NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Jejak Rakha

Untuk sentuhan terakhir penampilannya, Amaia memakai arloji kecil pemberian Rakha. Sebuah gaun bermotif floral mencapai mata kaki dengan model ramping di bagian pinggang, tampak pas di tubuh. Pagi ini ia berencana mendatangi gedung utama Tedjakusuma Property. Tempat di mana Rakha selalu menghabiskan waktu.

“Kamu mau mau ke mana?” tanya Atika saat melihat anaknya turun dari lantai utama. “Bukannya kamu harus ke kampus?”

Amaia menggenggam erat tali tipis handbag berwarna cokelat yang juga dihadiahi oleh Rakha di hari ulang tahunnya. Atika sampai terheran-heran melihat Amaia sudah kembali secerah hari yang telah lewat. Padahal Amaia sengaja membubuhkan concealer untuk menutupi jejak kehitaman di sana. Rambutnya dibuat curly di bagian bawah, ditata dengan rapi dan diberikan jepitan kecil di atas telinga kanan. Bahkan bibir yang kemarin terlihat pucat kini sudah dipoles lipstik merah muda. Pipinya yang tirus sudah tidak dihiasi air mata.

“Mai?” Ibunya memanggil lagi.

“Aku mau ke Tedjakusuma Property.”

Atika menghela napas. “Kamu mau bikin keributan di sana?”

“Salah Kak Rakha yang nggak bersikap gentle. Selama ini aku selalu memujinya sebagai lelaki yang bertanggung jawab. Tapi kayaknya aku salah, Ma. Dia sembunyi seperti pengecut alih-alih memberikan penjelasan atas keputusannya.”

“Apa kamu nggak bisa menerimanya saja? Rakha sudah jelas-jelas brengsek.”

Amaia menoleh pada Atika sebentar. “Nggak. Aku harus pergi sekarang.”

Tak lagi menggubris ibunya, Amaia bergegas menuju halaman depan. Mobil ibunya terparkir di sana. Ia masuk, menyalakan mesin, lalu bergegas membawanya pergi dari halaman rumah. Sejujurnya dia agak gugup karena bersikap seberani sekarang. Padahal biasanya dia tak begitu berani.

Berselang beberapa menit berkendara dan setelah terjebak macet, Amaia akhirnya tiba di gedung utama Tedjakusuma Property. Gedung pencakar langit yang didominasi oleh kaca lebar. Beberapa karyawan meliriknya saat turun dari mobil. Amaia menutup pintu mobil dengan sedikit keras, lalu melenggang memasuki lobi utama.

Hampir semua pekerja mengenali dirinya sebagai calon menantu keluarga Tedjakusuma. Tak heran mereka menaruh hormat ketika Amaia tiba di sana. Ada yang menunduk, lalu menyapa dengan senyum atau kata-kata sapaan ramah. Amaia berhenti di depan meja front office.

“Selamat pagi, Nona Amaia. Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita berpakaian formal dan kaku di depannya. Blazer hitam yang dikenakannya tampak sempit.

“Saya ingin bertemu Rakha Tedjakusuma.”

“Ah, tunggu sebentar, saya akan ….”

“Nggak perlu. Biar saya langsung ke sana.”

Si resepsionis menyela. “Tapi Nona saya harus mengonfirmasi dulu ke sekre—”

“Kamu lupa siapa saya?” Suara Amaia terdengar pongah dan penuh ancaman, meski setengah mati memberanikan diri.

Wanita kaku itu kemudian terdiam dan menunduk, mempersilakan Amaia ke ruangan Rakha. Amaia menaiki lift yang mengantarnya menuju lantai lima belas, tepat di mana ruangan Rakha berada. Langkah anggunnya berhenti di depan ruangan bertuliskan ‘Marketing Director’ yang tergantung di pintu masuk. Ia mendorong pintu kaca itu, sehingga terlihat wanita berkemeja hijau tua menyambutnya. Ia mengenalnya sebagai sekretaris Rakha.

“Selamat pagi, Nona Amaia. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya.

“Saya ingin bertemu Kak Rakha.” Amaia melangkah hendak masuk ke ruangan, tetapi si sekretaris menahan langkahnya dengan berdiri menghalangi di depan pintu. “Apa-apaan ini?”

“Pak Rakha sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota. Beliau berpesan tidak ada siapa pun yang boleh masuk ke ruangannya. Termasuk ….” Sepasang mata sekretaris itu memindai Amaia dari ujung kaki hingga kepala.

“Minggir kamu!” Amaia mendorong si sekretaris yang agak ramping itu hingga terbentur ke meja di sebelah.

Kaki Amaia berhasil menapak di ruangan. Tak ada yang berubah dari terakhir kali ia berkunjung ke sana. Dulu Amaia kerap membawakan Rakha makan siang atau makan malam saat lembur. Meja kerja Rakha masih rapi meski ada tumpukan berkas. Komputer dan coffee machine bebas dari debu.

Kaca lebar dengan pemandangan kota Jakarta dan bangunan pencakar langit menjadi latar belakang meja kerjanya. Tepat di sudut kanan meja kerja, terdapat pintu menuju kamar mandi dan rak-rak kayu besar berisi literatur bisnis. Di depan meja kerja, sofa beludru yang diimpor dari luar negeri teronggok kosong dengan bantal-bantal mungil.

“Saya sudah bilang, ‘kan? Pak Rakha sedang nggak ada di kantor,” tukas sekretaris yang tadi sudah berdiri tegak di belakang Amaia.

Amaia memutar sepatu hak setinggi lima sentimeternya, lalu memakai masker untuk menutupi bagian bibir. Menimbulkan kernyit heran sekretaris Rakha. Dari tasnya, ia mengeluarkan botol kaleng yang sudah dipersiapkannya semalam. Botol kecil itu berisi pilox dan Amaia akan melancarkan aksinya pagi ini.

Tanpa permisi ia menyemprotkan lantai dengan spray paint berwarna merah dan bertuliskan; PENGECUT!

Si sekretaris langsung kelabakan dan panik mendekati Amaia “Apa yang Anda lakukan? Berhenti!”

Untung semalam Amaia sudah memulihkan energi. Ia mendorong pinggang sekretaris Rakha hingga terjengkang ke depan. Amaia bergerak ke kaca besar di belakang meja kerja Rakha, lalu menyemprotkan pilox dengan tulisan: BAJINGAN! BRENGSEK!

“Berhenti, Nona Amaia!” Si sekretaris kembali menjerit.

Amaia terengah-engah, rasa sakit dan kekecewaan kembali bercokol dalam benaknya. Ia membanting botol pilox hingga berdenting dan menggelinding ke lantai. Tanpa berkata apa pun, tanpa merasa bersalah telah mengacau, Amaia bergegas keluar dari ruangan itu. Tak peduli pada si sekretaris yang masih terduduk di lantai.

Langkah Amaia tertahan saat hendak memasuki lift. Karena ruangan sempit itu terbuka dan memperlihatkan sosok yang tak asing. Bukan Rakha, tetapi Widitama yang baru saja naik ke lantai lima belas.

Seruni tak menyapa, memilih masuk ke lift setelah Widitama keluar. Baru saja hendak menekan tombol lift menuju lantai utama, Widitama masuk lagi ke lift. Amaia mengernyit melihat pria itu.

“Kamu ngapain?” tanya Amaia setelah lift tertutup.

“Sepertinya kamu membuat kekacauan pagi ini. Saya pikir kamu sudah agak tenang, Mai Kecil. Bagaimana kalau kita bicara?”

“Buat apa? Mas akan membahas tawaran konyol itu? Aku nggak mau! Nggak akan pernah mau menikah denganmu. Jadi, simpan keinginan gila kamu itu, Mas Widi!” Amaia menyergah.

Sementara Widitama mengangguk-angguk tampak tak terusik dengan ucapan Amaia. Keduanya terdiam selama sekian detik saat lift bergerak turun. Begitu pintu lift terbuka, Amaia segera keluar. Widitama justru mengekorinya.

“Mau apa?!” Amaia menyergah. Ingin sekali melempar handbag di tangannya ke muka datar pria itu.

“Amaia, kalau kamu membentak seperti ini, kamu seperti bukan Amaia kecil yang polos." Widitama terkekeh, tapi Amaia tetap menatap kesal padanya. “Kamu tetap nggak mau bicara dengan saya?” Widitama bertanya seraya mengeluarkan ponsel dari balik saku jas. Ia memainkan jemarinya di layar ponsel, lalu menyodorkan kepada Amaia.

Dari speaker ponsel ia bisa mendengar suara yang tak asing. Samar-samar, tetapi Amaia mengenali suara itu. “Batalkan rencana pernikahan kalian! Urusan papamu, biar Mama yang urus. Mama akan membuat gadis itu tak penting lagi untuk papamu.”

Amaia bergerak ingin merampas ponsel Widitama. Namun, gerakan Widitama lebih cepat. Buru-buru memasukan kembali ponsel ke balik jasnya. Amaia melotot geram.

“Kamu tau sesuatu, kan? Katakan!” Amaia menjerit.

Beberapa karyawan yang melintasi menoleh kaget. Widitama terkekeh sebentar sambil memasukkan ponsel ke saku jas.

“Yakin mau membicarakannya di sini? Dilihat oleh orang-orang?” tanya Widitama.

“Aku nggak peduli. Serahkan rekaman itu!”

Widitama memangkas jarak mereka, hanya beberapa inci saja dan begitu dekat sehingga Amaia bisa mencium aroma parfumnya. “Nggak bisa semudah itu, Amaia. Saya ini bergelut di bidang bisnis sudah cukup lama. Bagaimana kalau kita membicarakan bisnis yang menguntungkan?” Seringai licik di bibir Widitama terlukis samar.

Harus Amaia aku, Widitama tampak terlihat jahat dan ingin memanfaatkan dirinya yang sedang butuh informasi. Ia bisa saja menolak, tetapi rekaman tadi menguak rasa penasarannya lebih jauh. Akhirnya Amaia menghela napas, mengalah dengan cara mengangguk lesu.

“Bagus! Dari dulu kamu memang gadis penurut,” ucap Widitama seraya terkekeh sesaat. “Ikut saya!”

“Ke mana? Kita bicara di mobil saja.”

Widitama memutar tubuhnya untuk menghadap Amaia. “Bukan kamu yang menentukan, Mai Kecil, tapi saya.”

Meski enggan, Amaia menebalkan kesabaran karena yakin Widitama pasti tahu sesuatu. Selain itu, Amaia juga penasaran dengan motif dan kehidupan Widitama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!