NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 11

Nadia masuk ke dalam rumah.

Di meja makan, Raka dan Yuni sudah duduk sambil menikmati sarapan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Raka berangkat kerja dengan kemeja yang sedikit kusut dan dasi yang terpasang miring. Biasanya, Nadia akan membetulkan kerahnya, merapikan simpul dasinya, lalu mengecup punggung tangannya sebelum ia berangkat.

Namun pagi ini, tidak ada perhatian kecil itu.

Yuni menyesap jus jeruk di depannya, lalu mengernyit.

“Nadia, jusnya kebanyakan gula.”

Nadia tidak menoleh. Ia terus melangkah menuju dapur.

Mbak Tari yang sedang berdiri di dekat kompor buru-buru menyahut.

“Maaf, Bu. Saya yang membuat.”

Raka mencicipi nasi gorengnya.

“Nasi goreng ini juga Mbak Tari yang masak?”

Mbak Tari mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”

Suasana mendadak canggung.

Tak seorang pun terbiasa dengan perubahan Nadia.

Raka meletakkan sendok dan garpunya, lalu berdiri.

Ia harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan langkah cepat, ia menuju dapur.

Di sana, Nadia sedang membilas pakaian di bak cuci. Pekerjaan yang biasanya dilakukan Mbak Tari.

“Nad, ada apa dengan kamu?” tanya Raka.

Nadia menghentikan aktivitasnya.

Ia memeras sehelai pakaian, lalu berbalik menatap suaminya.

Tatapannya tenang.

Namun justru ketenangan itu terasa asing.

“Aku yang seharusnya bertanya,” ucapnya pelan. “Ada apa dengan kamu, Raka?”

Raka tertegun.

Selama tujuh tahun menikah, Nadia selalu memanggilnya Mas.

Panggilan itu kini hilang.

Dan entah kenapa, hal kecil itu terasa seperti tamparan.

“Nad, please.” Raka mengusap tengkuknya. “Kita ini sudah bukan anak kecil. Minggu kemarin aku benar-benar sibuk. Banyak pekerjaan kantor. Aku jadi lupa mengangkat telepon dan membalas pesanmu.”

Nadia mengangguk kecil.

“Oh.”

Ia menatap Raka lurus-lurus.

“Kalau begitu, kemarin kamu ke Puncak ngapain?”

Jantung Raka berdegup lebih cepat.

“Dan kamu ke mana saja?”

Raka membuka mulut.

Namun sebelum sempat menjawab, ponselnya berdering.

Ia melirik layar, lalu segera mengangkat panggilan itu.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan meninggalkan dapur.

Sekali lagi.

Mengabaikan Nadia.

Nadia tidak memanggilnya.

Ia hanya kembali membilas pakaian seolah tak terjadi apa-apa.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara mesin mobil menyala.

Raka telah pergi ke kantor.

Mbak Tari mendekat.

“Bu, biar saya saja yang membilas.”

Nadia menggeleng.

“Tidak usah. Mbak siapkan saja obat untuk Bu Yuni. Obatnya ada di kotak P3K.”

Mbak Tari tampak ragu.

“Bu, Bu Yuni biasanya susah minum obat kalau bukan Ibu yang kasih.”

Nadia tetap tenang.

“Katakan saja kalau tidak minum obat, Mas Raka akan marah.”

Mbak Tari menggaruk kepala.

“Bu… sebenarnya ada apa?”

Nadia menoleh sebentar.

Tatapannya datar.

“Kerjakan saja yang saya minta, Mbak.”

Nada suaranya lembut, tetapi tegas.

Mbak Tari tidak bertanya lagi.

Ia cukup tahu ada sesuatu yang berubah.

Setelah selesai membilas pakaian, Nadia membawanya ke halaman belakang.

Ia mulai menjemur satu per satu.

Belum selesai, suara Yuni terdengar dari belakang.

“Nadia, kenapa kamu tidak menyajikan obat untuk saya?”

Nadia tetap menggantung pakaian.

“Ada Mbak Tari, Bu.”

Yuni mendengus.

“Ada apa dengan kamu? Tidak biasanya begini.”

Nadia akhirnya menoleh.

“Aku baik-baik saja. Memangnya ada apa, Bu?”

Yuni menyilangkan tangan di depan dada.

“Kamu marah hanya karena tidak diajak liburan?”

Nadia berhenti bergerak.

Ia melangkah mendekat dan menatap ibu mertuanya.

“Kemarin Ibu liburan ke mana?”

Yuni menjawab spontan.

“Ke Puncak.”

“Sama siapa saja?”

Yuni tersentak.

Sorot matanya berubah.

“Kenapa kamu banyak bertanya? Kalau sudah tidak mau mengurus saya, ya sudah!”

Tanpa menunggu jawaban, Yuni berbalik dan masuk ke dalam rumah.

Nadia memandang punggungnya.

“Benar-benar para pembohong,” gumamnya pelan.

Ia menyelesaikan pekerjaannya, lalu masuk ke dalam rumah.

Di teras, Nanda sudah berdiri menunggu mobil jemputan sekolah.

Wajah mungil itu tampak murung.

Nadia mendekat dan berjongkok di hadapannya.

“Kenapa, Sayang?”

Nanda memeluk leher Nadia.

“Bunda masih sayang sama Nanda?”

Hati Nadia terasa diremas.

Ia memeluk anak itu erat-erat.

“Bunda sayang sekali sama Nanda.”

“Enggak marah?”

Nadia menggeleng sambil tersenyum.

“Bunda tidak marah.”

Nanda tersenyum lega.

“Nanda juga sayang Bunda.”

Sebelum Nadia sempat bertanya lebih banyak, mobil jemputan berhenti di depan rumah.

Nanda naik ke mobil, lalu menurunkan kaca jendela.

“Dadah, Bunda! I love you!”

Nadia melambaikan tangan.

“Bunda juga sayang Nanda.”

Mobil itu perlahan menjauh.

Nadia masih berdiri di teras, memandangi jalan yang semakin sepi.

Di tengah begitu banyak luka yang harus ia tanggung, satu hal tetap sama.

Senyum Nanda masih mampu menghangatkan hatinya.

Nadia melangkah masuk ke dalam rumah.

Rumah yang selama tujuh tahun ia rawat dengan sepenuh hati itu kini terasa asing.

Dinding-dindingnya masih sama.

Perabotannya tidak berubah.

Namun entah kenapa, kehangatan yang dulu selalu ia rasakan seolah menghilang begitu saja.

Ponselnya berdering.

Nama Sindi muncul di layar.

Nadia segera masuk ke kamar, menutup pintu, lalu menerima panggilan itu.

“Sayang, bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Sindi. Suaranya terdengar penuh kekhawatiran.

Nadia duduk di tepi ranjang.

“Aku baik-baik saja.”

“Syukurlah.” Sindi terdiam sejenak, lalu bertanya tanpa basa-basi, “Kapan kamu mau mengajukan gugatan cerai?”

Nadia membisu.

Kata cerai masih terdengar asing di telinganya.

Terlalu asing.

Selama ini, keinginannya sederhana.

Ia hanya ingin membangun rumah tangga yang tenang.

Menemani suaminya hingga tua.

Seperti ayah dan ibunya dulu.

“Beb?” panggil Sindi ketika Nadia tak kunjung menjawab.

Nadia menarik napas panjang.

“Sin… aku mau hak asuh Nanda.”

“Nanda? Yang sekolah di TK internasional itu?”

“Iya.”

Di seberang sana, Sindi terdiam beberapa detik.

“Kalau begitu, mulai sekarang jangan keluarkan biaya apa pun lagi untuk Nanda.”

Nadia mengernyit.

“Kenapa?”

“Bebankan semuanya kepada Raka.”

“Kenapa harus begitu?”

Sindi mengembuskan napas.

“Maaf ya Nad sebelumnya.” Ucap Sindi “Nandakan hanya anak adopsi, Aku rasa mereka akan memberikan hak asuh Nanda pada kamu karena Biaya sekolah Nanda yang tinggi, lagian si sampah Raka itu menikah dengan Ratna kan ingin punya anak, aku Rasa nanda juga nanti akan dilupakan”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara serius.

“Aku ingin kamu melihat seberapa besar kesediaan mereka mengurus Nanda jika semua biaya harus mereka tanggung sendiri.”

Nadia terdiam.

Sindi melanjutkan.

“Biaya sekolah Nanda mahal. Belum makanannya, vitaminnya, dan kebutuhan lainnya. Kalau selama ini mereka begitu mudah memanfaatkan perhatianmu, sekarang biarkan mereka membuktikan apakah mereka benar-benar sanggup bertanggung jawab.”

Nadia memejamkan mata.

Dalam benaknya hanya ada satu keinginan.

Bercerai.

Dan membawa Nanda bersamanya.

Namun untuk itu, ia membutuhkan bukti.

Bukti bahwa selama ini justru dirinya yang paling banyak berperan dalam hidup anak itu.

Baik secara emosional maupun finansial.

“Baiklah,” ucap Nadia pelan.

Nada suaranya terdengar mantap.

Mereka lalu berbicara lebih lama.

Sindi menjelaskan langkah-langkah yang harus Nadia lakukan.

Apa saja yang perlu ia catat.

Bukti apa yang harus ia simpan.

Dan bagaimana ia harus bersikap agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Panggilan itu berakhir ketika Sindi mengatakan ia harus kembali bekerja.

Setelah sambungan terputus, Nadia meletakkan ponselnya di atas ranjang.

Ia menatap langit-langit kamar.

Dadanya masih terasa sesak.

Namun untuk pertama kalinya sejak mengetahui pengkhianatan itu, pikirannya sedikit lebih jernih.

Ia mungkin telah kehilangan seorang suami.

Tetapi ia belum kehilangan dirinya sendiri.

Dan demi Nanda, Nadia tahu ia harus tetap kuat

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!