NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apartemen Profesor

BaB 7 — Apartemen Profesor

Malam itu, langit London mendung gelap. Angin bertiup kencang, seolah ikut meramaikan kegelisahan yang dirasakan Alena.

Gadis itu berdiri di depan lift gedung mewah, jantungnya berdegup kencang bukan main. Di tangannya dia memegang tas kecil, sementara matanya menatap nomor lantai yang tertera di kertas kecil. Lantai 18, Unit 1802.

Ini gila. Ini sangat salah. Pergi ke apartemen pria yang seharusnya menjadi gurunya di tengah malam buta? Itu undangan bencana. Tapi... kaki Alena seakan memiliki pikiran sendiri. Rasa ragu bercampur rasa ingin tahu dan rasa rindu yang sudah memuncak membuatnya tidak bisa mundur.

Ding.

Lift terbuka. Alena melangkah keluar, menyusuri koridor yang sepi dan berkarpet tebal yang membuat langkahnya tak bersuara. Sampai di depan satu pintu kayu berdesain minimalis modern, dia berhenti.

Menarik napas panjang sekali, dia menekan bel.

Ting tong.

Hanya beberapa detik, pintu itu terbuka.

Dan di sana, berdiri Adrian Vale.

Pria itu tidak memakai jas atau kemeja rapi seperti di kampus. Hari ini dia hanya mengenakan celana bahan longgar berwarna gelap dan sweater rajut tipis berwarna krem yang membuatnya terlihat sangat santai, sangat hangat, dan... jauh lebih muda dari usianya. Rambutnya sedikit berantakan, tidak disetel rapi, menambah kesan homey yang anehnya sangat cocok padanya.

Mata Adrian langsung menyapu seluruh tubuh Alena, ada senyum tipis yang terbit di bibirnya saat melihat gadis itu berdiri gemetar di depan pintu.

"Masuk," ucapnya pelan, menyingkir dan memberi jalan.

Alena melangkah masuk dengan hati-hati. "Malam, Adrian."

"Selamat malam."

Pintu tertutup otomatis di belakang mereka, mengunci mereka berdua di dalam ruangan itu.

Mata Alena langsung berkeliling mengamati isi apartemen itu. Wow...

Sangat rapi. Terlalu rapi. Hampir tidak ada barang yang berantakan. Interiornya didominasi oleh warna-warna netral seperti abu-abu, putih, dan kayu gelap. Keseluruhannya terlihat elegan, mahal, minimalis... tapi juga sangat sunyi.

Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain. Tidak ada mainan, tidak ada barang cewek, tidak ada keributan. Hanya ada dia. Hanya ada kesunyian yang mendalam.

"Minum apa? Kopi atau... wine?" tanya Adrian sambil berjalan menuju dapur kecil yang terbuka.

"Wine saja boleh, Adrian. Biar agak santai," jawab Alena berani, mencoba menenangkan diri.

Adrian menoleh dan tersenyum. "Pintar. Duduklah di sofa."

Alena duduk di ujung sofa kulit berwarna gelap. Dia masih merasa canggung. Ini sangat berbeda dengan ruang dosen atau perpustakaan. Ini adalah wilayah pribadinya. Ini adalah dunianya.

Beberapa saat kemudian, Adrian datang membawa dua gelas wine berwarna merah tua. Dia meletakkannya di meja, lalu duduk di sofa... tepat di sebelah Alena. Sangat dekat.

Dekat sampai kaki mereka bersentuhan.

"Makasih," ucap Alena sambil mengambil gelasnya, menyesap sedikit. Rasanya sedikit kelat tapi hangat saat turun ke tenggorokan.

Mereka mulai mengobrol. Awalnya tentang hal-hal ringan, tapi perlahan topiknya masuk lebih dalam. Adrian bercerita tentang bagaimana dia bisa sampai di posisi ini sekarang.

"Aku sebenarnya tidak pernah berencana jadi dosen," cerita Adrian sambil menatap gelasnya, jarinya memutar-mutar batang gelas itu pelan. "Aku dulu kerja di perusahaan besar, dunia korporat yang keras dan kejam. Uang banyak, tapi jiwa habis."

Alena mendengarkan dengan seksama. "Terus kenapa berhenti?"

"Karena aku sadar... aku lebih suka berbagi ilmu daripada mengejar profit. Dan juga..." Adrian menoleh, menatap Alena dalam. "...hidup di sana terlalu bising. Aku tipe orang yang lebih suka diam. Lebih suka sepi."

"Tapi sepi terus-terusan itu tidak enak, Adrian," sahut Alena pelan. "Apa tidak kesepian tinggal di sini sendirian? Apartemen sebesar ini cuma dihuni satu orang?"

Adrian terdiam sejenak. Dia meneguk wine-nya habis setengah gelas.

"Mungkin iya. Orang bilang aku dingin, jadi orang-orang juga takut mendekat. Aku terbiasa menjaga jarak. Terbiasa menutup diri. Selama ini... cuma pekerjaan yang nemenin aku."

Alena menatap profil wajah pria itu. Di bawah lampu ruangan yang remang-remang, dia bisa melihat sisi rapuh yang jarang ditunjukkan Adrian ke orang lain. Dia bukan sekadar dosen kaya dan ganteng. Dia adalah pria yang kesepian, yang membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya agar tidak terluka.

Perasaan Alena bergetar. Tiba-tiba dia merasa ingin memeluk pria itu, ingin menghangatkan kesepiannya.

"Untung kamu datang, Len," bisik Adrian tiba-tiba. "Kamu bawa warna ke dalam hidupku yang abu-abu ini."

Suasana berubah seketika. Obrolan santai lenyap, digantikan oleh ketegangan yang berat dan panas.

Mata mereka saling bertaut. Jarak di antara mereka semakin menyempit tanpa sadar. Aroma tubuh Adrian, campuran wangi sabun dan aroma musk yang khas, memenuhi indra penciuman Alena, membuatnya sedikit pusing tapi nyaman.

Adrian semakin mendekat. Bahu mereka kini bersentuhan penuh. Alena bisa merasakan panas tubuh pria itu merambat ke kulitnya. Dia tidak mundur. Dia tidak mau mundur.

Tangan Adrian perlahan terangkat, jari-jarinya yang hangat menyentuh pipi Alena, mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. Gerakan itu penuh kasih sayang, penuh rasa memiliki.

"Alena..." panggilnya parau.

Napas Alena memburu. "Ya...?"

Adrian menatap lurus ke bibir gadis itu, lalu kembali ke matanya. Tatapannya gelap, penuh hasrat yang ditahan-tahan sejak lama.

Dengan suara rendah yang bergetar, dia mengajukan pertanyaan yang membuat udara di ruangan itu terasa berhenti bergerak.

"Kalau aku menciummu lagi... kau akan pergi?"

 

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!