Denisa tak menduga perjalanan cinta jarak jauhnya dengan Rayend berakhir dengan kenyataan kalau Denisa lah menjadi orang ketiga di pernikahan Rayend. Lalu pertemuan tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan membawa Denisa bertemu sosok lelaki yang selanjutnya selalu muncul tiap Denisa mengalami kesusahan. Lelaki itupun mulai menunjukkan ketertarikan kepada Denisa. Namun Disisi lain lelaki itu juga mempunyai trauma masa lalu yang kelak akan mempengaruhi hubungan cintanya dengan Denisa. Sanggupkah mereka terus bersama menghadapi setiap masalah yang silih berganti menggoyahkan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liu woile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 7 Hutang 1
Denisa POV
Aku terbangun dari tidurku. Sedikit kaget ketika bangun ditempat yang asing. Berusaha mengumpulkan nyawa yang masih melayang aku menggeliat merenggangkan otot. Aku bangun untuk duduk dan masih terasa pegal pegal di sekujur badanku. Aku melirik jam dinding menunjukkan pukul 3 sore. Sesosok tubuh di bangsal pasien tidur membelakanginya. Denisa berdiri hendak mencuci muka ke toilet.
" Sudah bangun ? " suara itu menyapa ku.
" Hmm sudah.. Mau ke kamar mandi dulu" pamit ku . Selesai urusan dikamar mandi aku kembali keluar.
" Makan dulu.. kamu sudah melewatkan makan siang mu , itu dimeja sana ada nasi bento "
" Wah kebetulan perut ku lapar sekali. Ini buatku? ini beli dimana ?" aku ber basa basi
" Makan saja lah. Habis itu kamu juga harus minum obat, Ada obat nyeri dan antibiotik yang harus kamu minum kan " ujarnya
" Benar , ya udah aku makan ya, kamu sudah makan? " tanyaku
" Sudah "
Aku makan dengan lahap nya. Andai ada satu porsi lagi pun aku sanggup menghabiskan nya. Setelah itu aku minum obat. Ketika selesai ada seorang wanita masuk ke kamar membawa beberapa jinjingan ditangan. Wajah nya terlihat lelah . Aku tersenyum sambil mengangguk ketika wanita itu memandang ke arahku.
" Sudah semua? " tanya Catra pada wanita itu
" Sudah " jawab wanita itu
" Denisa kenal kan ini Ricka temanku "
" Salam kenal " jawabku, wanita itu mengangguk sambil tersenyum.
" Ini baju buatmu lengkap dengan pakaian dalamnya. Maafkan kalau kebesaran atau kekecilan. Saya hanya mengira ukurannya" ujar Ricka , dia menyodorkan sebuah paper bag . Aku menerima dengan suka cita.
" Terima kasih banyak. Maaf merepotkan kamu" ujar ku sambil tersenyum bahagia
" Sama aku ga terima kasih? pakai uangku lho belinya" ujar Catra nimbrung
" Terima kasih banyak " ujar ku
lalu aku melangkah ke arah kamar mandi ketika membuka pintu tiba tiba aku teringat kalau aku tidak mempunyai peralatan mandi.
" Mau bersih bersih tapi tak ada peralatan mandi " ujar ku. Ricka dengan sigap membuka kantong belanjaan yang lain lalu menyodorkan ke arahku.
" Terima kasih" ujar ku. Selesai mandi aku membuka paper bag yang diberikan ternyata ada satu set pakaian dalam wanita satu buah celana jeans dan sweater. Keluar kamar mandi ku dapati Ricka sedang berbincang serius sambil terlihat mencatat sesuatu yang dikatakan Catra.
Aku tak ingin mengganggu mereka. Aku melangkah kan kaki keluar kamar. Didepan kamar ada taman kecil nan asri. Aku duduk di bangku taman. Seketika ingatanku kembali ke perjalanan ku ke kota Semarang. Begitu berwarna sampai sampai ketika pulang pun harus menghadapi kecelakaan seperti ini. Besok aku harus mulai bekerja. Kapan kira kira aku bisa kembali ke Jakarta. Izin kerja ku cuma sampai Minggu.
Apakah ada yang menyadari kalau ponselku tidak bisa dihubungi. Di lingkup kehidupan ku yang tak banyak pertemanan, mungkin cuma Rayend dan teman kerja dan bos ditempat ku bekerja yang menyadari itu. Pikiran ku kembali ke Rayend ingin ku lupakan tapi saat ini masih sulit. Aku menghapus air mata yg menetes dan berdiri. Dan berkata menyemangati diri sendiri " Lupakan.. lupakan" tanpa kusadari ada Ricka didekat pintu. Aku tersenyum malu.
" Mbak " sapa ku. Dia tak menjawab tapi malah memandangi ku dari atas kebawah. Wajah cantiknya dibalik kacamata terlihat tidak senang.
" Kamu ikut aku cari handphone "
" Maksudnya? kita cari dimana mbak?" tanyaku tak mengerti
" Cari di toko handphone dong "
" Oh maaf , saya kira cari di tempat kecelakaan atau dikantor polisi "
Dia terlihat tersenyum sinis.
" Ayo jangan lama "
" Tapi sebentar aku ngomong dulu sama Catra " lalu aku bergegas masuk kembali ke kamar tanpa meminta persetujuan Ricka.
" Aku rasa tidak perlu handphone baru deh " ujar ku pada Catra yang sedang berbaring.
" Beli sajalah. Nanti bagaimana kamu bisa bayar hutangmu kalau aku ga bisa hubungi kamu.
" Aku bisa kasih tau no lamaku. Nanti akan aku urus nomer lama ku ke provider nya "
" Tapi bagaimana kalau kamu kasih no palsu "
" Oh astaga, Aku ga sepicik itu"
" Mana tau, aku kan ga kenal kamu sebelum ini "
" Tapi hutangku akan banyak kalau pakai beli handphone juga. Nanti aku bayarnya berat. Di rumah ada handphone lama ku yang masih bisa dipakai "
" Udah deh.. handphone ini tidak ku hitung hutang juga tidak apa, Anggap saja karena kamu sudah menolong aku keluar kereta "
" Tapi aku juga berhutang Budi karena kamu juga menyelamatkan aku pas gerbong mau jatuh "
" Aduh kamu ngeyel.. Rick... Ricka " Dia terlihat kesal lalu memanggil Ricka. Ricka muncul dari pintu
" Kamu ajak dia pergi sekarang ya. Kepala saya pusing ngadepin orang ngeyel " ujarnya lalu berbalik arah membelakangi ku. Kulihat Ricka memberi kode padaku untuk mendekatinya.
" Ayo pergi sekarang"
Dan aku hanya bisa mengikuti nya. Setelah ke mall terdekat akhirnya aku memilih hand phone yang tidak terlalu mahal dan nomer baru. Selesai urusan handphone Ricka mengajakku membeli makanan. Entah kenapa kulihat wajahnya tak begitu bersahabat ketika bersama ku. Apakah dia kekasih Catra tapi dari cara mereka berinteraksi sepertinya bukan. Kalau dibilang teman pun cara interaksi mereka terlihat canggung untuk ukuran teman.
" Mbak Ricka ini teman nya Catra?" tanyaku ketika sedang menunggu makanan.
" Mau tau aja atau mau tau banget ?" jawabnya ketus. Tuh kan.. dia dari awal memang wajahnya tidak bersahabat ketika hanya berdua. Aku jadi malas bertanya lagi. Setelah itu tak ada pembicaraan apapun sampai kembali ke RS. Ketika sampai RS waktu sudah jam 7 lewat.
" Sepertinya kamu harus menginap sehari disini Rick, Booking hotel yang dekat sini saja. Biar besok pagi tidak repot "
" Baik " jawab Ricka sambil melihat ponselnya, tak sampai 5 menit dia berkata sudah booking.
" Ya sudah kamu bisa pula ke hotel Sekarang. Pasti capek dari malam perjalanan trus belum istirahat langsung kesana kemari " ujar Catra,
" Baiklah, saya pergi dulu, kalau perlu apa apa jangan sungkan menghubungi" ujarnya lalu berjalan keluar kamar. Aku hanya melihat interaksi mereka. Seperti hubungan atasan dan bawahan saja. Setelah Ricka keluar kamar aku menghampiri Catra.
" Tega amat nyuruh orang pergi, padahal bisa disuruh makan bareng dulu. Dia beli makanan banyak lho. Padahal aku juga bisa join kamar sama dia, daripada menginap disini. Panggil lagi ya.. "
" Tidak usah, dia bisa makan sendiri diluar. Trus siapa yang jaga aku kalau kamu di hotel sama dia "
" Iya sih. Siapa yang jaga ya.. eh Tapi dia beli banyak makanan lho. Tak akan habis kalau ku makan sendiri "
" Tidak ada yang suruh kamu makan sendiri. Disini aku juga mau makan. Aku mau makan sekarang. Bisa tolong di bawa ke sini makanannya "
Aku pun membuka makanan nya. Setelah melayani ini itu aku akhirnya dia makan di ranjangnya. Aku makan di sofa. Selesai makan aku membuka ponsel yang baru dibeli. Setelah setting beberapa hal akhirnya aku bisa mengabarkan bos ku untuk menambah cuti satu hari lagi di senin. Ku putuskan besok pagi untuk kembali ke kota Jakarta.
"Oh ya. Aku jadi akan pinjam uang buat pulang ke Jakarta ya. Seperti nya aku naik bis saja. Tidak mau naik kereta sementara" ujar ku pada Catra yang sedang melamun di ranjang.
" Kamu ikut bareng aku besok ke Jakarta. Aku juga tidak mau disini sendirian " jawabnya
" Baiklah "
smg sll sehat thor ,sll sukses dengan karya mu yg semangkin greget ,ku tunggu karya mu yg lain ...
Author its the best 💪💪💪👍👍👍❤❤❤❤