NovelToon NovelToon
KESEDERHANAAN CINTA

KESEDERHANAAN CINTA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:126.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: poppy susan

Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.

Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.

Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.

Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.

Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?

Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Kembali

🌺

🌺

🌺

🌺

🌺

Satu minggu kemudian...

Karena Indi masuk kerjanya pukul sembilan pagi, Indi jadi bisa membersihkan rumah dan halaman dulu sebelum berangkat kerja.

Seperti saat ini, Indi sedang menyapu halaman yang penuh dengan daun-daun kering yang berserakan. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan rumah Indi.

"Bubur kacang ijo dan ketam hitam, ayo merapat kesini Ibu-ibu cantik nan baik hati," teriak Azzam.

"Wuihh, keren nih sekarang jualannya pakai motor Bang," ledek Indi.

"Iya Indi, biar ga capek dorong-dorong gerobak terus," sahut Azzam.

"Abang jualan bubur kacang ya, mau dong Bang satu kayanya enak tuh," seru Indi.

"Enak dong Indi..ok, Abang akan buatkan untuk kamu."

"Bang Azzam, Rara dulu dong bubur kacangnya," teriak Rara yang langsung menghampiri Azzam.

"Sebentar ya Rara, Indi dulu soalnya Indi yang pertama memesannya." sahut Azzam dengan senyuman mautnya.

"Ga bisa, soalnya Rara mau berangkat Kuliah Bang nanti takut telat," ketus Rara.

"Ya sudah Bang, biar Rara duluan," seru Indi.

"Isshh...si Rara pagi-pagi sudah heboh aja," gumam Azzam.

"Apa Bang? barusan Abang bilang apa?" tanya Rara.

"Ah, Abang cuma bilang pagi-pagi gini Rara sudah cantik."

"Masa sih Bang? tuh kan di Kampung ini cuma Abang yang matanya normal mengakui kecantikan Rara, yang lain matanya pada siwer semua Bang," ucap Rara dengan manjanya.

Azzam dan Indi yang mendengar keluhan Rara, seketika menahan tawanya bersama-sama. Rara yang melihatnya langsung melotot kearah Indi dan Indi langsung pura-pura tidak melihat Rara.

"Wah, berarti cowok-cowok disini emang pada picek matanya Ra, padahal setiap Abang melihat senyuman Rara, Abang dapat merasakan hangatnya sinar matahari dan disaat Abang melihat Rara tertawa, Abang bisa merasakan seperti melihat indahnya Bintang," seru Azzam dengan menahan tawanya.

"Ih Bang Azzam bisa aja deh ngegombalnya, Rara kan jadi senang," ucap Rara malu-malu sembari menggoyang-goyangkan badannya.

Sedangkan Indi, dia mati-matian menahan tawanya melihat kelakuan si Rara yang sudah kaya cacing kepanasan mendengar gombalan maut Azzam.

"Ini bubur kacangnya, Raraku yang cantik."

"Makasih Abang Azzam yang tampan, ini uangnya," Rara memberikan selembar uang berwarna biru itu.

"Waduh Ra, Abang baru keluar nih belum dapat penglaris uangnya bisa uang pas ga?" sahut Azzam.

"Sudah gapapa, buat Abang aja kembaliannya."

"Tapi ini terlalu banyak Rara cantik."

"Sudah gapapa, itu itung-itung bonus buat Abang karena pagi ini sudah membuat Rara bahagia."

"Beneran nih, Rara ikhlas dunia akherat? kalau nanti Rara meninggal Rara ga bakalan nagih uang kembaliannya kan sama Abang," seru Azzam dengan lempengnya.

"Ih Abang, kok Abang ngomongnya gitu? berarti Abang mendo'akan Rara cepat meninggal dong, kan Rara masih muda belum juga merasakan pacaran sudah di do'akan yang enggak-enggak aja," ucap Rara dengan cemberutnya.

"Astagfirullah Ra, maaf-maaf Abang ga bermaksud ngomong seperti itu, Abang cuma mau memastikan aja kalau Rara benar-benar ikhlas, maafin Abang ya Rara cantik jangan cemberut gitu dong, Abang merana kalau melihat Rara ngambek seperti ini," rayu Azzam.

Akhirnya dengan malu-malu, Rara pun mulai kembali tersenyum.

"Iya Bang, Rara ikhlas kok kalau begitu Rara mau berangkat Kuliah dulu, dadah Abang Azzam," ucap Rara dengan melambaikan tangannya.

Azzam pun membalas lambaian tangannya Rara dan Rara pun segera masuk kedalam taxi online yang sudah dipesannya.

Indi yang dari tadi merasa tersiksa karena menahan tawanya akhirnya tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan dua manusia dihadapannya. Yang satu jago gombal dan yang satunya lagi gampang dibohongi.

"Yaelah si Indi puas banget ketawanya," cibir Azzam.

"Astaga Bang, perut Indi sampai sakit kaya gini sumpah gombalan Abang sungguh top dah," ucap Indi sembari mengacungkan jempolnya.

"Iya top, tapi hanya kamu yang ga mempan sama gombalan Abang."

"Kalau Indi mah sudah biasa dengerin Abang ngegombal dari dulu, lagipula Indi bukan orang yang baperan Bang jadi percuma kalau Abang mau gombalin Indi, Indi ga bakalan tergoda," sahut Indi.

"Oklah...eh iya, ini bubur kacangnya mau di bungkus apa dimakan disini?" tanya Azzam.

"Di makan disini ajalah Bang, mumpung masih ada waktu satu jam lagi," jawab Indi sembari duduk di kursi plastik yang disediakan oleh Azzam.

Azzam memberikan bubur kacangnya kepada Indi dan Azzam pun ikut duduk di samping Indi.

"Sumpah, Indi salut sama Abang jualan apapun Abang bisa dan selalu enak," ucap Indi disela-sela makan bubur kacang buatan Azzam.

"Buat orang susah seperti Abang itu harus serba bisa Indi, biar bisa bertahan hidup. Abang disini tidak punya siapa-siapa bahkan Ibu satu-satunya Abang sudah pergi ninggalin Abang, kalau Abang tidak serba bisa mungkin saat ini Abang sudah menjadi gelandangan dijalan sana," sahut Azzam dengan tatapannya yang menerawang.

"Iya juga ya Bang, buat orang yang serba kekurangan seperti kita kadang-kadang dipandang sebelah mata Bang, bahkan saat ini Indi yang masih punya Ibu pun belum bisa membahagiakannya," ucap Indi yang tiba-tiba sedih dan menundukan kepalanya sembari mengaduk-ngaduk bubur kacangnya.

Azzam yang melihat Indi tiba-tiba menjadi melow itu kemudian mengusap kepala Indi yang tertutup hijab itu.

"Sudah jangan sedih, pagi-pagi itu harus penuh dengan semangat bukannya malah sedih-sedihan seperti ini," ucap Azzam dengan senyuman hangatnya.

Indipun menoleh kearah Azzan dan tersenyum, Indi dari dulu memang sudah menganggap Azzam seperti Kakaknya sendiri begitu pun dengan Azzam yang sudah menganggap Indi seperti Adiknya.

"Oh iya Bang, saat ini kan BBM sedang naik harga BBm pun mahal, apa Abang ga rugi jualan pakai motor itu? kan harus isi bensin terus Bang," tanya Indi yang mulai melanjutkan makan bubur kacangnya.

"Gapapa Indi, Abang mah setuju-setuju aja kalau harga BBM makin mahal asalkan senyumanmu tetap murah untuk Abang," jawab Azzam cengengesan.

"Ya Alloh Abang, bisa aja membuat orang tersenyum."

"Bang, Azzam pesen bubur kacangnya satu ya Abang," seru Bu Samsy dengan mengedip-ngedipkan matanya.

Bu Samsy adalah tidak lain dan tidak bukan merupakan Mamahnya Rara.

"Bu Samsy kenapa? cacingan ya Bu, kok kedip-kedip gitu?" tanya Azzam dengan polosnya.

"Bang Azzam ga lihat apa, aku sudah pakai bulu mata anti banjir yang ga bakalan bobol walaupun banjir bandang melanda," seru Bu Samsy.

Seketika Indi tersedak bubur kacangnya mendengar ucapan Bu Samsy begitu pun dengan Azzam yang langsung memalingkan wajahnya menahan tawa.

"Kamu kenapa Indi?" tanya Bu Samsy dengan ketusnya.

"Ah gapapa Bu, tadi Indi cuma tersedak saja."

"Oh iya Indi, hari ini adalah jatuh temponya, kalian belum bayar kontrakan selama dua bulan jadi saya harap kalian bayar secepatnya, saya kasih waktu sampai nanti sore kalau nanti sore kalian ga bayar, kalian harus keluar dari kontrakan saya," seru Bu Samsy dengan ketus dan judesnya.

Sudah dapat dipastikan kalau sifat Rara yang sombong dan judes itu merupakan turunan dari Mamahnya.

"Maksud Bu Samsy apa? kata Ibu Indi kontrakan sudah dibayar kok," sahut Indi dengan kagetnya.

"Sudah dibayar dari mana? Ibu kamu sudah nunggak dua bulan lho, memangnya Ibu kamu ga bilang apa sama kamu?" tanya Bu Samsy dengan judesnya.

"Bang Azzam, ini uangnya Indi pergi dulu ya Bang," seru Indi yang langsung terburu-buru masuk kedalam rumahnya.

Azzam hanya melihat Indi yang berlari kerumahnya dengan tatapan sendu.

"Bu Sam kalau boleh tahu, memangnya bayar kontrakannya berapa Bu?" tanya Azzam.

"Dua juta Bang Azzam, soalnya kan kontrakan yang ditempati Indi dan Ibunya termasuk kontrakan yang agak luas dibanding yang lain, jadi perbulannya satu juta," jelas Bu Samsy.

"Oh..."

Sementara itu didalam rumahnya, Indi tampak memeriksa dompetnya dan ternyata setelah dilihat uang Indi hanya tersisa 300 ribu.

"Ya Alloh, uang aku hanya tinggal segini kalau aku kasbon sama Bu Arsella rasanya malu sekali soalnya kan aku baru seminggu juga bekerja. Kenapa Ibu berbohong sama aku? Ibu bilang katanya kontrakan sudah dibayar, bagaimana ini," gumam Indi.

Indi pun segera bersiap-siap dan mengambil tas selempangnya dan langsung pergi ke tempat kerja. Indi lupa tidak menyapa kembali Azzam yang saat ini sedang menatapnya.

***

Sedangkan disebuah Hotel, kedua pria tampan itu sedang bersiap-siap untuk menuju tempat yang akan di bangun untuk Restorannya.

Aiman dan Joe langsung turun ke lobi dan disana Pak Saad sudah menunggu kedatangan Bosnya itu. Setelah melihat Aiman dan Joe datang, Pak Saad langsung sigap membukakan pintu untuk Aiman.

Butuh waktu satu jam untuk sampai ditempat tujuan, tidak lama kemudian mereka pun sampai ditempat tujuan. Betapa terkejutnya Aiman saat melihat tempat yang akan dia bangun untuk Restorannya itu.

"Lho bukannya itu toko bunga wanita cantik tempo hari," batin Aiman.

Aiman pun turun dari dalam mobilnya dan disusul oleh Joe. Ternyata tanpa diduga tempat yang akan di bangun dan di jadikan Restoran itu tepat bersebelahan dengan toko bunga tempat dimana Indi bekerja.

Aiman mulai melihat-lihat lahan kosong itu dan sesekali melirik kearah toko bunga berharap Indi keluar karena entah kenapa Aiman ingin sekali melihat wajah wanita cantik yang sudah menghantui pikirannya.

"Bagaimana Im, apa kamu setuju dengan tempat ini? atau mau cari tempat lain?" tanya Joe.

"Sudah disini saja, aku suka tempat ini lagipula sepertinya tempat ini strategis soalnya berada di tengah-tengah Kota," jawab Aiman dengan wajah yang terus melihat kearah toko bunga.

Joe pun mengikuti arah pandang Aiman dan melihat ke toko bunga itu.

"Kamu ngelihatin apa Im?" tanya Joe.

"Ah, ga lihat apa-apa kok. Oh iya, mana Arsiteknya?" tanya Aiman mengalihkan pembicaraan.

"Pak Andrias," panggil Joe.

"Oh, selamat pagi Pak Aiman dan Pak Joe," sapa Pak Andrias.

"Selamat pagi, Pak Andrias saya ingin pembangunan Restoran baru saya ini berjalan dengan cepat, pekerjakan berapa pun orangnya saya akan bayar yang penting pembangunannya cepat selesai," jelas Aiman.

"Baik Pak, saya akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin, saya tidak akan mengecewakan Bapak," sahut Pak Andrias.

"Bagus."

Aiman kembali menoleh kearah toko bunga dan bertepatan dengan Indi yang keluar dengan membawa beberapa bunga yang akan di tatanya.

Hati Aiman begitu menghangat disaat melihat senyuman Indi yang begitu indah. Jantung Aiman begitu berdebar dengan sangat kencangnya.

"Kenapa? kamu suka sama wanita itu Im?" tanya Joe.

"Apaan sih Joe," sahut Aiman dengan wajahnya yang bersemu merah.

"Kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dari aku Im, aku tahu bagaimana sifat kamu dari tadi kamu tampak melihat terus ke arah toko bunga itu, apa kamu menyukai wanita itu Im?" tanya Joe kembali.

"Jujur Joe, aku menyukainya saat bertemu pertama kalinya waktu itu, dia begitu cantik dan apa adanya," sahut Aiman dengan menyunggingkan senyumannya sembari matanya tak lepas dari Indi.

"Akhirnya Bos ku yang satu ini jatuh cinta juga, kirain kamu ga suka sama wanita pengennya nempel terus sama aku," goda Joe.

"Sembarangan kalau ngomong, aku masih normal ya, kamu sendiri ngapain deket-deket terus sama aku bikin merinding aja," sahut Aiman.

"Jangan mulai deh Im, kali aja aku juga menemukan jodohku disini," celetuk Joe.

Kedua pria tampan itu tampak tertawa bersama, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Hotel dan mencari tahu kembali tentang Adiknya.

"Perasaan tadi ada yang memperhatikan aku deh," gumam Indi yang celingukan melihat kesana kemari tapi tidak ada siapa-siapa.

Waktu pun berjalan dengan cepat, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore, waktunya pulang.

Indi berjalan dengan langkah gontai dan lemas, dia tidak tahu harus mendapatkan uang dari mana sampai-sampai Indi berjalan dengan melamun dan tidak mendengar klakson yang dari tadi berbunyi nyaring dibelakang Indi.

Alex terpaksa turun dari motornya dan melangkah menyusul Indi, Alex menarik lengan Indi dengan lembut.

"Indi, kamu kenapa?" tanya Alex.

"Astagfirullah, Bang Alex," ucap Indi sembari memegang dadanya karena kaget.

"Dari tadi Abang bunyiin klakson tapi kamu ga dengar, kamu kenapa?"

"Iyakah..maaf mungkin tadi Indi lagi ngelamun."

Tanpa diduga Alex pun memakaikan helmnya ke kepala Indi dengan penuh perhatian, Indi pun baru pertama kalinya melihat wajah Alex dalam jarak yang begitu dekat.

"Tampan sekali ternyata Bang Alex," batin Indi.

"Ayo," Alex menarik tangan Indi.

Indi pun naik ke atas motor Alex, pikirannya kembali terganggu dengan uang yang belum juga Indi dapatkan untuk membayar Kontrakannya.

Alex yang melihat Indi dari kaca spion motornya merasa ada yang aneh dengan perubahan raut wajah Indi yang terlihat murung tidak seperti biasanya.

Tidak ada pembicaraan selama dalam perjalanan, tidak seperti biasanya Indi yang ceria dan bawel. Sesampainya di depan rumah Indi, Indi segera turun dan melepaskan helmnya kemudian memberikannya kepada Alex.

"Terima kasih Bang."

"Sama-sama, kami kenapa sih Ndi? kok ga biasanya murung kaya gitu? kalau ada masalah cerita sama Abang jangan dipendam sendirian, kali aja Abang bisa membantu," seru Alex.

"Beneran Indi gapapa kok Bang, Abang ga usah khawatir," sahut Indi dengan senyuman manisnya.

"Ya sudah kalau begitu Abang pulang dulu ya."

"Iya Bang, sekali lagi makasih ya Bang."

Alex pun tersenyum dan menganggukan kepalanya, Alex mulai melajukan motornya meninggalkan Indi. Indi tampak menghela nafasnya berat, dia memutuskan untuk langsung ke rumahnya Bu Samsy meminta waktu lagi untuk Indi mendapatkan uang.

Dengan ragu-ragu, Indi melangkahkan kakinya menuju rumah Bu Samsy.

Tok..tok..tok..

Indi menunggu sebentar hingga akhirnya Rara pun yang membuka pintu rumahnya.

"Ngapain kamu kesini?" tanya Rara ketus.

"Aku mau bertemu dengan Bu Samsy, apa Bu Samsy ada dirumah?" tanya Indi.

"Ma, Mama ada yang nyariin nih," teriak Rara.

Tidak lama kemudian, Bu Samsy pun datang dan Rara langsung masuk lagi kedalam rumahnya dengan tatapan sinisnya.

"Oh kamu Indi, silahkan duduk."

Indi pun duduk di kursi yang ada di teras rumah Bu Samsy.

"Hmm..begini Bu, maaf Indi belum punya uang untuk membayar tunggakan kontrakan tapi Indi janji akan segera melunasinya tapi Indi mohon beri Indi waktu," seru Indi dengan menundukan kepala.

"Uang kontrakan kamu sudah dilunasi, kamu beruntung masih ada orang yang menyayangi mu."

"Maksud Ibu apa?" tanya Indi yang merasa bingung dengan ucapan Bu Samsy.

"Tadi siang Bang Azzam sudah melunasinya, jadi kamu ga usah mikirin tentang kontrakan, saya heran sama kamu kok bisa ya semua orang perhatian dan sayang sama kamu, apa jangan-jangan kamu pelet semua laki-laki disini ya," tuduh Bu Samsy dengan ketusnya.

"Astagfirullah Ibu, Indi tidak pernah pakai pelet-pelet Ibu itu merupakan perbuatan yang di benci oleh Alloh, ya sudah kalau begitu Indi permisi dulu, Assalamualaikum."

Indi langsung beranjak dari duduknya dan dengan cepat meninggalkan rumah Bu Samsy, hatinya begitu sakit mendengar ucapan Bu Samsy yang menuduhnya tanpa macam-macam.

🌺

🌺

🌺

🌺

🌺

Selamat sore Reader-readerku tercinta seantero Noveltoon, jangan lupa dukungannya ya yang kenceng🙏🙏😘😘😘

Jangan lupa

like

vote n

komen

TERIMA KASIH

LOVE YOU💋💋💋

1
Heryta Herman
endingnya bikin nyesek...tapi begitu lah kehidupan...pada akhirnya akan peegi jua..
Heryta Herman
ya Allah..sedihnya,aku baca sambil nagis thor...
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
𝙿𝙾𝙿𝙿𝚈 𝚂𝚄𝚂𝙰𝙽: Gak tahu, dia dulu spontan aja candaannya gitu panggil Buna sama Indonesia😭😭
total 1 replies
Heryta Herman
azzam sakit apa?jantung kah?
Heryta Herman
selamat jln azzam...
Heryta Herman
hahaha...azzam...bisa aja bercandanya.../Facepalm/
Patrick Khan
.abang azaammmmm
Patrick Khan: .udah q klik kak
total 7 replies
Patrick Khan
.q nangis lo banggg😫😫😫
Patrick Khan
.nah kan azam adik e
Patrick Khan
.bang azam kok ngilang
Patrick Khan
.kyk e azam adik e nya aiman yg di cr
Patrick Khan
.bang azzam baik bgt
Patrick Khan
.bang azzam ada ada saja😆
Kak Jum
jgn2 c azam adiknya
Rastika Wati
😭😭😭😭😭😭😭sedih bgtt nie crita,,,,
Alevia
bang azzam itu plng adk nya yg hilang
inayah machmud
😭😭😭😭😭😭
Via Vivi
ya allah sakit banget bang azzammmmm😭😭😭
𝙿𝙾𝙿𝙿𝚈 𝚂𝚄𝚂𝙰𝙽: ini kisah nyata ya🙏
total 1 replies
Erni
bagus ceritanya engk berbelit-belit semangat ya Thor 💪💪💪
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya
𝙿𝙾𝙿𝙿𝚈 𝚂𝚄𝚂𝙰𝙽: ini kisah nyata ya, dan Alm.Azzam memang meninggalkan semuanya secara mendadak🙏🙏
total 1 replies
𝙿𝙾𝙿𝙿𝚈 𝚂𝚄𝚂𝙰𝙽
ini kisah nyata ya, yang fiksinya cuma beberapa persen saja🙏🙏
Nazla K. R
indi kok ngomong gtu, pdhal alex udh prnah nembak km, kmunya ja yg nolak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!