NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Irwan Diam-Diam Membawa Lastri Tinggal di Rumahnya

Malam itu udara terasa dingin setelah hujan turun cukup lama. Rumah Irwan yang biasanya ramai kini hanya dipenuhi suara televisi kecil dari ruang tengah.

Lastri duduk di sofa sambil melipat pakaian anaknya yang baru dicuci. Wanita itu mengenakan daster lengan panjang berwarna cokelat muda dengan rambut sedikit basah sehabis mandi.

Irwan baru saja pulang dari ruko ketika langkahnya terhenti di ambang ruang tamu.

Untuk beberapa detik matanya terpaku.

Lastri memang bukan perempuan yang mencolok. Namun semakin hari, Irwan mulai menyadari pesona janda itu dengan cara yang berbeda.

Kulitnya putih bersih.

Tubuhnya sedikit berisi, terlihat lembut dan matang sebagai seorang wanita.

Berbeda dengan Sulis yang tubuhnya makin kurus karena terlalu sibuk mengurus rumah dan anak-anak selama bertahun-tahun.

Perasaan bersalah sempat muncul di hati Irwan karena membandingkan istrinya sendiri dengan perempuan lain,namun bayangan itu justru semakin sering muncul tanpa bisa ia kendalikan.

“Mas Irwan baru pulang?” tanya Lastri sambil berdiri cepat.

Irwan langsung mengalihkan pandangan.

“Iya.”

“Saya masakin mie goreng tadi. Takut Mas belum makan.”

Kalimat sederhana itu terdengar begitu hangat di telinga Irwan.Sudah lama sekali ia tidak disambut seperti itu ketika pulang kerja. Biasanya Sulis terlalu sibuk mengurus anak-anak hingga sering tertidur lebih dulu.

Lastri berjalan ke dapur mengambilkan makanan, sementara Irwan duduk diam di meja makan,matanya sesekali memperhatikan gerak-gerik wanita itu,lastri terlihat begitu berbeda saat berada di rumah dibanding di ruko. Tidak terlalu canggung, lebih santai, dan tanpa sadar mulai terlihat seperti penghuni rumah itu sendiri.

“Ini...” Lastri meletakkan sepiring mie goreng di depannya.

“Repot-repot amat.”

“Nggak repot kok.”

Irwan mulai makan perlahan.

Makanan sederhana, tapi entah kenapa terasa nyaman.

“Makasih,” gumamnya pelan.

Lastri tersenyum kecil.

“Jarang ada yang bilang terima kasih sama saya.”

Irwan menoleh sekilas.

“Kenapa?”

“Dulu waktu masih sama almarhum suami...” Lastri berhenti sebentar. “Saya cuma dianggap pelengkap rumah aja.”

Suasana tiba-tiba terasa sedikit sunyi,Irwan memandang wanita itu lebih lama dari biasanya,ada kesepian yang sama di mata mereka,dan itu membuat mereka seolah keluar dari garis yang seharusnya.

Hari demi hari berlalu,Lastri kini benar-benar tinggal di rumah Irwan. Meski awalnya hanya sementara, perlahan semuanya terasa terlalu nyaman untuk dihentikan.

Pagi hari wanita itu sudah bangun lebih dulu menyiapkan kopi,malam hari ia menunggu Irwan pulang sambil menonton televisi di ruang tamu,kadang mereka makan bersama sambil mengobrol ringan tentang pekerjaan atau kehidupan masing-masing.

Hal-hal kecil yang awalnya biasa mulai terasa intim.

“Mas Irwan capek?” tanya Lastri suatu malam.

Irwan yang baru selesai mandi mengusap rambutnya dengan handuk.

“Lumayan.”

Lastri mendekat lalu menyerahkan segelas teh hangat.

“Minum dulu.”

Jarak mereka begitu dekat hingga Irwan bisa mencium aroma sabun dari tubuh wanita itu,untuk beberapa detik suasana berubah canggung,ia sadar dan....Lastri cepat-cepat mundur.

“Eh... saya tidur dulu ya.”

Namun sebelum wanita itu pergi, tanpa sadar Irwan memanggilnya.

“Lastri.”

Wanita itu menoleh pelan.

“Iya?”

Irwan sempat terdiam. Tatapannya jatuh pada wajah Lastri yang terlihat lembut di bawah cahaya lampu ruang tamu.

“Terima kasih... udah bantuin di rumah.”

Lastri tersenyum kecil.

“Saya juga harusnya yang berterima kasih.”

Mata mereka kembali saling bertemu,dan kali ini, Irwan sadar jelas bahwa dirinya mulai tergoda,bukan hanya karena rasa kasihan,bukan hanya karena perhatian kecil yang diberikan Lastri, namun juga karena ia mulai menikmati kehadiran wanita itu sebagai seorang perempuan yang mampu membuatnya kembali berdebar..

Sementara jauh di kampung, Sulis masih tertawa bersama anak-anaknya, sama sekali tidak tahu bahwa rumah yang ia bangun bersama suaminya perlahan mulai ditempati perempuan lain.

Malam semakin larut, tetapi Irwan belum juga masuk ke kamar.

Pria itu duduk sendirian di ruang tengah sambil memandangi televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya penuh oleh hal-hal yang mulai sulit ia kendalikan.Sejak Lastri tinggal di rumah itu, suasana yang tadinya sepi perlahan berubah hangat kembali,ada yang menyiapkan makan,ada yang menyambutnya pulang,ada yang mendengarkan ceritanya tanpa mengeluh.

Hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa bersama Sulis, kini justru membuat Irwan merasa nyaman ketika dilakukan Lastri.

Suara pintu kamar depan terbuka perlahan membuat Irwan menoleh,Lastri keluar sambil membawa gelas kosong. Wanita itu tampaknya baru selesai minum obat untuk anaknya yang sedang batuk ringan.Karena mengira Irwan sudah tidur, Lastri hanya mengenakan daster rumah yang lebih tipis dari biasanya dengan rambut terurai setengah kering.

Langkah Irwan langsung terdiam,kulit putih wanita itu terlihat bersih terkena cahaya lampu ruang tengah. Tubuhnya yang sedikit berisi justru tampak matang dan lembut di mata Irwan,jantung pria itu berdetak sedikit lebih cepat.Lastri baru sadar Irwan masih duduk di sana ketika mereka saling bertatapan.

“Eh...” wanita itu langsung terlihat salah tingkah. “Mas belum tidur?”

“Iya... belum ngantuk.”

Lastri buru-buru merapikan rambutnya.

“Saya ambil air aja.”

Irwan mengangguk pelan, tetapi matanya sulit berpaling,sudah lama sekali ia tidak merasakan getaran yang mampu mendebarkan jantungnya seperti ini kepada perempuan lain,dan semakin ia mencoba mengabaikannya, rasa tertarik itu justru tumbuh semakin jelas.

Keesokan harinya Irwan berangkat ke ruko sedikit lebih siang,Lastri sedang menyapu ruang tamu ketika Irwan keluar kamar dengan kemeja kerja hitamnya.

“Mau sarapan dulu?” tanya Lastri.

“Iya.”

Wanita itu segera mengambilkan nasi goreng yang masih hangat.

Irwan memperhatikan Lastri diam-diam,berbeda dengan Sulis yang sering terlihat kusut karena mengurus anak sejak pagi, Lastri selalu tampak rapi dan wangi meski hanya berada di rumah.

Pikiran itu kembali membuat Irwan merasa bersalah,bagaimanapun Sulis adalah istrinya,perempuan yang menemaninya dari nol,namun perasaan manusia kadang berjalan liar tanpa peduli benar atau salah.

“Mas Irwan...” panggil Lastri pelan.

“Hm?”

“Kok dari tadi lihat saya terus?”

Irwan langsung tersadar lalu terkekeh kecil untuk menutupi gugupnya.

“Nggak kok.”

Lastri ikut tersenyum kecil, tetapi pipinya tampak sedikit memerah.

Suasana di meja makan mendadak terasa berbeda,sunyi,canggung dan debaran yang mulai mendobrak batas yang seharusnya berdiri kokoh.

Siang harinya, ketika mereka sedang bekerja di ruko, salah satu pegawai tiba-tiba berbisik pada temannya sambil melirik Lastri.

“Itu Mbak Lastri sekarang tinggal sama bos ya?”

“Katanya sih iya.”

“Wah...”

Irwan yang mendengar langsung menatap tajam kedua pegawainya.

“Kerja yang bener!”

Kedua pria itu langsung diam ketakutan,namun setelah itu Irwan justru merasa gelisah sendiri,Ia sadar apa yang dilakukannya mulai terlihat tidak wajar di mata orang lain,namun anehnya, ia belum juga menyuruh Lastri pergi dari rumahnya,setiap kali ingin menjaga jarak, selalu ada alasan untuk membiarkan wanita itu tetap dekat.

Malamnya Sulis kembali menelepon.

Saat itu Irwan sedang duduk di ruang tengah bersama Lastri yang membantu menghitung nota pesanan,ponsel Irwan bergetar di meja.

Nama “Sulis” muncul terang di layar,jantung Irwan mendadak terasa tidak nyaman.

“Angkat aja, Mas,” ucap Lastri pelan sambil menunduk.

Irwan segera mengangkat telepon itu lalu berdiri menjauh sedikit.

“Hallo?”

“Mas lagi apa?” tanya Sulis lembut dari seberang.

“Lagi kerja.”

“Kamu sehat?”

“Iya.”

Suara Dito tiba-tiba terdengar dari belakang telepon.

“Papa kapan jemput kita?”

Irwan terdiam sesaat.

“Nanti ya kalau kerjaan Papa udah selesai.”

“Kangen...” rengek Rara kecil.

Dada Irwan terasa sesak mendengarnya.

“Iya, Papa juga kangen.”

Setelah telepon ditutup, Irwan berdiri diam beberapa saat sambil memegang ponselnya erat,perasaan bersalah perlahan mulai muncul dalam dirinya,namun ketika ia menoleh dan melihat Lastri tersenyum kecil sambil menunggunya kembali duduk, semua batas itu kembali goyah,tanpa disadari Irwan mulai menikmati kebohongan kecil yang sedang ia bangun sendiri.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!