Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Zea
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah tirai besar itu terasa seperti ejekan bagiku. Sinar itu hangat, namun aku merasa seolah-olah seluruh sel darahku telah membeku menjadi es. Aku terbangun dengan pikiran yang awalnya kosong, sebuah kekosongan yang damai sebelum kenyataan menghantamku tepat di ulu hati.
Sinar matahari pagi menyentuh wajahku, menyilaukan dan memaksa kesadaranku untuk kembali. Aku hanya merasakan dinginnya AC yang menyentuh kulit bahuku. Namun, hanya dalam hitungan detik, rasa nyeri hebat dan tajam di tubuh bagian bawah langsung membuatku meringis. Rasa sakit itu seperti alarm yang menarikku paksa dari tidur yang singkat dan kelam.
Aku membeku. Perlahan, dengan jantung yang mulai berpacu liar, aku menunduk. Dan seketika, duniaku seakan runtuh hingga menjadi debu saat menyadari satu hal, 'aku tidak mengenakan apa pun'.
Napas langsung tercekat di tenggorokan. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku menoleh ke arah seprai putih di bawah tubuhku. Darah. Merah, segar, dan sangat nyata. Warna itu seolah berteriak padaku, mengonfirmasi ketakutan terburukku. Cukup untuk membuat seluruh tubuhku kaku seperti batu.
Potongan-potongan memori semalam mulai menghantam kepalaku tanpa ampun, satu per satu, tajam dan menyiksa. Lift di basement. Niat tulusku untuk membantu Langga yang tampak tidak berdaya. Bagaimana aku memapah tubuh besarnya masuk ke unit ini. Lalu… pelukannya yang mendadak berubah menjadi cengkeraman. Ciuman paksa. Tanganku yang terus mendorong dadanya yang keras, perlawananku yang sia-sia, tangisanku yang pecah di telinganya, hingga permohonanku agar ia berhenti.
Dan dirinya… dia sama sekali tidak mendengarkan. Dia hanya mengikuti insting liarnya tanpa memedulikan suaraku yang serak karena memohon.
Air mata langsung jatuh membasahi bantal sutra yang mahal ini. Aku meraih ujung selimut tipis yang tersisa dan memeluk tubuhku erat-erat, mencoba menutupi diri dari rasa malu yang luar biasa. Tangisku pecah. Pelan dan tertahan, karena aku takut jika aku menangis terlalu keras, kenyataan ini akan menjadi semakin nyata dan tidak bisa kuubah lagi.
“Kenapa…” suaraku sendiri terdengar asing di telingaku. Lemah, patah, dan hancur.
Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana setelah detik ini. Bagaimana aku bisa pulang dengan kondisi seperti ini? Bagaimana aku bisa menatap wajah Ibu yang selalu bangga padaku? Bagaimana aku menjelaskan pada Ayah di surga bahwa putri kecilnya telah dirusak? Bagaimana aku bisa hidup seperti biasa, memegang sapu dan pel di gedung ini, setelah apa yang salah satu pemilik gedung ini lakukan padaku?
Ayah… maafkan Zea… Zea gagal jaga diri…
Air mataku semakin deras, mengaburkan pandanganku. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan diri dari dunia yang tiba-tiba terasa sangat jahat. Tubuhku gemetar hebat. Aku merasa kotor. Aku merasa hancur. Aku merasa… diriku sudah tidak utuh lagi. Seolah ada bagian dari jiwaku yang dicuri secara paksa semalam.
Tiba-tiba, kasur di sampingku bergerak. Sebuah guncangan kecil yang membuat seluruh sarafku berteriak waspada. Dia bangun.
Aku menahan napas, mematung di posisi memunggungi dia. Ada rasa takut yang luar biasa, namun di atas itu semua, ada rasa marah dan jijik yang mulai mendidih di dadaku. Hanya mendengar gesekan kain seprai darinya saja sudah membuatku ingin muntah.
“Zea…” suaranya terdengar, serak dan berat.
Sebuah tangan mencoba menyentuh pundakku. Sentuhan itu terasa seperti besi panas yang membakar kulitku. Refleks, aku menepisnya dengan tenaga yang tidak kusangka masih kumiliki.
“Jangan sentuh saya!” teriakku sembari membalikkan tubuh.
Dan di sanalah dia. Erlangga Mahardika. Pria yang kemarin kupikir adalah anomali yang menarik, kini duduk dengan wajah pucat dan mata yang sayu. Dia tampak terkejut, mungkin melihat bercak darah itu, atau mungkin melihat kehancuran di wajahku. Ada gurat penyesalan di sana, tapi bagiku, tidak ada ekspresi di dunia ini yang bisa menghapus fakta bahwa dia telah mencuri masa depanku.
“Zea, dengar dulu. Aku benar-benar tidak bermaksud—”
“Dengar apa lagi?!” suaraku pecah. “Kamu mau jelasin apa lagi?! Kamu mau bilang kalau kamu hebat sudah melakukan, Erlangga Mahardika? Kamu mau bilang kalau ini cuma kecelakaan bisnis? Kamu mau bilang kalau kamu di jebak?".
“Zea, zat yang diberikan Mr. Dong itu... Aku benar-benar kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Aku tidak sadar semalam melakukan apa--".
“JADI ITU ALASANMU?!” Aku tertawa pahit, sebuah tawa yang penuh dengan luka. Sungguh lucu. Pria terhormat ini pikir "kehilangan kendali" adalah alasan yang cukup untuk menghancurkan hidup seseorang? “Saya nolong kamu! Saya lihat kamu hampir tidak berdaya di lift, Saya bantu kamu karena saya pikir kamu sakit, saya pikir kamu butuh bantuan manusia!..., bukan supaya kamu berubah jadi binatang dan menghancurkan saya”.
Wajahnya menegang. Rahangnya mengeras, dan tatapannya penuh rasa bersalah yang dalam. Tapi aku tidak peduli. Rasa bersalahnya tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang.
“Zea... Aku tahu in salah. Aku akan tanggung jawab. Apapun yang kamu minta, sebutkan saja. Uang, rumah, kendaraan, perlindungan, apapun".
Aku menatapnya tidak percaya. Rasa mual itu kembali. “Tanggung jawab?” Aku menatap lurus ke matanya yang tajam. “ Kamu pikir semuanya bisa kembali seperti semula cuma karena kamu punya uang banyak? Kamu pikir harga diri saya, hidup saya, bisa dibeli dengan kata tanggung jawabmu yang picik itu" Suaraku bergetar hebat karena emosi.
Dia diam. Dia tidak bisa menjawab. Dan keheningan itu adalah jawaban yang paling menyakitkan. Dia memang berpikir demikian.
Aku memaksa tubuhku bangkit dari kasur itu. Rasa nyeri menjalar hebat dari pinggul hingga ke kaki, membuatku nyaris terjatuh kembali. Tapi aku menolak untuk terlihat lemah di depannya lagi. Aku tidak mau menangis di depannya lebih lama. Dengan tangan gemetar, aku memungut seragam cleaning service-ku yang tergeletak mengenaskan di lantai. Memakainya secepat mungkin, meski setiap gerakan terasa seperti sayatan sembilu di tubuhku.
Setiap kancing yang kupasang terasa sangat berat. Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sesak yang menghimpit dadaku. Saat aku berbalik menuju pintu, dia mencoba mendekat lagi, turun dari tempat tidur.
“Zea, tunggu. Setidaknya biarkan aku mengantarmu atau—”
“Jangan dekat-dekat saya!" Ia berhenti, aku menatapnya lagi dengan tajam. "Mulai hari ini... kita anggap tidak pernah saling kenal. Jangan pernah berani muncul di depan saya lagi. Jangan pernah cari saya. Anggap malam ini adalah dosa yang ingin saya lupakan sampai saya mati".
Setelah aku berkata itu, lawan bicaranya terdiam.
Aku keluar dari kamar itu, berjalan cepat menyusuri apartemen mewahnya yang kini terasa seperti penjara. Aku menahan sakit di setiap langkah, menahan tangis agar tidak meledak di koridor, menahan diriku agar tidak hancur sepenuhnya sebelum sampai di rumah.
Lift terbuka. Aku masuk dan menekan tombol lobby berkali-kali dengan kalap. Dan tepat saat pintu baja itu hampir tertutup rapat, aku melihat dia berlari keluar kamar dengan wajah panik. Tidak. Jangan dekati aku lagi. Jangan pernah.
Pintu lift tertutup. Di dalam kotak besi yang dingin itu, aku akhirnya bisa menangis meraung tanpa harus melihat wajah pria bajingan itu. Begitu sampai di lobby, aku langsung berlari keluar, mengabaikan tatapan aneh petugas keamanan. Langkahku tidak stabil, pincang, dan tubuhku sangat sakit, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari gedung terkutuk ini.
Untungnya, sebuah taksi lewat di depan gerbang. Aku langsung menghentikannya dan masuk ke kursi belakang, meringkuk di sudut jendela.
“Ke… ke Jalan Melati, Pak…” suaraku bergetar hebat saat menyebut alamat rumah.
Sopir taksi itu menatapku sekilas dari spion, mungkin melihat wajahku yang sembap dan seragamku yang kusut, namun dia hanya mengangguk pelan dan mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Menatap kosong ke arah jalanan Jakarta yang mulai sibuk, seolah aku sedang melihat duniaku yang asing.
Aku memeluk tubuhku sendiri erat-erat, seolah dengan cara itu aku bisa menyatukan kembali semua kepingan diriku yang telah hancur berserakan. Apakah semua hal benar-benar bisa dibeli dengan uang? Sungguh sombong sekali dia. Harga diriku tidak bisa dibeli dengan kekayaan Mahardika. Tidak akan pernah.
Aku menutup mata, membiarkan air mata terakhir jatuh untuk pagi ini.
Maafkan Zea, Ibu… Maafkan Zea, Ayah… Zea sudah tidak suci lagi. Seorang bajingan telah mengambilnya dari Zea secara paksa.