NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Teguran Seorang Ibu

Meski belum kosong, tapi kenyataannya botol itu sudah hampir bisa dibilang pecah.

Zhao Fei memungutnya dari lantai dengan hati-hati, menghindari pecahan kaca di sekelilingnya. Di dasar botol yang tersisa, beberapa tetes cairan keemasan masih menggenang. Cukup untuk satu tegukan kecil, atau bahkan mungkin kurang dari itu.

Tangannya bergerak ke arah ibunya yang berbaring di ranjang.

Tapi sebelum dia sampai, jari-jari kurus itu menarik kain lengan bajunya.

Ming Lianhua tidak langsung berbicara. Dia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong tubuhnya ke posisi yang lebih tegak. Punggungnya bersandar ke dinding, matanya terbuka sepenuhnya, dan pandangannya menyapu seisi ruangan dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh orang yang sakit parah selama tiga tahun terakhir.

Matanya berhenti pada Zhao Kun dan Zhao Jie yang berdiri di dekat pintu. Lalu pada istri-istri mereka di belakang.

Dia tidak berteriak.

"Kalian ingat," suaranya rendah tapi memiliki bobot, "ayah kalian bertiga adalah seorang laki-laki yang mencuri keberanian orang lain untuk menutupi kepengecutannya sendiri."

Bahkan tidak ada yang berani bergerak di ruangan itu saat fakta itu diungkit kembali.

"Dia menghabiskan semua yang kita punya untuk meja judi yang tidak pernah memberinya kemenangan sebelum dia pergi dengan perempuan lain tanpa menoleh sekali pun." Napasnya tenang. "Meninggalkan ibu dengan tiga anak laki-laki, tanpa uang, tanpa nama baik, tanpa apa pun."

Zhao Kun menelan ludah melirik ke lantai.

"Zhao Kun putraku, apakah kau ingat waktu dirimu mencuri koin dari Tetangga Ma?" Suaranya tidak naik. "Ibu yang membayar gantinya. Ibu yang datang minta maaf sambil berdiri di depan pintu mereka dengan muka yang tidak punya harga diri lagi." Wanita itu berhenti sebentar untuk menunjuk dadanya dengan tangan. "Tapi ibu lakukan itu karena kau anakku."

Sementara bibir Zhao Kun terkatup seperti disegel.

"Dan kau, Zhao Jie." Matanya beralih ke putra keduanya. "Utang-utangmu pada orang-orang itu. Ibu yang melunasinya satu per satu. Ibu tidak pernah tanya dari mana kau berutang, kepada siapa, untuk apa. Karena kau juga anakku."

Zhao Jie melihat ke arah dinding.

Kedua istri di belakang mereka tidak bersuara pula. Ekspresi mereka masing-masing berbeda tapi tujuannya sama, agar berusaha tidak terlihat.

"Kalian," kata Ming Lianhua dengan nada yang sama, "kalian datang ke rumah ini hanya ketika ada yang bisa kalian ambil. Bukan untuk memberi."

Tatapannya bergeser ke arah Zhao Fei.

"Tapi anak bungsuku ini."

Suaranya berubah.

"Dia tidak punya bakat kultivasi. Tidak ada wanita yang mau meliriknya dan tidak ada yang percaya padanya." Ming Lianhua menarik nafasnya untuk menenangkan diri. "Tapi dia kembali. Dia masuk Sekte Garuda Putih untuk mencari obat bagi ibunya."

Zhao Kun memilih menatap sudut ruangan yang tidak ada isinya.

"Dia yang mengharumkan nama keluarga ini. Kalian tidak. Istrimu tidak." Pernyataan itu keluar tanpa amarah. "Bukan kalian."

"Berikan sisa ramuan itu padaku, Nak."

Zhao Kun mengambil setengah langkah ke depan. "Tapi Ibu..."

Kata berikutnya tidak pernah keluar dari mulutnya. Ibunya pun tidak menoleh ke arahnya. Tatapan yang tetap lurus ke depan itu sudah cukup untuk mengembalikan Zhao Kun ke tempatnya semula dengan bibir tertutup.

Sementara Zhao Fei mendekat ke ranjang, miringkan botol yang tersisa di atas telapak tangan ibunya. Cairan keemasan itu keluar dalam tetesan yang lambat, tidak lebih dari setegukan kecil.

Ming Lianhua meminumnya habis.

Istri Zhao Kun bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun. Tangannya meraih pergelangan tangan Ming Lianhua sambil bibirnya mulai bergerak.

"Ibu, bagaimana rasanya? Ada yang sakit di mana? Jangan-jangan ramuannya kurang cocok? Ibu harus tetap berbaring, terlalu buru-buru bangun itu tidak baik, apakah perlu kami panggilkan tabib dari desa..."

Kata-katanya meluncur satu di atas yang lain dan terus-menerus, seperti orang yang mencoba mengisi semua ruang di udara agar tidak ada yang lain yang bisa masuk.

Sedangkan Ming Lianhua justru mengangkat satu tangannya, setinggi bahu. Tidak dengan kekuatan penuh karena memang belum pulih sepenuhnya. Tapi gerakannya cukup jelas.

Istri Zhao Kun melepaskan genggamannya dan mundur selangkah. Garis lengkung buatan itu masih terpasang di wajahnya, tapi matanya menghitung sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kekhawatiran.

Kemudian Ming Lianhua melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya dengan mudah selama tiga tahun terakhir.

Dia berdiri tidak dengan susah payah. Tanpa perlu menahan sakit di setiap ruas sendinya. Kakinya menyentuh lantai, dan lantai itu menerima beratnya tanpa ada yang perlu dilawan. Punggungnya yang dulu selalu sedikit membungkuk karena sakit, kini lurus seperti seseorang yang baru saja mengingat bahwa tubuhnya memang bisa berdiri.

Sementara Zhao Fei tidak bergerak, tapi tatapannya mengikuti setiap langkah itu.

Kemudian ibunya ada di depannya, dan dua tangan yang kurus itu melingkar di tubuhnya.

"Terima kasih, Nak." Suaranya basah oleh sesuatu yang tidak sampai jatuh. "Ibu merasa seperti terlahir kembali."

Tangannya terangkat untuk membalas pelukan itu dengan hati-hati.

Tentu saja ada yang kepanasan, Zhao Kun dan Zhao Jie saling melempar pandang dengan ekspresi orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak masuk ke dalam logika dunia mereka.

Hingga akhirnya Ming Lianhua melepaskan pelukannya dan menatap wajah Zhao Fei dari jarak dekat. Ada sesuatu di matanya yang tidak pernah ada di sana sebelum malam ini. Bukan hanya kebanggaan. Sesuatu yang lebih dari itu.

"Ibu sangat bangga padamu."

Zhao Fei menggeleng sedikit. "Ibu harus tetap sering beristirahat. Ramuan itu tidak seketika menyembuhkan semuanya." Matanya menatap lurus. "Mulai sekarang aku yang akan menghidupi keluarga ini. Terutama Ibu."

Tidak ada yang berani menambahkan apa pun setelah kalimat itu.

Jauh dari rumah mereka, pintu kayu jati ruang tetua terbuka terlalu keras untuk pintu yang dibuka oleh seseorang yang biasanya bergerak dengan tenang.

Liu Xue masuk dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Rambutnya yang selalu rapi dikucir tinggi kini ada satu helai yang lolos di sisi kirinya, pertanda bahwa dia datang tanpa menyiapkan diri sepenuhnya.

Kakeknya tidak mengangkat kepala dari gulungan kertas yang ada di mejanya. Tapi dia tahu siapa yang datang, tanpa melihat.

"Benarkah murid baru bernama Zhao Fei tadi dipanggil ke sini?" tanya Liu Xue.

"Benar."

"Dan kakek memberitahunya tentang..." Dia tidak menyelesaikan kalimat itu.

Tetua itu meletakkan kuasnya dan menatap cucunya. Wajahnya tenang dengan cara yang tidak menyembunyikan bahwa ada beban di baliknya. "Aku memberitahunya. Tapi pemuda itu meminta waktu untuk berpikir."

Liu Xue langsung mendecak. Wajahnya yang biasanya datar kini ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaannya. Matanya sedikit lebih merah dari biasanya. "Aku tidak setuju."

"Sudah berapa kali kau mengatakan itu."

"Ini hidupku. Bukan keputusan yang bisa dibuat orang lain."

"Aku tahu itu juga." Tetua itu menghela napas seperti napas seseorang yang sudah berputar sangat lama di dalam labirin dan belum menemukan jalannya. "Tapi kau harus memiliki calon yang diakui sebelum 'orang itu' datang lagi."

Liu Xue menatap kakeknya. "Long Wei."

Nama itu keluar dari mulutnya seperti benda yang sudah terlalu lama dipegang dan tidak mau lagi memegangnya.

"Siapa lagi." Tetua itu beranjak dari kursinya, berjalan ke jendela. Punggungnya menghadap cucunya. "Dia sudah melamarmu dua tahun lalu. Keluarganya tidak berhenti mendesak karena mereka tahu jika kekayaan dan kekuatan mereka bukan hal yang bisa diabaikan. Lalu jika mereka memutuskan berpihak pada musuh kita di konflik berikutnya..." tangannya bergerak membelai jenggot. "Sekte ini yang akan menanggung akibatnya."

"Jadi aku harus mengorbankan diri untuk sekte?"

Tetua itu tidak menjawab segera.

Di dalam dadanya, Liu Xue merasakan sesuatu yang sudah lama dia tekan ke bagian paling bawah, di tempat yang tidak mudah dijangkau. Gambaran dua wajah yang sudah lama tidak dia lihat kecuali dalam mimpi.

"Ayah dan Ibu bahkan meninggal dalam perang besar antar sekte," suaranya bergetar di beberapa titik tapi tidak cengeng. "Mereka sudah memberikan segalanya, dan aku tidak akan membiarkan kematian mereka hanya menjadi alasan orang lain untuk mengatur hidupku."

Matanya menatap punggung kakeknya dengan keras.

"Aku tidak takut pada Long Wei. Aku tidak takut pada ancaman sekte mana pun, dan aku tidak akan menikah dengan seseorang yang aku benci hanya karena itu tampaknya lebih mudah."

Dia berbalik. Langkah kakinya keluar dari ruangan itu dengan kecepatan yang tidak mengizinkan siapa pun untuk menghentikannya. Pintu kayu jati menutup di belakangnya dengan bunyi yang bergema di antara dinding-dinding batu yang biasanya tidak pernah mendengar suara sekeras itu.

Sementara kakeknya itu masih berdiri menghadap jendela. Satu tangannya bertumpu pada dinding.

"Mungkin ini salahku," bisiknya pada kegelapan di luar jendela yang tidak memberikan jawaban apa pun.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!