Menikah bukan berarti jodoh sudah bermuara pada tempatnya. Terkadang Tuhan hanya mempertemukan, namun tidak menyatukan.
Senja adalah perempuan korban dari perjodohan kedua orangtuanya, niat hati untuk mengabulkan keinginan orang tuanya, membuat Senja harus menelan pahit sekelumit kisahnya sendiri.
Seperti apa kehidupan Senja setelah menikah????
Akankah ia temukan kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si pengecut
Dewo,si pengecut yang baru saja menyakiti Senja hingga tak sadarkan diri, telah melarikan diri setelah melihat Senja terkulai lemas, dengan muka pucat pasi dan jatuh pingsan.
Tika sangat panik merasakan tubuh Senja yang terasa dingin, Melihat Dewo lari terbirit-birit membuat Tika semakin yakin,jika Dewo lah yang membuat Senja hingga pingsan.
Tika mengambil selimut untuk menutupi tubuh Senja, kemudian Tika meriah ponsel Senja dan segera menelfon Anto, ayah dari Dewo.
"Pakde, tolongin Mbak Senja, Mbak Senja pingsan dirumah!" Getaran suara Tika membuat Anto menjadi khawatir dengan keadaan menantunya, Pria paruh baya itu masih berkutat dengan pekerjaan di Kantornya yang di kelola oleh Dewo, tak mau membuang waktu, Pak Anto pun menghentikan rapat yang Ia adakan secara dadakan dan masih berlangsung kemudian beranjak pulang kerumah Senja.
Diperjalanan, Pak Anto menelfon Bu Sinta untuk memberitahukan keadaan Senja yang Ia sendiri baru ketahui melalui telfon dari Tika, Diwaktu yang sama, Bu Sinta pun pergi kerumah Dewo.
Bu Sinta lebih dulu sampai dirumah anaknya, begitu masuk kerumah, Bu Sinta langsung naik kelantai dua dimana Senja berada, Didalam kamar Senja, Tika sedang membaluri seluruh tubuh Senja menggunakan Minyak,
"Ya Allah, Tika! Kenapa Senja bisa seperti ini?"
"Tika enggak tahu, Bude! Tadi Mas Dewo datang kerumah nyariin Mbak Senja, karena Mbak Senja gak ada, mas Dewo nya langsung pergi, Tika khawatir Mbak Senja kenapa-napa, makanya Tika susul kesini, Pas Tika sampai, Mbak Senja sudah jatuh di lantai, terus Mas Dewo nya langsung pergi" Tika menjelaskan kejadian yang Ia ketahui.
Setelah sekian lama menunggu, Senja tak kunjung sadar dan Pak Anto pun tak juga datang, Bu Sinta dan Tika berinisiatif untuk membawa Senja kerumah sakit sendiri menggunakan taxi atau mencari bantuan, Bu Sinta dan Tika mengangkat badan Senja bersamaan, perlahan menuruni tangga agar tubuh Senja tidak terjatuh. Sampai dilantai bawah, Mobil pak Anto baru saja tiba dihalaman rumah.
Langsung saja Pak Anto yang dibantu oleh sopirnya memindahkan tubuh Senja dari gendongan Tika dan Bu Sinta ke dalam mobil.
Bu Sinta duduk dengan memangku kepala Senja sedangkan Tika menopang kaki Senja,
"Ya Allah...Pah! Gimana kalau terjadi apa-apa sama Senja"
"Tenang ya Mah, InsyaAllah Senja akan baik-baik saja, sepertinya ini semua salah Papa! karena Pagi ini, Papa sengaja memindahkan sebagian aset yang kita miliki menjadi atas nama Senja, kemungkinannya Dewo sudah mendengar tentang hal tersebut dan menjadi marah, niat Papa sebenarnya agar Dewo tidak berani lagi macam-macam sama Senja, ternyata dugaan Papa salah," ujar Pak Anto.
Tiba dirumah sakit, Pak Anto memanggil perawat agar membawa brankar ke parkiran mobil untuk membawa Senja, kemudian senja dipindahkan ke brankar dorong dan masuk ke UGD.
"Kita harus kabarin Bu Ina sama Pak Deni, Ma!" kata Pak Anto
Bu Sinta dilanda kebingungan, lantaran selama ini mereka tidak tahu dengan persoalan rumah tangga Dewo dan Senja. Sepertinya, Senja pun tidak memberitahukan hal ini kepada kedua orangtuanya, "Gimana ngomongnya sama mereka Pah? Mama takut mereka akan marah kalau tahu Senja menerima KDRT dari anak kita,"
"Mau bagaimana lagi Mah, ini memang salah kita yang memaksa Dewo menikahi Senja, tadi nya Papa kira setelah menikah Dewo bakal berubah, ternyata malah semakin menjadi seperti ini"
"Jujur saja Bude! bicarakan apa adanya kepada orangtua Mbak Senja. Dan sementara ini,biarkan Mbak Senja tinggal dirumah orangtuanya, Tika takut Mas Dewo akan melakukan hal yang sama lagi" saran Tika
Pak Anto dan Bu Sinta pun membenarkan perkataan Tika, Demi kesehatan fisik dan mental Senja, mereka tidak akan egois, merekapun akan memberitahukan kepada orangtua Senja, dan bertanggung jawab atas perlakuan Dewo terhadap Senja.
Beberapa jam setelah Pak Anto menelfon Pak Deni dan memberitahukan kondisi Senja yang dilarikan ke rumah sakit, Akhirnya Bu Ina dan Pak Deni pun tiba.
Pak Anto sengaja tidak memberi tahu kejadian yang sebenarnya, Pak Anto berencana membicarakan ketika mereka sudah datang.
Pak Deni dan Bu Ina langsung menghampiri Pak Anto dan lainnya yang sedang menunggu Dokter memeriksa Senja "Assalamualaikum Pak Anto, Bu Sinta! Bagaimana Pak? Apa yang sebenarnya terjadi pada Senja?"
Pak Anto mengusap bahu Pak Deni dan mengatakan untuk menunggu hingga dokter selesai memeriksa Senja.
Setelah beberapa menit menunggu namun dokter yang menangani Senja tak kunjung datang, Pak Anto mengajak Bu Ina dan Pak Deni berbicara mengenai kondisi rumah tangga anak-anaknya.
Pak Deni dan Bu Ina sangat terkejut mendengar cerita dari Pak Anto, Bagaimana tidak, selama ini sekalipun Senja tidak menceritakan tentang rumahtangganya. Bu Ina berpikir bahwa rumah tangga anaknya baik-baik saja, lantaran Senja tidak pernah absen memberi uang saku kepada Bu Ina setiap bulannya, "Pantas saja Nak Dewo tidak pernah ikut Senja saat mengunjungi kami" ucap Bu Inah.
Berulangkali Bu Sinta dan Pak Anto mengucapkan kata Maaf dan menyesal karena kurang memperhatikan anak-anaknya.
lu yg tinggalkan anak dan suami lu demi karir modelmu.
egois lu Jihan dan gak tahu malu.
Setuju banget mak, mencintai orang yg Sama dg waktu yg lama dan harus setiap hari tanpa lelah Dan bosan.
Mantap mak pesannya. Angkàt topi untukmu.
Alamak.......mantap banget kata²nya Thor.
"I know... Tapi, jika suatu saat kamu merasa ingin memulai kembali berpetualang, aku ingin kamu tahu, ada aku dan Biru yang siap menemanimu untuk kembali berpetualang, mencari seperti apa rupa kebahagiaan dan membangun tempat untuk kata Pulang,"
Bukan kata dan rayuan gombal tapi juatru kata² oenuh makna ini yg bikin hati aq juga ikut meleyot Bang Awan.