Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Pertama Sebagai Pangeran Bertopeng
Setelah mendapatkan topeng Hua Khon pangeran muda Syah Hang pun segera kembali ke penginapan tempat dirinya bermalam dengan panglima Wai Hang. Pangeran Syah Hang sangat senang karena bagian pertama dari rencananya telah berjalan dengan baik. Topeng yang dicarinya sudah didapatkan.
Pangeran Syah Hang telah menyusun siasat untuk memuluskan tujuannya. Pangeran Syah Hang berencana akan melakukan penyamaran menggunakan topeng Hua Khon. Dia akan masuk ke istana bukan sebagai pangeran Syah Hang sang pewaris tahta. Tapi ia akan masuk ke istana sebagai prajurit bertopeng. Lagipula sebenarnya pangeran Syah Hang tidak menginginkan tahta itu. Pangeran Syah Hang kembali ke istana hanya ingin menyelamatkan kerajaan dan rakyatnya dari tangan pemimpin yang dzalim.
Sifatnya sangat sederhana dan tidak menyukai gemerlapnya dunia. Dua puluh tahun pangeran muda Syah Hang hidup di luar istana. Dua puluh tahun karakternya dididik untuk menjadi manusia yang tidak rakus dengan kekuasaan. Membuatnya memiliki karakter yang bijaksana. Dan memanglah pantas jika dirinya menjadi seorang Raja yang memimpin rakyat dengan bijaksana.
Tepat seperti janjinya pada Wai Hang, pangeran Syah Hang sudah kembali ke penginapan tempat panglima Wai berada.
"Pangeran"
Wai Hang menyambut pangeran Syah Hang dengan senang. Beberapa jam yang lalu, Wai Hang sempat khawatir jika terjadi sesuatu pada sang putra mahkota.
"Ayo kita segera berangkat ke tepi barat kota" pangeran Syah Hang memakai topeng Hua Khonnya.
"Topeng itu terlihat sangat berwibawa untuk anda pangeran" Mata Wai Hang tak berkedip menatap topeng yang dipakai pangeran Syah Hang.
"Topeng Hua Khon" katanya pada panglima Wai Hang.
"Hua Khon?" Wai Hang mengamati topeng yang dipakai oleh putra mahkota Raja Hang Dzo.
"Iya topeng ini topeng Hua Khon"
"Hua Khon adalah seorang raja raksasa di kisah ravayan. Dia bijak dan kuat"
"Dan mulai sekarang panggil aku pendekar bertopeng"
"Pendekar bertopeng?" panglima Wai memutari pangeran Syah Hang.
"Apa ada yang kurang?" tanyanya pada Wai Hang.
"Bagaimana kalau Pangeran bertopeng?" ujarnya memberi saran pada pangeran Syah Hang.
Pangeran muda Syah Hang terdiam sejenak. Dilepasnya topeng Hua Khon itu sebentar. Lalu diperhatikannya topeng Hua Khon miliknya.
"Baiklah, Pangeran Bertopeng terdengar lebih menarik" lalu pangeran Syah Hang tersenyum simpul sebelum memakai topengnya kembali.
"Dan sekarang kita lanjutkan perjalanan kita ke istana pangeran bertopeng" Wai Hang menaiki kudanya, dan mengulurkan tangannya pada sang pangeran untuk naik bersama diatas kudanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tepi barat kota. Derap langkah kaki kudanya terus dipacu dengan cepat. Keduanya sekarang sudah melewati perkampungan dimana pangeran Syah Hang mendapatkan topeng Hua Khon.
Disana di tempat yang sama, tempat pangeran Syah Hang mendapatkan topeng Hua Khon semalam.
"Berhenti"
Wai Hang seketika menarik tali kendali kudanya sesuai perintah sang pangeran.
"Ada apa pangeran?" Wai Hang meneliti ke sekelilingnya.
Hanya sebuah panggung dengan banyak susunan peti diatas panggung. Dengan di kelilingi pepohonan yang rindang. Dengan tetap waspada Wai Hang turun dari atas pelana kudanya.
"Aku mendapatkan topeng ini disini semalam" Pangeran Syah Hang juga turun dari atas kuda.
"Topeng itu dari sini?" Wai Hang mengerutkan keningnya.
"Dimana para pemain opera itu?" mata pangeran muda Syah Hang menyapu sekelilingnya.
Semalam semua terlihat masih sangat normal. Panggung yang bersih, dan ramai. Sekarang berubah seolah telah lama terbengkalai. Bahkan debu tebal banyak menempel di peti-peti yang ada disana.
"Pangeran yakin topeng itu tuan dapat dari sini?"
Pangeran muda Syah Hang masih terpaku melihat keadaan sekelilingnya. Diluar nalar pikirnya. Kejadian semalam, membuatnya benar-benar merasa aneh. Kampung itu sangat ramai semalam. Dan sekarang berubah tak bertuan.
"Pangeran, apa pangeran baik-baik saja?" Wai Hang mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah sang pangeran.
"Oh, iya....aku semalam mendapatkan topeng itu disini. Pertunjukan opera semalam sangat ramai" pangeran Syah Hang memutari panggung yang usang itu.
Langkahnya terhenti saat melihat sebuah gelang dengan mata batu giok hijau. Diambilnya gelang itu, lalu dibawanya ke Wai Hang.
"Aku menemukan ini" dipakainya gelang itu di tangan kirinya.
"Itu giok hijau yang cantik pangeran" Wai Hang mengusap mata batu giok hijau di tangan pangeran Syah.
"Warna hijaunya sama dengan warna topeng Hua Khon anda pangeran"
Warna gioknya memang dominan sama dengan warna topeng Hua Khon. Bahkan sekarang terlihat padu dan serasi di tangan pangeran muda Syah Hang.
"Sangat cocok, dan terlihat elegant" ujar panglima Wai.
"Benarkah?" pangeran Syah Hang bercermin dengan tetap memakai topengnya.
Pantulan cahaya hijau giok di gelang yang dipakainya membuat topeng Hua Khonnya terlihat lebih hidup.
"Ini benar-benar mengesankan" pangeran Syah Hang merasakan ada energi baru dari topeng Hua Khonnya.
Energinya sangat kuat bahkan mempengaruhinya untuk dominan lebih agresif. Jiwanya ditarik lebih dalam untuk menyatu dengan topeng Hua Khon itu. Badannya bergetar berusaha untuk menguasai topeng yang mulai merasuk ke dalam dirinya.
"AAARRRGGHHHH.............!!"
Pangeran Syah Hang sekuat tenaga mencoba mengendalikan energi petarung yang sangat kuat dari topeng Hua Khonnya itu.
"Pangeran, pangeran baik-baik sajakan?"
Wai Hang mendekati sang pangeran Syah Hang yang sedang bertarung melawan energi negatif dari topeng Hua Khon itu. Wai Hang khawatir terjadi sesuatu dengan sang putra mahkota Raja Hang Dzo itu.
Energi yang sangat kuat dan dahsyat itupun dirasakan juga oleh Wai Hang. Tubuh Wai Hang seperti ditahan oleh kekuatan besar ketika hendak mendekati pangeran muda Syah Hang.
"Energinya sangat kuat, aku belum pernah merasakan energi sekuat ini" ujar panglima Wai.
Wai Hang pun tidak bisa berbuat banyak. Melainkan hanya bisa menyaksikan sang pangeran yang sedang bertarung untuk menaklukkan energi dari topeng Hua Khon itu sendiri.
"Wai Hang, tolong aku" ucap pangeran Syah Hang yang terjatuh dengan posisi berlutut.
Wai Hang pun gesit mendekati pangeran dan membantunya berdiri lagi.
"Pangeran baik-baik saja?" tanyanya sambil hendak melepas topeng Hua Khon dari wajah pangeran Syah Hang.
Dan .....
"Aarrgghhh!!" desisnya begitu tanggannya menyentuh topeng itu.
"Hanya aku yang bisa melepas topeng ini Wai" ujar pangeran Syah Hang dengan suara yang pelan.
Wai Hang mengusap-usap tangannya yang seolah tersengat aliran listrik setelah menyentuh topeng Hua Khon milik pangeran muda Syah Hang.
"Gelang itu pangeran, gelang giok itu yang menjadi sumber energi dari topeng Hua Khon kah pangeran?" ucap Wai Hang yang terlihat penuh ke khawatiran.