Alexa Steviola mati mengenaskan bersama janinnya saat terjadi kecelakaan tunggal, saat membuka mata dia tidak percaya jika dia terbangun sebelum kecelakaan itu terjadi.
Diberikan kesempatan kedua Alexa tidak menyia-nyiakannya lagi, dia tidak akan mengejar cinta Lucas suaminya lagi, dia memilih untuk mundur mencoba menjalani hidup yang lebih tenang tanpa harus memaksa Lucas mencintainya.
Lucas sendiri adalah pria yang dia jebak hingga dirinya hamil, Lucas awalnya adalah tunangan Catherine yang merupakan bibi Alexa, hanya karena rasa cemburunya pada Catherine membuatnya gelap mata. Kehidupan kali ini dia memilih untuk mundur, tidak ada gunanya memaksakan perasaan seseorang apalagi Lucas yang dikehidupan sebelumnya sangat mencintai Catherine.
Tetapi perubahan Alexa membuat Lucas kebingungan bahkan Lucas marah saat Alexa berkata ingin bercerai dengannya, Lucas berkata sampai kapanpun dia tidak akan melepaskan Alexa.
Mampukah Alexa mengubah takdir hidupnya? Stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orangtua Tunggal
Tiga hari berlalu sejak keberangkatan Lucas ke Sydney. Untuk pertama kalinya, Alexa merasa benar-benar menikmati harinya di rumah ini. Suasana rumah kini jauh lebih hangat setelah Alexa membuang jauh-jauh keangkuhannya dan meminta maaf kepada ketiga pelayan, sopir, serta penjaga rumah. Reaksi mereka yang awalnya syok luar biasa perlahan berubah menjadi rasa hormat dan penyesalan karena pernah bersikap tidak sopan kepadanya.
Namun sore ini, Alexa mendadak menepuk keningnya sendiri di dalam kamar.
"Bodoh sekali..." gumam Alexa meringis.
Ia baru sadar, akibat dulu matanya terbutakan oleh obsesi mengejar Lucas, ia bahkan lupa memeriksa kondisi kandungannya secara rutin. Sampai usianya tujuh bulan, ia sama sekali tidak tahu jenis kelamin bayinya, bagaimana letak posisinya, atau bagaimana kesehatannya di dalam rahim. Cinta dan obsesi memang benar-benar bisa membuat seseorang menjadi linglung.
"Maafkan Mama ya, Sayang," bisik Alexa lembut sambil mengusap perutnya.
"Dulu Mama egois sekali. Tapi sekarang tidak lagi. Besok kita akan ke rumah sakit untuk melihat keadaanmu."
Alexa mulai membuka laci-laci meja kerjanya untuk mencari berkas-berkas pendaftaran rumah sakit, seperti dokumen identitas dan buku nikah. Namun, setelah menggeledah seluruh sudut, buku nikah itu tidak ditemukan di mana pun.
"Apakah Lucas yang menyimpannya?" batin Alexa ragu.
Ia sebenarnya enggan mengganggu Lucas, tetapi ia membutuhkan kejelasan dokumen untuk mengisi formulir pendaftaran esok hari. Dengan helaan napas panjang, Alexa menekan nomor ponsel suaminya.
Panggilan itu berdering cukup lama. Baru pada deringan kelima, sambungan tersebut terhubung.
"Halo, Lucas?" sapa Alexa ramah dan tenang.
Namun, bukan suara berat suaminya yang menyahut, melainkan suara lembut seorang wanita yang sangat ia kenali.
"Halo, Alexa? Ada apa menelpon Lucas jam segini?"
Tubuh Alexa seketika membeku. Itu suara Catherine. Bibi kandungnya sendiri.
Dada Alexa mendadak berdenyut nyeri. Ia berusaha mengendalikan intonasi suaranya agar tetap biasa saja.
"Bibi Catherine... Lucas ada di mana?"
"Lucas sedang di kamar mandi, baru mau bersih-bersih," jawab Catherine santai.
"Ada pesan yang mau disampaikan? Biar nanti diberitahu. Lucas kelihatan capek banget setelah kegiatan panjang kami seharian ini."
Air mata menetes tanpa permisi membasahi pipi Alexa. Pikiran buruk langsung memenuhi kepalanya. Jadi mereka menginap di kamar yang sama? Melakukan kegiatan panjang hingga bersih-bersih di kamar mandi? Rasanya sesak luar biasa mendapatkan fakta bahwa suaminya dan wanita lain berada dalam satu kamar hotel.
"Tidak apa-apa, Bibi. Aku bisa—"
"Catherine! Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?!"
Suara bentakan bernada dingin dan tajam milik Lucas terdengar samar di seberang sana, memotong kalimat Alexa. Alexa menahan napasnya. Apakah ia salah dengar? Lucas memarahi Catherine?.
Suara kresek singkat terdengar sebelum suara berat Lucas kembali terdengar di gagang telepon, kini terdengar agak terengah.
"Alexa? Ada apa?" tanya Lucas singkat.
Alexa mengusap air matanya cepat-cepat, membuang napas perlahan agar suaranya tidak terdengar gemetar.
"Lucas... maaf mengganggu waktumu."
"Ada apa?" ulang Lucas, suaranya kini terdengar menuntut.
"Aku cuma mau bertanya... apakah kamu menyimpan buku nikah atau berkas pernikahan kita?" tanya Alexa pelan.
Hening.
Tidak ada jawaban dari seberang sana selama beberapa detik. Hanya terdengar helaan napas Lucas yang berat.
"Kita tidak punya buku nikah atau berkas pernikahan," ujar Lucas datar.
Kata-kata itu menghantam Alexa seperti godam berat. Ia terdiam membisu. Kenyataan kembali menamparnya telak. Mana mungkin Lucas mau mengurus surat nikah resmi? Pernikahan mereka dari awal hanyalah sandiwara paksaan karena jebakan dan kehamilannya. Pria itu tidak pernah sudi mengikatkan dirinya secara hukum dengan wanita seperti Alexa.
"Oh... begitu," sahut Alexa pelan dengan perasaan yang tidak berketentuan.
"Iya, aku mengerti."
"Untuk apa kamu menanyakan berkas itu?" tanyanya kaku.
"Besok aku mau ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan," jawab Alexa sejujurnya.
"Aku butuh dokumen untuk pendaftaran. Tapi tidak apa-apa kalau tidak ada buku nikah. Aku bisa mengisi formulirnya sebagai orang tua tunggal nanti. Kamu tidak perlu memikirkannya."
Diseberang sana, Lucas mendadak bungkam. Udara di sekitarnya seolah membeku mendengarkan kata orang tua tunggal keluar dari mulut istrinya begitu mudah.
"Tidak perlu," sela Lucas tiba-tiba, suaranya memberat.
"Jangan mendaftar sendirian. Tunggu aku pulang lusa. Kita akan memeriksanya bersama-sama."
Alexa menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepasrahan. "Tidak usah, Lucas. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu dan Bibi Catherine di sana. Tidak perlu memikirkan ku atau repot-repot pulang cepat. Aku bisa mengurusnya sendiri."
"Alexa, aku bilang tunggu—"
"Selamat malam, Lucas. Selamat beristirahat," potong Alexa halus sebelum mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Hatinya memang remuk, namun pikirannya kini jauh lebih rasional. Di negara ini, menjadi ibu tunggal bukanlah hal yang tabu atau diharamkan. Yang terpenting adalah bagaimana ia bertanggung jawab penuh atas tumbuh kembang dan kebahagiaan bayi di dalam kandungannya kelak.
Sementara itu, di sebuah suite room hotel mewah di Sydney, suasana terasa sangat mencekam.
Lucas berdiri menjulang di tengah ruangan, mencengkeram ponselnya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang tampan tampak sangat gelap dan memancarkan aura membunuh.
"Lucas... aku cuma berniat membantumu menjawab telepon karena kamu sedang dikamar mandi," ujar Catherine gagap, melangkah mundur saat melihat tatapan tajam pria di hadapannya.
"Siapa yang memberimu izin menyentuh barang pribadiku, Catherine?" desis Lucas dengan suara rendah namun sangat berbahaya.
"Aku—aku kan han..."
"Keluar!" pangkas Lucas dingin tanpa perasaan.
"Tapi Lucas—"
"Keluar dari kamarku sekarang!" bentak Lucas tegas.
Catherine terkejut setengah mati. Ia menghentakkan kakinya kesal dan terburu-buru melangkah keluar dari kamar hotel Lucas sambil menahan malu.
Setelah pintu tertutup rapat, Lucas melemparkan ponselnya ke atas kasur. Tangannya mengusap wajahnya yang kasar. Pikirannya kacau balau. Ucapan Alexa terus berngiang-ngiang di telinganya.
Orang tua tunggal? Mengisi formulir tanpa namanya sebagai ayah?.
Rasa tidak terima yang teramat sangat bergejolak hebat di dalam dada Lucas. Pria itu segera meraih ponselnya kembali dan menekan nomor asisten pribadinya.
"Ya, Tuan Lucas?" sahut Ben di seberang sana.
"Siapkan jet pribadi sekarang," perintah Lucas dingin tanpa kompromi.
"Aku pulang ke London malam ini juga."
Ben tertegun di seberang telepon. "Tapi Tuan, jadwal dan pertemuan dengan klien esok hari—"
"Batalkan atau jadwalkan ulang," pangkas Lucas cepat.
"Aku harus pulang sekarang."
Lucas mematikan teleponnya dan menatap bayangannya di kaca jendela. Senyuman pasrah Alexa dan penolakan wanita itu tadi benar-benar membakar egonya. Lucas tidak tahu perasaan apa yang sedang mencengkeram dadanya saat ini, tetapi satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah membiarkan Alexa mencoret namanya dari hidup wanita itu dan anaknya.
Bersambung...
Panik kau kan Lucas pas Alexa bilang jadi orangtua tunggal.🤣
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪💪
lanjut thor