Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 BETRAYAL AND BLOODSHED
Malam yang kian larut di kawasan Sukaseri membungkus lorong-lorong tua dalam keheningan yang mencekam. Di sebuah tempat tersembunyi, para petinggi aliansi Slonong Boys sedang menggelar pertemuan darurat. Karena aturan ketat bahwa hanya pemimpin tertinggi yang boleh hadir, Fatah Sewu—sang wakil pimpinan Cikampek Boys Celebrity (CBC)—harus pulang seorang diri menembus dinginnya malam.
Namun, di tengah lorong gelap jalur Sukaseri, langkah Fatah terhenti. Dari balik kegelapan, puluhan anggota Cijalu Bersatu keluar mengepungnya tanpa peringatan. Tanpa basa-basi, pengeroyokan brutal pun terjadi. Fatah bertarung habis-habisan, tetapi jumlah musuh yang terlalu banyak membuat tubuh sang wakil pimpinan CBC dihujani pukulan dan hantaman balok hingga terkapar kritis tak sadarkan diri di atas aspal berdarah.
Seorang anggota CBC yang kebetulan melintas menyaksikan tubuh Fatah yang terkulai koma. Dengan tangan gemetar, dia langsung mengirimkan pesan darurat beserta foto Fatah ke ponsel Friza. Setelah itu, dia segera melarikan Fatah ke rumah sakit terdekat.
Di dalam ruang pertemuan Slonong Boys, layar ponsel Friza menyala. Saat melihat kondisi wakilnya, mata Friza seketika memancarkan hawa membunuh yang luar biasa pekat.
"Fatah dikeroyok Cijalu... Dia koma," ucapan dingin Friza membuat seluruh pemimpin Slonong Boys di ruangan itu menghentikan pembicaraan. Kemarahan meletus seketika. Rencana penyerbuan balas dendam skala besar ke markas Cijalu pun langsung dirancang malam itu juga.
Sementara itu, tepat pukul 11:00 malam, Ryuka, Gilang, Elisa, dan Sebas sampai di sebuah gedung tua terbengkalai di pinggiran kota—lokasi pertemuan yang ditentukan oleh Dewan Intelligent.
Atmosfer di dalam gedung terasa sangat tebal oleh ancaman. Saat langkah mereka bergema di lantai beton, lima sosok berpakaian serba hitam dengan logo gagak merayap keluar dari bayangan. Mereka adalah Intelligent Crows—lima petarung elite kepercayaan Dewan Intelligent.
"Gua pikir kalian bakalan kabur," cibir salah satu anggota elite Intelligent Crows.
"Banyak bacot lu semua!" seru Ryuka memanaskan suasana.
Pertarungan langsung meletus seketika! Ryuka bergerak bagaikan kilat, melayangkan pukulan lurus yang mematahkan pertahanan musuh pertama. Di sisinya, Gilang bertarung dengan sangat agresif, merobohkan musuh kedua dengan kombinasi tendangan keras. Sebas bergerak begitu anggun dan efisien; sebagai pelayan pribadi yang terlatih, Sebas menangkis dan mematahkan pergelangan tangan dua elite Crows sekaligus dengan gerakan yang sangat presisi!
Hanya dalam hitungan menit, lima elite Crows tergeletak tak berdaya. Namun, di tengah kepulan debu kemenangan, sebuah jeritan tertahan terdengar.
"Lepasin gua, Bangsat!"
Ryuka menoleh kaget. Elisa rupanya telah disergap dan dicengkeram oleh penyusup lain yang keluar dari kegelapan. Saat Ryuka hendak melesat maju untuk menyelamatkan Elisa...
SRET!
Lima orang berandalan berjaket hitam langsung membentangkan barikade menghalangi Ryuka. Ryuka membelalakkan mata—dia tidak asing dengan wajah lima orang ini. Mereka adalah mantan pemimpin fraksi Cijalu yang tadi sempat dia temui saat bentrokan Bakan Jati, Zela, dan Friza!
"Cijalu?! Lu pada ngapain di sini?!" bentak Ryuka murka.
Ryuka langsung melayani pengeroyokan lima orang itu dengan ayunan tinju mentahnya. Namun, di saat Ryuka fokus menghadapi serangan depan...
BAM!!
Sebuah hantaman balok besi yang sangat keras mendarat telak di tengkuk Sebas dari arah belakang! Sebas yang tidak mengantisipasi serangan dari dalam lingkarannya sendiri tersungkur ke tanah, terbatuk darah dengan pandangan kabur.
Ryuka membelalakkan mata penuh horor. Pria yang memegang balok besi berdarah itu adalah... Gilang!
"S-Sebas?! GILANG! APA YANG LU LAKUIN, SIALAN?!" teriak Ryuka histeris.
Gilang melemparkan balok besinya ke tanah. Senyuman hangat teman masa kecil yang selama ini menghiasi wajahnya melenyap total, berganti dengan raut wajah yang sangat dingin, kejam, dan penuh kebencian yang telah mendalam.
"Saatnya pembalasan dendam, Ryuka... Apa lu masih ingat, Hah?" desis Gilang dengan nada menusuk. "Saat kita kecil dulu... lu yang ngebunuh abang gua! Dan lu hampir ngebunuh gua juga! Kejadian itu bakal gua ingat seumur hidup gua... dan malam ini adalah waktunya pembalasan!"
Ryuka terpaku di tempatnya. Memori kecilnya terasa kabur dan tidak menentu. "Ngebunuh abang lu?! Bicara apa lu, Gilang?! Gua gak inget semua itu!"
"TENTU AJA LU GAK INGAT, MONSTER!" raung Gilang murka.
Ryuka yang dikuasai amarah mendidih mencoba menerobos kepungan lima anggota Cijalu. Dengan memaksakan fisik, Ryuka menjatuhkan dua orang musuh, melompat maju untuk menghantam wajah Gilang. "LEPASIN ELISA, GUA BILANG!!"
Namun, saat tinju Ryuka tinggal beberapa sentimeter dari hidung Gilang, tiga anggota Cijalu sisanya menahan kedua tangan dan tubuh Ryuka secara paksa dari belakang! Ryuka terkunci total, terengah-engah dalam cengkeraman musuh.
Gilang melangkah mendekati Ryuka, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan jijik.
"Dulu lu bagaikan monster yang ditakuti semua orang... tapi sekarang lu cuma seekor hama kecil yang gampang dihancurkan, Haha!" gelak tawa Gilang membahana renyah namun beracun.
Gilang menoleh ke arah Elisa yang terikat dan menatapnya dengan raut tidak percaya. "Lu penasaran kenapa gua bisa bertahan hidup di kota sialan ini, Elisa? Itu karena dari dulu... gua adalah orang suruhan Dewan Intelligent! Semua uang yang gua pakai saat tinggal di tempat lu adalah uang haram dari mereka. Dan tugas baru gua malam ini adalah menyerahkan lu ke mereka demi uang yang jauh lebih besar!"
Elisa membelalakkan mata, air mata amarah menetes membahasi pipinya. "Sialan lu, Gilang! Lu bener-bener bajingan! Selama ini lu cuma manfaatin gua?!"
"Uang yang mengendalikan dunia ini, Elisa," balas Gilang dingin.
Tiba-tiba...
BAM! BAM!
Sebas yang terluka parah secara mendadak bangkit kembali dengan sisa tenaganya! Dengan satu gerakan memutar yang cepat, Sebas merobohkan dua anggota Cijalu yang menahan Ryuka, lalu menyambar bahu Ryuka secara paksa!
"Tuan Muda! Kita harus mundur sekarang! Puluhan pasukan musuh sedang mengepung gedung ini!" tegas Sebas dengan suara memberat, mencoba menyeret Ryuka menuju jendela luar.
"ENGGAK SEBAS! GUA GAK MAU KABUR! GUA HARUS HANCURIN MUKA SI GILANG DAN SELAMATIN ELISA!" seru Ryuka memberontak.
Sebas menampar pipi Ryuka dengan keras. "DENGARKAN SAYA, TUAN MUDA! Bertarung tanpa perhitungan saat ini hanya akan membuat Tuan Muda mati konyol! Keselamatan Tuan Muda adalah prioritas utama saya!"
Sebelum Ryuka sempat membalas, Sebas melempar bom asap kecil ke lantai. PFFFT! Asap tebal membumbung tinggi. Sebas memikul Ryuka dan melompat keluar menembus jendela lantai dua menuju jalanan malam, menghilang di balik kegelapan.
Elisa yang menyaksikan Ryuka dibawa kabur oleh Sebas dan dirinya ditinggalkan sendirian di tengah kepungan musuh merasa dunia sepenuhnya runtuh. Dikhianati oleh Gilang yang dipercayainya, dan ditinggalkan oleh Ryuka di tempat itu... Rasa benci yang mendalam terhadap hidup dan dunia ini memenuhi dada Elisa. Dia diseret dan dikurung di dalam kamar gelap gedung tua itu, meratapi nasibnya yang malang.
Sementara di sisi lain Kota Cikampek, gelombang kegelapan yang jauh lebih besar dan mengerikan baru saja tercipta.
Gema raungan ratusan mesin motor membelah kesunyian malam di jalur utama Sukaseri. Cahaya lampu sorot kendaraan menerangi jalanan bagaikan aliran lava beracun.
Aliansi Slonong Boys telah resmi bergerak!
Tujuh pimpinan fraksi terkuat dari seluruh penjuru wilayah secara pribadi memimpin barisan terdepan mereka:
Friza dari CBC (Cikampek Boys Celebrity) — Menguasai wilayah Sukaseri.
Dimby dari TOP (Team Orang Pusing) — Penguasa absolut wilayah Pangulah.
Regal dari WARJO — Pemimpin fraksi ganas dari wilayah Jomin yang berbatasan langsung dengan Sukaseri dan Cikopo.
Aditya dari ANDUL BOYS — Penguasa gerbang batas Cikopo.
Revan dari GEORGIA — Penguasa wilayah Kalioyod di bagian timur.
Adrian dari POESAT CRAZY — Fraksi brutal dari wilayah utara Pucung.
Azril dari CS YOUTH — Penguasa wilayah Daringo di bagian timur yang bertetangga erat dengan Georgia.
Kedatangan tujuh fraksi besar ini bukan sekadar pamer kekuatan biasa. Tiga di antaranya—CBC, WARJO, dan TOP—adalah tiga pilar utama pendiri aliansi Slonong Boys! Meskipun masih banyak fraksi kecil lain di bawah naungan aliansi, kehadiran tujuh fraksi ini sudah lebih dari cukup untuk meratakan sebuah kota. Masing-masing dari mereka membawa puluhan petarung jalanan terbaik yang siap menumpahkan darah.
Friza menghentikan motornya di barisan paling depan, mematikan mesin, lalu mendongak menatap langit malam Cikampek yang pekat. Tatapan matanya begitu dingin dan membunuh.
"Fatah udah bikin darahnya menetes... Malam ini, kita pastikan seluruh wilayah Cijalu membayar gantinya dengan nyawa," bisik Friza dengan suara berat.
Tujuh fraksi terkuat Slonong Boys telah bersatu di bawah satu panji penyerbuan. Genderang perang terbesar antara aliansi penguasa Cikampek melawan kekuatan Cijalu Bersatu resmi ditabuh malam itu!