Maura Anastasia, seorang arsitek muda berusia 23 tahun yang bekerja pada sebuah perusahaan kontruksi di kota Jakarta. Terlibat hubungan rumit dengan seorang pria matang berusia 45 tahun bernama Kenneth Tanaya karena suatu peristiwa mendesak, dia terpaksa menjadi wanita simpananan laki-laki yang tidak lain adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Maura terpaksa mengkhianati kekasihnya, Jericho Pratama yang sudah empat tahun terakhir ini mendampinginya. Ditambah lagi dengan adanya perjodohan antara Jericho dan Kiara, membuat kisah cinta mereka semakin pelik.
Sanggupkah Maura mengungkapkan kejujurannya pada Jericho? Apakah dengan merelakan Jericho untuk dimiliki gadis lain adalah salah satu caranya meminta maaf atas pengkhianatan yang dilakukan olehnya? Akankah dia menjalani perannya sebagai wanita simpanan sesuai perjanjian awalnya dengan Kenneth?
Happy reading ya guys, semoga suka. Jangan lupa vote, rate, like, comment, dan share juga kisah ini.
Follow IG q juga : @lannytan2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
From author :
Hai guys, aq mw usahakan ngebut nih update novelnya, supaya kalian tambah seru bacanya yuah...
Anyway keep supporting me please. Jangan bosen vote, rate, like, comment, and share.
Happy reading, thx, luv u as always...
Lanny Tan
***
Maura tersenyum kecut menatap ponselnya, dia mengacuhkan panggilan telepon masuk dari Jericho, bahkan notifikasi pesan yang berulang kali masuk ke ponselnya tak dibukanya sama sekali. Saat ini dia sudah berada di kubikelnya, berkonsentrasi penuh merevisi gambar yang harusnya tadi pagi sudah diserahkannya di meja pimpinannya.
Harusnya semalam dia sudah mengerjakan revisi gambar sesuai janjinya pada Kenneth, dan menyerahkannya pagi tadi. Akan tetapi ada kejadian yang tak terduga, semalam ibunya merasakan kesakitan yang luar biasa pada bagian perutnya. Ibunya yang sebelumnya sudah di vonis mengidap kanker rahim, terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk segera ditangani oleh dokter. Ibunya terpaksa di opname dan dia bermalam di rumah sakit.
Paginya dia pulang ke rumah dan mempersiapkan diri ke kantor, tiba di kantor dia segera mengerjakan revisi gambarnya, tapi hingga jam makan siang dia belum berhasil menyelesaikannya. Menunda pekerjaannya lagi pada saat jam makan siang, dia harus ke rumah sakit lagi untuk menemui dokter Wijaya membahas tentang penyakit ibunya, kemudian tiba kembali di kantor untuk melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari. Hari yang sangat melelahkan, untung saja Kenneth belum mempermasalahkan keterlambatannya menyerahkan revisi gambar tersebut.
Maura memejamkan matanya sejenak, menarik napas pelan ketika melintas sekelebat bayangan Jericho dan Kiara yang sedang berpelukan tadi. Dia benci harus melihat pemandangan menyakitkan itu, entahlah dia tak ingin memikirkannya sekarang ini. Dia mencoba kembali fokus pada gambarnya yang sedikit lagi selesai.
Setengah jam kemudian gambarnya selesai, Maura segera melenggang ke ruangan Kenneth untuk menyerahkan pekerjaannya dan memohon maaf atas keterlambatannya. Ketika tiba di ruangan Kenneth, seperti biasa dia mendapati sekretaris Kenneth sedang menatap pada laptopnya. Dia mempesilakan Maura untuk langsung masuk ke dalam ruangan Kenneth.
"Maaf saya tidak bisa menepati janji saya pak," Maura berkata sopan ketika dia sudah berhadapan dengan Kenneth yang menatapnya dingin.
"Gajimu akan kupotong 50 persen karena kau sudah menyepelekan pekerjaan ini," ujar Kenneth datar.
"Tapi, pak..."
Kenneth mengangkat tangannya mengisyaratkan dia tidak ingin dibantah, Maura memejamkan matanya. Aku sedang membutuhkan uang yang sangat banyak untuk operasi ibuku, laki-laki kurang ajar ini justru akan memotong gajiku. Keterlaluan.
Belum sempat Maura meredakan emosinya, dia melihat Kenneth merobek hasil gambarnya tanpa perasaan sama sekali. Maura membulatkan matanya, dia mengepalkan tangannya hingga telapak tangannya terasa perih karena mendapat tekanan kukunya dengan kuat. Dengan napas naik turun dia menatap kertas yang sudah robek menjadi potongan kecil-kecil itu.
"Kenapa? Kau mau marah? Ini upah atas kesalahanmu yang menganggap enteng pekerjaan ini," Kenneth seolah memancing kemarahan Maura.
Entah karena menahan emosi yang sudah terlalu memuncak atau karena apa, Maura merasa kedua pelupuk matanya tergenang air yang siap ditumpahkan ketika dia mengerjapkan matanya sedikit saja. Tak ingin terlihat lemah di hadapan laki-laki tak berperasaan itu, Maura menahan air matanya jangan sampai tumpah.
"Kau keterlaluan, laki-laki tak berperasaan, kurang ajar, tua bangka tak tahu diri, hidung belang. Aku mengundurkan diri dari perusahaan ini saat ini juga," Maura menatap tajam pada Kenneth.
Seringai mengejek terukir di wajah Kenneth. "Silakan, tapi kau harus menyelesaikan dulu urusan hutangmu yang sangat banyak pada perusahaanku."
"Kau tenang saja, besok akan kulunasi semua hutangku. Selamat siang bapak Kenneth yang terhormat," Maura beranjak dengan penuh kemarahan.
Dengan napas memburu dia membuka pintu ruangan itu dan membantingnya keras meninggalkan Kenneth yang masih terpaku menatap punggung Maura yang menghilang dibalik pintu. Tak lama dia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, gadis yang menarik, batinnya.
Maura menyambar tasnya di meja kerjanya, dia segera keluar dari kantor tanpa menjawab pertanyaan teman-temannya yang kebingungan melihat sikapnya. Dia merasa perlu menghirup udara segar di luar sana, dengan langkah pasti dia menuju sebuah taman yang terletak tepat di belakang kantornya.
Taman itu terasa sangat lengang, Maura duduk di salah satu bangku taman yang agak sepi pengunjung. Setelah menarik napas dan menghembuskannya berulang kali, Maura merasa lebih tenang saat ini.
Lengkap sudah semuanya kini, aku membutuhkan uang yang sangat banyak untuk operasi ibuku, dan sekarang aku pengangguran. Apa yang harus kulakukan?
Saat tengah asyik dengan lamunannya, ponselnya kembali berdering, dan dia tahu pasti itu adalah panggilan masuk dari Jericho. Tanpa menunggu deringan itu berhenti, Maura menonaktifkan ponselnya. Dia sedang tak ingin diganggu, tak punya energi lebih untuk berdebat.
Saat ini dia hanya ingin sendiri, menikmati kegundahannya akan setiap masalah yang seolah datang silih berganti sejak ayahnya tiada. Entahlah, hidup terasa semakin sulit sejak kepergian sosok ayah yang sangat dikasihinya itu. Semua terasa indah waktu itu, andai saja waktu bisa diulang kembali, dan jika dia boleh meminta pada Tuhan agar ayahnya tidak dipanggil pulang secepat itu. Mungkin jika ayahnya masih ada, hidup akan berjalan lebih baik, dan yang terpenting dia tidak perlu melihat gurat kesedihan di wajah ibunya.
***
Maura menundukkan wajahnya dalam-dalam, dia sangat tidak nyaman dengan suasana tempat ini. Disinilah Maura, saat ini, di tempat yang paling tidak disukai olehnya. Sepulang menjenguk ibunya di rumah sakit, Maura memutuskan untuk mengunjungi club malam, dia memikirkan untuk menghasilkan uang besar dalam waktu singkat. Dan menurutnya di tempat inilah dia akan mendapatkan uang sesuai kebutuhannya, meskipun dia sangat menyadari cara ini adalah salah .
Dia memesan minuman yang kadar alkoholnya paling rendah, tapi minuman itu hanya dipandanginya saja. Dia tak berminat meneguk minuman itu, hanya sekedar alasannya saja supaya bisa duduk disana menanti seseorang yang mungkin bisa membantunya mendapatkan uang yang dibutuhkannya. Diusirnya pikiran-pikiran buruk tentang lelaki hidung belang yang nantinya akan memakai jasanya. Shit, apakah aku sungguh-sungguh akan menjadi jalang?
Dia berusaha menghibur dirinya sendiri, mengusir ketakutan-ketakutan yang berkelebatan dalam benaknya. Dia mencoba memusatkan pikirannya untuk kesembuhan ibu yang dikasihinya, dia rela berkorban sekalipun harus menjual tubuhnya malam ini.
"Mencari mangsa?" Maura terkejut mendengar suara yang lebih seperti bisikan di telinganya.
Refleks Maura menoleh ke samping dan dia lebih terkejut lagi mendapati Kenneth sedang duduk disampingya dengan jarak yang sangat dekat, mungkin karena terlalu larut dalam lamunannya membuat Maura tak menyadari ada orang lain di sisi kanan tempat duduknya.
"Bukan urusan anda," Maura memasang wajah sinis.
"Jadi kau akan membayar kasbon kantor dari hasil jualanmu malam ini?" Tanya Kenneth sarkastik.
***
kamu yg ingin mengikat Maura kn,
jd Maura tu ga mudah. TERPAKSA meninggalkan Jericho, TERPAKSA jd wanita simpanan utk mendapatkan uang, dan TERPAKSA jg menikah karena utk kebahagiaan mamanya
dia melakukan segala sesuatu bukan karena kemauan dirinya. semua karena TERPAKSA