Hastari Ananda adalah seorang karyawati yang sedang giatnya bekerja. Harus mengikuti aturan dari tempat kerjanya untuk mau dimutasi dimana saja.
Dan saat sedang LDR dengan sang pacar ternyata ia mendengar kabar kalau sang pacar akan menikah. Saat sedang dilanda galau datanglah Rama, lelaki yang ternyata menjadi teman hidupnya di masa depannya.
Bagaimana Tari menghadapi semua masalah peliknya, dari keputusan tempat kerjanya, sikap yang diambil saat tau kekasihnya akan menikah dan perasaannya terhadap Rama.
Saksikan semuanya disini ya...CINTAKU LDR TERUS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nie Junie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6 - DIJEMPUT
Waktu sudah menunjukkan pukul 3.15 sore, waktunya coffee break dan sholat Ashar.
Tari bergegas turun ke lantai bawah dengan menuruni tangga, yang lain masih ada yang terlihat sedang mengobrol dengan teman masing-masing. Tari langsung turun agar bisa langsung mendapat waktu sholat Ashar setelah adzan nanti sehingga tidak berdesakan dengan yang lain.
Setelah adzan Tari pun bersiap untuk sholat dengan khusyu, memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya juga keluarganya dan pekerjaannya agar selalu lancar.
Setelah selesai Tari melipat mukena yang digunakan dan menaruhnya lagi di lemari masjid. Beranjak keluar untuk memakai sepatunya. Dan berjalan keluar gerbang masjid, saat sedang berjalan Tari berpapasan lagi dengan Dedy.
"Kamu udah tau mau mutasi kemana? Jadi apa?" Dedy memulai pembicaraan
Tari yang bingung hanya mengerutkan keningnya dan mengankat bahunya, Tari sama sekali belum tahu apa-apa masalah mutasi cabangnya.
"Emang kamu tau mau jadi apa? Bukannya kaya sekarang ya, salesnya aja kan?" Tari balik bertanya
"Bener-bener nggak tau ya kamu! Yang training sistem biasanya jadi pimpinan nanti, gantiin yang disana. Kalau masalah mutasi coba tanya HRD cabang kamu." Dedy menjelaskan sambil tersenyum
Mereka berbicara beriringan sambil berjalan menuju tempat training sampai akhirnya mereka sudah sampai di lantai bawah tempat training mereka.
Mereka pun berjalan bersama menuju lantai atas tempat mereka training setelah sampai Tari meminum teh dan Dedy meminum kopi yang disiapkan dan memakan camilan mereka.
"Emang kamu udah tau kapan mau dimutasi Ded?" tanya Tari ingin tahu
"Katanya sih kalau aku masih 3 minggu atau sebulan lagi tapi di training aja biar bisa langsung berangkat besok-besok" Dedy menjelaskan sambil meminum kopinya
"Pilihannya mana aja sih? Aku belum tau soalnya" Tari bertanya lagi sambil memakan camilan
"Ada Jambi, Pekanbaru, Kupang, Makassar, Bali mana lagi aku lupa" Dedy menjelaskan sambil mengingat-ingat karena ternyata Dedy sudah di telepon oleh HRD bagian cabangnya.
Di tempat Tari bekerja memang tidak hanya seorang HRD membawahi semua cabang, tapi untuk seorang HRD membawahi 5 sampai 7 cabang karena retail ini sudah tersebar di seluruh Indonesia dan 1 provinsi saja tidak hanya 1 cabang bisa 3 atau lebih, bahkan untuk di Jakarta Timur saja cabangnya ada 5 tempat. Bisa di bayangkan dong kalau hanya 1 HRD yang membawahi.
Nah saat ini cabang Tari ada di daerah Jakarta Timur, berbeda dengan Dedy yang cabangnya berada di daerah Jakarta Barat maka dari itu HRD mereka berbeda orang.
"Ya udah nanti telepon aja HRD nya tanyain kok saya udah di panggil mba? Emang udah mau mutasi? Tanya aja gitu." kata Dedy memberi solusi agar Tari besok menelepon HRD nya.
Tak lama kemudian akhirnya trainer sudah datang, tandanya coffee break sudah selesai dan saatnya melanjutkan pelajaran yang tadi tertunda.
Pukul 5 sore Tari dan teman-temannya sudah diperbolehkan pulang karena materi training dan praktek hari ini sudah selesai. Mereka pun absen satu persatu kemudian mencetak absen mereka untuk klaim transport besok.
Tari sudah ada di luar gedung training, ia mengeluarkan ponselnya kemudian mengetikkan pesan di sana
"Aku udah pulang nih, kamu udah pulang belum?" Tari mengirim pesan tersebut
"Aku udah pulang honey, kamu nanti aku jemput di halte turun Trans ya" Ardy membalas pesan Tari semangat
"Ya udah aku pulang deh. Aku naik angkutan dlu ya, nanti ku WA lagi" Tari kemudian menaruh ponselnya lagi di tas dan langsung menyetop mobil angkutan umum di depannya dan kemudian menaiki mobil tersebut.
"Iya sayang hati-hati ya" balas pesan Ardy sebelumnya.
"Aku udah di halte nih mau naik Trans, mana penuh banget lagi haltenya!" Tari mendesah kecil karena sudah sangat capek hari ini.
"Ya udah kamu naik yang kosong aja biar bisa duduk sayang, nanti ku tungguin pokoknya. Tenang aja" balas Ardy lagi
"Nggak ah, kalau ada naik aja, sekalian capek lah malas kalau kelamaan nunggu" balas Tari lagi sambil manyun karena malas disuruh menunggu.
Akhirnya bus Trans pun datang sesuai dengan rute yang Tari naiki. Tanpa pikir panjang Tari pun menaiki bus tersebut walaupun tidak mendapat tempat duduk dan harus berdiri. Setidaknya Tari berdiri tidak sendiri karena sekarang ini jam pulang kantor pasti banyak yang mengantri dan berdiri.
Akhirnya Tari pun sampai di halte yang dimaksud Ardy tadi. Tari keluar bus dan kemudian berjalan menyusuri halte untuk keluar dari sana. Tak butuh waktu lama akhirnya Tari menemukan Ardy karena tubuh tinggi Ardy.
Tari mendekati Ardy yang berada tak jauh dari halte tersebut.
"Udah lama nunggunya?" tanya Tari
"Nggak kok. Kalaupun lama juga nggak apa kalau buat kamu sayang" jawab Ardy
"Halah...gombal kamu!"
"Udah yuk capek nih" ajak Tari agar mereka cepat pulang
"Sayang makan dulu yuk" Ardy sambil memegang perutnya yang keroncongan
"Emang udah lapar ya? Ya udah terserah deh" Tari pun pasrah
"Sekalian lah ngomong sama Ardy kalau aku udah mau dimutasi kayaknya" batin Tari
"Kita makan ini aja ya, biar nggak berat" Ardy memberhentikan motornya di depan warung bubur kacang hijau kesukaannya.
"Iya deh, sekalian aku mau ngomong ya sayang" ucap Tari memberitahu Ardy
Kemudian Ardy pun mengerutkan keningnya kebingungan. Ardy pun memesan 2 mangkuk bubur kacang hijau dan setelah itu duduk di sebelah Tari.
"Buburnya neng" kata sang penjual sambil meletakkan 2 buah mangkuk sudah berisi bubur hangat yang menggoda selera.
"Iya bang makasih ya" ucap Tari sambil menganggukkan kepalanya
Sambil memakan pesanan mereka Ardy pun bicara, "Emang mau ngomong apa sayang?"
"Aku kayaknya udah mau dimutasi deh. Jadi nanti kita LDR an. Kamu apa nggak apa-apa?" Tari langsung to the point ke pokok permasalahannya.
Ardy tersenyum dan meletakkan sendoknya, kemudian menggenggam tangan Tari,
"Aku nggak apa-apa sayang, yang penting kita saling percaya ya"
"Kamu yakin?" Tari membelalakkan matanya tak percaya
"Iya seratus persen yakin, tapi kamu jangan nakal, ingat ada aku disini nungguin kamu" ucap Ardy meyakinkan
"Emang berapa lama sayang?" tanya Ardy
"Setahun" jawab Tari cepat
"Cuma setahun mah cepat sayang" sambil tersenyum lagi.
Akhirnya Tari pun tenang karena Ardy tak mempermasalahkan jarak mereka nantinya. Tidak apa LDR setidaknya kan nanti masih bisa ketemu pas cuti, begitu pikir Tari.
Akhirnya mereka menyelesaikan makan mereka karena sudah lewat maghrib dan segera bergegas pulang menuju rumah Tari.
__________________
Hallo kawan semua mohon tinggalkan jejak yaaa....LIKE, VOTE dan KOMEN novel ini.
Saran dan kritik membangun pasti akan aku terima dengan baik...
TERIMA KASIH
tetap semangat ya.💪💪💪
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas
nanti aku lanjut baca lagi