Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Aku Bapaknya
"Di mana nyonya Ayuna?"
Sofyan datang ke ruang kerja Ayuna dan tidak mendapati keberadaan wanita itu.
"Em..., Ayuna keluar pak, ada urusan penting," jawab Mila.
"Tapi ini masih jam kerja. Dia tidak bisa keluar tanpa seizin pimpinan."
"Anaknya dalam bahaya, dan dia ingin menolongnya," pungkas Mila memberikan penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Diculik maksudnya? Lalu dia pergi sendiri tanpa meminta bantuan?"
Mila mengangguk. "Iya, benar sekali. Ayuna hanya bermodalkan nyawa untuk menyelamatkan anaknya. Dia benar-benar tersiksa. Mohon bantuannya Pak. Ayuna itu sudah cukup lama bekerja di perusahaan ini. Sudah seharusnya pihak perusahaan memberikan bantuan untuknya."
Sofyan menarik nafas dengan tangan mengepal. "Ya sudah, terimakasih informasinya."
Pria itu langsung pergi dan membuat Mila tercengang. "Apa aku salah bicara seperti itu? Apa mungkin dia tersinggung?"
Sofyan langsung bergegas menuju ruangan Erlangga. Di situ Erlangga sudah bersiap untuk pergi. Niatnya ingin mengajak Ayuna, tapi wanita itu sudah kabur duluan.
"Tuan."
"Mana dia?" tanya Erlangga yang tidak mendapati keberadaan Ayuna.
"Nyonya Ayuna sudah pergi. Dia sedang melakukan pencarian terhadap si kembar."
Refleks Erlangga mendelik. "Apa? Dia sudah pergi? Konyol sekali! Benar-benar nggak sabaran."
Erlangga langsung mengambil handphone pribadinya dan segera menghubunginya. Dia khawatir jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Cepat angkat, Ayuna!"
Pria itu terlihat begitu gelisah dan panik saat Ayuna tak juga menerima teleponnya.
Terjeda cukup lama, Ayuna mengangkatnya. "Halo, di mana kau sembunyikan anak-anakku, brengsek!"
Erlangga melebarkan matanya, terkejut. Wanita selembut Ayuna ternyata bisa berkata kasar di kala dalam kondisi tertekan.
"Ayuna, ini aku Erlangga!"
"A—apa?" Ayuna melihat nomor baru, dan mengira itu nomor dari penculik putranya.
"M—maaf pak, saya kita ini nomernya penculik."
"Di mana kamu sekarang?!"
"Saya izin keluar pak. Saya mau cari anak saya."
"Jangan sembrono kamu! Ini sangat berbahaya. Tunggu aku di rumah. Aku akan segera ke sana."
"Tapi pak...?"
Tut... Tut... Tut...
Ayuna menghela nafasnya yang tercekat di tenggorokan. Mau tak mau ia harus pulang untuk menunggu majikannya, meskipun hatinya masih jengkel dengan sikapnya.
***
Setibanya di rumah, Ayuna mendapati kontrakannya berantakan. Bahkan pintu dalam kondisi terbuka. Tak satupun anak-anaknya muncul. Biasanya saat pulang mereka menyambutnya dengan hangat.
"Kenzie! Kenzo! Di mana kalian nak? Siapa yang membawa kalian pergi?"
Ayuna meraih bingkai foto mereka yang tergeletak di lantai. Ia tidak tahu apa yang dilakukan penjahat itu pada putranya hingga membuat seisi rumah berantakan. Lalu di mana semua tetangganya? Bukankah banyak dari mereka yang menghabiskan waktunya di rumah sebagai ibu rumah tangga. Apa mereka tidak mendengar ada kegaduhan di kontrakannya?
"Sayang, maafkan mami yang gagal tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Mami tidak bisa memberikan kenyamanan buat kalian. Mami terlalu bodoh! Kalian benar-benar tidak beruntung memiliki ibu sepertiku. Ibu macam apa aku ini. Di saat anakku dalam masalah, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Hiks... Hiks... Hiks... Ayuna memeluk bingkai foto itu dengan erat. Begitu hancurnya ia yang tidak memiliki jalan keluar untuk menyelamatkan putranya. Bahkan uang sepeserpun ia tak punya. Bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
"Ayuna, apa kau baik-baik saja?"
Tanpa permisi Erlangga nyelonong masuk ke dalam kontrakan dan mendapatinya tengah menangis. Dia juga melihat ruangan yang berantakan, seperti telah terjadi perampokan.
"Bagaimana saya bisa baik-baik saja pak! Anak-anak saya hilang. Saya nggak tahu siapa yang menculiknya." Disertai isak tangisnya Ayuna membantah. Rasanya cukup jengkel dengan pertanyaan Erlangga yang seolah-olah meremehkan.
"Tenanglah. Kita cari solusinya."
Pria itu mendekat dan berusaha untuk menenangkannya, tapi bagaimana ia akan tenang, kedua anaknya dalam bahaya, dan ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh penjahat itu terhadap anak-anaknya.
"Bapak bisa bilang tenang karena anda tidak ada di posisi saya," bantah Ayuna. "Saya kehilangan dua bocah yang saya lahirkan penuh dengan tekanan, dan anda menyuruh saya diam? Kalau anda tak ada niatan untuk membantu lebih baik anda diam, dan pergi dari sini!"
Erlangga mendengus dengan tangan bersedekap di dada. "Kau itu terlalu egois. Setiap menyelesaikan masalah selalu dengan emosi. Bisa nggak lebih tenang sedikit. Kita bicara baik-baik."
"Ini bukan waktunya buat ngobrol santai pak! Ini waktunya mencari penculik itu. Kalau sampai anak saya kenapa-napa gimana? Bapak nggak tahu rasanya ~~
"Aku pun merasakannya, Ayuna! Aku juga kehilangan anakku. Bapak mana yang rela kehilangan anaknya. Meskipun aku tidak pernah ada buat mereka tapi tetap saja aku ini Bapaknya!"
Ayuna diam dengan mengusap air matanya yang tak berhenti menetes.
"Tempat ini sudah tidak aman buat kalian. Secepatnya kalian harus pindah."
Ayuna menoleh. "Pindah pun butuh banyak biaya, pak! Saya masih belum memiliki uang cukup untuk mencari kontrakan baru."
"Siapa yang menyuruhmu buat nyari kontrakan baru. Aku memintamu buat tinggal bersamaku."
"Hah?"
Satu alis Erlangga terangkat. "Kenapa? Kamu keberatan tinggal bersamaku?"
Ayuna mengatupkan bibirnya yang sempat terbuka karena terkejut. Rasanya sangatlah tidak pantas tinggal bersama orang yang bukan muhrimnya, namun demi kenyamanan anak-anaknya apa yang bisa dilakukan.
"Aku akan bawa anak-anak tinggal bersamaku," cicit Erlangga. "Kalau kamu nggak mau tinggal bareng kami terserah. Kamu orangnya memang keras kepala."
Ayuna menggigit bibirnya terdiam dengan pikiran yang tak tenang. Saat ini yang ia pikirkan bagaimana bisa menemukan anak-anaknya. Untuk urusan yang lain mungkin bisa dipikirkan setelah anaknya berhasil ditemukan.
Drett... Drett...
Getaran handphone di saku celana cukup membuatnya terusik. Buru-buru Erlangga mengambil dan segera mengangkatnya.
"Halo Sofyan. Gimana? Apa sudah ada kabar?"
"Halo Tuan. Ini saya sudah menemukan titik lokasi para komplotan penculik itu."
"Ya sudah. Sherlock secepatnya. Aku akan segera datang!"
"Baik Tuan."
Sambungan mati, dan satu notifikasi masuk.
"Tuan. Ini alamatnya...., saya akan tunggu kedatangan Tuan."
Dengan cepat Erlangga membalasnya. "Pantau terus! Jangan sampai ada yang lolos!"
"Baik Tuan."
Erlangga langsung mematikan handphonenya dan kembali fokus pada Ayuna.
"Kamu mau ikut atau menunggu di sini."
Wanita itu mendongak. "Apakah anak-anak sudah ditemukan?"
"Hm..., aku akan segera ke sana."
"Tunggu pak, saya ikut dengan anda."
Ayuna masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian hangat buat anak-anaknya. Hari sudah menjelang sore dan pastinya udara di luar begitu dingin. Dia ingin anaknya ditemukan dalam keadaan sehat.
"Ayo pak, kita berangkat sekarang!"
Erlangga mengulas senyuman tipis dan nyaris tak terlihat. 'kalau ada urusan seperti ini gercep banget. Tapi saat ditawari diajak nikah banyak banget alasannya. Apa aku ini masih kurang menarik di matanya? Sial. Aku ingin lihat, sejauh mana dia bertahan dengan egonya.'