Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali pulang
Ia berjalan ke pintu.
"Kak Lola," panggil Mizuki.
Lola berhenti, tidak menoleh.
"Kak Aisa... dia baik-baik saja kan?"
Diam sejenak.
"Tanyakan langsung padanya, saat dia pulang," jawab Lola.
Pintu terbuka. Lola keluar.
Di tempat lain.
Entah di mana. Tempat itu gelap. Hanya ada dua cermin besar yang berdiri di depan Aisa. Cahaya samar keluar dari dalam cermin, cukup untuk menerangi wajah Aisa, tapi tidak lebih.
"Aisa, kenapa kau menyelamatkan bocah itu dan mengalahkan pasukan kerajaan?"
Suara dari cermin kiri. Wajah di dalam cermin samar dan gelap. Tapi dari bentuknya, kedua Any itu seperti bocah.
Aisa berdiri tegak. Tidak membungkuk. Tidak menunduk. Ia hanya berdiri.
"Aku tahu," jawab Aisa.
"Itulah kenapa siapa pun yang menjadi musuhku tidak akan mengingatku. Kalaupun itu kamera, tidak akan bisa melihat wujudku dengan jelas,"
"Kami tahu," potong cermin kanan.
"Tapi bocah itu mengingatmu. Apa kau akan menghapus ingatannya?"
Aisa menggeleng.
"Tidak. Akan kuusahakan dia tidak akan tahu tentang aku,"
Diam sejenak.
Cermin kiri berbicara lagi. "Aisa, kau itu hadir sebagai takdir itu sendiri. Jangan sampai makhluk hidup tahu tentang dirimu yang sebenarnya,"
"Terutama tentang dirimu yang merupakan seorang Idea, atau kau akan digantikan,"
Aisa menghela napas pelan.
"Siap, Pengawas,"
Cermin kanan berbicara. "Kau harus ingat, hanya orang terpilih yang boleh tahu tentang dirimu,"
"Iya," balas Aisa.
Cermin kiri bicara. "Kalau begitu kembalilah. Jangan lupa memanggil saudarimu... sih waktu... siapa namanya?"
Cermin kanan menjawab sebelum Aisa sempat buka suara. "Nova?"
"Ah, iya. Nova. Bilang kalau Any memanggilnya,"
Aisa mengangguk.
"Baik, Pengawas,"
Ia berbalik.
Di belakangnya, sebuah portal putih terbuka. Terang. Menyilaukan. Berbeda dengan ruangan gelap di sekitarnya.
Aisa melangkah masuk.
Portal itu menutup.
Ruangan kembali gelap.
Hanya dua cermin yang saling berhadapan dalam sunyi.
-------------
Keesokan harinya.
Di rumah pohon.
Matahari baru saja naik. Embun masih menempel di daun-daun. Udara pagi terasa dingin menusuk.
Aisa baru pulang.
Ia melangkah naik tangga kayu rumah pohon dengan langkah berat. Matanya sayu. Seperti tidak tidur semalaman.
Begitu pintu terbuka, Mizuki sudah berdiri di dalam. Matanya langsung tertuju pada Aisa.
"Kak Aisa!"
Mizuki berlari kecil mendekat. Wajahnya cerah dan lega.
Aisa tersenyum tipis. "Kau sudah bangun,"
"Iya, Kak. Aku sudah siapkan semuanya," Mizuki menunjuk tas kecilnya yang sudah rapi di samping kasur.
"Kak Lola sudah bilang kalau aku harus berangkat pagi ini,"
Aisa mengangguk. Ia duduk di kursi panjang, meletakkan kedua tangannya di pangkuan.
Mizuki duduk di seberangnya. Ia menatap Aisa lama.
"Kak... kemarin kau pergi ke mana?"
Aisa terdiam sejenak.
"Tidak apa-apa," jawab Aisa dengan suara pelan.
"Hanya urusan kecil,"
Ia tidak menatap mata Mizuki saat bicara.
Mizuki bisa merasakannya. Ada sesuatu yang Aisa sembunyikan. Tapi ia tidak mau memaksa.
"Baik, Kak. Kalau kau tidak mau cerita, tidak apa-apa,"
Aisa mengangkat wajah. Ia tersenyum, tapi kali ini lebih hangat.
"Kau tidak perlu menyiapkan tas. Apa kau lupa cara memanggil peralatan yang kuajari kemarin?"
Mizuki terdiam. Matanya beralih ke tas kecil yang sudah rapi di samping kasur. Lalu ke telapak tangannya sendiri.
"Oh, iya. Maaf, aku lupa,"
"Tidak apa-apa,"
Aisa berjalan mendekati tas itu. Ia mengambilnya, lalu meletakkan isinya satu per satu di atas kasur. Pakaian. Botol air. Kantong uang. Kertas dari Lola dan barang lainnya.
"Perhatikan," kata Aisa.
Ia meletakkan telapak tangannya di atas barang-barang itu. Diam sejenak. Matanya terpejam.
Perlahan, barang-barang itu mulai memudar. Tidak menghilang. Tapi seperti terserap ke dalam cahaya samar yang keluar dari tangan Aisa.
Dalam sekejap kemudian, semuanya lenyap.
"Aku sudah memindahkannya ke dalam ruang penyimpanan pribadimu," jelas Aisa.
"Saat kau butuh, cukup fokus, dan panggil. Seperti yang sudah kuajari,"
"Iya, terima kasih, kak," balas Mizuki.
"Sekarang ayo turun. Sudah waktunya kau kembali ke duniamu,"
Mereka berdua mulai turun dari rumah pohon. Tangga kayu berderit pelan di bawah kaki mereka.
Di bawah, sebuah portal putih sudah muncul. Cahayanya terang tapi tidak menyilaukan. Portal itu berputar pelan, seperti pusaran air yang diam.
Aisa berhenti di depan portal. Ia menoleh ke Mizuki.
"Sebelum pergi, kau harus menggunakan nama Will sebagai identitas barumu,"
Mizuki mengerjap. "Will?"
"Iya. Mulai sekarang, panggilanmu bukan Mizuki lagi. Setidaknya, sampai kau cukup kuat untuk menggunakan nama aslimu,"
Mizuki terdiam sebentar. Lalu mengangguk.
"Baik, Kak. Aku Will,"
Aisa mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kartu identitas berwarna putih. Bersih. Kosong. Tidak ada tulisan. Tidak ada foto.
"Sama ini. Jika ada orang penting yang meminta kartu identitas, kau bisa memberi mereka ini,"
Will menerima kartu itu. Ia membaliknya. Depan kosong. Belakang kosong.
"Tapi... kartu ini kosong, Kak,"
Aisa tersenyum tipis. "Sudahlah. Nanti kau akan tahu setelah menyerahkannya,"
Will menatap kartu itu lama.
Ia tidak mengerti. Tapi ia percaya pada Aisa.
"Baik,"
Ia menyimpan kartu itu di saku paling dalam.
Aisa menunjuk ke portal putih.
"Sekarang masuk ke portal itu. Setelah sampai, gabung Guild. Cari berbagai kabar penting di sana,"
Will menatap portal itu. Lalu menatap Aisa.
"Kak..."
"Iya?"
"Terima kasih untuk semuanya,"
Aisa tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan dan mengusap rambut Will pelan.
"Pergilah,"
Will menarik napas. Ia melangkah menuju portal.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kakinya menyentuh cahaya putih itu.
"Will!" panggil Aisa.
Will menoleh.
"Jangan mati,"
Will tersenyum. "Aku janji, Kak,"
Ia melangkah masuk.
Cahaya putih menyelimuti seluruh tubuhnya.
Lalu...
Hilang.
Aisa berdiri sendirian di depan portal yang mulai mengecil.
Ia tidak bergerak sampai portal itu benar-benar lenyap.
Angin pagi berembus.
Daun-daun berguguran.
Aisa menghela napas.
Lalu berbalik, naik kembali ke rumah pohon yang kini terasa sepi.
Di sisi lain portal.
Will membuka matanya.
Ia berdiri di sebuah gang sempit. Bau tanah dan sampah khas kota. Orang-orang lalu lalang dengan wajah sibuk.
Ia melihat telapak tangannya.
Masih utuh.
Lalu ia melihat pakaiannya. Sama seperti tadi.
Ia mencoba memanggil barang-barang di ruang penyimpanan.
Pakaian muncul.
Botol air muncul.
Kantong uang muncul.
Kertas pemberian Lola muncul.
Semuanya ada.
Will tersenyum.
Ia merapikan bajunya, lalu mengembalikan semua barang ke ruang penyimpanan tanpa perlu memejamkan mata. Cukup fokus, dan barang-barang itu memudar dari tangannya.
Lalu ia melangkah keluar dari gang.
Di depannya, sebuah kota besar terbentang. Bangunan-bangunan batu menjulang. Jalanan ramai oleh orang-orang. Udara terasa lebih panas dari hutan tempat ia berlatih.
Guild, pikirnya.
Mulai dari mana, ya?
Ia berjalan menyusuri trotoar, matanya mengamati setiap plang dan papan nama.
Beberapa orang menatapnya sekilas, lalu mengabaikannya. Seorang anak kecil berpakaian biasa bukanlah pemandangan aneh di kota ini.
Bersambung...