Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Nama laki-laki itu Revi Bramasta. Kelas sebelas IPA satu, kelas yang diperuntukkan bagi siswa-siswi yang memiliki otak encer dan IQ tinggi. Ketua OSIS yang memiliki rambut gaya front puff dan sering memakai jaket kulit itu masih saja menganggukku.
Bahkan sejak hari pertama aku masuk sekolah. Ia sering membuntutiku hingga ke perpustakaan ataupun kantin sekolah. Termasuk hari ini, dia Revi, membawa semangkok bakso dan segelas es teh sembari duduk di sebelahku. Di sana, di pojokan kantin, teman-temannya bersorak kegirangan. Seolah kelakuan ketua OSIS satu ini seperti pertunjukan lawak Srimulat.
Aku menoleh lalu menghentak kuat gelas yang hanya tersisa sedotannya, "Kakak kenapa sih? Belum puas mengganggu ku?" ujarku dengan alis yang terangkat.
"Enggak! Aku hanya ingin menemani seorang putri yang duduk sendirian." ujar Revi, ia mengambil baksonya lalu mengunyahnya perlahan-lahan.
Aku mendengus kesal. Tiga hari berturut-turut, masa orientasi siswa hanya diisi dengan kegiatan di luar kelas, mengikuti kakak kelas dengan berbagai kegiatan yang wajib dilakukan siswa baru. Dia, ketua OSIS sialan ini sering kali menyuruhku untuk maju ke depan, memperagakan apa saja yang perintahkan padaku.
Aku menjadi penurut yang ulung, hingga kesabaranku dengan laki-laki tengil ini sudah hampir mencapai batas maksimal.
Revi menoleh, ia mengedip-edipkan matanya, menggodaku.
"Gayssss... Kalian tahu gak? Kemarin aku datang ke rumah cewek ini, di sambut dong sama Ibundanya. Aku dibuatin teh manis. Manis banget kayak yang buat." ujarnya lantang dengan nada tinggi seperti sedang memimpin upacara.
Revi menunjukku, ia tersenyum lalu kembali menyeruak saat seluruh penghuni kantin mendengarnya penuh minat. "Kata Ibundanya, aku disuruh datang ke rumahnya lagi bawa teman-temanku! Kalian mau ikut aku gak gaysss...? Lumayan, bisa bertemu langsung dengan Gusti Kanjeng Ratu dan Ayahanda."
Aku menggebrak meja, lalu berdiri menatap Revi penuh amarah.
"Maksud kamu apa sih mas!? Aku gak pernah ya gangguin kamu, tapi kenapa kamu gangguin aku terus!" Aku menggeram, masih menatap Revi dengan tajam.
"Mas? Kamu manggil aku dengan panggilan MAS, romantis banget." ujar Revi riang. Ia tersenyum lalu menyeruput es teh manisnya. Ia juga menghentak kuat gelas lantas berdiri menjajariku.
"Jangan galak-galak tuan putri. Kamu harus lembut seperti kelakuanmu di rumah!" ujarnya sambil memegang daguku. Aku menepis tangannya, lalu menendang kakinya tepat di tulang keringnya. Dia mengaduh, aku tak peduli.
Bimo yang sedaritadi hanya menjadi penikmat suasana akhirnya berdiri dari tempat duduknya, ia menghampiriku dan berdiri di belakangku.
"Sudah, Lilah!" katanya lirih.
"Sudah apanya, Bim! Jelas-jelas dia kurang ajar, dia berani-beraninya pegang daguku!" kataku berteriak.
"Sudah, Lilah. Sudah, kamu harus ingat siapa kamu!" ujarnya mengingatkan.
"Cie... Pahlawan kepagian!" sahut Revi tidak mau kalah.
Aku menatap Revi, sambil mengepalkan tangan, aku meninju perutnya.
"Sudah dibilangin, yang lembut tuan putri!" kata Revi tak sedikitpun kesakitan karena tinjuan tanganku.
Apa kurang cepat, atau memang bukan di bagian yang tepat. Apa perlu di bagian itu... Di bagian alat kelaminnya!
Aku mendesis sebelum berbalik. Revi menarik lenganku, ia berkata sambil mendekatkan wajahnya di wajahku, "Aku tetap akan bersikukuh mengganggumu tuan putri. Jadi nikmati saja dulu perkenalan ini."
"Mimpi!" Tak sudi aku beramah tamah dengan di ketua OSIS sialan ini sekalipun diiming-imingi menjadi pacarnya, gebetannya atau apapun itu yang berkaitan dengannya.
Aku menarik lenganku lalu melengos pergi sembari menarik si mantan ketua OSIS SMP, Bimo. "Ikut aku"
Aku melirik sebentar punggung Revi yang kembali berkumpul dengan teman-temannya. Ia tertawa, sembari ber-high five dengan teman-temannya.
"Baik!" sahut Bimo dengan cepat menjajariku, "Apa benar dia sudah datang ke rumahmu?" tanya Bimo penasaran. Setelah kami menjauhi kantin yang masih terdengar berisik dengan suara tawa.
Aku mengangguk, "Kenapa? Mau datang ke rumah juga?" tanyaku penasaran.
Bimo tersenyum miring, "Adikmu pasti masih menganggap ku sebagai musuh!"
Aku tergelak singkat, "Surya? Dia jadi ketua OSIS, walinya si Bulik Kyle." jelasku sembari mengikat rambutku.
Udara di bawah pohon beringin ini cukup berangin. Beberapa siswa sering menghabiskan waktu istirahat di taman ini. Beberapa tempat juga sudah di kuasai oleh kakak kelas, dan kami adik kelas hanya mendapat tempat-tempat yang katanya tidak nyaman. Tapi aku tidak peduli. Asalkan jangan bertemu dengan si pengki lagi!
"Adikmu memang cukup memiliki kemampuan untuk menjadi ketua OSIS sama sepertiku dulu!" sahut Bimo sombong.
"Tahu susur itu memang pintar, kerjaannya cuma belajar dan belajar. Pokoknya dia berhak mendapatkan predikat siswa teladan dan anak teladan, sama sepertimu!" ujarku membanggakan Suryawijaya dan laki-laki di depanku. Ia tersenyum lebar dan mengangguk mantap.
"Seneng banget kamu kelihatannya." Mata Bimo menerawang. Aku mengangguk, sekolah tanpa Suryawijaya adalah kebebasan. Dia tidak akan mengadu bagaimana tingkahku di sini kepada Ayahanda dan Ibunda. Kecuali memang orangtuaku meminta salah satu guru atau staff sekolah menjadi mata-mata. Itu lain ceritanya. Ayahanda pasti akan tahu apapun kejadian di sekolah ini tanpa aku ceritakan sendiri.
"Hahaha... Aku paham, tiga tahun aku melihatmu di SMP. Kamu..." Bimo tertawa kecil, "Sesulit itukah menjadi anggota keluarga kerajaan? Hingga kamu sering menjadikan sekolah pelarian atas sifat liarmu?"
"Liar?" Mataku mendelik tak terima, "bukan liar, aku hanya perlu tempat untuk menyalur energi yang terkadang berlebihan di tubuhku."
"Oke, aku terima alasanmu. Lagipula, membantahmu sama saja hasilnya." Bimo tersenyum culas.
Aku menepis bahu Bimo, "Datanglah ke rumahku, Suryawijaya pasti senang bertemu denganmu!" Aku cekikikan, itu undangan sekaligus hadiah berisi jebakan. Kedua laki-laki itu pasti akan melemparkan pandangan permusuhan. Seperti yang sudah-sudah.
"Terimakasih, tapi aku lebih suka datang ke keraton yang dibuka untuk umum." jelas Bimo, sekaligus menjelaskan penolakannya.
"Kenapa memangnya?" tanyaku heran.
"Isinya pasti sama saja, lawas, antik, dan berharga sepertimu."
"Apa sih!" Aku mencebik lalu berjalan cepat meninggalkannya. Lalu tiba-tiba, tanpa bisa aku tahan, sudut bibirku tertarik ke angkat. Senyum kecil menghiasi wajahku yang tersipu malu.
Sungguh, aku tidak berharap ada jerawat cinta yang tumbuh di wajahku. Belum saatnya aku jatuh cinta karena aku masih anak sekolah satu SMA. Aku masih terlalu polos mengenal cinta, atau aku takut mengenalnya. Lagipula, Bimo bukan kriteriaku, dia pasti sedang bercanda.