NovelToon NovelToon
Luna Dan Pangeran Playboy

Luna Dan Pangeran Playboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:203.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Murniasih

**

Luna tak pernah bahagia dalam hidupnya. Ia selalu merasa, kesialan yang menimpa keluarganya disebabkan keluarga sepupunya, Tina dan Bianca. Ia bahkan harus bekerja sebagai bawahan ayah Tina. Ketika membuat sepatu untuk pernikahan Tina, Luna tidak sengaja bertemu dengan Ariel, si playboy yang suka mempermainkan wanita. Awalnya, Luna tak mau meladeni playboy tampan itu, hingga akhirnya dia luluh pada rayuannya.

**

Ariel memutuskan untuk tidak menganggap serius cinta sejak dikhianati oleh perempuan yang pernah dicintainya. Lalu ia bertemu Ayu, wanita misterius yang membuatnya penasaran karena sepertinya gadis itu tak jatuh dalam pesona rayunya. Namun, Ayu ternyata menyimpan rahasia besar tentang hidupnya, rahasia yang membuat Ariel harus mempertanyakan kejujuran wanita itu.

Setelah kebenaran terungkap, Luna--;yang semula mengaku bernama Ayu-- dan Ariel harus mempertanyakan apakah cinta sanggup menjadikan mereka orang yang lebih baik untuk satu sama lain.

**

Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Murniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh

#Bab Sebelumnya...

Luna menoleh dan terpaku beberapa saat. Senyum supermanis Ariel sedikit membuat kepalanya kembali berputar. "Ayu. Namaku Ayu," jawab Luna cepat.

"Sampai ketemu lagi, Ayu," bisik Ariel sambil melepaskan tangannya.

**

Ia membenci seluruh hal yang berkaitan dengan keluarga sepupunya, tapi ia justru berakhir di ranjang Ariel Gunawan. Laki-laki yang dalam waktu dekat ini akan menjadi bagian dari keluarga musuhnya.

Luna mendesah kesal untuk kesekian kalinya sambil menatap penuh amarah ke depan altar. Kearah seorang laki-laki yang beberapa jam lalu membekap mulutnya dan sudah melihat tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam dengan kulit penuh bentol-bentol merah.

Ariel menatapnya tajam dari depan altar sepanjang acara pemberkatan pernikahan Tina dan Leo. Sesekali Luna mendapati Ariel mengedipkan mata dengan nakal kepadanya. Dan tiap kali Ariel melakukan hal itu Luna mendesah semakin kesal dan duduk semakin tegak.

Beberapa kali Luna sudah berusaha mengalihkan matanya ke arah lain. Tapi selalu saja matanya melihat hal-hal atau manusia lain yang juga membuatnya kesal. Seperti saat ia mengalihkan pandangan dan tidak sengaja melihat Tony, si wedding planner, yang tadi pagi langsung merampas begitu saja sepatu Tina dari tangannya setelah ia meninggalkan kamar Ariel, atau ia mendapati pikirannya merutuki kapel kecil yang menjadi tempat pemberkatan pernikahan sepupunya itu. Kapel yang sebenarnya sudah jarang dikunjungi orang kini berubah 180 derajat menjadi kapel yang sangat cantik. Berbagai bunga kesayangan Tina menghiasi tempat itu dan tidak terlihat berlebihan meski Luna yakin banyak uang yang keluar demi menyulap tempat itu menjadi seindah dan sesakral ini. Warna-warna lembut kain-kain yang menjuntai di sepanjang dinding membuat otaknya bergerak cepat menghitung berapa besar uang yang habis hanya untuk acara ini.

Pikiran Luna berhenti di tengah-tengah perhitungan betapa boros sepupunya itu. Ia kembali memperhatikan detail altar dengan dagu terangkat tinggi. Dan untuk kesekian kali, matanya terpaku pada senyum genit Ariel yang bertugas membawa cincin kawin dan berdiri tepat di belakang kakaknya, Abel.

Mau tidak mau Luna kembali melontarkan kekesalannya dengan melemparkan tatapan maut kepada Ariel sebelum memberengut kesal memandang ke arah lain.

"Luna, bisa nggak kamu duduk diam tanpa bersuara sedikit pun hanya untuk satu jam ke depan? Apa segitu sakitnya alergi di sekujur tubuhmu itu sampai-sampai kamu berdecak dan mendesah setiap dua detik? Kamu alergi apa sih sampai jadi begini? Seumur hidupku baru kali ini aku lihat kamu seperti ini."

"Sori," bisik Luna ketus lalu menoleh ke sebelah kirinya, "... Ali." Ali yang seumuran dengannya dan Tina melirik kesal ke arahnya. "Hampir saja aku tidak mengenalimu. Coba kamu nggak mengenakan semua benda konyol ini, mungkin aku nggak bisa mengenalimu sama sekali. Bahkan semua undangan yang ada di sini mungkin nggak bergosip tentang gaya bajumu kali ini," sindir Luna dengan sinis. Lalu terang-terangan berdecak jijik dan memelototi dandanan aneh Ali. Kacamata hitam, topi detektif, syal tebal di sekeliling leher sampai menutupi dagu, serta jaket tebal yang membungkus tubuh membuat Luna mengernyit sebal. Seharusnya Ali sekalian saja menggunakan masker wajah untuk menutupi wajahnya.

Luna, Ali, dan Tina selalu sekelas sepanjang kehidupan sekolah mereka. Dari dulu Luna sudah tahu kalau teman masa kecilnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, jatuh cinta setengah mati pada Tina. Bagi Luna hal ini pula yang menjadi satu deretan kekesalannya pada Tina. Bukan karena ia menyukai Ali, tapi lebih karena menurutnya daya tarik sepupunya itu benar-benar kuat sehingga bisa menarik siapa saja. Dan terbukti, yang paling lemah menangkis daya pikat Tina adalah laki-laki bertampang impor yang sekarang berdiri dengan wajah tegang di depan altar sana.

"Kamu tahu, sepatu yang dipakai Bianca dan Tante Dewi itu buatanku. Sepatu yang dipakai kedua pengiring pengantin juga buatanku. Dan yang lebih penting lagi, sepatu sialan si penyihir yang sedang kamu tangisi itu juga buatanku. Bayangkan! Lina pasang sepatu itu sudah membuat hari-hariku menderita!" bisik Luna pada Ali yang masih menatap lekat-lekat ke depan. Luna yakin jika mata Ali dipaksa melotot beberapa detik lagi, laki-laki itu bisa kehilangan kedua matanya karena terjatuh begitu saja dari rongganya.

Luna mendengus kesal karena Ali hanya membisu dan tidak ambil pusing dengan ucapannya. Dengan cemberut, Luna memalingkan kepalanya kembali ke depan

Sial! Kenapa Ariel masih tetap memandanginya? Dengan senyum menjijikan itu pula. Siapa sih yang mengatur para pengiring pengantin duduk menghadap undangan, bukannya duduk menghadap altar? Hmm... tapi Ariel memang memandangnya kan? Atau dia sedang memandangi orang lain dan Luna yang terlalu ge-er? Atau ini gara-gara bentol-bentol alergi di sekujur tubuhnya? Mungkinkan Ariel hanya menertawakan Ali di sebelahnya yang mengenakan pakaian ala penduduk kutub utara? Luna mengerutkan dahi dan berpikir keras. Dari sudut mana pun, Ali dengan pakaian detektif bodohnya, justru membuatnya menjadi pusat perhatian daripada menjadikannya kamuflase.

"Ali, lepas semua aksesoris konyolmu itu! Semua orang bakal mengira kamu gila. Apa nggak malu berpenampilan seperti detektif kesiangan begini?" Luna berdesis kesal di telinga Ali. Ali yang memiringkan kepalanya untuk mendengar bisikan Luna, hanya mendengus lalu kembali menatap ke depan.

Saat Luna melirik ke depan, Ariel tidak lagi tersenyum tapi memandangnya dengan dahi berkerut serius. "Lihat! Laki-laki itu memperhatikan mu lagi! Pasti karena penampilanmu yang menjijikan," bisik Luna sambil menyenggol tangan Ali, kali ini tanpa melepaskan pandangan dari Ariel.

Ali tetap tidak menghiraukan ucapannya. Karena tidak sabar, Luna menarik kacamata Ali. Luna terperangah kaget karena mendapati mata Ali berkaca-kaca tepat saat Tina menjawab "I Do".

"Kembalikan kacamataku, Luna..." bisik Ali, manatap nanar jemari Luna yang menggenggam kacamatanya. Dengan berat hati, Luna mengembalikannya. Helaan napas panjang Ali membuatnya merasa tidak enak.

Luna segera melupakan keberadaan Ariel di depan sana dan mencoba menjadi malaikat penghibur bagi Ali. Tangan kirinya menepuk-nepuk punggung Ali perlahan. "Aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik daripada sepupuku."

"Tetap saja wanita itu bukan Tina," gumam Ali hampir tak terdengar, wajahnya menunduk sedih. "Apa kamu belum berhenti membenci keluarga sepupumu?" tanya Ali mencoba mengalihkan pembicaraan.

Luna tersenyum sinis dan sengaja mengangkat wajahnya angkuh. "Sayangnya, belum terpikir untuk berhenti membenci mereka."

Ali menggeleng-gelengkan kepala. "Masih tetap Luna yang sama."

"Kamu juga masih seperti dulu," balas Luna.

Ali mengangguk pelan. "Ya. Masih sama bodohnya," katanya sambil memandang pakaiannya sendiri lalu melanjutkan, "...dan sangat tolol karena berpenampilan seperti ini. Sebaiknya aku pergi..."

Luna menoleh karena terkejut. "Kenapa?"

"Aku mau menyingkirkan penampilan konyol ini. Sebelum semua tamu memandangiku dengan tatapan aneh, dan agar kamu tidak semakin ribut mengomeliku. Aku juga sudah bosan mendengarmu mengeluh kesal sepanjang acara pemberkatan," Ali menjawab.

***

1
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
nah Lo yg ganti nama sendiri,semakin km gitu Ariel bakal tambah semangat ngejar km lun.cwo kan suka tantangan 😇
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
ehhh berharap??? 😳😳
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
mau ga lun???klo ga mau biar aku yg gantiin k Hongkong🤣🤣🤣🤣🤣
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
astaga.....udh nyosor tepuk bokong juga Riel 😄😄
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
luna galak bnr si😇😇
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
sebenarnya apa yg terjadi 😄😄
★Chelow kia
keren dari luna jadi ayu pasti si aril bakal kebingungan 🤣
★Chelow kia
aku suka gayamu ariel gass ku kawal sampe pelaminan 🤣
★Chelow kia
minun sampe gasadar gitu,Banyak pasti yg diminum luna 😳
★Chelow kia
sabar li semoga km mendapatkan pengganti yg lebih baik
★Chelow kia
nah kan kan cuma alergi🤭😂
★Chelow kia
positif thinking aja mingkin luna alergi nyamuk besar🤣
★Chelow kia
semoga nggak di anu" kamu lun😳
★Chelow kia
tingkahnya luna menggemaskan🤭
★Chelow kia
ya ampun lun tadi dilempar sekarang di cari😂
★Chelow kia
aduh sakit tuh pasti kena lempaaran sepatu 😆
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
itu Luna Lom sadar aj dia,tar lama2 naksir Ariel dehh
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
nohhh yg diharapkan dtg lun.udh jgn ngomel2 peluk ajahh😇😇
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
alamatnya ditulis Riel,orgnya juga di foto biar ga susah cari alamatnya nanti😄😄
🌟æ⃝᷍𝖒ᵐᵉN^W^NH^Ti᭄💫
klo jodoh ga kmn lun,ga ush lari2 cape 😇😇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!