"Tiga hari untuk melenyapkannya, atau nyawamu taruhannya."
Kenric Vane, algojo paling mematikan dari klan The Void, tidak pernah gagal dalam misinya. Namun, target kali ini berbeda. Dr. Alana Syahira, seorang psikolog cantik yang seharusnya mati dalam kecelakaan tragis, justru menatap tepat ke matanya tanpa rasa takut di ruang eksekusi.
Bukannya memohon ampun, Alana justru mulai membedah kegelapan di jiwa Kenric dengan manipulasi kata-kata yang mematikan. Dia adalah satu-satunya orang yang berani menantang sang predator di sarangnya sendiri.
Di sisi lain, persaingan takhta klan The Void memanas. Sang ayah memberikan syarat mutlak, siapa pun putra Vane yang memiliki istri lebih dulu, dialah yang berhak berkuasa.
Kenric memutuskan untuk melindungi Alana dari kejaran musuh, membawanya masuk ke dalam lingkaran hitam keluarganya. Di bawah perlindungan Kenric, Alana terjebak dalam dunia yang penuh peluru, sementara Kenric terjebak dalam perangkap kata sang psikolog.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 セブン
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan tertelan oleh kegelapan malam. Di jalur pribadi menuju mansion Vane, deru mesin mobil sports hitam milik Kenric membelah keheningan hutan pinus dengan kecepatan yang tidak biasa. Kenric ingin segera sampai. Tubuhnya terasa remuk, tulang-tulangnya seakan menjerit setelah seharian penuh berdiri di bawah terik matahari, mengawasi latihan fisik para siswa militer yang bebal dan lamban.
Kemeja hitam yang ia kenakan sudah lembap oleh keringat, dan bau mesiu samar masih menempel di jaket kulitnya. Dalam benaknya, Kenric hanya membayangkan satu hal ia akan mendorong pintu jati raksasanya, disambut oleh keheningan mansion yang elegan, mandi air panas, dan menikmati segelas wiski di ruang tengah yang luas. Keteraturan rumahnya adalah satu-satunya pelarian dari kekacauan dunia luar yang ia hadapi setiap hari.
Namun, ketenangan yang ia dambakan hancur berkeping-keping tepat saat ia melangkah masuk ke dalam aula utama.
Kenric membeku di ambang pintu. Tangannya masih memegang gagang pintu perunggu yang dingin, sementara matanya membelalak lebar, menatap pemandangan di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang luar biasa. Aula utama yang biasanya memancarkan kemewahan kaku, minimalis, dan sangat berwibawa, kini terlihat seperti panggung karnaval yang baru saja dihantam badai kegilaan.
Patung marmer Apollo kesayangannya, karya seni abad ke-18 yang ia dapatkan melalui lelang rahasia yang sengit, kini tampak konyol. Syal bulu berwarna merah mencolok melilit leher sang dewa Yunani tersebut, sementara sebuah topi jerami lebar bertengger miring di kepalanya. Tak hanya itu, sebilah kemoceng terselip di tangan patung yang semula memegang busur panah, membuatnya terlihat seperti dewa yang baru saja selesai membersihkan debu di langit-langit.
Kenric mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan napas yang mulai memburu. Patung ksatria perunggu yang berdiri di dekat tangga kini mengenakan kacamata hitam berbingkai merah dan sebuah celemek dapur bermotif bunga-bunga matahari yang sangat cerah. Bahkan vas bunga kristal dari Dinasti Ming miliknya pun tidak luput, Alana telah mengikatkan pita-pita warna-warni di leher vas tersebut, menjadikannya terlihat seperti hadiah ulang tahun anak-anak.
"APA-APAAN SEMUA INI?!"
Suara Kenric menggelegar, mengguncang lampu kristal di langit-langit hingga denting-denting kacanya saling beradu. Aura mematikan yang biasa ia gunakan di medan perang kini memenuhi seluruh ruangan.
"PAK HERMAN! KELUAR KAU SEKARANG JUGA!"
Pak Herman muncul dari balik pilar marmer dengan langkah yang gemetar hebat. Tubuh pria tua itu tampak mengecil, wajahnya lebih pucat dari kain kafan yang pernah dilihat Kenric. "T-tuan... saya... saya mohon maaf... saya sudah mencoba melarangnya, saya sudah berusaha menghentikan beliau, tapi..."
"TAPI APA?!" Kenric melangkah maju, setiap hentakan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti dentuman genderang perang. Ia mencengkeram kerah baju Pak Herman dengan tangan bergetar karena amarah yang memuncak ke ubun-ubun. "Siapa yang berani mengacaukan rumahku seperti ini? Apa kau sudah bosan bekerja di sini? Apa kau ingin aku memecatmu malam ini juga dan membiarkanmu membusuk di jalanan karena membiarkan seseorang merusak koleksi berhargaku?!"
Kenric menunjuk ke arah patung Apollo dengan telunjuk yang gemetar. "Ini adalah pelecehan terhadap seni! Ini penghinaan terhadap tempat tinggalku! Katakan padaku, siapa pelakunya sebelum aku benar-benar kehilangan kendali?!"
"Ini aku yang melakukannya, Tuan Vane yang Terhormat. Tidak perlu berteriak seperti pria yang sedang kehilangan kewarasannya hanya karena sedikit aksesoris tambahan."
Suara tenang, jernih, dan bernada sedikit mengejek itu datang dari arah balkon lantai dua. Kenric mendongak dengan cepat, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Di sana, di atas balkon tangga melingkar, Alana Syahira berdiri dengan anggun. Ia masih mengenakan daster sutra pemberian pelayan, namun caranya menatap ke bawah membuat seolah-olah ia adalah ratu yang sedang meninjau wilayah barunya.
Alana melangkah turun perlahan, satu demi satu anak tangga ia lalui dengan langkah yang sangat ringan. Ia tidak tampak takut sedikit pun pada tatapan Kenric yang sanggup membunuh seekor singa. Alana berhenti tepat di depan Kenric, melipat tangannya di dada dengan gaya angkuh yang sangat menyebalkan.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau akan menjadikanku istrimu Tuan Vane?" Alana bertanya dengan nada yang sangat santai, bahkan cenderung nakal. "Mansion ini akan menjadi tempat tinggalku juga kelak. Jadi, kurasa untuk mulai merubah dekorasi yang monoton, kaku, dan membosankan ini, aku bisa memulainya dari sekarang. Tidak perlu menunggu hari pernikahan yang entah kapan itu terjadi, bukan?"
Kenric seolah kehilangan kemampuan untuk bicara. Rahangnya benar-benar jatuh. Ia menatap Alana, lalu menatap patung Apollo-nya yang malang, lalu kembali menatap Alana. "Merubah dekorasi? Kau menyebut syal bulu murahan dan celemek bunga-bunga ini sebagai dekorasi?! Ini adalah sampah!"
"Dekorasimu sangat membosankan di mataku Kenric." balas Alana tanpa rasa takut sedikit pun. Ia melangkah melewati Kenric seolah pria itu hanya pajangan lainnya, lalu menghampiri patung ksatria bercelemek dan merapikan letak kacamata hitamnya dengan lembut. "Rumah ini terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu maskulin. Aku hanya menambahkan beberapa aksesoris sebagai pelengkap estetika agar suasana di sini lebih manusiawi dan memiliki nyawa. Jadi, jangan marahi Pak Herman. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai pelayan yang baik yaitu tidak membantah perintah calon nyonya di rumah ini."
"Calon nyonya?" Kenric tertawa pahit, suaranya terdengar kering dan penuh kekesalan. "Kau bahkan belum menginjakkan kaki di altar Alana! Dan kau sudah berani mengacak-acak privasiku?!"
"Oh, ayolah. Kau butuh aku untuk mendapatkan tahta itu, kan?" Alana berbalik, menatap Kenric dengan senyum kemenangan yang membuat Kenric ingin sekali membungkam bibir wanita itu. "Jika kau tidak tahan dengan selera dekorasiku, bayangkan bagaimana aku akan bertingkah di depan Dady Vane nanti. Aku bisa saja datang ke acara makan malam keluarga besarmu dengan mengenakan handuk di kepala sebagai aksesoris rambut terbaru."
Kenric mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi krak. Amarahnya sudah mencapai titik didih, namun ada sesuatu yang menghalanginya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia berada di posisi yang sangat sulit. Alana adalah pion kunci. Tanpa wanita random ini, rencana pernikahannya untuk merebut tahta akan hancur. Ia tidak bisa mengusirnya, ia tidak bisa melukainya, dan ternyata, ia tidak bisa mengendalikannya.
"Kau..." Kenric menggeram, suaranya rendah dan sarat dengan rasa frustrasi yang mendalam. "Kau benar-benar wanita paling aneh dan merepotkan yang pernah aku temui seumur hidupku."
"Terima kasih atas pujiannya Calon Suamiku." sahut Alana dengan nada riang yang dibuat-buat. Ia melambaikan tangan dengan anggun dan kembali melangkah menuju lantai dua, meninggalkan Kenric yang masih berdiri mematung di tengah aula yang kini terlihat lebih mirip karnaval daripada kediaman klan mafia.
Kenric hanya bisa menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah seluruh beban duni ada di pundaknya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa kulit di ruang tengah, mengabaikan Pak Herman yang masih berdiri ketakutan di pojok ruangan. Kenric menatap langit-langit, mencoba mencari sisa-sisa kesabarannya yang sudah ludes terbakar.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai eksekutor yang tak terkalahkan, Kenric Vane merasa benar-benar kalah telak. Dan kekalahannya bukan disebabkan oleh serangan fajar musuh atau pengkhianatan anak buah, melainkan oleh seorang psikolog random yang hobi menghias patung abad ke-18 dengan kemoceng dan syal bulu.
"Singkirkan semua itu besok pagi setelah dia bangun, Pak Herman." gumam Kenric lemah sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Tapi Nona Alana berpesan kalau—"
"SINGKIRKAN!" teriak Kenric lagi, meskipun kali ini suaranya lebih terdengar seperti rengekan putus asa daripada perintah seorang bos. Ia memejamkan mata, menyadari sepenuhnya bahwa mulai malam ini, dunianya tidak akan pernah lagi mengenal kata tenang selama Alana Syahira masih berada di bawah atap yang sama dengannya.
kak semangat trz up nya y...✌️