Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARUHAN KECIL PENUH MAKNA
Sinar matahari pagi yang menyelinap melalui celah gorden kamar Salsa Kirana terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Seolah-olah alam semesta sedang ikut merayakan suasana hatinya yang tidak bisa didefinisikan hanya dengan rumus logika. Salsa terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi, sebuah kejadian langka bagi seorang siswi yang biasanya baru benar-benar sadar setelah membasuh muka dengan air dingin. Ia berbaring sejenak, menatap langit-langit kamar sambil memutar kembali memori kemarin sore. Suara hujan, aroma aspal yang basah, dan hangatnya punggung Arkananta yang ia peluk erat sepanjang jalan pulang masih terasa begitu nyata.
Salsa menyentuh pipinya sendiri yang mendadak terasa panas. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang dulu hanya berisi jadwal belajar ketat dan ambisi menjadi peringkat satu, kini harus berbagi ruang dengan sosok cowok tengil bernama Arkan. Cowok yang dulu ia anggap sebagai gangguan paling menyebalkan dalam sejarah hidupnya, kini malah menjadi alasan utama mengapa ia tersenyum di pagi buta seperti ini. Salsa beranjak dari tempat tidur, bergerak menuju cermin besar di sudut kamar. Ia mengamati pantulan dirinya. Ada yang berbeda. Matanya tampak lebih berbinar, dan senyum yang terukir di bibirnya terasa lebih tulus, bukan lagi senyum kompetitif yang biasa ia tunjukkan saat melihat papan pengumuman nilai.
Salsa menghabiskan waktu sedikit lebih lama di depan cermin. Ia merapikan seragamnya dengan sangat teliti, memastikan tidak ada lipatan yang mengganggu. Ia bahkan menyempatkan diri memakai sedikit parfum dengan aroma vanilla yang lembut, sesuatu yang biasanya hanya ia lakukan saat acara keluarga. Saat ia turun ke lantai bawah, aroma nasi goreng buatan ibunya sudah memenuhi ruangan. Bu Ratna yang sedang menata piring di meja makan langsung menoleh dengan tatapan menyelidik yang dihiasi senyum tipis.
"Wah, anak Mama sudah siap sepagi ini. Wangi lagi. Ada motivasi baru ya buat ke sekolah?" tanya Bu Ratna sambil meletakkan segelas susu di dekat piring Salsa.
Salsa berusaha bersikap tenang, meskipun ia tahu ibunya bukan orang yang mudah dikelabui. "Kan biar semangat belajar, Ma. Apalagi hari ini ada kuis fisika yang cukup berat."
Bu Ratna tertawa kecil, suara tawanya terdengar penuh pengertian. "Fisika atau cowok motor sport yang kemarin? Mama perhatikan sejak kenal dia, kamu jadi lebih sering senyum sendiri. Tapi ingat pesan Mama kemarin ya, jangan sampai nilai kamu turun gara-gara terlalu asyik pacaran."
"Nggak akan, Ma. Justru Arkan itu yang bikin aku makin kompetitif. Kita berdua kan rival," jawab Salsa sambil mulai menyantap sarapannya.
"Rival yang saling sayang itu namanya," goda Bu Ratna lagi.
Belum sempat Salsa membalas godaan ibunya, suara knalpot motor sport yang sangat ia kenal terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Jantung Salsa berdegup dua kali lebih cepat. Ia segera menghabiskan susunya, menyambar tas sekolah, dan berpamitan pada ibunya dengan terburu-buru. Saat ia membuka pintu depan, Arkan sudah berdiri di sana. Cowok itu tidak turun dari motornya, hanya membuka kaca helm dan menunjukkan senyum miring yang selalu berhasil membuat Salsa salah tingkah.
"Pagi, Si Paling Ambis. Siap buat dapet nilai seratus hari ini?" sapa Arkan.
Salsa berjalan mendekat, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar terengah-engah. "Pagi juga, Si Paling Narsis. Jangan cuma nanya gue, lo sendiri belajar nggak semalem? Atau jangan-jangan cuma dengerin lagu galau sambil bayangin gue?"
Arkan tertawa lepas, suara tawanya terdengar sangat merdu di telinga Salsa. Ia memberikan helm cadangan kepada Salsa dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa. "Dikit sih. Tapi tenang aja, otak gue punya memori khusus buat rumus fisika sama buat muka cantik lo. Jadi amanlah."
Salsa mendengus, namun ia tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia naik ke boncengan motor Arkan, dan tanpa diminta lagi, tangannya melingkar secara alami di pinggang cowok itu. Arkan sempat terdiam sejenak, tampaknya ia juga masih sedikit terkejut dengan inisiatif Salsa yang semakin berani. Ia mengusap punggung tangan Salsa yang ada di perutnya sebelum akhirnya menarik gas motor dengan perlahan.
Perjalanan menuju SMA Garuda pagi itu terasa sangat singkat. Di sepanjang jalan, mereka tidak banyak bicara, namun keheningan itu terasa sangat nyaman. Salsa menyandarkan dagunya di bahu Arkan, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Ia merasa seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua, sementara orang lain yang berlalu lalang di jalanan hanyalah latar belakang yang memudar.
Sesampainya di sekolah, suasana ramai seperti biasa. Namun, ada yang berbeda dengan cara orang-orang menatap mereka. Tidak ada lagi bisik-bisik penuh kebencian dari penggemar Arkan, setidaknya tidak secara terang-terangan setelah kejadian di kantin kemarin. Sebagian besar siswa kini menatap mereka dengan rasa kagum atau sekadar penasaran bagaimana dua orang yang dulunya adalah musuh bebuyutan bisa berubah menjadi pasangan yang begitu serasi.
Saat berjalan di koridor menuju kelas, Arkan tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Salsa. Hal ini membuat Salsa merasa sangat dilindungi. Mereka berpapasan dengan Dira di depan kelas XI IPA 1. Dira langsung bersedekap, menatap mereka berdua dengan mata yang disipitkan.
"Oke, oke. Gue tahu kalian sudah resmi, tapi tolong ya, hargai kaum jomblo yang sedang berusaha bertahan hidup di sekolah ini," protes Dira, meski nada suaranya terdengar bercanda.
Arkan terkekeh. "Makanya Dir, cari satu. Mau gue kenalin sama anak-anak basket? Ada tuh yang lagi nyari gebetan yang bawelnya kayak lo."
"Dih, ogah! Gue mau yang kalem, nggak kayak lo yang kerjanya ngerjain Salsa terus," balas Dira sambil menarik tangan Salsa masuk ke kelas. "Ayo Sa, masuk. Jangan lama-lama sama virus ini, nanti otak encer lo ketularan jadi males."
Salsa hanya bisa tertawa melihat interaksi sahabatnya dengan pacarnya itu. Ia menoleh sebentar ke arah Arkan sebelum masuk ke kelas. "Nanti istirahat di perpustakaan ya, Kan. Gue mau bahas soal yang kemarin belum selesai."
Arkan memberikan tanda oke dengan jarinya. "Siap, Tuan Putri."
Pelajaran pertama dimulai dengan kuis fisika dari Pak Baskoro. Suasana kelas mendadak tegang. Pak Baskoro adalah guru yang tidak kenal ampun jika menyangkut nilai. Soal-soal yang diberikan selalu setingkat lebih sulit dari yang ada di buku paket. Salsa fokus sepenuhnya pada kertas di depannya. Ia mencoret-coret kertas buram dengan cepat, menghitung gaya gesek dan energi kinetik dengan ketelitian tinggi. Sesekali ia melirik ke arah Arkan yang duduk beberapa meja di sampingnya. Cowok itu tampak sangat santai, bahkan sesekali ia memutar-mutar pulpen di jarinya sambil menatap langit-langit, seolah sedang mencari jawaban di sana.
Salsa menggelengkan kepala. Bagaimana bisa ada orang sesantai itu di tengah ujian yang mematikan? Namun, ia tahu betul bahwa di balik sikap santainya, Arkan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Itulah yang membuat Salsa selalu merasa tertantang.
Setelah kuis berakhir, jam istirahat pun tiba. Sesuai janji, mereka bertemu di perpustakaan. Suasana perpustakaan SMA Garuda yang tenang dan beraroma kertas tua selalu menjadi tempat favorit Salsa. Mereka memilih meja di sudut yang paling pojok, jauh dari jangkauan siswa lain yang biasanya hanya datang untuk menumpang tidur atau sekadar mencari wifi gratis.
"Gimana tadi kuisnya? Susah?" tanya Arkan sambil meletakkan buku fisika tebal di atas meja.
Salsa menghela napas panjang. "Soal nomor lima itu bener-bener menjebak. Gue hampir aja salah masukin variabel. Kalau lo?"
Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap Salsa dengan tatapan menggoda. "Gampang sih. Gue cuma butuh waktu lima belas menit buat nyelesain semuanya. Sisanya gue pake buat merhatiin lo dari jauh yang lagi serius banget sampe dahi lo berkerut-kerut gitu."
"Boong banget lo! Mana mungkin lima belas menit!" protes Salsa dengan suara pelan agar tidak ditegur petugas perpustakaan.
"Serius. Mau taruhan?" tantang Arkan.
Salsa menaikkan sebelah alisnya. Jiwa kompetitifnya kembali terpancing. "Taruhan apa?"
"Kalau nilai kuis gue lebih tinggi dari lo, lo harus temenin gue nonton film horor Sabtu malem nanti. Tanpa protes, tanpa alasan belajar," ucap Arkan dengan nada penuh percaya diri.
"Oke. Tapi kalau nilai gue yang lebih tinggi, lo harus jadi asisten belajar gue selama satu minggu penuh. Lo harus ngerjain rangkuman materi biologi buat gue," balas Salsa tidak mau kalah.
Arkan menjulurkan tangannya, mengajak bersalaman sebagai tanda kesepakatan. "Deal. Siap-siap aja lo teriak-teriak di bioskop nanti."
"Dih, PD banget! Liat aja nanti siapa yang bakal ngeringkas materi sistem saraf!" Salsa membalas genggaman tangan Arkan. Namun, alih-alih melepaskan tangan Salsa setelah bersalaman, Arkan malah menggenggamnya lebih erat, menatap mata Salsa dengan sangat dalam.
"Sa," panggil Arkan lembut.
"Apa?"
"Makasih ya."
Salsa mengerutkan kening. "Buat apa?"
"Buat semuanya. Buat kesempatan ini. Gue tahu gue bukan cowok yang paling bener di sekolah ini. Gue sering bikin masalah, sering bolos, dan sering bikin lo kesel. Tapi sejak ada lo, gue ngerasa punya alasan buat jadi lebih baik. Gue nggak mau lo malu punya pacar kayak gue."
Salsa terdiam. Kata-kata Arkan barusan terasa begitu tulus dan menyentuh bagian terdalam di hatinya. Ia tidak menyangka bahwa cowok sekuat Arkan bisa bersikap serapuh dan sejujur itu di depannya. Salsa membalas genggaman tangan Arkan, memberikan remasan kecil yang menenangkan.
"Gue nggak pernah malu, Kan. Gue justru bangga. Lo punya cara sendiri buat pinter, lo punya cara sendiri buat peduli. Lo itu unik, dan itu yang bikin gue... ya, suka sama lo." Salsa mengucapkannya dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan.
Arkan tersenyum lebar, kali ini bukan senyum tengil, melainkan senyum penuh kebahagiaan. "Gue beruntung banget ya punya rival yang paling sayang kayak lo."
Mereka menghabiskan sisa waktu istirahat dengan belajar bersama. Arkan membantu Salsa memahami konsep relativitas yang selama ini ia anggap rumit, sementara Salsa membantu Arkan merapikan catatan kimianya yang berantakan. Di antara tumpukan buku dan rumus-rumus yang memusingkan, ada getaran cinta yang terus mengalir di antara mereka.
Saat bel masuk berbunyi, mereka berjalan kembali ke kelas dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Hari itu berlalu dengan cepat. Setiap kali mereka berpapasan di koridor saat pergantian jam pelajaran, Arkan selalu menyempatkan diri untuk mengedipkan mata atau sekadar memberikan semangat lewat gerakan bibir tanpa suara. Hal-hal kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hari Salsa terasa sempurna.
Sore harinya, saat pengumuman nilai kuis fisika ditempel di papan pengumuman kelas, suasana mendadak riuh. Semua siswa berebut untuk melihat hasil kerja keras mereka. Salsa dan Arkan berdiri di barisan paling belakang, membiarkan teman-temannya yang lain selesai lebih dulu.
"Gimana? Berani liat?" tanya Arkan sambil menyenggol bahu Salsa.
"Siapa takut? Ayo!"
Mereka berdua berjalan mendekati papan pengumuman. Mata Salsa menyisir daftar nama dari urutan teratas.
1. Arkananta Putra - 100
2. Salsa Kirana - 99
Salsa terpaku. Ia menatap angka 99 itu dengan perasaan tidak percaya. Hanya selisih satu poin! Ia memeriksa kembali di mana letak kesalahannya, dan ternyata ia memang melakukan kesalahan kecil pada pembulatan angka di soal terakhir. Sementara itu, Arkan benar-benar mendapatkan nilai sempurna.
"Yesss! Horor, here we come!" seru Arkan sambil melakukan gerakan kemenangan kecil.
Salsa menghela napas, berpura-pura kesal meski sebenarnya ia merasa kagum. "Cuma beda satu poin ya! Itu pasti keberuntungan doang."
"Keberuntungan itu bagian dari takdir, Sa. Dan takdir bilang, kita harus kencan di bioskop hari Sabtu nanti," goda Arkan sambil merangkul bahu Salsa dengan santai.
Salsa tidak bisa menahan tawanya lagi. "Ya udah, iya. Gue kalah. Tapi jangan harap gue bakal meluk lo pas ada adegan serem ya!"
"Kita liat aja nanti. Biasanya sih yang ngomong gitu yang paling kenceng meluknya," balas Arkan sambil mengacak rambut Salsa dengan gemas.
Mereka berjalan menuju parkiran saat sekolah sudah mulai sepi. Matahari sore yang berwarna jingga menyiram seluruh area SMA Garuda, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti langkah mereka. Saat mereka sampai di motor Arkan, cowok itu tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Salsa.
"Sa, meskipun gue menang taruhan, gue bakal tetep bantuin lo ngerangkum materi biologi kok," ucap Arkan tiba-tiba.
Salsa tertegun. "Lho, kan lo yang menang? Kenapa tetep mau bantuin?"
Arkan memasangkan helm ke kepala Salsa dengan sangat lembut. "Karena buat gue, hubungan kita itu bukan lagi soal siapa yang lebih pinter atau siapa yang menang taruhan. Hubungan kita itu soal saling melengkapi. Kalau lo capek, gue ada di sini buat bantu. Itu kan gunanya pacar?"
Salsa merasakan matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tidak pernah membayangkan akan menemukan seseorang yang begitu mengerti dirinya sedalam ini. Arkananta Putra, cowok yang dulu paling ia benci, kini telah bertransformasi menjadi pelindung sekaligus sahabat terbaiknya.
"Makasih ya, Kan. Lo bener-bener tahu cara bikin gue nggak berkutik," ucap Salsa tulus.
Arkan hanya tersenyum, lalu ia menghidupkan mesin motornya. "Ayo pulang. Mama lo pasti udah nungguin. Kita harus simpen energi buat kencan horor kita nanti."
Salsa naik ke atas motor, memeluk pinggang Arkan dengan erat, dan menyandarkan kepalanya di punggung cowok itu. Di atas motor yang melaju membelah jalanan sore, Salsa menyadari satu hal penting. Hidup bukan hanya tentang menjadi nomor satu di atas kertas, tapi tentang menemukan seseorang yang membuatmu merasa menjadi nomor satu di hatinya. Dan bagi Salsa, Arkan adalah jawaban dari semua variabel yang selama ini ia cari.
Mereka terus melaju, meninggalkan gedung sekolah yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka yang berawal dari benci. Di bawah langit senja yang indah, mereka berdua tahu bahwa perjalanan ini masih panjang, namun selama mereka tetap satu tim, tidak ada soal kehidupan yang terlalu sulit untuk diselesaikan. Hubungan mereka memang unik, penuh dengan perdebatan dan persaingan, namun justru itulah yang membuat cinta mereka terasa jauh lebih nyata dan berharga. Rivalitas itu kini telah berganti menjadi sebuah harmoni yang indah, membuktikan bahwa benci dan sayang memang hanya terpisah oleh sekat yang sangat tipis. Dan bagi Salsa serta Arkan, sekat itu kini telah runtuh sepenuhnya, menyisakan ruang luas bagi rasa cinta yang akan terus tumbuh setiap harinya.