Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Benih Kekuasaan Baru
Draf dokumen resmi yang tergeletak di atas meja kayu lapuk itu seolah memancarkan daya magis yang luar biasa. Kirana masih berdiri mematung, menatap tanda tangan Kakek Bramasta dan cap segel hukum berstempel emas dengan pandangan tidak percaya. Dalam satu malam, statusnya berubah total dari seorang wanita yang selalu disisihkan dan dihina oleh keluarganya sendiri, menjadi pemilik sah dari enam puluh persen saham seluruh Wijaya Group.
Erika, yang masih bersujud di lantai semen, mendongak dengan wajah yang sembap. Di dalam hatinya yang dipenuhi keserakahan, ada rasa iri yang membakar melihat anak perempuan yang selalu dia kekang kini mendadak berada jauh di atas kepalanya. Namun, rasa takut kehilangan fasilitas mewah jauh lebih besar. Erika merangkak sedikit mendekati kursi Kirana, mencoba meraih tangan anaknya.
"Kirana... Nak... kamu lihat sendiri, kan? Kakek sudah mengembalikan apa yang menjadi milikmu," ratap Erika dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meskipun terdengar sangat palsu di telingaku. "Ibu ini... Ibu melakukan semua kekejaman itu selama ini hanya karena Ibu ditekan oleh keluarga besar. Ibu ingin kamu kuat! Sekarang kamu sudah kaya, Nak. Tolong bicaralah pada Adrian agar dia memaafkan Ibu dan Kak Kevin. Jangan biarkan kami diusir ke jalanan..."
Kirana perlahan menarik tangannya dari jangkauan Erika. Ada kilat kekecewaan yang mendalam di matanya. "Ibu... selama dua tahun ini, setiap kali Adrian dihina dan disiksa, ke mana perginya rasa sayang Ibu sebagai seorang ibu? Jika bukan karena Adrian yang memiliki kekuatan ini sekarang, apakah Ibu akan pernah berlutut di sini dan meminta maaf padaku?"
Ucapan Kirana bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Erika. Wanita paruh baya itu tertegun, mulutnya menganga tanpa bisa membantah satu kata pun. Sementara itu, Kevin yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erati, menahan rasa malu yang amat sangat karena harga dirinya sebagai menantu emas kini telah hancur berkeping-keping di dalam rumah kontrakan kumuh ini.
Aku mengabaikan drama keluarga mereka. Pandanganku beralih sepenuhnya kepada Kakek Bramasta yang duduk di kursi kayu dengan napas yang semakin pendek. Wajah tua itu tampak sangat cemas, matanya terus-menerus melirik ke arahku, menunggu janji yang kubisikkan semalam di restoran mengenai sisa umurnya yang tinggal enam bulan akibat kanker paru-paru stadium tiga.
"Adrian..." Kakek Bramasta akhirnya membuka suara, memecah ketegangannya sendiri. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah. "Semua dokumen... semua hak milik Kirana sudah diserahkan tanpa kurang sepeser pun. Sekarang... bagaimana dengan apa yang kamu janjikan semalam? Apakah kamu benar-benar memiliki cara untuk... menyembuhkanku?"
Aku tersenyum tipis. Aku bersandar pada sofa busa yang sudah kempes, menatap Kakek Bramasta dari atas ke bawah dengan pandangan yang penuh teka-teki. Di dalam inventaris sistem jiwaku, sebuah benda berbentuk pil bercahaya hijau redup dengan tulisan 'Kartu Pemulihan Medis Tingkat Dewa' sudah siap untuk digunakan kapan saja.
"Kakek Bramasta, Anda adalah seorang pebisnis yang ulung. Anda pasti tahu bahwa di dunia ini tidak ada makan siang yang gratis," ujarku datar. "Dokumen saham ini adalah apa yang memang sudah seharusnya menjadi milik Kirana sejak awal. Anda hanya mengembalikan barang yang Anda curi dari mendiang ayahnya. Jadi, itu belum cukup untuk membayar harga dari sisa hidup Anda."
Wajah Kakek Bramasta mendadak menegang. "Apa?! Adrian, aku sudah memberikan kendali perusahaan pada istri-mu! Apa lagi yang kamu inginkan dari orang tua sekarat ini?!"
"Aku ingin kepatuhan mutlak," jawabku tegas, dingin, dan tanpa ragu. Aura intimidasi dari Sistem Penguasa Dewa mendadak meledak keluar dari tubuhku, membuat seluruh orang di dalam ruangan sempit itu merasakan tekanan batin yang luar biasa berat hingga mereka sulit untuk bernapas. "Mulai hari ini, Kirana adalah pimpinan tertinggi di Wijaya Group. Jika aku mendengarkan ada satu saja anggota keluarga Wijaya yang mencoba bermain di belakangnya, menghambat kebijakannya, atau mencoba merebut kembali saham ini... maka aku jamin, penyakitmu akan membusuk dua kali lebih cepat dari perkiraan dokter."
Kakek Bramasta menelan ludah dengan susah payah. Di bawah tekanan aura yang begitu mengerikan, dia tidak memiliki pilihan lain selain tunduk. "B-baik... aku berjanji! Aku sendiri yang akan mengawasi seluruh jalannya perusahaan dan memastikan tidak ada yang berani mengganggu posisi Kirana! Sekarang... tolong beri aku obat itu..."
Aku mengangguk pelan. Melalui perintah mental di dalam kepalaku, aku mengaktifkan Kartu Pemulihan Medis Tingkat Dewa tersebut dan mengarahkannya langsung ke tubuh Kakek Bramasta.
Bzzzt...
Sebuah gelombang energi hangat yang tidak kasat mata oleh manusia biasa mendadak mengalir membelah ruangan, masuk menembus dada Kakek Bramasta. Seketika itu juga, panel semi-transparan Sistem di atas kepala Bramasta mulai berubah dengan cepat.
[Proses Pemulihan Medis Diaktifkan...]
[Sel kanker pada paru-paru target berkurang: 90%... 50%... 10%!]
[Status Kesehatan Terbaru: Kanker Paru-paru berhasil ditekan ke fase dorman (tidur). Sisa umur target diperpanjang secara instan: +3 Tahun!]
[Catatan Sistem: Penyakit ini dapat diaktifkan kembali sewaktu-waktu secara instan jika Tuan Rumah menghendakinya.]
Uhuk! Hoek!
Kakek Bramasta tiba-tiba terbatuk sangat keras. Dia mengeluarkan gumpalan darah hitam berbau busuk dari mulutnya ke atas lantai semen. Erika dan Kevin berteriak panik melihat hal itu, mengira bahwa aku sedang meracuni sang kakek.
Namun, beberapa detik setelah memuntahkan darah hitam tersebut, keajaiban luar biasa terjadi. Kakek Bramasta mendadak menegakkan punggungnya. Wajahnya yang tadinya pucat kebiruan dan kusam seperti mayat, kini perlahan-lahan berubah menjadi kemerahan dan segar. Napasnya yang selama berbulan-bulan ini selalu terasa sesak dan pendek, kini mendadak menjadi sangat plong, dalam, dan bertenaga. Rasanya seolah-olah seluruh organ dalam tubuhnya baru saja dicuci bersih.
"I-ini... ini luar biasa!" Kakek Bramasta menatap kedua telapak tangannya sendiri yang mulai kembali bertenaga. Dia berdiri dari kursinya tanpa perlu menggunakan tongkat naganya lagi. "Dada kiri ku tidak lagi sakit! Napas ku... napas ku sangat lega! Adrian... obat apa yang baru saja kamu gunakan padaku?!"
"Itu adalah mukjizat yang hanya bisa kuberikan," jawabku sambil berdiri dari sofa. "Ingat janji Anda, Kakek. Sisa umur tiga tahun yang baru saja kuberikan ini bisa kuambil kembali dalam waktu tiga detik jika Anda melanggar kesepakatan kita."
Kakek Bramasta membungkuk dalam-dalam ke arahku, kali ini dengan rasa hormat dan ketakutan yang murni dari dasar jiwanya. "Aku mengerti, Tuan Adrian... aku mengerti. Kami tidak akan pernah berani melanggarnya."
"Sekarang, bawa anjing-anjingmu ini keluar dari rumahku. Besok pagi, Kirana akan datang ke kantor pusat Wijaya Group untuk mengambil alih posisinya sebagai Direktur Utama," ujarku sambil menunjuk Erika dan Kevin dengan daguku.
Kakek Bramasta segera berbalik, menatap Erika dan Kevin dengan pandangan gusar. "Kalian berdua dengar itu?! Cepat berdiri dan keluar dari sini! Mulai hari ini, jika kalian berdua membuat masalah lagi bagi Kirana dan Adrian, aku sendiri yang akan mematahkan kaki kalian!"
Erika dan Kevin segera berdiri dengan terburu-buru, tidak berani membantah dan langsung berlari keluar dari kontrakan dengan tubuh gemetar ketakutan. Kakek Bramasta dan Pengacara Haryanto juga membungkuk hormat sekali lagi sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah kami.
Setelah pintu depan kembali tertutup rapat, suasana rumah kontrakan kembali sunyi. Aku berbalik dan mendapati Kirana sedang menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Dia maju beberapa langkah, lalu langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dadaku.
"Adrian... terima kasih... terima kasih karena telah mengembalikan keadilan untuk mendiang ayahku," bisik Kirana di tengah tangisnya yang pecah.
Aku mengelus rambut panjangnya dengan lembut, menatap keluar jendela ke arah langit kota yang cerah. Di dalam kepalaku, pemberitahuan Sistem kembali berdengung nyaman, menandakan bahwa babak baru dalam menguasai seluruh kota ini baru saja dimulai.