Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Kantor papa Aditya...
Lisa masuk kantor dan menuju lift untuk naik ke ruangan papanya yang ada diatas. Semua karyawan tersenyum ramah melihat kehadiran anak CEO perusahaan tersebut, Lisa juga tersenyum kepada semua karyawan. Karyawan di sana ada yang berbisik "Cantik banget ya anak pak Adit." Ucap salah satu karyawan.
"Iya sekarang dia udah dewasa, dulu terakhir kesini masih pakai sragam putih abu." Jawab yang lainnya.
"Iya sekarang udah kuliah tambah cantik aja." Sahut yang lainnya.
Lisa mendengar percakapan itu samar, tapi dia tak mau menanggapinya. Kemudian Lisa masuk lift khusus pimpinan. Sampai di lantai atas Lisa di sambut baik oleh sekertaris papanya.
"Non Lisa." ucap sekertaris papa Adit sambil berdiri dari duduknya.
"Papa ada di dalam mba?" tanya Lisa.
"Ada non, silahkan masuk saja, lagi ada tamu, tapi pak Adit pesan kalau non datang disuruh langsung masuk saja." jawab sekretaris itu menjelaskan.
"Baik mba, terima kasih." ucap Lisa sambil berjalan ke ruangan papanya.
ceklek
Lisa membuka pintu ruangan papanya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Papa Adit dan tamunya menoleh ke arah Lisa.
"Sini sayang, kamu baru sampai?" tanya papa Adit.
"Iya pah," Lisa berjalan menghampiri papa Adit dan menjabat tangan papanya lalu mencium telapak tangannya.
"Kenalin ini rekan bisnis papa, namanya Faris." Ucap papa Adit memperkenalkan tamunya.
"Dan faris ini putri saya Lisa." Lanjut papa Adit.
"Faris."
"Lisa"
Ucap keduanya saat bersalaman. Faris memandang Lisa, dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tangannya bagaikan ada lem yang tiba-tiba menempel.
"Ehem." papa Adit berdehm untuk menyadarkan Faris.
Maaf pak, putri pak Adit cantik sekali." Ucap Faris to the points. Dan langsung melepaskan jabatan tangannya.
"Jelas donk, siapa dulu papanya." Jawab papa Adit membanggakan dirinya.
"Lisa istirahat dulu pah." kata Lisa sambil berjalan menuju sofa.
"Baiklah sayang." jawab papa Adit.
"Putri pak adit kuliah dimana?, semester berapa?, ambil fakultas apa?, tanya Faris bertubi-tubi.
"Itu pertanyaan apa kereta Ris? berderet tanpa jeda hehehe" jawab pak Adit sambil tertawa pelan.
"Tanyakan saja pada putriku itu." Sambung papa Adit.
Melihat Faris yang sudah mau berdiri, Lisa bangkit dari sofa dan melangkah ke ruang istirahat papanya untuk menghindari faris.
"Lisa istirahat di dalam ya pah, Lisa capek." ucap Lisa lalu masuk ke dalam kamar khusus tempat untuk istirahat papanya, kamar itu masih di ruangan kerja papa Adit.
Faris masih terus memandang Lisa sampai Lisa tak terlihat di balik pintu.
"Udah jangan di lihatin melulu, nanti luntur." goda papa Adit.
"Hehehe." Faris terkekeh mendengar perkataan papa Adit.
"Ya sudah pak, saya pamit mau kembali ke kantor dulu. Masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan hari ini." Ucap Faris pamit undur diri.
"Baiklah, silahkan, mungkin di lain waktu kita bisa bertemu lagi." jawab papa Adit.
Faris keluar ruangan dan papa Adit melanjutkan kerjanya menandatangi sebuah berkas, kemudian papa adit masuk ke ruang istirahatnya.
"Sayang, katanya mau istirahat. kog malah mainan hp?" tanya papa adit saat masuk ke kamarnya melihat Lisa yang tadi pamit mau istirahat tapi malah memainkan ponselnya.
"Lisa ga ngantuk pah, alasan aja tadi." jawab Lisa sambil tersenyum.
"Sudah papa tebak, tidak mungkin kamu mau tidur di kantor papa. Apa kamu ngga tertarik sama Faris sayang? papa lihat tadi muka kamu cuek banget."
"Iya pah, Lisa ga suka. Lihat aja tadi dia langsung bilang Lisa cantik di depan papa." jawab Lisa sambil cemberut.
"Kan anak papa ini memang cantik, masa iya mau bilang pak anak bapak jelek gitu." goda papanya.
"Tapikan itu ga sopan pah, kesannya gimana gitu, baru pertama ketemu uda gitu kelakuannya." jawab Lisa dengan nada kesalnya.
"Ya begitulah dia, tapi kan dia jujur sayang. Memang kamu cantik banget hari ini." lanjut papa Adit sambil mencolek hidung Lisa.
"Berarti kemarin ga cantik ya pah?" tanya Lisa masih dengan nada kesalnya.
"Cantik lah sayang, siapa yang berani bilang anak papa ini ga cantik? nanti papa kasih kaca mata besar biar dia ga rabun." kata papa Adit sambil tertawa.
"Papa ih, ada ada aja. Ya udah pah Lisa pulang dulu ya." ucap Lisa sambil berdiri.
"Kamu ga pulang bareng papa aja?" tanya papanya.
"Ga pah, Lisa uda nyuruh pak Mamat buat jemput Lisa di sini." jawab Lisa lagi.
"Ya udah kamu hati-hati ya sayang." ucap papa Adit sambil mengulurkan tangannya.
"beres pah," Lisa mencium tangan papanya
"assalamu'alaikum." lanjutnya.
"wa'alaikumsalam."
Lisa berjalan keluar ruangan. Sekertaris papanya berdiri dari duduknya, dan menganggukkan kepala sambil tersenyum melihat Lisa keluar dari ruangan papanya.
Lisa balas tersenyum ramah.
Lisa menuju lift dan masuk. Sampai di bawah lisa langsung menuju pintu keluar.
"Mau pulang non?" tanya satpam di depan pintu.
"Iya pak." jawab Lisa singkat.
Di depan kantor papa Adit, pak mamat sudah menunggu Lisa. Pak Mamat membukakan pintu dan lisa masuk.
"Terima kasih pak." ucap Lisa.
"Sama-sama non." jawabnya.
hening
hening
hening
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, saat di perjalanan Lisa malah memikirkan seseorang yang tadi berpapasan dengannya saat memasuki kantor papanya.
"Ada apa denganku? kenapa aku kepikiran orang itu?" gumam Lisa pelan tapi masih di dengar oleh pak Mamat.
"Ya non, ada apa??" jawab pak Mamat.
"Ga pak, ga ada apa-apa." jawab Lisa yang tak sadar dengan apa yang di ucapkan tadi.
Tak lama perjalanan, mobil pun sampai di depan gerbang. Satpam yang bekerja di rumah Lisa membukakan gerbang dan pak Mamat menghentikan mobilnya di halaman depan. Lisa turun dan melangkah menuju pintu utama.
Ting tong ting tong.
Bi Inah membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum." ucap Lisa.
"Wa'alaikumsalam, baru pulang non? tumben sampai sore." tanya bi Inah.
"Iyaa bi, tadi mampir dulu ke kantor papa." jawab Lisa.
"Oh iya non, bibi lupa tadi pagi kan non Lisa sama papa udah bilang." jawab bi Inah sambil tersenyum.
"Lisa ke kamar dulu bi." lanjut Lisa.
"Baik non, mau bibi bikinin jus non?" tanya bi Inah lagi.
"Ga bi, Lisa udah kenyang, udah makan di kantin tadi." jawab Lisa lalu naik ke lantai atas.
"Baru pulang sayang?? tanya mama Ita yang sedang berada di tangga.
"Mama? kog mama uda di rumah? mama ga kerja?" tanya Lisa bertubi-tubi.
"Kan mama uda bilang sayang, mulai sekarang mama akan mengurus kamu. Mama akan terus berada di samping kamu, untuk menebus kesalahan mama selama ini." jawab mama Ita.
"Terus kerjaan mama gimana?" tanya Lisa lagi.
"Mama tadi udah ke salon sebentar, dan juga ke butik. Semua sudah mama serahkan ke karyawan mama, mama tinggal cek aja laporannya." Jawab mamanya lagi.
"Makasih ya mah." jawab Lisa sambil memeluk mamanya.
*jangan lupa komentar yang buat author semangat ya para reader..author bukan apa-apa tanya kalian.😘