NovelToon NovelToon
Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Status: tamat
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Estrellaaya_

Su Qing meninggal dunia. Ia diberi obat oleh sahabatnya hingga kehilangan kemampuan bernyanyi, karyanya dicuri oleh kekasihnya, wajahnya rusak akibat kecelakaan, dan akhirnya meninggal sendirian di rumah sakit tanpa ada yang mengurusnya.

Saat ia membuka mata kembali, ia telah terlahir kembali sebagai peserta pelatihan yang tidak dikenal, berusia 19 tahun, dan tidak memiliki apa-apa.
Namun, ia masih mengingat setiap nada, setiap baris lirik, dan setiap orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Di kehidupan ini, ia tidak lagi sekadar menciptakan lagu — ia menyematkan kode balas dendam ke dalam melodi, dan menyembunyikan petunjuk bukti di balik liriknya. Ia mengikuti program kompetisi, memperebutkan sumber daya produksi, dan melakukan serangan balik yang tepat sasaran lewat serangkaian “lagu balas dendam”.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh

Sore hari hari Jumat, ujian penilaian dilaksanakan tepat waktu.

Tiga puluh peserta dibagi menjadi tiga kelompok kecil, masing-masing berisi sepuluh orang, dan akan naik ke panggung sesuai urutan yang ditentukan lewat undian. Su Qing mendapatkan urutan keempat di kelompok kedua.

Tempat ujian adalah ruang siaran kecil di lantai satu. Di bawah panggung duduk lima orang juri. Selain Liang Wenbo dan Ibu Liu, ada tiga orang lain yang belum dikenalnya — seorang produser musik, seorang kritikus musik, dan seorang sutradara dari stasiun televisi.

Fang Li berdiri di pinggir panggung sambil memegang penghitung waktu, dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

Sepuluh peserta dari kelompok pertama selesai menyanyi, dan Su Qing menunggu di ruang tunggu belakang panggung.

He Siyu duduk di sebelahnya, wajahnya pucat pasi, dan jari-jarinya terus bergetar.

“Gugup?” tanya Su Qing.

“Sedikit,” jawab He Siyu dengan suara yang agak serak. “Ini pertama kalinya aku menyanyikan karya ciptaanku sendiri di depan orang sebanyak ini.”

“Lagu apa yang kau pilih?”

“Sebuah lagu irama lambat, kutulis untuk nenekku,” jawab He Siyu sambil menarik napas panjang. “Mungkin kurang cocok untuk kompetisi sih, suasananya terlalu tenang dan sendirian.”

Su Qing berpikir sejenak. “Kalau kau sendiri saja merasa tidak cocok, nanti di panggung kau pasti tidak akan bisa menyanyikannya dengan baik. Kau harus ganti lagunya sekarang, atau ubah cara pandangmu terhadap lagu itu.”

He Siyu menggeleng sambil tersenyum getir. “Sudah tidak ada waktunya lagi. Aku akan maju nomor dua.”

Seorang staf memanggil nama He Siyu. Ia berdiri, menepuk-nepuk sedikit lipatan di celananya, menarik napas panjang sekali lagi, lalu berjalan masuk ke ruangan.

Su Qing bersandar di dinding sambil menunggunya.

Lima belas menit kemudian, He Siyu keluar. Ujung matanya sedikit memerah.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Su Qing.

“Bisa dibilang lumayanlah,” jawab He Siyu dengan nada lesu. “Para juri bilang laguku ‘berisi perasaan namun kurang teknik’, lalu memberiku status ‘masih dalam pertimbangan’.”

Status pertimbangan artinya belum langsung tersisihkan, namun posisinya belum aman.

Su Qing mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.

Peserta ketiga selesai menyanyi, dan tiba giliran Su Qing.

Ia naik ke panggung, duduk di depan papan nada, lalu mengatur ketinggian mikrofon.

Kelima juri di bawah semuanya menatap ke arahnya.

Hari ini Liang Wenbo mengenakan kemeja berwarna hitam, namun masih membawa secangkir kopi seperti biasa. Ia menatap Su Qing tanpa ekspresi apa pun di wajahnya, seolah hanya menunggu gadis itu mulai bernyanyi.

Su Qing meletakkan kedua tangannya di atas tuts, lalu memainkan akor pertama.

Paduan Suara Sisa Hidup.

Ia tidak menyanyikan versi aslinya, melainkan versi yang sudah diubahnya. Nada awalnya sangat halus dan lambat, seolah sedang berbicara sendiri. Namun saat masuk ke bagian paduan suara, nadanya tiba-tiba meninggi dan berkembang, emosi yang terkandung di dalamnya meluap keluar seperti air yang menerobos bendungan.

“Aku menyanyikan kisah orang lain / sampai lupa namaku sendiri / penonton datang dan pergi silih berganti / tak ada satu pun yang bertanya apakah aku bahagia.”

“Hari ini aku berdiri di sini / menyanyikan lagu ini untuk diriku sendiri / sisa umurku masih panjang / aku tidak mau lagi menjadi bayang-bayang siapa pun.”

Saat kalimat terakhir selesai dilantunkan, dan nada terakhir selesai dimainkan.

Ruangan itu hening selama beberapa detik lamanya.

Ibu Liu adalah orang pertama yang berbicara, dengan nada suara yang jauh lebih lembut dibandingkan biasanya. “Lagu ini kau tulis sendiri?”

“Iya.”

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menulisnya?”

“Tiga hari,” jawab Su Qing.

Ibu Liu saling bertukar pandang dengan Liang Wenbo yang duduk di sebelahnya.

Liang Wenbo meletakkan cangkir kopinya, lalu mengambil mikrofon.

“Kemampuan menyanyimu masih butuh banyak perbaikan. Pengendalian napasmu belum cukup stabil, dan saat mencapai nada tinggi suaramu agak tertahan,” katanya.

Su Qing mengangguk. Ia sudah mengetahui kekurangan itu sendiri.

“Namun,” Liang Wenbo berhenti sejenak, “Nada dan lirik lagu ini kualitasnya sudah sangat baik, bahkan layak dijadikan lagu andalan dalam album mana pun.”

Ekspresi wajah para juri yang lain berubah seketika.

Orang seperti Liang Wenbo tidak pernah memuji orang lain. Paling banyak ia hanya akan berkata “lumayan”, “cukup bagus”, atau “bisa diterima”. Mendengar kalimat “layak dijadikan lagu andalan” dari mulutnya, bobot nilainya sama dengan seratus pujian dari orang biasa.

Su Qing mengucapkan “Terima kasih”, lalu berdiri dan turun dari panggung.

Saat ia keluar dari ruangan siaran, He Siyu masih menunggunya di depan pintu.

“Bagaimana hasilnya?” tanya He Siyu.

“Aman.”

He Siyu menghela napas lega. “Aku sudah menduganya.”

Keduanya hendak berjalan pergi, namun terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari belakang. Cheng Yinuo berlari mendekat dengan wajah yang terlihat sangat buruk.

“Su Qing, tunggu sebentar.”

Su Qing berhenti berjalan.

Cheng Yinuo berdiri tepat di hadapannya, lalu berbicara dengan suara pelan. “Lagu yang baru saja kau nyanyikan di atas panggung… itu benar-benar karya ciptaanmu sendiri?”

“Iya.”

“Kau yakin?”

Su Qing menatapnya tajam. “Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?”

Cheng Yinuo mengertakkan gigi, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya, mencari satu lagu dan menyodorkannya kepada Su Qing. “Dengarkan sendiri ini.”

Su Qing mengambil ponsel itu, lalu menekan tombol putar.

Terdengar sebuah lagu dengan irama musik rakyat sederhana, menceritakan kisah seorang penyanyi yang tampil di bar malam. Pola pergerakan nada di bagian paduan suaranya memiliki kemiripan sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen dengan lagu Paduan Suara Sisa Hidup milik Su Qing.

Tidak sama persis, namun cara penyusunan akor dan pengaturan iramanya memang sangat mirip.

“Ini lagu yang kutulis tahun lalu, dan pernah kupublikasikan di laman internet,” kata Cheng Yinuo dengan nada yang berisi kemarahan yang jelas. “Aku tidak langsung menuduh kau menjiplak karyaku, tapi dengan kemiripan setinggi ini, coba kau jelaskan apa penyebabnya?”

Su Qing mengembalikan ponsel itu kepadanya.

“Aku sama sekali belum pernah mendengar lagu itu.”

“Belum pernah mendengar?” Cheng Yinuo tertawa sinis. “Kalau begitu bagaimana kau jelaskan kemiripan ini? Pergeseran nada setengah tingkat dari akor keenam ke keempat lalu ke kelima itu adalah teknik aransemen yang kutiru dari musik jazz. Di negara ini, hanya sedikit orang yang menggunakannya. Tapi teknik itu muncul di lagumu, dan cara pemakaiannya persis sama denganku.”

Su Qing menatapnya diam, lalu tiba-tiba tersenyum.

Bukan senyum mengejek atau senyum karena merasa bersalah, melainkan senyum karena merasa hal itu konyol.

“Cheng Yinuo, teknik pergeseran nada setengah tingkat dari akor keenam ke keempat lalu ke kelima itu adalah salah satu teknik penggantian akor yang paling dasar dalam musik populer,” ucapnya dengan nada tenang. “Siapa saja yang pernah belajar harmoni musik jazz pasti mengetahuinya. Kau mengira itu adalah penemuanmu sendiri, hal itu hanya membuktikan bahwa dasar teori musikmu masih setingkat pelajaran sekolah menengah saja.”

Wajah Cheng Yinuo memerah padam seketika.

“Kau—”

“Aku tidak menjiplak lagumu,” potong Su Qing. “Kalau kau masih tidak percaya, silakan periksa catatan waktu penulisan laguku. Saat aku sedang mengubah lagu di ruang rekaman, rekaman pengawas di lorong bisa membuktikan jam berapa aku masuk dan jam berapa aku keluar.”

Cheng Yinuo membuka mulutnya, namun tidak bisa mengeluarkan kata-kata apa pun.

Su Qing tidak mempedulikannya lagi, lalu berbalik pergi.

He Siyu berjalan di belakangnya, dan saat mereka sudah cukup jauh, ia berbisik pelan. “Kau berani sekali berbicara seperti itu tadi. Ingat ya, Cheng Yinuo itu punya jutaan penggemar. Memusuhinya sama sekali tidak menguntungkan posisimu.”

“Aku tidak memusuhinya,” jawab Su Qing. “Dia duluan yang mencari masalah denganku.”

“Tapi soal kemiripan lagu itu…”

“Hanya kebetulan saja,” jawab Su Qing dengan nada yang sangat tegas. “Di dunia musik hanya ada nada-nada dasar yang jumlahnya terbatas. Hal seperti ini sering terjadi. Tapi kalau dia bersikeras menuduhku menjiplak, itu sudah menjadi masalah yang berbeda sama sekali.”

He Siyu tidak menanyakannya lagi.

Keduanya berjalan menuju pintu lift, saat pintu lift terbuka dan Zhao Ruoruo keluar dari dalamnya.

Saat melihat Su Qing, ia mengangkat sudut bibirnya tersenyum. “Kudengar kau tampil sangat bagus tadi? Bahkan Produser Liang sampai memujimu lho.”

“Cukup baik saja kok,” jawab Su Qing.

“Syukurlah kalau begitu,” kata Zhao Ruoruo sambil menepuk bahu Su Qing. “Ujian minggu pertama sudah kau lalui. Minggu depan tekanannya akan jauh lebih berat lagi. Semangat ya.”

Setelah berbicara, ia berjalan pergi dengan langkah-langkah sepatu hak tingginya.

He Siyu menatap punggungnya sambil mengerutkan kening. “Dia terlihat sangat ramah kepadamu ya.”

“Iya,” jawab Su Qing sambil menekan tombol panggil lift. “Terlalu ramah sampai terasa tidak wajar.”

He Siyu tidak begitu mengerti maknanya, namun ia tidak bertanya lebih jauh.

Keduanya masuk ke dalam lift. Saat pintu lift tertutup rapat, ponsel Su Qing bergetar.

Sebuah pesan dari L, kali ini hanya berisi satu kalimat: “Masalah dengan Cheng Yinuo itu adalah Zhao Ruoruo yang memberitahunya. Dia sedang berusaha memecah belah kalian.”

Su Qing menatap pesan itu. Cahaya lampu di dalam lift menyinari wajahnya, namun tidak terlihat ekspresi apa pun di sana.

Ia menekan tombol hapus pesan itu, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku.

Pintu lift terbuka. Di luar kaca pintu masuk lobi lantai satu, sinar matahari sore mewarnai seluruh langit menjadi oranye kemerahan.

Su Qing melangkah keluar, menyipitkan matanya menatap cahaya yang indah itu.

Zhao Ruoruo berniat membuatnya bertengkar dengan Cheng Yinuo tepat di minggu pertama, untuk menghabiskan tenaga dan merusak nama baiknya.

Namun Su Qing tidak berniat mengikuti skenario yang dibuat Zhao Ruoruo.

Ia memiliki langkah dan rencananya sendiri.

1
Murni Dewita
👣
Estrellaaya_: terima kasih banyak ya sygkuu, semoga suka ❤️❤️
total 1 replies
Nur Atika Hendarto
lanjut thor penasaran sangat 😭😭😭😭
Estrellaaya_: siapp sygkuuu ditunggu yaaa, terima kasih banyak udh baca karyakuu❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!