Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Sertifikat dari Lily
Tidak ada yang menjawab Fajar.
Di dalam unit, Yu membeku di depan meja makan, sedangkan Zhen memegang piring kertas seolah benda itu tiba-tiba berubah menjadi soal algoritma tersulit di dunia. Dari koridor, suara langkah Yan dan Fajar makin menjauh, lalu lift berbunyi pelan.
Hening.
Yu menatap kantong sampah di tangannya. "Aku buang sampah dulu."
"Jam sebelas lewat."
"Aturan sampah sebelum jam delapan, kan? Berarti sudah telat. Sekalian saja."
Argumen itu buruk. Yu tahu. Zhen juga tahu.
Namun Zhen hanya mengambil kantong sampah dari tangannya. Kali ini, lagi-lagi, jari mereka tidak bersentuhan.
"Aku yang buang."
"Kenapa?"
"Kamu pakai sandal kamar."
Yu melihat kakinya. Benar. Ia memakai sandal rumah berbulu yang dibelinya murah di marketplace, sama sekali tidak cocok untuk turun ke tempat sampah lantai dasar. Tapi tetap saja, alasan itu terasa terlalu rinci.
"Aku bisa ganti."
"Terlambat."
Zhen sudah berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh sekilas. "Jangan pikirkan omongan Fajar."
Yu ingin bertanya bagian mana yang tidak perlu dipikirkan. Bagian bahwa Zhen memperhatikan dia? Bagian bahwa semua orang selain dirinya mungkin sudah melihat sesuatu? Atau bagian bahwa jantungnya sendiri tadi terasa seperti tersandung?
Yang keluar hanya, "Aku nggak mikir."
Zhen menatapnya.
"Jawaban cepat ketiga minggu ini."
Pintu tertutup.
Yu berdiri sendirian di ruang tengah dengan wajah panas.
Besok sorenya, Lily datang membawa tiga kantong plastik besar, satu gelas boba, dan aura penyelidik kepolisian.
"Gue nggak percaya lo tinggal di sini sendirian setelah putus," kata Lily begitu pintu dibuka. "Jadi gue datang untuk audit."
"Aku nggak sendirian."
Lily berhenti.
Yu baru sadar kalimat itu salah.
Mata Lily menyipit. "Apa maksudnya nggak sendirian?"
"Maksudku... unit share."
"Dengan siapa?"
Yu mengambil satu kantong plastik dari tangan Lily. "Roommate."
"Perempuan?"
Terlalu lama.
Jawaban Yu terlambat dua detik, dan Lily, sebagai sahabat yang sudah mengenalnya sejak semester pertama, langsung mencium darah.
"Yu."
"Secara sistem, iya."
"Apa maksudnya secara sistem?"
Yu membuka mulut, tapi pintu kamar utama terbuka.
Zhen keluar.
Hari itu ia mengenakan kaus hitam polos, jaket denim gelap, dan celana panjang yang jatuh terlalu pas. Rambutnya belum sepenuhnya kering, beberapa helai turun di dahi. Di satu tangan, ia membawa helm. Di tangan lain, kunci mobil. Wajahnya tetap dingin, bersih, dan tidak masuk akal untuk ukuran manusia yang hanya hendak keluar rumah.
Lily, yang biasanya punya komentar untuk semua hal, diam total.
Zhen melihat Lily, lalu Yu.
"Tamu?"
Yu merasa tenggorokannya kering. "Lily. Sahabatku."
Lily seperti baru tersadar. Ia menegakkan badan dengan cepat. "Halo."
"Zhen." Ia mengangguk singkat.
Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Tapi justru karena itu, efeknya menjadi lebih parah. Lily memegang lengan Yu terlalu kuat.
Zhen melirik cengkeraman itu, lalu berkata pada Yu, "Aku keluar. Burger sudah makan. Jangan kasih dia boba."
"Aku tahu."
"Kemarin kamu kasih dia potongan roti."
"Itu kecil."
"Dia anjing, bukan adik kos."
Lily menoleh ke Yu dengan mata makin besar. Yu berharap lantai terbuka dan menelannya.
Zhen memakai sepatu di dekat pintu. Sebelum pergi, ia melihat tiga kantong plastik di tangan Yu.
"Berat?"
"Nggak."
Lily langsung menyahut, "Berat."
Yu menatapnya panik.
Zhen berjalan mendekat, mengambil dua kantong dari tangan Yu, lalu menaruhnya di meja makan. Gerakannya cepat dan efisien. Ujung jarinya hampir menyentuh pergelangan Yu, tetapi tidak jadi.
Tubuh Yu tetap bereaksi, padahal tidak ada kulit yang bertemu kulit. Ini memalukan.
"Jangan taruh makanan berkuah tanpa alas," kata Zhen.
"Iya."
Ia keluar.
Pintu tertutup.
Lily masih menatap pintu itu.
Lalu ia berbalik sangat pelan.
"Gila," bisiknya. "Ini roommate kamu?!"
Yu mengangkat kantong plastik untuk menutupi wajah. "Jangan mulai."
"Model ya?!"
Kalimat itu jatuh tepat seperti palu hakim.
Yu menurunkan kantongnya.
"Kenapa kamu langsung mikir begitu?"
"Karena mata gue masih normal." Lily menunjuk pintu. "Tinggi begitu, muka begitu, keluar bawa helm, dingin kayak iklan parfum mahal. Itu kalau bukan model, apa? Penjaga perpustakaan?"
Yu duduk di kursi. "Dia bilang kuliah."
"Model juga bisa kuliah."
"Dia di Fasilkom."
"Model pinter juga ada."
"Dia punya aturan kulkas."
"Model clean eating."
Yu menutup mata. "Lil."
Lily duduk di depannya, wajah serius. "Oke, coba cerita dari awal. Kenapa roommate lo laki-laki, kenapa dia seganteng itu, dan kenapa lo menyembunyikan detail penting ini dari sahabat sendiri?"
Yu akhirnya bercerita versi yang sudah disensor. Iklan apartemen yang tertulis khusus perempuan, admin yang salah data, Zhen pulang jam dua pagi, aturan bersih-bersih, Burger, Yan dan Fajar yang datang semalam. Ia tidak menyebut haus sentuhan. Ia juga tidak menyebut bagaimana satu sentuhan Zhen bisa mematikan seluruh alarm tubuhnya.
Untuk bagian Rp 10.000.000 dan Nia Sentul, Yu ragu sebentar, lalu tetap bercerita.
Lily mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka.
"Sepuluh juta?" ulang Lily.
"Iya."
"Ada cewek bernama Nia yang ngatur jadwal malam?"
"Iya."
"Ada tamu VIP?"
"Iya."
"Dia pulang jam dua pagi bau bensin?"
"Iya."
Lily menepuk meja sekali. "Sertifikat resmi dari gue, dia model event otomotif."
"Sertifikat apa?"
"Sertifikat sahabat. Valid."
Yu ingin membantah, tapi sebagian dirinya yang kacau merasa lega. Kalau Lily, orang paling tajam yang ia kenal, juga berpikir begitu, berarti Yu tidak sepenuhnya gila.
Burger datang dari ruang tengah dan menaruh dagu di lutut Lily.
Lily langsung luluh. "Ya ampun, anjingnya juga ganteng."
"Anjing bisa ganteng?"
"Kalau majikannya begitu, energinya nular."
Yu melempar tisu ke arahnya.
Mereka makan di meja, membongkar kantong plastik berisi ayam geprek, roti, buah, obat maag, dan satu kotak cokelat. Lily memaksa Yu makan setengah porsi nasi sebelum mengizinkannya minum boba.
"Putus cinta boleh, sakit lambung jangan," kata Lily.
Yu menurut. Untuk pertama kalinya sejak malam Kevin, makanan tidak terasa seperti kertas.
Setelah makan, Lily berkeliling unit dengan mata penuh penilaian. Ia berhenti di depan pintu kulkas, membaca aturan yang ditulis Zhen, lalu tertawa sampai hampir tersedak.
"Buang sampah sebelum jam delapan. Jangan tinggalin rambut. Ya Tuhan, Yu, lo tinggal sama cowok paling ganteng sekaligus paling rewel se-Jakarta."
"Aku tahu."
"Tapi dia tadi perhatian."
Yu pura-pura sibuk menutup kotak makanan. "Dia memang begitu ke semua orang mungkin."
"Dia nanya kantong berat apa nggak. Terus ingat Burger sudah makan. Terus dia lihat tangan gue waktu gue pegang lengan lo."
Gerakan Yu berhenti.
Lily menatapnya lebih tajam. "Lo takut disentuh orang lagi?"
Yu diam.
Sahabat baik selalu mengerikan karena mereka tahu pintu mana yang harus diketuk.
"Sedikit," jawab Yu.
Lily tidak memaksa. Ia hanya meraih tangan Yu, menunggu sampai Yu mengangguk, baru menggenggamnya pelan.
"Kalau begitu jangan maksa diri. Termasuk sama model ganteng itu."
Yu menatap tangan Lily di tangannya. Hangat. Aman sebagai sahabat. Tapi tetap tidak mematikan suara di kulitnya.
Ia tersenyum kecil. "Aku tahu."
Lily tidak terlihat yakin, tapi ia membiarkan topik itu jatuh.
Menjelang malam, Lily pulang setelah memaksa Yu mengirim lokasi live selama satu jam. Unit kembali sunyi. Yu membereskan meja, lalu melihat helm Zhen yang tertinggal di rak dekat pintu.
Ada logo kecil di sampingnya.
Z.
Yu mendekat tanpa sadar.
Huruf itu sederhana, putih di atas latar hitam. Entah kenapa, terlihat seperti tanda tangan, bukan sekadar logo.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Lily.
Kalau suatu hari lo bayar dia buat pegang tangan, diskon sahabat harus ada.
Yu hampir menjatuhkan ponsel.
Ia menoleh ke pintu kamar Zhen yang tertutup rapat, lalu menatap helm berlogo Z.
Ide buruk yang kemarin hanya berupa catatan di notes, tiba-tiba terdengar jauh lebih mungkin.