Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Cincin
Matahari mulai tenggelam, warna jingga terlihat indah di atas sana. Ku susuri jalanan banyak kenangan di setiap sudutnya. Tanpa terasa mobil yang ku kendarai pun telah memasuki pekarangan rumah.
"Memalukan." Teriak Papa tepat di hadapanku.
"Apa maksud Papa?"
"Kenapa tidak datang ke acara wisuda Aliqa? apakah sibuk dengan wanita itu lagi, huh..!!"
"Lupa," jawab ku singkat.
"Lupa katamu.!! tidak menjemput Aliqa, tidak datang ke acara wisuda, sepertinya kau sengaja."
"Lalu kenapa jika aku bersama Mila, aku mencintainya apah."
"Cinta saja tidak akan cukup untuk membangun sebuah rumah tangga yang bahagia, butuh seorang istri yang baik yang membuat rumah itu seperti surga."
"Terserah, aku bisa pastikan pilihan ku yang terbaik,"
"Besok kita pergi kerumah Aliqa, minta maaf lah kepadanya. Papa akan membicarakan mengenai pernikahan mu dengan Om Galuh, yang akan di laksanakan beberapa hari lagi." ucap Papa tegas. "Dan satu lagi tinggalkan Mila, jangan bikin malu keluarga kita. Turuti keinginan terakhir mendiang Mama mu."
"Tapi Pah..."
"Papa tidak menerima penolakan, besok kamu pergi bersama Papa," pinta Papa tegas.
Tak ku balas ucapan Papa, tak ada guna nya. Segera ku langkah kan kaki ku menuju kamar. Karena wanita itu, sepertinya wanita licik itu yang lapor ke Papa mengenai ketidak hadiran ku di acara wisuda nya apalagi dia mendapati ku sedang berduaan bersama Mila di restoran ramen.
Ketika aku beranjak untuk pulang, betapa terkejutnya aku melihat Aliqa berada di restoran yang sama. Boleh ku katakan dia memang cantik, apalagi setelah berdandan seperti tadi mungkin banyak lelaki yang antri untuk mendapatkannya. Tapi tidak dengan ku, karena bagiku cantik saja tidak penting. Meskipun sebentar lagi aku akan menikahinya itu hanya sebuah status karena aku tidak akan menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami. Aku hanya akan menjadi suami dari seorang wanita bernama Mila, dia seorang wanita biasa tinggal di sebuah rumah kecil bersama ayahnya, dia bisa menjadi suster berkat otak cerdasnya dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu Universitas dan mengambil Jurusan Keperawatan. Dia adalah Mila ku, anak yang cerdas pasti terlahir dari ibu yang cerdas kan.
***
Dengan berat hati aku harus ikut bersama Papa menuju kediaman Om Galuh. Rasanya malas jika kesana aku akan bertemu dengan Aliqa, entah kenapa aku terus merasa benci terhadap Aliqa, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun, Aliqa anak yang baik dan menyenangkan. Tapi aku sangat membencinya, mungkin kah rasa benci ini di akibatkan karena perjodohan yang mengakibatkan gagalnya aku menikahi Mila. Bukan hanya itu, karena Aliqa juga salah kenapa menerima begitu saja perjodohan ini, mungkin dia ingin pamer kepada teman-temannya telah menikahi Dokter muda tampan seperti aku.
"Vin, sudah siap?" teriak papa dari ruang tamu.
"Ya, sebentar lagi Davin keluar Pah," dengan malas aku segera keluar untuk menemui Papa.
"Yuk cepet, gak enak bikin calon besan menunggu lama."
Aku dan Papa pergi menuju rumah Aliqa. Sebenarnya aku ingin menemui Mila, tapi apa boleh buat ketika Papa berkata aku tak pernah bisa menolak, karena Papa tak pernah menerima penolakan.
***
"Dimas, apa kabar?" teriak Om Galuh, kemudian memeluk Papa.
"Baik... baik.... jadi juga kita besanan." Papa membalas pelukan Om Galuh.
"Akhirnya.. sini duduk dulu... duduk," ucap Om Galuh mempersilahkan.
"Mana nih menantu gak keliatan?"
"Bentar saya panggilkan dulu," ucap Tante Arini kemudian berlalu untuk memanggil Aliqa.
Tak lama, sosok Aliqa datang menuruni tangga. "Cantik meskipun tak mengenakan make up, tapi hatiku tak tersentuh sama sekali, karena di dalam nya telah terisi penuh oleh mila." batinku
"Siang Om, Kak Davin," sapanya kemudian bersalaman dengan ku dan Papa.
"Cantik kan Vin calon istrimu."
aku hanya terkekeh tanpa memberikan jawaban.
"Al ajak Davin ke taman belakang, biar lebih enak ngobrolnya," ucap Om Galuh.
"Baik Ayah."
"Vin nanti ajak calon istri mu membeli cincin dan fitting baju pengantin, awas jangan lupa," perintah Papa.
"Iya Pah." Aku berlalu mengikuti Aliqa menuju taman belakang.
***
"Kak mau minum apa? biar aku ambilkan dulu ke dapur."
"Tidak haus."
"Iya Kak."
"Apa yang kamu katakan kepada Papa ku, huh?"
"Apa maksud Kakak? Aku tidak mengatakan apapun Kak."
"Pembohong !!! Kamu mengatakan aku tak datang ke acara wisuda mu dan memberi tahu Papa mengenai aku yang pergi bersama Mila kan?" teriak ku dengan mencengkram kuat lengan Aliqa sebagai ungkapan rasa kesalku.
"Tolong lepaskan. Aku tak mengatakan apapun. Aku berani bersumpah," ucap Aliqa dan terlihat dia meringis kesakitan.
"Jangan berani mencampuri urusanku," ucapku dengan melepas cengkraman ku di lengannya.
Aliqa bergeming tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ku lihat dia mengusap lengannya ada setitik air yang terjatuh dari sudut matanya. Tak sedikitpun ada rasa iba melihatnya, yang ada saat ini aku membencinya.
"Cengeng, cepat bangun kita harus pergi membeli cincin pernikahan."
"Kau kasar." jawab nya lirih dan beranjak dari duduknya.
Ku genggam tangannya sebagai pencitraan di depan orang tua ku, untuk menunjukan kepada mereka bahwa hubungan ini baik-baik saja. "Pah aku mau pergi membeli cincin bersama Aliqa."
"Ya hati-hati Vin"
Sesampainya di dalam mobil segera ku lepaskan genggaman ku dari tangan Aliqa. Sekilas dia terlihat terkejut mendapati perlakuan ku.
"Sebuah sandiwara yang bagus," ucapnya dengan pandangan tetap mengarah kedepan.
***
"Jangan beli yang mahal." bisik ku penuh penekanan.
"Tak apa tak mahal, yang penting ikhlasnya." tutur Aliqa berlalu memilih cincin.
Perkataan tersebut cukup menohok kedalam hatiku. Mana ada wanita tidak tergiur melihat emas dengan mata berlian yang harganya mahal. Pintar sekali kau menyembunyikan siapa dirimu Aliqa, aku tau itu hanya kedok pikir ku.
"Ini cincin nya." Dia meberikan cincin itu kepada ku.
"Selera yang buruk"
"Harga tentu menentukan kualitas. Tapi tak apa cincin hanya sebuah simbol. Yang terpenting ikatan di dalamnya."
"Omong kosong, ikatan apa yang kau harapkan.!!"
"Meskipun pernikahan karena perjodohan, setidaknya aku berharap ini pernikahan pertama dan terakhirku."
"Jangan berharap.!!" Aku berlalu menuju kasir untuk membayar satu buah cincin.
"Harganya 875.000 Pak." ucap kasir.
Terlalu murah untuk sebuah cincin pernikahan, harganya pun tak sampai. 1.000.000. Ku bayar cincin tersebut dengan uang cash, ku ambil cincin yang sudah di beli kemudian pergi berlalu meninggalkan toko tersebut.
Setelah membeli cincin pernikahan dan fitting baju pernikahan, aku mengantarkan Aliqa pulang kerumahnya. Segera ku lajukan mobilku tanpa mampir terlebih dulu. Sepanjang perjalanan ku pikirkan betapa buruknya pernikahan yang akan di lakukan benar-benar low budget. Cincin pernikahan yang tidak seberapa dan baju pengantin yang bukan design perancang terkenal. Memang dia pantas mendapatkan nya, tidak ada yang perlu aku istimewakan. Karena dia bukan orang yang istimewa.