Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: RUMAH KENANGAN DAN LUKA YANG BELUM SEMBUH
...BAB 15...
...RUMAH KENANGAN DAN LUKA YANG BELUM SEMBUH...
Kurang dari satu jam setelah kepergian Alina, suasana di rumah besar itu semakin sunyi dan dingin. Ruangan yang dulu selalu penuh keramaian, tawa, dan kemegahan, kini tinggal menyisakan perabotan kosong, debu tipis yang beterbangan, serta dua hati yang sedang terluka parah. Aditya duduk kembali di sofa tua itu, tubuhnya terasa hancur bukan hanya karena masalah keuangan, tapi karena rasa bersalah yang begitu besar. Ia merasa gagal sebagai ayah, gagal melindungi istrinya dari hinaan anak kandungnya sendiri.
Kirana berdiri diam di tengah ruangan, tangan masih menggenggam erat buku tabungan yang sudah ia simpan kembali ke dalam tas usang miliknya. Air matanya sudah kering, tapi rasa perih di dada masih terasa menusuk tajam. Ia tidak pernah menyalahkan Alina, ia paham betul rasa takut, rasa malu, dan rasa marah yang dirasakan gadis itu saat dunianya runtuh seketika. Namun, kata-kata kasar dan penolakan keras itu tetap meninggalkan luka dalam yang sulit disembuhkan.
“Mas… ayo kita berkemas. Sudah hampir sore, pemilik baru rumah ini akan datang mengambil alih nanti malam,” ucap Kirana pelan, berusaha menahan getaran di suaranya. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan lembut untuk membantu Aditya berdiri.
Aditya mengangguk lemah, tangannya gemetar saat memegang tangan Kirana. Ia menatap wajah istrinya yang lelah namun tetap penuh kesabaran, rasa malu itu kembali meluap di dadanya. Wanita yang selalu ia anggap sederhana, polos, dan butuh perlindungan, ternyata adalah orang yang paling kuat dan paling tulus di antara semua orang yang ia kenal.
“Kirana… maafkan aku. Maafkan aku sudah membuatmu menderita, sudah membuatmu dihina seperti itu di rumah sendiri,” bisik Aditya dengan suara parau, mata kembali berkaca-kaca. “Aku tidak pantas mendapatkan istri sebaik kamu.”
Kirana tersenyum tipis, senyum yang penuh kepedihan namun tetap hangat. Ia mengusap punggung tangan kasar suaminya dengan lembut.
“Jangan bicara begitu, Mas. Kita suami istri, susah senang kita lewati bersama. Aku tidak merasa menderita, selama aku bersamamu dan Dimas. Yang membuatku sedih hanya satu… Alina belum mengerti. Tapi aku yakin, suatu hari nanti hatinya akan meleleh.”
Mereka pun mulai mengumpulkan barang bawaan. Hanya sedikit sekali barang yang mereka bawa: pakaian secukupnya, beberapa dokumen penting, barang kenangan kecil, serta tumpukan uang dan tabungan yang disimpan Kirana. Semua perabotan mewah, barang antik, dan benda berharga lainnya sudah disita atau diserahkan untuk menutupi hutang-hutang Aditya.
Saat mereka selesai berkemas dan hendak keluar dari rumah itu, Aditya berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, menatap rumah besar yang dulunya menjadi kebanggaan dirinya, tempat ia membangun keluarga bersama istri pertamanya, tempat ia menikmati kemewahan bertahun-tahun. Sekarang, semuanya hilang begitu saja.
Tiba-tiba, sebuah ingatan lama muncul di benak Aditya. Matanya terbelalak kaget, tubuhnya menegak seketika. Ia hampir lupa, hampir benar-benar melupakan satu hal yang paling penting di tengah kepanikan dan kesedihannya selama ini.
“Kirana… tunggu dulu,” ucap Aditya cepat, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya. “Kita… kita tidak perlu menyewa rumah. Kita tidak perlu pergi menginap di tempat orang lain atau rumah kontrakan sempit.”
Kirana mengerutkan kening bingung. “Maksud Mas? Kita kan sudah tidak punya tempat tinggal lain, semua aset sudah habis disita, kan?”
Aditya menggeleng cepat, wajahnya terlihat sedikit lega di tengah kesedihannya.
“Ada satu rumah lagi. Satu rumah yang tidak pernah tercatat dalam daftar aset perusahaan, tidak pernah digadaikan, tidak pernah tersentuh sama sekali. Rumah itu aku berikan secara sah dan khusus pada Ratna, mendiang istri pertamaku, tepat setelah kami menikah dulu. Surat tanahnya atas nama Ratna, dan sampai sekarang surat itu masih tersimpan rapi di brankas pribadiku, yang tidak tersentuh oleh petugas sita.”
Hati Kirana bergetar mendengarnya. Ia tahu Ratna, ia tahu betapa besar cinta Aditya pada wanita itu semasa hidupnya. Rumah itu pasti penuh dengan ribuan kenangan indah antara Aditya dan mendiang istrinya.
“Rumah itu lokasinya agak masuk ke dalam kota, lingkungannya tenang, tidak terlalu besar tapi cukup luas, cukup untuk kita berempat tinggal dengan nyaman. Dulu aku beli dan berikan ke Ratna karena dia suka tempat itu, dia bilang udaranya segar dan damai. Selama ini rumah itu selalu dirawat penjaga, meskipun sudah bertahun-tahun tidak kami tempati,” lanjut Aditya, matanya menerawang jauh mengingat masa lalu.
“Mas… tapi itu rumah milik mendiang Mbak Ratna. Apakah kita pantas tinggal di sana?” tanya Kirana ragu, hatinya merasa sungkan.
“Ratna pasti tidak keberatan. Dia orang yang baik, dia pasti mau kita tinggal di sana saat kita sedang kesusahan. Lagipula, itu juga rumah Alina. Di sana banyak barang-barang milik Mamanya, banyak kenangan yang dia sayangi. Mungkin… mungkin kalau kita bawa Alina ke sana, dia mau kembali dan tinggal bersama kita lagi,” jawab Aditya penuh harap.
Kirana mengangguk pelan, rasa lega perlahan masuk ke hatinya. Setidaknya, mereka tidak akan terlantar di jalanan, tidak perlu bergantung pada orang lain.
Mereka pun masuk ke dalam mobil tua satu-satunya yang masih tersisa, mobil yang tidak sempat disita karena nilainya kecil dan belum terdaftar sebagai aset perusahaan. Aditya menyetir perlahan, menuju rumah kenangan milik mendiang Ratna.
*****
Sementara itu, di sisi lain kota, Alina melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, wajahnya masih basah oleh air mata kemarahan dan rasa sakit hati. Ia mengemudi tanpa tujuan yang jelas, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menginap di hotel berbintang, menggunakan sebagian uang tabungan pribadi yang ia simpan diam-diam selama bertahun-tahun.
Alina memang selalu pandai menyisihkan uang. Selama enam tahun ini, setiap bulan Aditya selalu memberinya uang saku yang jumlahnya sangat besar, jauh lebih banyak daripada kebutuhannya. Ia selalu menyisihkan sebagian besar uang itu, menyimpannya di rekening atas namanya sendiri, tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia selalu berpikir, suatu saat nanti uang itu akan berguna baginya, dan ternyata benar, saat ini lah saatnya.
Malam itu, saat ia duduk sendirian di kamar hotel yang dingin dan sepi, Alina mulai menghitung jumlah uang tabungannya dengan teliti di atas kasur. Matanya menatap angka di layar ponselnya dengan serius. Jumlahnya memang lumayan besar, cukup untuk membeli mobil baru, cukup untuk menyewa apartemen mewah selama satu atau dua tahun. Tapi saat ia menghitung biaya hidup: sewa tempat tinggal, makan, biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, ia menyadari satu hal pahit.
Uang itu tidak akan cukup selamanya.
Kalau ia terus hidup boros seperti dulu, dalam waktu satu tahun saja uang itu akan habis tak bersisa. Selain itu, ia tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan sendiri, tidak punya orang tua yang bisa diandalkan seperti dulu. Ia benar-benar akan sendirian dan miskin.
Pikiran itu membuat jantung Alina berdebar kencang. Rasa takut yang sama seperti saat tahu Papa bangkrut kembali datang menghampiri. Ia tidak mau menderita, ia tidak mau hidup susah, ia tidak mau menjadi orang miskin yang diremehkan orang lain.
Malam itu juga, harga dirinya perlahan runtuh sedikit demi sedikit. Ia menyadari, ia tidak bisa hidup mewah sendirian dengan uang yang terbatas. Ia harus berubah. Ia harus belajar hidup hemat, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Keesokan harinya, Alina membatalkan rencana menyewa apartemen mewah. Ia keluar dari hotel, lalu berkeliling mencari tempat tinggal yang jauh lebih murah. Setelah mencari berjam-jam, akhirnya ia menemukan sebuah rumah kos-kosan sederhana, bersih, dan harganya sangat terjangkau, lokasinya hanya sepuluh menit berjalan kaki dari sekolahnya. Kamar kecil, hanya cukup untuk kasur, meja kecil, dan lemari pakaian. Sangat berbeda jauh dengan kamar mewahnya yang dulu.
Saat pertama kali masuk ke kamar kos itu, Alina menangis lagi. Ia merasa hancur, merasa dirinya sangat rendah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia menyimpan semua barang mewahnya ke dalam koper, hanya mengambil pakaian biasa yang sederhana untuk dipakai sehari-hari. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan bertahan, ia akan membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa bantuan siapa pun, terutama tanpa bantuan Kirana.
Beberapa hari kemudian, Aditya sudah berhasil menata rumah kenangan Ratna menjadi tempat tinggal yang nyaman. Rumah itu memang agak tua, tapi masih kokoh, halamannya luas penuh pohon-pohon rindang, udaranya sejuk. Di dalamnya masih tersimpan barang-barang peninggalan Ratna: foto-foto pernikahan, perhiasan kesayangan, baju-baju, semuanya dirawat dengan baik. Aditya sangat berharap, rumah ini akan menjadi alasan bagi Alina untuk mau pulang.
Ia sudah berkali-kali menelepon dan mengirim pesan pada Alina, memintanya pulang, memberi tahu bahwa mereka sudah punya rumah tinggal baru, rumah milik Mamanya tersayang. Tapi jawaban Alina selalu sama: singkat, dingin, dan keras.
“Aku tidak mau pulang. Selama wanita itu masih ada di sana, rumah itu bukan rumahku. Itu rumah kalian, bukan rumahku.”
Kata-kata itu selalu membuat hati Aditya perih, dan membuat hati Kirana semakin berat. Wanita itu tidak tenang setiap hari, pikirannya selalu tertuju pada Alina. Ia tahu gadis itu hidup sendirian, tidak terbiasa mengurus dirinya sendiri, hidup di tempat yang sempit dan jauh dari kenyamanan. Ia takut Alina sakit, ia takut Alina kesulitan, ia takut ada hal buruk yang terjadi pada anak tirinya itu.
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄