Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Sang Raja yang Hilang
Perjalanan pulang dari Teluk Hantu terasa lebih berat dari sebelumnya.
Nana tidak banyak bicata. Ia berenang di depan rombongan, matanya lurus ke depan, pikirannya melayang ke ayahnya yang terperangkap di ruang kosong itu.
Sepuluh tahun. Sendirian. Tanpa siapa pun.
Jeno berenang di sampingnya, sesekali menatap Nana dengan khawatir. Ia ingin bertanya, ingin menghibur, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Theron dan Zara mengikuti di belakang, menjaga jarak.
"Dia baik-baik saja?" bisik Theron pada Zara.
"Tidak," jawab Zara jujur. "Tapi dia akan baik-baik saja. Dia ratu."
"Ratu juga manusia."
"Dia Siren."
"Sama saja."
Malam harinya, mereka berhenti di sebuah gua karang untuk beristirahat.
Nana duduk di sudut gua, memeluk lututnya, menatap gelapnya air di luar. Jeno duduk di sampingnya — tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
"Kau mau bicara?" tanya Jeno.
"Tidak."
"Aku di sini kalau kau mau."
"Aku tahu."
Diam.
"Dia sendirian, Jeno," bisik Nana akhirnya. Suaranya pecah. "Sepuluh tahun. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang menyentuh. Tidak ada yang..."
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Jeno meraih tangannya. "Kita akan mencari cara. Aku janji."
"Bagaimana caranya? Dewi Laut sendiri bilang satu-satunya cara adalah aku mengambil tempatnya."
"Mungkin ada cara lain. Mungkin kita tidak bertanya pada Dewi Laut yang tepat."
Nana menatap Jeno. "Apa maksudmu?"
"Dewi Laut yang kita temui di Teluk Hantu... itu bukan Dewi Laut yang sesungguhnya."
"Apa?"
"Dewi Laut tidak akan memintamu memilih antara ayahmu dan kerajaanmu. Dewi Laut itu... palsu. Atau mungkin hanya ilusi dari Teluk Hantu."
Nana terdiam.
"Kau yakin?"
"Tidak. Tapi aku yakin kita tidak boleh menyerah hanya karena satu ilusi."
Jeno menggenggam tangan Nana lebih erat.
"Kita akan cari jawaban. Di perpustakaan Aequoria. Di kerajaan lain. Di mana pun. Sampai kita menemukan cara untuk membebaskan ayahmu."
Nana menatap mata Jeno. Biru pucat itu — tenang, pasti, pulang.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya. "Ayahku bukan siapa-siapa bagimu."
"Dia ayahmu," jawab Jeno. "Itu cukup."
Mereka tiba di Aequoria keesokan harinya.
Lira menyambut mereka di gerbang kota dengan wajah panik.
"Yang Mulia, kau harus lihat ini!"
Lira membawa mereka ke ruang singgasana. Di atas meja, setumpuk surat — semuanya dari Kael.
Nana membaca surat teratas.
"Ratu Nanara,
Kau pergi tanpa pamit. Aku kecewa. Aku mengirim pasukan ke perbatasan Aequoria. Bukan untuk menyerang — setidaknya belum.
Kau punya waktu tiga hari. Bukan seminggu lagi. Tiga hari.
Pangeran Kael
Kerajaan Aquilae"
Nana meletakkan surat itu. Tangannya tidak gemetar.
"Dia mempersingkat waktu," katanya.
"Kita harus bersiap," kata Jeno. "Theron, kau siap?"
Theron mengangguk. "Aku sudah menghubungi beberapa pendukung ayahku yang masih setia. Mereka akan membantu dari dalam."
"Bagus."
Nana berdiri. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — tidak takut, tapi siap.
"Kita akan hadapi Kael," katanya. "Bukan dengan perang. Tapi dengan diplomasi."
"Diplomasi?" Jeno mengernyit. "Dengan orang seperti dia?"
"Theron akan mengklaim takhta. Kael tidak punya hak memerintah jika ada saudara tiri yang lebih tua. Kita akan gunakan hukum kerajaan Utara untuk melawannya."
Theron mengangguk. "Aku tahu hukumnya. Aku bisa membantumu."
"Tapi Kael tidak akan menyerah begitu saja," kata Zara.
"Aku tahu," jawab Nana. "Itu sebabnya kita juga siap berperang."
Dua hari kemudian, Kael datang sendiri.
Tanpa pasukan. Tanpa pengawal. Hanya dia — dan senyumnya yang dingin.
"Ratu Nanara," sapa Kael sambil membungkuk. "Kau memanggilku?"
"Aku punya tawaran," kata Nana.
"Tawaran?"
"Theron."
Pangeran Theron melangkah maju dari balik tirai.
Wajah Kael berubah pucat — sepucat yang bisa dilakukan Siren.
"Kau... kau tidak mungkin..."
"Halo, adikku," kata Theron. Suaranya tenang, tapi matanya tajam. "Sudah lama tidak bertemu."
Kael mundur selangkah. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku."
"Kau tidak punya hak! Kau anak tidak sah—"
"Aku anak tertua," potong Theron. "Menurut hukum kerajaan Utara, anak tertua — sah atau tidak — berhak atas takhta jika tidak ada anak sah lainnya. Tapi kau lupa, Kael... kau juga anak tidak sah."
Kael membeku.
"Apa?"
"Ibu kita... ibumu... dia bukan istri sah Raja Aldric. Ayah menikahinya setelah kau lahir. Tapi secara hukum, pernikahan itu tidak sah karena ibu pertama — ibuku — masih hidup saat itu."
"Kau bohong!"
"Aku tidak bohong. Ayah mengakuinya sebelum aku diasingkan. Aku punya suratnya. Tanda tangannya. Cap kerajaannya."
Theron mengeluarkan gulungan dari balik sisiknya.
Kael meraihnya, membaca, dan wajahnya hancur.
"Tidak... tidak mungkin..."
"Maaf, Kael," kata Theron. "Kau bukan pewaris sah. Aku yang berhak atas takhta."