihatannya bagaimana wanita itu bersikap begitu mesra dengan bergelayut dilengan suaminya.

Naya bertekad harus menanyakannya dan mencari bukti lainnya. Ia harus tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan suaminya.

Tiba-tiba sebuah hawa panas menjalar dihatinya, seperti inilah rasa sebuah kecemburuan, rasa yang selalu menyerang pada setiap orang, apabila mereka melihat orang yang dicintainya bermesraan, dengan orang lain, tapi bukan dirinya.

Setelah beberapa menit sabar menunggu, tukang ojek itu memanggil Naya. Perempuan itu masih berdiri di depan toserba.

"Mbak! Eh, Neng, jadi ke perum gak?" katanya.

"Iya, iya, Pak. Kan belum sampai rumah saya!" kata Naya kembali menaiki motor dan motor itu pun mulai melaju.

"Ada apa gitu, neng? Kok seperti orang yang ketakutan?"

"Itu, saya nggak takut, Pak! Tadi saya seperti melihat suami saya, tapi waktu saya panggil lagi sudah gak ada, saya telepon, gak diangkat," sahut Naya.

"Mungkin salah lihat," kata tukang ojek tenang.

"Iya juga, mungkin memang aku salah lihat!" Naya bergumam.

"Jangan berprasangka buruk dulu, karena prasangka itu akan menyakiti diri sendiri. Kita lebih baik berserah diri saja sama Allah!" kata tukang ojek yang terlihat sudah berumur itu.

"Kita sebagai manusia cuman bisa menjalani takdir saja, kalau kita sabar kita akan mendapatkan pahalanya, kalau kita marah ya kita sendiri juga yang mendapatkan hukumannya!"

"Ya, Pak!"

Sebenarnya, ia tadi sempat melihat apa yang dilihat oleh Naya dan menangkap dengan jelas kegelisahan Naya setelahnya. Jadi, tukang ojek itu pun mengambil kesimpulan sendiri, tentang apa yang Naya alami. Namun karena ia tidak memiliki kapasitas apa pun untuk ikut campur, ia hanya memberi nasehat, karena hanya itulah yang bisa ia berikan.

Sesampainya Naya dirumah, Naya membuka pintu dan saat itu pula ia melihat ada sesuatu yang berbeda dari saat ia pergi tadi pagi. Di ruang tamu rumahnya, ada gelas bekas minum di atas meja, padahal, saat ia pergi, tempat itu sangat bersih dan rapi.

Bersambung

1
Tien
ya Allah sedih banget endingnya.
suami yang terlalu ingin dihargai jadi mengabaikan istri. akhirnya hanya ada penyesalan yang tak berakhir
El_Tien: hehe, iya, soalnya harga diri bagi laki2 itu kadang diluar nalar sih.
total 1 replies
Diajeng lope
nay nay jgn jdi wanita bodoh baik boleh tpi bego jgn hdwh
Diajeng lope
rud msih kere saja bertingkah thor cepat2 bikin kapok ah bacanya emosi jiwa...
El_Tien: tenang, tenang 🤭
total 1 replies
Diajeng lope
lah terlalu baik atau gmn nay nay
Diajeng lope
lah author ceritanya ko wanitanya bucin gitu jdi mkn ati deh
El_Tien: jangan makan ati Kak, makan nasi aja enak 🤭
total 1 replies
Diajeng lope
bikin emosi jiwa thor ah...bikin wanita kuat
Diajeng lope
bego ya nikmati saja sakitmu nay jika aku di posisimu sdh out dri rmh
Diajeng lope
nay nay bikin emosi sja...thor jgn bikin nay lemah hdweh....
Diajeng lope
mknya jdi istri jgn terlalu lugu
Diajeng lope
nay nay kmu ko polos lugu atau bego terlalu mudah di bohongi jdi mls ah
El_Tien: terima kasih sudah membaca dan terima kasih juga atas kritikan nya
total 1 replies
Diajeng lope
nay ko lugu bgt sih cinta boleh tpi bego jgn naluri seorang istri itu peka.jika laki2 selingkuh mesti sok mengalihkan kesalahan ke kita walau kecil sok cemburu pdhl cuma buat topeng
Tien_marda: iya, kesel aku juga sama orang yang terlalu polos kayak Naya
total 1 replies
Diajeng lope
mf thor ktnya rudian g kerja ada demo ko tdi blng njemput krn plng kerja?apa aku yg galfok ya
Tien
ag terlalu kejam udah dimadu, jadi satu rumah lagi. klu madunya tau diri rada mending biasanya lebih bertingkah
El_Tien: madunya gak tahu diri 😭😭
total 1 replies
Nur Kediri
benih" masalah
Nurizan binti Abdul Malek
bisa merekomendasikn dari segi alur cerita penokohan dsb
El_Tien: terima kasih atas dukungan dan komentarnya
total 1 replies
Nagumo
luar biasa cerita yang bagus
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
alhamdulillah. hamil
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kalo disimpan di bank. uang gak bakal bulukan.. 😁😁
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
akhirnya dinda ketemu jodohnya
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
cukuplah bahagia saja yg menyertai kali ini ya
El_Tien: wah, iya Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!