Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang sekolah
Diantha sengaja memperlambat gerakannya saat menyampirkan tas ransel di bahu.
Ketika langkah kaki teman-teman sekelasnya mulai berhamburan keluar pintu, ia melangkah dengan ritme yang sengaja ditahan, sesekali merapikan tali tasnya yang sebenarnya sudah pas.
Benar saja, dari sudut matanya, ia melihat siluet Althaf yang berjalan santai menyusul di belakangnya.
Begitu mereka keluar dari pintu kelas dan menyatu dengan keramaian koridor, Diantha menoleh ke samping. "Althaf," panggilnya setengah berbisik.
Althaf menoleh, langsung tersenyum lebar menyadari Diantha sengaja menunggunya.
"Ya? Kenapa, Diantha? Kangen ya, padahal baru semenit nggak ngobrol?" godanya langsung..
Diantha memutar bola matanya, namun tidak bisa menahan senyum tipis.
"Geer lagi. Aku mau nanya yang tadi, Kamu kok bisa tahu banyak banget soal sekolah ini? Padahal kita kan sama-sama anak baru?! "
Althaf terkekeh pelan, tangan kanannya terangkat untuk mengusap tengkuknya.
"Oh, misteri yang tadi, ya? Rahasianya ada di Kak Reyhan," jawab Althaf santai.
"Dia kakak kelas kita, sekarang udah kelas sebelas di sini. Kebetulan dia itu tetangga sebelah rumahku dan dari kecil kita emang sering main bareng. Sebelum masuk sini, gue sering di-spoil sama dia tentang seluk-beluk sekolah, dari denah ruangan sampai makanan kantin yang enak."
"Ooh... pantesan " sahut Diantha manggut-manggut, rasa penasarannya akhirnya terjawab tuntas. "Punya informan orang dalam ternyata, hehee "
"Eh , Althaf! Cabut bareng kagak?"..
Sebuah teriakan lantang memotong obrolan mereka.
Dari arah belakang, tiga orang siswa laki-laki berjalan setengah berlari mendekat.
Diantha mengenali mereka.
mereka adalah gerombolan cowok yang duduk di barisan belakang dekat meja Althaf tadi saat di kelas.
Althaf menoleh ke arah teman-temannya, lalu melambaikan tangan. "sorry bray , duluan ya ! Mau jalan bareng Diantha dulu!" seru Althaf tanpa ragu, lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada Diantha.
Langkah kaki Diantha seketika melambat. Perasaan tidak enak langsung menyergap hatinya. Ia melirik sekilas ke arah teman-teman Althaf yang kini mulai tertawa riuh sambil melempar siulan menggoda dari kejauhan.
"Althaf, kok malah milih bareng aku? Sana samperin mereka, aku jadi nggak enak hati nih. Nanti kamu dikira sombong sama teman sendiri."
Althaf yang melihat perubahan ekspresi di wajah Diantha langsung tanggap.
Cowok itu sengaja menggeser posisi jalannya menjadi lebih dekat, memastikan bahu mereka hampir bersentuhan, lalu menatap Diantha dengan binar mata yang menenangkan.
"Hei, nggak usah mikir kayak gitu. Santai aja.." ucap Althaf lembut, mencoba mencairkan kecemasan Diantha.
"Mereka pasti paham kok kalau aku lagi mau jalan bareng teman baruku yang manis ini. Lagian, mereka itu cowok-cowok yang duduk di sekitar meja ku tadi di kelas."
Althaf tersenyum lebar, mengingat betapa beruntungnya dia hari ini.
" Mereka semua itu temen main ku di kompleks rumah, satu tongkrongan dari kecil. aku bener-bener beruntung karena banyak temen dekat yang ternyata lolos dan masuk ke sekolah yang sama. Jadi, ditinggal bentar juga mereka nggak bakal baper."
Mendengar penjelasan Althaf, rasa bersalah di hati Diantha perlahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya. Mereka berdua terus berjalan beriringan menyusuri koridor yang ramai, mengabaikan sorakan usil dari belakang..
Diantha merasa cukup beruntung di hari pertama sekolah, sebab ia mendapatkan teman baru seperti Althaf yang cukup menghiburnya , ia berharap agar hari-hari berikutnya juga sama menyenangkannya..