"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 6
Happy reading!
.
***
"Terima kasih sudah menolongku," ucap gadis berkacamata itu pada Alita dan Diego sambil menatap bergantian manik berbeda warna milik keduanya.
Alita yang sedang membersihkan luka lecet di tangan gadis itu bersungut kesal. "Apa kamu tidak punya mulut untuk melapor polisi?"
Dia menekan kuat luka itu dan membuat si pasien meringis sakit. "Kamu terlihat seperti kutu buku, tapi seharusnya seorang kutu buku tidak bisa ditindas seenaknya," omel Alita lagi.
Gadis berkacamata itu menatap Alita yang menahan kesal, bibirnya menipis. "Aku Jana Elizabeth, kamu bisa memanggilku Liz," ucapnya.
Nama itu berhasil membuat Alita kembali menekan kuat luka Liz. "Sudah meniru nama Ratu Inggris, tapi tidak bisa melawan ketidakadilan, apa kamu pantas memakai nama itu?" sungutnya lagi, membuat Diego yang sedari tadi diam menyeringai tipis. "Kamu seharusnya menjadi Penguasa Monarki dan bukan gadis lemah, Bodoh!"
Alita terus mengomel, memarahi Liz layaknya seorang ibu yang memarahi anaknya karena telah melakukan kesalahan.
"Kenapa mereka menyiksamu?" Alita kembali ke topik utama yang seharusnya dia tanya sejak tadi.
Liz tidak menjawab membuat Alita menekan lagi luka yang selesai dia bersihkan. "Apa telingamu tidak dibawa ke sini?"
"Mereka memerasku," cicit Liz pelan. Dia kesakitan saat Alita kembali menekan-nekan lukanya. Menahan sakitnya saat Alita menekan kuat penuh kekesalan.
"Kenapa mereka melakukannya?"
Tatapan Alita tajam dan mau tidak mau, Liz membuka mulutnya.
"Aku pernah memergoki video prostitusi mereka di sebuah situs film dewasa. Dua di antara mereka adalah anak polisi dan itulah alasannya aku tidak pernah melapor polisi atas tuduhan penyiksaan. Awalnya mereka tidak berniat memukulku jika aku memberi mereka uang, tapi sekarang keluargaku sedang kesulitan," jelas Liz sambil menundukkan kepala.
Alita menghembuskan napas, memukul lengan Liz yang tidak terdapat luka. "Kenapa kamu takut kalau tidak bersalah? Jelas-jelas mereka yang bersalah dan tidak punya otak," sungutnya.
"Ayahku seorang politikus dan mereka mengancamku dengan itu," lirih Liz lagi membuat Alita dan Diego saling berpandangan.
"Siapa ayahmu?" tanya Diego akhirnya membuka mulut. Dia merasa sedikit curiga dengan identitas Liz.
"Edmund Riley," jawab Liz.
Nama itu membuat partner yang mengalahkan pemuda jalanan tadi saling berpandangan. Diego mengisyaratkan dengan tatapan matanya agar berhenti membicarakan hal itu.
Alita mengangguk paham. "Yah, seorang yang ada di pihak pasangan calon dewan memang tidak boleh membuat masalah," ujarnya kemudian. "Kamu bilang tadi memergoki video di situs online, bukan? Kamu bisa mengoperasi sistem komputer?"
Liz mengiyakan. Seringai tipis terbit di bibir Alita. Dia menengadahkan telapak tangannya pada Liz. "Bayaran karena aku sudah menolongmu, di dunia ini tidak ada yang gratis," ucapnya dengan nada datar membuat Liz menatap bingung.
Diego tidak bisa diam saja, dia memukul tangan Alita dan membuat gadis blonde itu memekik sakit. "Diego jelekkkkk!"
"Jangan jadi pemeras," omel Diego. "Kamu akan sama saja dengan para penjahat yang tadi."
Liz tersenyum kemudian mengerucut. "Kamu juga akan menyiksaku seperti yang mereka lakukan?"
"Tergantung bagaimana kamu bersikap," jawab Alita tenang dan kembali menjulurkan telapak tangannya. "Berikan aku lima dolar untuk membeli minuman dan snack, aku haus dan lapar," keluhnya.
Liz tertawa pelan. Dia mengambil sejumlah uang dari sakunya dan memberikannya pada Alita. "Aku tahu kamu orang baik, terima kasih," ujar Liz.
Alita tertawa sinis. Menatap penampilan Liz yang jorok menurutnya. "Aku ingin memerasmu tapi kamu jelek dan berkacamata. Tidak perlu berterima kasih karena aku akan membutuhkanmu untuk satu malam."
"Untuk apa?" tanya Liz.
"Untuk membuka kacamata jelek itu dan menggantikannya dengan softlens," jawab Alita ketus. Dia membuka paksa kacamata dan pita rambut yang dipakai Liz, membuat rambut panjang gadis itu tergerai.
"Lumayan," gumam Alita. Sementara Liz tampak bingung dan Diego tertawa, sudah tahu apa yang dipikirkan Alita.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dia memang licik," batin Diego.
***
Pergantian waktu dalam seminggu tidak terasa. Perputaran jarum jam mengakhiri siang yang sangat panas.
Alita menghela napas jengah tatkala Diego kembali memaksanya untuk memakai sebuah gaun yang menurut Diego cocok untuknya.
"Ini terlalu panjang, Shaun," rengeknya malas. Berusaha melepaskan gaun berwarna biru yang dicocokkan Diego. "Seperti gaun pengantin, aku hanya akan memakainya saat pernikahan kita saja nanti," ucap Alita lagi.
Diego terkekeh menahan kesal. Dia menarik Alita ke depan cermin, membuka ikat rambut yang menguncir rambut berwarna cokelat terang itu.
"Aku akan menjadi hairstylist dan make-up gratis untukmu," ujar Diego ketika Alita hendak beranjak.
"Apa kamu bercanda?" Alita menatap Diego tidak percaya lewat pantulan cermin. "Jangan bilang kamu akan menjadikan wajah aku yang cantik ini sebagai kanvas untuk menggambar?"
Diego tidak menanggapi. Dia mengambil semua perlengkapan make-up milik Alita dan memberi sentuhan tangannya di setiap inci wajah gadis itu.
"Ini spesial, aku belum pernah merias wajah gadis lain," aku Diego sambil menahan kepala Alita yang terus bergoyang. "Jangan bergerak!"
"Kenapa kalau aku bergerak?" Alita menantang.
"Tembakan tanpa aba-aba akan menembus kepalamu," ancam Diego yang membuat Alita terkekeh.
"Tembakan cinta saja ya, Shaun. Aku menunggu loh," goda Alita sambil menyentuh perut Diego yang tertutupi koas oblong.
"Tunggu sampai aku menjadi tua," jawab Diego sekenanya.
Alita mengerucut, dia menatap lamat wajah Diego yang tetap serius meski masih menanggapi ucapannya. Tampan dan imut, memang tidak bisa dibandingkan dengan semua pacar-pacarnya yang sudah hampir seratus.
Diego masih muda terlihat seperti anak remaja yang baru menetas, seperti pemuda yang sebaya dengannya. Dan orang-orang yang melihat keakraban mereka mengatakan kalau mereka adalah kembar.
Terlihat sangat muda dari umur yang seharusnya, Alita berspekulasi kalau itu mungkin keuntungan bagi orang jahat. Atau mungkin Diego yang terlalu santai dan suka mengusili orang.
Bibir Diego berwarna merah muda alami, disertai hidung mancung dan alis yang tebal menambah kadar ketampanan di mata Alita, pemuda tampan yang selalu dia rindukan sejak berusia sepuluh tahun.
"Apa kamu pernah berpacaran sebelumnya, Shaun?" tanya Alita yang tidak berpaling dari wajah tampan itu.
"Tidak," jawab Diego jujur dan masih merias wajah Alita.
"Bibir kamu sangat menggoda, masa belum pernah berciuman?" Sekali lagi Alita bertanya dan berhasil membuat Diego refleks menghentikan tangannya. Dia berdehem.aqq
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, apa tidak ada gadis yang menculikmu dan menjadikanmu pacarnya?"
Diego terkekeh pelan. "Kamu mengenal siapa aku, Lele," ucapnya dan kembali ke kegiatan sebelumnya.
Alita mengangguk. "Benar juga, kamu pria tampan yang licik," cibir Alita. "Tapi bibir kamu memang menggoda untuk dicium," aku Alita kemudian.
Diego mengerjap bodoh, namun sesaat dia bisa mengembalikan kewarasannya. Lalu mencoret hidung Alita dengan eyeliner, membuat hidung sang gadis seperti ujung hidung anak anjing. "Bodoh, jangan sembarangan ya, kamu pernah bilang kalau ciuman bibir itu iblis. Apa kamu ingin menjadi iblis?"
"Aku sudah menjadi iblis sejak bersama denganmu, bahkan sudah menjadi iblis gila," sahut Alita.
Diego tergelak. Kewarasan Alita selalu dia pertanyakan, kadang waras dan kadang gila. Otak gadisnya memang sudah eror.
"Kamu memang sudah gila," ucap Diego. "Lihat saja bagaimana rupamu di cermin."
Alita mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Diego, dan dia memekik histeris tatkala melihat pantulan wajahnya di cermin. "Monster, Shaun!" teriaknya kaget.
"Itu iblis berkepala sepuluh dan berlidah seratus," ucap Diego. "Otaknya juga sudah tidak waras," tambahnya kemudian.
Lalu menggambar wajah Alita seperti yang ditakutkan gadis itu. Membuat pertengkaran sengit terjadi di antara keduanya.
.
Hasil make-up Diego😁
***