NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ini mengganggu, aku harus tahu!

Ingin mengejar namun coach alias guru Daniel sudah memasuki ruang latihan. Beliau bertepuk tangan beberapa kali, memberi kode pada semua orang yang akan berlatih hari ini.

"Ok gays, sini... Kumpul didepan saya!" Intruksinya sembari menanam tangan dipinggang.

Cakka terpaksa merapat kearah guru tarinya, pun Debo juga mendekat. Namun, tak disamping Cakka.

"Hari ini kita akan menari, jangan malu! Karena tari bagian dari seni yang harus kalian pelajari. Apa hubungannya dengan artis? Apa hubungannya dengan menyanyi? Banyak! Saya tidak perlu menjelaskannya secara detail disini. Tapi, perlu saya ingatkan bahwa pekerjaan kalian akan berhubungan dengan ini. So, kita meregangkan terlebih dahulu tubuh-tubuh kita. Agar tidak kaku dan menjauhi cidera kecil seperti kram, ok?"

"Ok Coach!" Jawab mereka serempak.

Semua anggota mengikuti gerakan coach Daniel. Dari mulai kepala, bahu, tangan, pinggang, sampai ke kaki. Tak sedikitpun mereka melewati gerakan-gerakan itu. Debo, agak sedikit kesulitan ketika memutar gerakan pinggang. Terdengar suara meringis berdesis, menahan sakit yang sepertinya sangat amat menusuk di area itu.

Coach Daniel memperhatikan gerak-gerik Debo, ia menghampirinya untuk membantu menggerakan pinggang. Cakka seharusnya fokus dengan dirinya sendiri. Namun, kepalanya malah memutar seratus delapan puluh derajat ke arah Debo.

"Ok, saya bantu dorong dari belakang ya" ucap Coach Daniel, ia membantu pinggang Debo untuk bisa bergerak seperti yang lain.

Kenapa ya? Masa Debo dapat penyiksaan?

Mata yang semula memperhatikan Debo, kini beralih pada lantai yang Cakka injak.

Pertemuan itu pasti cuma makan malam kan? Tidak ada yang lain. Lagi pula mana mungkin petinggi berani melakukan macam-macam kepada orang lain?! Pastinya Mereka takut nama baik tercemar. Mungkin semalam Debo jatuh.

Menghela nafas, perlahan menatap dirinya dari cermin besar yang bersih.

(***)

Tiga puluh menit, anggota rumah Bv diberi waktu istirahat. Ada yang berbaring sembari mengatur nafas, bermain gadget menyandarkan diri ke cermin, ada yang meminum kopi pesanannya dikursi. Cakka, ia lebih memilih mendekati Debo yang sedang berjalan menuju loker anggota, yang tersimpan dipojok ruang latihan.

"Debo!" Sapanya.

Pun Debo menoleh, tapi hanya sekilas sisanya dia pura-pura sibuk dengan barang-barang yang sudah tertata rapi di dalam loker.

"Kamu cerita sama aku, ada apa? Bukannya kemarin kamu pernah bilang ya, kalau ada apa-apa jangan disimpan sendirian!"

Debo hanya menyunggingkan senyumnya, dengan suara lirih Debo berkata, "Iya."

Cakka menanam tangan dipinggang, ia memperhatikan tubuh sang teman dari atas sampai bawah. Beberapa kali matanya menyensor tubuh kesakitan itu dan yang ia temukan, di area pantat terdapat noda merah yang begitu besar.

Kening Cakka mengernyit, batinnya bergejolak.

Merah? Kenapa? Bisul? Tapi bisul kok berdarah? Atau luka kering yang tercabut?

Itu mengganggu pikiran Cakka, merasa ini tidak bisa dibiarkan dan takutnya malah menjadi bahan gunjingan orang-orang. Cakka menepuk bahu Debo.

"Pantat kamu merah, kenapa? Kamu bisulan?" Tanya Cakka polos.

Terlihat pundak Debo sedikit tersentak, ia memegang area bokongnya. Wajahnya nampak sekali terlihat cemas.

"Bagian mana? Kiri atau kanan?!"

Cakka menggaruk kepalanya yang tak gatal, perlahan jari telunjuknya menunjuk pantat Debo.

"Itu.... Ditengah" ucapnya.

Dalam hitungan detik tangan Debo langsung sibuk mencari celana ganti dan benda yang lain di dalam lokernya.

Srak!

Srak!

Srak!

Celana sudah ditemukan, tapi masih ada satu lagi yang dicarinya.

"Kamu cari apa sih? Aku bantu ya!" Tawar Cakka.

Namun Debo tidak menggubris perkataan Cakka, dia masih sibuk mencarinya di dalam loker. Tak mau diam saja akhirnya Cakka membantu tanpa persetujuan Debo.

Cakka berlutut, mencari benda yang tersimpan di loker bagian bawah. Beberapa barang ditanyakannya.

"Kamu cari ini?" Sebuah celana dalam diacungkan, namun hanya gelengan kepala yang didapatkan.

"Yang ini?" Tisu, Cakka perlihatkan dan tetap bukan itu yang Debo cari.

Grusuk!

Grusuk!

Lengan Cakka dan Debo heboh sekali di dalam loker, hingga sesuatu menghentikan pencarian Cakka. Sebuah plastik berwarna ungu bergambar pembalut, berhasil dipegang oleh tangan Cakka. Seketika tangannya langsung diam, pun dia berpikir... Kok bisa Debo memiliki barang ini? Ini benar miliknya kah?.

Di tengah lamunan Cakka, mata Debo berhasil melihat sesuatu yang dicarinya. Ya! Pembalut. Itu yang Debo cari. Tanpa berkata sepatah kata pun, Debo langsung menyambar plastik ungu yang dipegang Cakka.

Ia berlari, tubuh yang tadi meringis sakit seketika berubah menjadi cepat tanpa rasa yang diperlihatkannya ketika latihan.

"Pembalut..." Gumam Cakka sembari menatap kepergian Debo hingga lenyap.

Alvin, rupanya memperhatikan mereka berdua. Ia menghampiri Cakka lalu merangkulnya.

"Kenapa dia? Kayak orang kesetanan, bukannya tadi pinggangnya sakit ya?"

Cakka menggelengkan kepala, perlahan menengok ke wajah Alvin berganti ke pundak yang dirangkulnya. Bibir cemberut, seketika ia langsung menghempaskan tangan Alvin dari pundak.

"Gak usah sok akrab, tadi pagi matamu judes banget!" Ucap Cakka, langkahnya meninggalkan Alvin. Kembali ke tengah untuk mempersiapkan diri berlatih tari.

Sementara itu....

Ditoilet, Debo menangis. Ia menutup bibirnya dengan kedua tangan yang masih memegang pembalut. Wajahnya merah, rambutnya bergetar pun air mata berlinang dipipinya. Sebuah penyesalan dan trauma yang datang menghampirinya dari malam kemarin hingga saat ini. Membuatnya tersadar bahwa, dunia entertain sangat jahat.

(***)

Pukul 04.00 sore, ini waktunya mereka berlatih bernyanyi. Semua berjajar, mengumandangkan nada dasar sesuai not pada piano. Untuk saat ini suara mereka masih fals, bahkan mengucap kata Do saja, masih terdengar jelek ditelinga guru Chiki.

Tak apa! Itu masih ditoleransi, yang paling penting dari latihan yang terjalin sejak tadi pagi hingga sekarang, ketekunan adalah hal yang diutamakan dan patut mendapat apresiasi dari guru yang pertama kali mengajar mereka.

Satu persatu jenis suara dari anggota rumah Bv sudah ditemukan, Cakka. Suaranya masuk ke Alto. Rendah, bulat, dan berkarakter. Ia mendapatkan nilai A+ dari guru Chiki.

"Haduh!!! Sudah tampan, suara alto merdu, udahlah kamu paket komplit!" Puji guru Chiki didepan semua orang.

Yang iri dengki, hanya bisa memutar bola matanya, memangku kedua lengan dan mencibir didalam hati. Siapa lagi kalau bukan Obit?. Ia tak suka, Cakka menjadi pusat perhatian, apalagi setelah tadi pagi dirinya tak dihargai, rencananya akan memberi pelajaran pada Cakka mulai terancang diotak.

Awas kamu!.

Guru Chiki mengomentari semua perkembangan latihan menyanyi anggota rumah Bv di hari pertama, dan lagi-lagi komentar dari Bu Chiki untuk Debo. Cakka perhatikan.

"Aku mengerti, diusahakan Minggu depan suara kamu harus stabil ya. Jangan banyak getarnya! Masa mau sedih terus?"

Yang Debo lakukan hanyalah mengangguk, menelan ludahnya sendiri. Cakka, melihat gerak gerik jari Debo. Diremas, dikepal, ditekan satu persatu sendinya menggunakan jari yang lain. Merasa risih, penasaran, dan gelisah dibuatnya.

Ini mengganggu, aku harus tahu!.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!