NovelToon NovelToon
Penawar Luka Aira

Penawar Luka Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."

***

Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cocok Jadi Menantu

Sekitar lima belas hingga dua puluh menit kemudian, mobil hitam milik keluarga Malik memasuki area parkir rumah sakit.

Azzam turun lebih dulu, diikuti oleh Abi Athar.

Pandangan mereka langsung mencari satu sosok.

Dan di sana… Arsyila berdiri menunggu.

“Maaf, sayang… lama ya?” ucap Athar lembut begitu mendekat.

Arsyila menoleh, lalu memasang wajah sedikit cemberut. “Nggak,” jawabnya singkat.

Azzam yang berdiri di samping hanya bisa menghela napas kecil. “Gak salah lagi…” celetuknya pelan.

“Zam…” Athar langsung memicing tajam ke arah putranya.

Azzam langsung mengangkat kedua tangan.

“Hehehe… maaf, Uma. Tadi aku sama Abi salat zuhur dulu. Kami ngejar jamaah.”

Wajah Arsyila perlahan melunak. “Iya, nggak apa-apa. Uma juga bercanda kok.”

Athar tersenyum lega. “Gimana keadaan Dania?” tanya Athar kemudian. “Aku sama Azzam jenguk dulu ya?”

Arsyila menggeleng pelan. “Nggak perlu kayaknya, Bang. Dia tadi mau istirahat pas aku pulang. Keadaannya juga sudah membaik. Kata dokter gak terlalu parah, cuma pusing karena jatuh.”

“Alhamdulillah…” gumam Athar. “Kalau sahabatnya istri abang baik-baik saja, Abi juga tenang.”

Arsyila tersenyum kecil. “Ya sudah, yuk pulang. Aku udah cape nunggu kalian."

"Iya maaf ya sayang." Athar menggandeng tangan istrinya.

Mereka bertiga berjalan menuju mobil.

Azzam sudah membuka pintu depan, lalu menoleh ke belakang ketika abinya memanggil.

“Zam, kamu di depan sendiri. Uma sama Abi di belakang,” ucap Athar santai.

Azzam langsung mendesah dramatis.

“Ya… seperti biasa,” gumamnya. “Aku jadi nyamuk di antara orang tua sendiri.”

Uma Arsyila terkekeh kecil. “Makanya cepat nikah.”

Azzam langsung menoleh. “Lagi… lagi ke situ.”

Athar ikut tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil. “Biar gak jadi nyamuk terus,” tambahnya ringan.

Azzam menggeleng sambil masuk ke kursi depan.

Mobil pun melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit.

***

Di kursi belakang, Athar yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba menyadari sesuatu.

“Sayang…” panggilnya pelan.

Arsyila menoleh. “Iya, Bang?”

Athar menunjuk ke arah kaki istrinya. “Kayaknya itu bukan sandal kamu deh. Apa kamu baru beli?”

Seketika Arsyila tersenyum, mengingat kejadian beberapa menit lalu di masjid. “Ini memang bukan sandal aku,” jawabnya lembut.

Athar mengernyit. “Lalu sendal siapa?"

"Sendal orang."

Athar mengernyit. "Kenapa bisa?"

“Tadi sandal aku hilang. Aku juga gak tau ke mana,” jelas Arsyila. “Terus ada gadis baik hati… dia bantu nyariin. Tapi karena gak ketemu… dia malah relain sandalnya buat aku pakai.”

Athar terdiam sejenak.

Lalu Azzam menyahut. “Dia jadi nyeker gitu, Uma?” tanyanya memastikan.

Arsyila mengangguk pelan. “Iya… duh, Uma jadi gak enak. Semoga suatu saat Uma bisa ketemu lagi sama dia.”

Athar tersenyum kagum. “Masya Allah… masih ada orang sebaik itu. Kalau Abi ketemu, Abi pasti mau berterima kasih langsung.”

“Iya, Bang. Harus.”

“Harus itu…” Athar menatap istrinya dengan lembut. “Karena dia tidak membiarkan bidadari Abi sakit kakinya.”

“Ya Allah…” Arsyila langsung menepuk lengan suaminya pelan. “Abi ini… gombal terus.”

Athar terkekeh.

Sementara Arsyila ikut tertawa kecil.

Meski usia pernikahan mereka sudah puluhan tahun… sikap manis itu tak pernah berubah.

“Eh iya, Bi…” lanjut Azzam menimpali, kali ini dengan nada santai tapi penuh makna, “dia juga tidak membiarkan surga Azzam kotor dan terluka.”

Seketika Arsyila terdiam.

Pipi wanita itu merona.

Ia tersenyum malu, salah tingkah dengan ucapan suami dan putranya.

Di kursi depan, Azzam terkekeh kecil karna bukan hanya Abinya saja yang bisa menggombali Umanya, ia juga bisa.

“Eh iya…” lanjut Arsyila lagi, kini melirik ke arah depan. “Gadis itu cantik loh, Zam.”

Azzam sedikit melirik melalui kaca spion. “Lalu?” jawabnya singkat.

“Yaa… cocok aja.”

“Cocok apa?” tanya Athar penasaran.

Arsyila tersenyum lebar. “Cocok jadi mantu kita, Bang.”

“Uhuk! Uhuk!” Azzam langsung terbatuk. “Mulai deh, Uma…” keluhnya.

Arsyila terkekeh. “Hehehe… ya kenapa sih, Zam? Namanya juga doa.” Ia kembali bersandar santai. “Ah pokoknya, gadis itu beneran cantik… dan baik hati.”

Athar mengangguk setuju. “Kamu gak nanya namanya siapa? Atau alamatnya?”

Arsyila menggeleng. “Alamat sih gak… tapi aku nanya namanya.”

Azzam yang awalnya terlihat santai, kini mulai fokus.

Entah kenapa—Ada rasa yang tiba-tiba muncul.

“Namanya…” lanjut Arsyila pelan,

“Aira.”

Deg!

Jantung Azzam seakan berhenti sesaat.

Tangannya yang memegang setir sedikit menegang.

Nama itu…Lagi.

Aira.

Pikirannya langsung melesat ke beberapa momen—Gadis di depan gerbang semalam. Suara lembut di balik masker. Dan mata yang terasa begitu familiar.

Azzam menelan ludah. Apa mungkin…?

Ia mencoba tetap tenang.

Namun dalam hatinya—Ada sesuatu yang mulai tersusun.

Satu benang merah yang menghubungkan semua pertemuan itu.

Dan kini—Semakin jelas.

Azzam menatap jalan di depannya.

Namun pikirannya jauh ke mana-mana.

Kalau memang ini orang yang sama… Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Berarti… ini bukan kebetulan.

***

Langit sudah gelap saat waktu isya tiba.

Bi Lastri akhirnya datang ke rumah sakit dengan napas sedikit tersengal. Di tangannya ada kantong plastik berisi makanan.

“Aira…” panggilnya lembut.

Aira yang sedang duduk langsung berdiri dan menghampiri.

“Bibi… capek ya?” tanyanya sambil membantu mengambil bawaan.

Bi Lastri tersenyum tipis. “Capek dikit gapapa, yang penting kalian sudah makan.”

Ia melirik ke arah ranjang.

Mang Arif sudah terbangun, meski masih lemah.

Mereka pun akhirnya makan bersama.

Sederhana—nasi bungkus dengan lauk seadanya.

Namun suasana itu terasa hangat.

Aira sesekali menyuapi Mang Arif, sementara Bi Lastri memperhatikan dengan mata penuh kasih.

Kebersamaan kecil itu… terasa seperti nikmat yang besar.

“Alhamdulillah…” gumam Bi Lastri setelah selesai makan.

Aira tersenyum.

Tak lama, Bi Lastri menatap Aira. “Kamu pulang saja ya, Nak. Istirahat di rumah biar lebih nyaman.”

Aira sempat ragu. “Nggak apa-apa, Bi. Aira temenin aja—”

“Enggak,” potong Bi Lastri lembut. “Dari pagi kamu sudah di sini. Kamu juga butuh istirahat.”

Mang Arif ikut mengangguk. “Iya, Ra… pulang saja.”

Aira akhirnya mengalah. “Iya… Aira pulang.”

Ia pun berdiri, bersiap keluar.

Namun baru beberapa langkah—Bi Lastri mengernyit.

“Aira…”

Aira menoleh. “Iya, Bi?”

“Itu… kaki kamu kenapagak pakai sandal?”

Aira langsung terdiam sejenak.

Baru ia sadar—Ia memang pulang tanpa alas kaki sejak dari masjid.

Bi Lastri mendekat, wajahnya penuh khawatir. “Kok bisa begitu, Nak?”

Aira tersenyum kecil, lalu mulai bercerita. “Tadi di masjid… ada tante yang sandalnya hilang. Aira bantu cari, tapi gak ketemu. Jadi… Aira kasih sandal Aira ke beliau.”

Bi Lastri terdiam.

Matanya langsung berkaca-kaca. “Ya Allah… Aira…” ucapnya lirih.

Aira hanya tersenyum santai. “Gapapa kok, Bi. Aira sudah biasa.”

Namun Bi Lastri menggeleng pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung melepas sandalnya sendiri.

Lalu menaruhnya di depan Aira.

“Pakai ini,” ucapnya tegas namun lembut.

Aira langsung terkejut. “Eh, Bi… nggak usah. Nanti Bibi gimana?”

“Bibi di sini saja, Nak. Nggak ke mana-mana,” jawabnya. “Kamu yang harus jalan pulang.”

Aira masih ragu. “Tapi—”

“Sudah,” potong Bi Lastri. “Bibi gak mau kamu sakit.”

Suasana hening sejenak. Aira menatap sandal itu. Lalu menatap wajah Bi Lastri.

Hatinya hangat… sekaligus terharu.

Tanpa berkata banyak, ia akhirnya memakai sandal tersebut.

“Terima kasih, Bi…” ucapnya pelan.

Bi Lastri tersenyum. “Hati-hati di jalan.”

Aira mengangguk. “Iya, Bi.”

Ia mendekat ke ranjang, menatap Mang Arif. “Aira pulang dulu ya, Mang. Besok Aira ke sini lagi.”

Mang Arif tersenyum lemah. “Iya… hati-hati.”

Aira mengangguk.

Lalu melangkah keluar dari ruangan.

Di lorong rumah sakit, langkah Aira terasa lebih ringan.

Bukan karena sandalnya.

Tapi karena hatinya.

Ia menunduk sedikit, menatap sandal yang kini ia pakai.

"Bibi emang gak pernah mau bikin aku sakit. Aku bukan anaknya tapi pengorbanannya seperti untuk seorang anaknya."

Aira tersenyum. "Setidaknya aku bersyukur punya mereka di kehidupanku."

Dan tanpa ia sadari—Kebaikan yang ia lakukan hari ini…

Sedang membawa dirinya… semakin dekat pada takdir yang telah menunggunya.

1
Shabrina Darsih
pasti kenasl Arsyla smnmama nya aira
Syti Sarah
kn mma nya Aira itu shbat umma arsyila wktu masih di jkarta kn ya
Fegajon: betul. sahabat arsyila waktu sekolah sebelum mondok
total 1 replies
syora
apa kalau nggak slh sahabat umma arsyila waktu skolah si desi desi itu kah
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Fegajon: iya betul babget😭
total 1 replies
Anak manis
seru, bagus, lucu
anakkeren
inget thor
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semoga cepat terungkap kebenaran nya gak ada drama tes dna ditukar kayak di dracin
Syti Sarah
ayo zam,semangat untuk membuktikan smua nya
Shabrina Darsih
bagus Azam bujtiin air anak nya alfrand sebel bangt kihta yesi sm jesika
Shabrina Darsih
wkwkwkwkwk malu dah jesica bukan fia yg d lamar
Syti Sarah
aduh,ksian bnget ya yg udh trllu tinggi brmimpi 🤭🤭
Ayu Oktaviana
kasihan kamu jes.. sudah dandan cantik cetar membahana mlh yang dilamar aira ank kandung pak alfand😂😂
anakkeren
lope buat authornya 😘
anakkeren
sukurin lu jes😡
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasihan deh kamu jes. kamu kan bukan anaknya pak alfand
just a grandma
ceritanya Azzam lebih berat ya daripada adiknya tapi tetep suka 😍
cutegirl
dr cerita cila, trus azzua dan sekarng Azzam aku suka. semangat tes Thor🥰🥰
Syti Sarah
ayo dong Aira,lihat prjuangan Azzam untuk kamu
Syti Sarah
lnjut lgi thor.ayo dong Thor cpetan buat Aira bisa nrima Azzam spnuh nya 😊
anakkeren
baper😭
just a grandma
lnjut Thor. bikin tiga bab dong😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!