NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Parkiran Mess

Dua mobil operasional yang baru datang itu berhenti dengan lampu sorot yang benderang. Pintu-pintu mobil terbuka, menampilkan beberapa wajah yang familier. Di mobil pertama ada Pangki dan Hasrul, sementara di mobil kedua ada Pradika yang langsung turun dengan langkah tegap, menatap ke arah kap mesin mobil Dino yang terbuka.

Setelah berdiskusi singkat dan menyadari bahwa perbaikan alternator tidak bisa dilakukan di tengah hutan karet dalam waktu singkat dan mereka juga kekurangan alat, Budi segera mengambil keputusan.

"Na, kamu ikut mobil Pradika yang masih kosong. Biar Dino dan yang lain di mobil satunya. Mobil ini kita tinggal dulu, besok biar tim utility yang mendereknya," kata Budi yang membuka pintu, mengabaikan rasa heran Rana.

Begitu Rana turun dan Budi mengunci mobil, ia langsung naik ke kursi penumpang mobil Pangki demi mengejar waktu.

Rana berdiri kaku di samping pintu mobil yang mogok, merapatkan jaketnya. Ia menatap kabin mobil Pradika dengan ragu. Menembus malam berdua saja dengan laki-laki yang baru ia kenal, tentu membuatnya khawatir. Kenapa pula tidak ada yang menemaninya? Mereka malah memilih berdesakan di mobil pertama.

Pradika yang menyadari keraguan dan ketakutan yang terpancar dari sepasang mata Rana, mengulas senyum tipis yang tampak tenang di bawah sorot lampu.

"Tidak apa, naik saja. Aku tidak akan menggigitmu," kata Pradika dengan nada suara yang rendah namun menyejukkan.

Rana mengangguk kaku. Ia tahu dirinya tidak punya pilihan lain di tengah perkebunan karet yang pekat ini. Dengan langkah perlahan, ia berjalan memutari bemper mobil dan membuka pintu penumpang depan mobil Pradika. Bau harum kafein dan bau pelumas yang khas menyambut indra penciumannya.

Setelah Rana naik dan duduk, Pradika menyusul masuk ke kursi kemudi. Sebelum memindahkan tuas transmisi, ia melirik ke samping.

"Pakai sabuk pengamannya."

Rana menurut dengan gugup. Jemarinya yang agak gemetar menarik sabuk pengaman, dan setelah terdengar bunyi klik yang tegas, barulah Pradika melajukan mobil kabin ganda itu, bergerak mulus mengikuti mobil Pangki yang telah melaju lebih dulu di depan sebagai penunjuk arah.

Hening segera merayap di antara mereka. Perjalanan di malam gelap dan di atas permukaan jalan tanah yang bergelombang itu hanya dihiasi oleh deru konstan mesin dan guncangan sesekali ketika roda menghantam lubang.

Rana yang sebenarnya sudah mengantuk berat, mencoba mengalihkan rasa kantuk dan kegugupannya dengan meremas sabuk pengaman. Ia menunduk, melafalkan untaian doa dan zikir di dalam hati demi menenangkan debar jantungnya.

Pradika melirik sekilas dari sudut matanya, menyadari ketegangan luar biasa dari penumpang di sebelahnya.

"Tidurlah dulu. Perjalanan kita masih jauh. Kalau kamu tidak tidur sekarang, besok bisa mengantuk dan lemas di kantor," kata Pradika memecah keheningan dengan suara kebapakan yang lembut.

Rana tidak berani menjawab langsung. Ia hanya menggeleng kecil dan semakin mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman yang melintang di dadanya.

Melihat respons itu, seulas senyum geli terbit di bibir Pradika.

"Tidak usah takut begitu. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu di sini. Kalaupun aku berniat melakukan sesuatu, aku pasti akan meminta persetujuanmu lebih dulu."

Kata-kata Pradika yang terdengar ambigu dan blak-blakan itu sontak membuat Rana menegakkan tubuhnya. Matanya melebar, menatap Pradika dengan pandangan terkejut sekaligus waspada.

Pradika tertawa kecil, suara tawa rendahnya menggema di dalam kabin yang sunyi. Ia merasa terhibur melihat respons spontan dari gadis pendiam ini.

Sebenarnya ia masih ingin menggoda Rana lebih jauh untuk mencairkan suasana, tetapi ia mengurungkan niatnya karena takut malah membuat gadis itu semakin ketakutan dan mengira dirinya adalah pria hidung belang.

"Tidurlah, tak apa. Aku akan membangunkanmu nanti kalau sudah sampai. Demi Allah, aku tidak akan menyentuhmu seujung jari pun tanpa izin," ucap Pradika lagi, kali ini dengan nada yang sepenuhnya serius dan tulus.

Rana memberanikan diri menatap wajah Pradika dari samping. Cahaya temaram menerangi rahang tegas dan pandangan mata laki-laki itu yang tetap fokus menatap jalanan tanah merah di depan mereka.

Entah mengapa, meski kalimat-kalimat Pradika sering kali terdengar ambigu dan berani, Rana tidak merasakan kilatan ancaman atau kelicikan seperti yang biasa ia lihat pada pria-pria lain di tambang. Aura yang memancar dari tubuh Pradika seolah mengatakan dengan tegas jika laki-laki di sampingnya ini adalah tipe pria sejati yang akan menepati setiap perkataannya.

Rana yang sudah berada di ambang batas kemampuannya menahan kantuk, karena fisiknya yang rapuh memang tidak terbiasa begadang hingga larut malam akhirnya menyerah. Perlahan, kepalanya bersandar pada bantalan kursi, dan kelopak matanya yang berat mulai terpejam sepenuhnya.

Mendengar suara embusan napas yang mulai teratur dan halus, Pradika melirik ke samping. Melihat Rana yang sudah tertidur dengan posisi kepala sedikit miring, ia mengurangi kecepatan mobilnya sedikit agar guncangan jalan tidak terlalu menyentak tidur gadis itu. Senyum tipis kembali mengembang di wajah Pradika. Ada rasa protektif yang tiba-tiba membubung di dadanya.

Sayangnya, perjalanan malam mereka tidak berjalan semulus yang diharapkan untuk bisa sampai di mess karyawan tepat waktu. Ketika mereka baru menempuh sekitar setengah jam perjalanan, mobil Pangki di depan tiba-tiba mengerem mendadak dan menyalakan lampu hazard.

Pradika menghentikan mobilnya, ikut mengernyitkan dahi melihat apa yang ada di depan mereka. Di bawah sorot lampu mobil, terlihat jembatan kayu utama yang melintasi sungai kecil di Desa Tujuh telah roboh total, menyisakan patahan-patahan kayu log kedua bibir sungai.

"Kenapa juga kamu pilih lewat jalan ini, Pang?" tanya Hasrul dengan nada kesal begitu semua orang turun dari mobil untuk memeriksa kondisi jembatan.

"Jalan ini kan jalur tikus paling cepat, Rul. Mana aku tahu kalau jembatannya roboh?" jawab Pangki santai sambil menyulut sebatang rokok, mencoba mengusir kantuk.

Jalur Desa Tujuh ini memang sengaja mereka ambil karena merupakan jalan pintas yang bisa memotong waktu perjalanan hingga tiga puluh menit lebih cepat dibandingkan lewat jalur poros utama yang memutar jauh.

Budi dan Dino tadi juga menyetujui ide itu karena mengejar waktu istirahat. Hanya rombongan mereka berdua yang memilih kembali ke mess malam ini karena tuntutan shift pagi, sedangkan karyawan dari divisi lain sebagian besar memilih menginap di hotel kota atau rumah pribadi mereka dan baru kembali besok pagi.

"Sekarang bagaimana? Mau nekat menginap di pinggir sungai ini atau kita putar balik lewat jalur poros?" tanya Pradika yang baru saja bergabung setelah memastikan Rana tidak terbangun oleh gerakannya.

Pangki menengok ke arah kaca mobil kabin ganda yang dikendarai Pradika.

"Apa Rana tertidur di dalam?"

"Ya. Sepertinya ia kelelahan, jadi aku yang menyuruhnya tidur tadi," jawab Pradika jujur, tanpa ada yang disembunyikan.

"Kalian sendiri bagaimana?" tanya Pangki beralih kepada Budi dan rekan lainnya.

Budi melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu malam.

"Putar balik saja lewat jalur poros, bagaimana? Kita bergantian menyetirnya supaya tidak ada yang tumbang karena kantuk."

Budi tahu betul bahwa manajemen perusahaan tidak akan memberikan toleransi atau dispensasi apa pun jika mereka terlambat atau bahkan tidak masuk kerja pada shift pagi besok hanya karena alasan jembatan roboh.

Pangki menatap Pradika dengan pandangan menguji.

"Kamu masih sanggup menyetir memutar jauh, Dik?"

"Aman," jawab Pradika singkat dan tegas.

Jawaban spontan Pradika seketika membuat Budi, Pangki, dan Hasrul saling pandang satu sama lain dengan senyuman penuh arti. Mereka seolah tahu ada alasan lain di balik ketahanan fisik Pradika malam ini. Sementara itu, Pradika dengan santai langsung berbalik arah dan kembali masuk ke dalam mobil tanpa memedulikan tatapan usil rekan-rekannya.

"Ada masalah, Mas?" tanya Rana dengan suara serak yang sangat pelan.

Ia rupanya terbangun sejenak saat mendengar suara debuman pintu mobil ketika Pradika kembali masuk ke kursi kemudi tadi.

Pradika menoleh, lalu mendekat dan mengulurkan tangannya untuk memutar tuas di samping kursi Rana, memiringkan sandaran kursi penumpang itu beberapa derajat ke belakang agar posisi tidur Rana menjadi lebih nyaman. Gerakan tersebut sontak membuat Rana kaku dan menahan nafasnya.

"Tidak ada apa-apa. Tidurlah lagi yang nyenyak. Kita hanya perlu memutar jalan sedikit karena jembatan di depan tidak bisa dilewati."

Rana tidak menjawab lagi karena kegugupannya. Pandangannya kini tertuju pada lampu belakang mobil Pangki di depan yang sudah mulai memutar arah. Pradika dengan cekatan segera memutar setir, membawa mobilnya berbalik arah mengikuti mobil pertama untuk menempuh rute memutar yang jauh lebih panjang.

Sekitar dua jam perjalanan memutar yang melelahkan itu akhirnya terlampaui. Jam dinding digital di pos penjagaan luar menunjukkan pukul setengah tiga pagi ketika kedua mobil operasional itu akhirnya memasuki gerbang dan berhenti di area parkir mess karyawan yang sunyi.

Satu per satu penumpang dari mobil Pangki turun dengan wajah-wajah kusut menahan kantuk yang luar biasa. Mereka meregangkan otot-otot yang kaku sebelum bersiap kembali ke kamar masing-masing untuk tidur sebentar sebelum memulai hari.

Melihat Pradika yang tidak kunjung turun dari mobilnya dan hanya mematikan lampu utama, Pangki berjalan mendekat dan mengetuk kaca jendela samping kemudi dengan pelan.

Pradika menurunkan kaca mobilnya hanya beberapa sentimeter, menatap Pangki dengan nada berbisik yang sangat pelan.

"Ada apa, Pang?"

"Kenapa tidak turun? Malah diam di dalam," tanya Pangki yang ikut merendahkan suaranya, menyadari situasi.

Pradika melirik ke arah kursi sebelah, di mana Rana masih nyenyak di posisinya.

"Aku tidak tega membangunkannya."

Pangki menengok melewati pundak Pradika, melihat Rana yang terlihat sangat pulas. Kursi penumpang yang sudah dimiringkan Pradika membuat gadis itu tampak nyaman. Pangki terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ya sudah, kalau begitu kalian tidur saja sekalian di dalam mobil sampai subuh."

Pradika sempat terdiam, raut ragu melintas di wajahnya.

"Ini tidak baik, Pang. Bagaimana kalau nanti ada anak-anak shift malam yang lewat dan melihat kami berdua di dalam mobil? Aku tidak mau reputasinya rusak karena gosip murahan."

"Tak apa, tenang saja. Perempuan seperti Rana itu sepertinya punya alarm alami, dia pasti akan bangun tepat waktu sebelum parkiran ini ramai. Kalaupun ada yang tanya, kamu tinggal jelaskan saja kejadian jembatan roboh tadi," kata Pangki sambil menguap lebar, melambaikan tangan lambat seraya berjalan meninggalkan mobil Pradika menuju kamarnya sendiri.

Pradika mengembuskan napas dalam-dalam, menyandarkan punggungnya pada kursi kemudi. Ia melihat ke arah Rana sekali lagi, memastikan gadis itu tidak kedinginan. Setelah menimbang-nimbang bahwa sisa waktu tidur mereka tinggal satu setengah jam lagi, Pradika berpikir tidur di dalam mobil seperti ini mungkin adalah pilihan terbaik daripada harus membangunkannya sekarang.

Ia pun melipat kedua tangannya di depan dada, menutup mata, dan ikut memejamkan mata untuk meresapi sisa malam.

Tepat pukul empat pagi, alarm tubuh Rana membuatnya tersentak kecil. Kesadarannya langsung kembali pulih. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pegal yang menjalar di sepanjang punggung dan persendian kakinya akibat posisi tidur yang kurang sempurna.

Saat mencoba menggerakkan bahu dan meregangkan tubuhnya yang kaku, Rana tersadar dengan genangan ingatan semalam. Pandangan matanya segera berputar menatap interior kabin, lalu menangkap sosok Pradika yang duduk di kursi sebelah. Laki-laki itu sedang tertidur pulas dengan kedua tangan bersedekap di dada, kepalanya bersandar tegak pada jok kemudi.

Apa kami menginap di tengah jalan? batin Rana panik.

Rana segera memajukan tubuhnya, menatap keluar jendela kaca yang berembun tipis karena hawa dingin subuh Kalimantan. Di luar, siluet bangunan-bangunan panjang berbahan kontainer dan seng terlihat akrab di bawah temaram lampu merkuri.

"Ini... parkiran mess," gumam Rana lirih, menyadari bahwa mereka telah sampai di tujuan sejak lama.

"Apa kamu sudah bangun?" sebuah suara berat dan serak khas orang yang baru bangun tidur tiba-tiba terdengar dari samping.

Rana menoleh cepat, mendapati Pradika yang sedang mengucek matanya perlahan, lalu membenarkan posisi duduknya.

"I-iya, Mas," jawab Rana dengan nada kikuk dan canggung yang luar biasa.

Jantungnya berdegup kencang karena menyadari mereka telah menghabiskan sisa malam bersama di dalam mobil yang tertutup.

Pradika menatap Rana dengan pandangan mata yang masih setengah mengantuk, namun ada gurat penyesalan di sana.

"Maafkan aku, Rana. Tadi kita sampai sekitar jam setengah tiga. Aku benar-benar tidak tega membangunkanmu karena kamu kelihatan sangat nyenyak. Dan... aku tidak berani mengangkat atau memindahkanmu ke kamarmu karena aku sudah berjanji tidak akan menyentuhmu tanpa izin."

Mendengar penjelasan yang begitu jujur dan penuh penghormatan terhadap batasan dirinya, rasa panik di dada Rana perlahan surut, digantikan oleh rasa hangat yang asing. Laki-laki ini benar-benar memegang kata-katanya.

"Ti-tidak apa-apa, Mas Pradika. Justru saya yang harus berterima kasih karena sudah diantarkan dengan selamat dan diberikan tumpangan tidur," jawab Rana tulus, meski wajahnya mulai merona merah di dalam kegelapan subuh.

Pradika melirik ke arah jam dasbor yang menunjukkan pukul 04.15 pagi. Suasana di luar masih sangat sepi dan gelap.

"Cepatlah kembali ke kamarmu sekarang sebelum anak-anak operasional lain bangun dan melihatmu turun dari mobilku. Aku tidak ingin ada gosip tidak benar tentangmu di tempat kerja."

Rana mengangguk cepat.

"Baik, Mas." Dengan gerakan tangkas, ia membuka sabuk pengamannya, meraih tas kain miliknya, lalu membuka pintu mobil dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh.

Setelah turun, Rana menutup pintu mobil rapat-rapat. Ia sempat melemparkan tatapan terima kasih terakhir ke arah Pradika melalui kaca yang diturunkan setengah, sebelum akhirnya membalikkan badan.

Rana berjalan dengan langkah setengah berlari, menyusuri jalanan setapak di samping deretan mobil operasional, berusaha secepat mungkin mencapai koridor mess perempuan yang berada di blok ujung.

Suasana pagi itu terasa sangat dingin, dan kabut tipis tampak melayang di atas permukaan tanah. Rana mengira langkah subuhnya tersembunyi dengan sempurna oleh keheningan mess.

Namun, ia tak tahu jika ada pria gempal menatap Rana dari kejauhan dengan pandangan mata yang dipenuhi seringai sinis dan merendahkan.

Ia rupanya telah berdiri di sana sejak mobil Pradika memasuki parkiran, karena dirinya juga baru saja sampai dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Rana menghabiskan malam di dalam mobil bersama sang mekanik dealer dan baru turun saat subuh menyingsing.

"Ternyata... kamu sama saja dengan yang lain, Rana," desis pria itu, yang tidak lain adalah Sapo, dengan suara rendah.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!