NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

“Mana sini STNK-nya,” desak Ardhana. Suaranya terdengar berat, namun ada nada tidak sabaran yang terselip di sana. Tangan kanannya sudah terulur ke depan, siap menerima lembaran kertas yang sejak tadi dipegang oleh wanita di hadapannya.

Wajah Sarah seketika menekuk sempurna. Sudut bibirnya ditarik ke bawah, memancarkan rasa enggan yang luar biasa. Jika ada hal yang paling ia hindari di dunia ini, itu adalah melibatkan pria di depannya ini ke dalam urusan pribadinya. Baginya, meminta bantuan Ardhana sama saja dengan menggadaikan harga dirinya yang setinggi langit.

“Aku sendiri aja deh yang ambil ke dalam,” kukuh Sarah. Ia menarik tangannya ke belakang, menyembunyikan STNK tersebut di balik tas selempangnya.

Ardhana menghela napas panjang. Dadanya naik turun, lalu ia menggelengkan kepala perlahan. Sorot matanya menatap Sarah dengan pandangan yang seolah berkata, 'Kamu tidak pernah berubah.' Ia benar-benar heran melihat bagaimana wanita itu masih saja bertahan dengan keras kepalanya yang legendaris sejak dulu.

“Nggak akan dikasih sama mereka, Kak,” ujar Ardhana lagi, mencoba melunakkan suaranya agar tidak terdengar seperti menggurui. “Kenapa sih susah banget? Kebanyakan orang di mana-mana justru memanfaatkan kenalannya, atau sengaja mencari kenalan polisi untuk memudahkan urusan birokrasi kayak gini. Ini kamu sudah punya kenalan yang jelas-jelas berseragam di depan mata, malah nggak mau dimanfaatkan. Aneh.”

Sarah mendelik tajam, matanya membulat menatap Ardhana dengan pandangan menusuk. “Aku bukan tipe orang yang suka memanfaatkan posisi atau jabatan orang lain, ya! Catat itu.”

Ardhana melipat kedua tangannya di depan dada. “Ya sudah kalau nggak percaya. Masuk saja sendiri. Silakan dicoba.” Ardhana menggeser tubuhnya yang tegap ke samping, memberi ruang yang cukup lapang bagi Sarah untuk melewati pintu masuk.

Dengan hentakan kaki yang sengaja diperkeras sebagai bentuk protes, Sarah melangkah masuk. Angin sepoi-sepoi dari pendingin ruangan langsung menyambut kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terlanjur panas. Di belakangnya, Ardhana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, senyum tipis terukir di sudut bibirnya melihat tingkah laku kekanak-kanakan wanita yang berstatus sebagai mantan seniornya itu.

Di dalam ruangan pelayanan, suasana tampak cukup sibuk. Sarah mengedarkan pandangan dan melihat sebuah meja panjang kedinasan di mana beberapa petugas polisi sedang memeriksa berkas. Di ujung meja, ia mengenali sosok polisi bertubuh gempal yang tadi pagi menghentikan laju sepeda motornya.

Sarah menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian, lalu melangkah mendekat.

“Permisi, Pak. Saya mau ambil motor saya yang tadi ditahan,” ucapnya selembut mungkin saat sudah berdiri tegak di depan meja.

Polisi itu mendongak, menjauhkan fokusnya dari lembaran kertas di atas meja.

“Oh iya, Mbak yang tadi ya. Mana STNK sama SIM-nya?”

Seketika itu juga, wajah Sarah berubah pasi. Darah rasanya surut dari permukaan kulitnya. Ia meremas tali tasnya dengan gugup. “Pakai... pakai SIM juga ya, Pak?” tanyanya dengan suara yang mendadak cicit dan pelan.

Petugas polisi itu terkekeh geli, seolah pertanyaan Sarah adalah hal paling lucu yang ia dengar hari ini. “Ya iya dong, Mbak. Bagaimana bisa kami menyerahkan kendaraan itu kalau orang yang mau ambil saja ternyata tidak punya izin mengemudi resmi? Itu melanggar prosedur.”

Sarah langsung cemberut, matanya mulai berkaca-kaca karena kesal pada diri sendiri. “Walaupun STNK-nya tetap atas nama saya sendiri, Pak? Ini murni motor saya.”

“Tetap tidak bisa, Mbak. Aturan tetap aturan,” pungkas polisi itu dengan nada tegas namun tetap sopan, mengisyaratkan bahwa perdebatan mereka sudah selesai.

Sarah mendesah berat, energinya runtuh seketika. Dengan langkah gontai dan bahu yang merosot kecewa, ia membalikkan tubuhnya. Ego dan gengsinya baru saja hancur berkeping-keping oleh kenyataan regulasi lalu lintas.

Begitu tiba di dekat pintu keluar, langkah Sarah terhenti. Ardhana rupanya masih berdiri bersandar di pilar bangunan, menunggunya dengan senyum simpul yang amat menyebalkan.

“Gimana? Bisa?” tegur Ardhana, sengaja memancing reaksi.

Sarah bergeming. Ia berdiri kaku, menimbang-nimbang antara mempertahankan gengsi atau merelakan motornya menginap di kantor polisi hingga dirinya bisa membawa teman yang mau membantunya. Setelah pergolakan batin beberapa saat, akal sehatnya menang. Dengan gerakan kaku dan wajah yang sengaja dipalingkan ke arah lain, ia menyodorkan STNK-nya ke arah Ardhana.

“Nih, ambilin,” ketusnya.

Namun, tangannya yang menggantung di udara tidak kunjung disambut. Ardhana tidak segera mengambil kertas itu. Merasa aneh, Sarah yang semula menunduk terpaksa mengangkat wajahnya kembali.

“Ini... ambil,” ulang Sarah, kali ini dengan penekanan.

Bukannya mengambil, Ardhana justru melipat kedua tangannya di depan dada dengan santai. Tatapannya berubah menjadi sangat usil. “Kalimat minta tolongnya mana? Aku nggak dengar ada kata 'tolong' di sana.”

Sarah menarik napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak melempar tasnya ke wajah pria itu. Ia tahu Ardhana sedang membalas dendam padanya.

“Adik juniorku Ardhana yang paling baik,” Sarah menjeda kalimatnya, menekan tiap kata dengan gigi yang bergemeretak, “boleh dong tolong ambilin kunci motor Kakak di dalam?”

Ardhana tak dapat menahan tawa kemenangannya. Ia memberikan penghormatan dua jari di pelipisnya. “Siap dilaksanakan, Kakak Senior.”

Tanpa diduga, Ardhana langsung membalikkan badan dan melangkah lebar masuk ke dalam ruangan tanpa menyentuh atau mengambil STNK yang disodorkan Sarah sejak tadi.

“Lho, ini STNK-nya nggak dibawa?” teriak Sarah heran, tangannya masih melayang di udara.

“Sudah, tunggu di situ saja. Aman,” sahut Ardhana tanpa menoleh, melambaikan tangannya santai.

Sarah terpaksa menunggu di koridor luar. Tidak sampai tiga menit Ardhana sudah kembali keluar. Di sela jarinya, sebuah kunci motor dengan gantungan berbentuk rajutan lumba-lumba bergoyang-goyang.

“Yang ini, kan?” tanya Ardhana memastikan.

“Em... iya, yang ini,” jawab Sarah ragu, langsung menyambar kunci tersebut dari tangan Ardhana seolah takut pria itu berubah pikiran.

“Makasih,” tambah Sarah cepat. Tanpa menunggu respons lebih lanjut, ia langsung memutar tubuh dan berjalan cepat-cepat meninggalkan koridor kantor polisi.

Ardhana melongo di tempatnya berdiri. Ia berkedip beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Lho... lho? Gitu doang?” tanyanya setengah berteriak sembari buru-buru melangkah lebar untuk mengejar Sarah.

Sarah terus berjalan menuju area parkir barang bukti tanpa mempedulikan langkah tegap yang menguntitnya dari belakang. “Mau apa lagi sih, Ar?” tanyanya ketus saat Ardhana berhasil menyamai langkahnya.

“Makan bareng gitu, kek. Sebagai tanda terima kasih. Aku juga belum makan siang dari tadi karena piket,” kata Ardhana tanpa beban, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dinasnya.

“Makan saja sendiri sana. Aku sibuk,” jawab Sarah ketus. Begitu sampai di samping motor matic-nya, ia segera menyambar helm yang sedari tadi tergantung di spion, memakainya dengan terburu-buru, lalu menyalakan mesin motor.

Ardhana menahan stang motor Sarah perlahan, mencegah wanita itu langsung tancap gas. “Oke, kalau nggak bisa sekarang karena kamu sok sibuk. Tapi kalau nanti kita ketemu lagi di luar, kita harus makan bareng. Nggak ada penolakan.

”Sarah mendengus, kaca helmnya sengaja ia buka setengah. “Kok maksa? Ngeselin banget, ya.”

“Ini kesepakatan sepihak sebagai pengganti bantuan hari ini. Pokoknya harus mau. Dah, sana pulang. Hati-hati di jalan, nanti urus SIM nya,” kata Ardhana yang kemudian melepaskan pegangannya, tersenyum lebar, lalu berbalik kembali menuju kantornya sebelum Sarah sempat membalas makiannya.

Sarah menatap punggung tegap itu dengan kejengkelan yang membubung tinggi. Ia menurunkan kaca helmnya dengan kasar, lalu menarik gas motornya membelah jalan raya.

“Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah. Tetap saja tukang paksa yang menyebalkan,” gerutunya di dalam helm, meski jauh di lubuk hatinya, ada segaris senyum yang gagal ia sembunyikan.

1
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
Rian Moontero
kayaknya harus sering up kak,,minimal sekali sehari ato dua kali upnya,biar pembacanya ndak pindah rumah🤣🙏
mumu: wadaaaw kompak banget ini 😄😄 author usahain ya buat balik up setiap hari. tapi moon maaf, sekarang agak susah lagi drop 🤭🥺
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!