NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:79.2k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara di Kontrakan

Malam minggu itu, halaman kecil rumah kontrakan Dinara tampak begitu hidup dan penuh kehangatan. Aroma asap dan bau bumbu rempah yang sedap menyeruak ke udara, mengundang siapa saja yang lewat untuk menoleh.

Ikan-ikan besar hasil pancingan pagi tadi memang jumlahnya melimpah ruah, tak mungkin dihabiskan hanya oleh keluarga Pak Djarot dan Bu Tita saja. Maka, dengan senang hati mereka mengajak tetangga kontrakan untuk turut serta.

Mela sudah sibuk sejak sore tadi membantu Bu Tita di dapur. Bersama tiga penghuni kontrakan lain, Rina, Sari, dan Yanto, mereka sibuk mengolesi ikan dengan bumbu kuning, menyiapkan sambal kecap yang pedas, serta menggelar tikar di bawah pohon mangga yang rindang di halaman depan. Suara tawa dan obrolan riuh memenuhi udara, mencairkan suasana lelah seharian bekerja.

" Ini namanya rezeki nomplok ya, Ra. Ikan sebesar ini kalau beli di pasar harganya pasti lumayan mahal," ujar Mela sambil menunjuk seekor ikan tenggiri besar yang sudah dibersihkan, matanya berbinar senang.

Dinara yang sedang mengaduk bumbu di wajan tersenyum tipis, wajahnya sedikit memerah terkena asap dapur.

"Iya nih, Mel. Mas Langit sama Bapak dapat banyak sekali di laut. Bapak sampai heboh sendiri cerita pengalamannya, katanya ini pengalaman pertama mancing di laut dan dapat yang besar-besar." jawab Dinara lembut, namun ada kilatan bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Mela menyenggol pelan lengan Dinara dengan sikunya, menyeringai menggoda.

" Mas Langit terus nih bahasnya. Kamu tuh Ra, kalau denger nama dia aja matanya langsung berbinar begitu. Ada apa coba? Jangan bilang ada rahasia di antara kalian berdua?" goda Mela pelan agar tak didengar yang lain.

Dinara langsung memukul pelan lengan sahabatnya itu, pipinya makin memerah kali ini bukan karena asap, tapi karena rasa malu.

"Ngga ada loh aku kelihatan seneng, Mel. Aku cuma berterima kasih saja karena dia sudah ajak Bapak memancing dan kasih banyak ikan. Sudah sana bantu bawa ke luar, nanti keburu malam," elak Dinara, berusaha mengalihkan pembicaraan meski hatinya berdebar tak karuan.

Tak lama setelah suara adzan Isya berkumandang dari masjid dekat situ, terdengar suara kendaraan berhenti di depan gang. Beberapa saat kemudian, Pak Djarot yang sedang duduk di beranda langsung berdiri bersemangat.

"Itu pasti Mas Langit, ekh tapi kok ada 3 motor?" tanya Pak Djarot sedikit heran.

Dinara dan yang lainnya menoleh ke arah pintu pagar. Di sana tampak sosok Langit yang memakai kaos putih dan dilapisi jaket hitam seperti biasa. Di belakangnya ada Ahmad yang membawa beberapa kotak berisi minuman dan tambahan lauk, serta seorang pemuda lain yang tampak rapi, berwajah tegas namun ramah, berjalan di samping Langit sambil tertawa kecil.

Itu Dimas, sahabat karib Langit sejak masa-masa sulit dulu. Ia adalah satu-satunya orang yang selalu ada di samping Langit, tahu persis segala lika-liku hidupnya, kesedihannya saat kehilangan Wening, dan kini rasa bahagia yang mulai tumbuh kembali di hati sahabatnya itu. Dimas sengaja diajak malam ini karena penasaran setengah mati. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, sosok wanita yang mampu mencuri hati sahabatnya yang selama bertahun-tahun menutup diri dari cinta. Wanita yang membuat Langit berubah menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, dan kembali tersenyum tulus.

"Assalamualaikum!" sapa Langit ramah, suaranya yang berat dan tenang langsung terdengar jelas.

"Waalaikumsalam! Eh Mas Langit, silakan masuk, silakan! Sudah lama kami tunggu," sambut Pak Djarot dengan wajah berbinar, segera mempersilakan mereka masuk. Bu Tita pun menyusul, menyambut tamu kesayangan itu dengan senyum paling lebar.

Langit melangkah masuk, matanya segera menyapu seluruh halaman mencari sosok yang sejak tadi ada di pikirannya. Saat pandangan mereka bertemu, Dinara yang sedang berdiri di dekat meja panjang tempat ikan-ikan dibumbui seketika menundukkan wajah malu-malu, jantungnya berdegup makin kencang. Langit justru tersenyum lembut, menganggukkan kepalanya sedikit ke arah wanita itu, seolah mengirimkan salam khusus hanya untuk mereka berdua.

"Pak Bu, perkenalkan ini teman saya Dimas dan ini Ahmad, tak apa kan kalau saya ajak kesini?" ujar Langit memperkenalkan sahabatnya.

" Yo ndak apa to Mas Langit, malah makin ramai disini." ujar Pak Djarot ramah.

Dimas tersenyum lebar, mengulurkan tangan menyapa Pak Djarot dan Bu Tita.

"Malam Pak, Bu. Maaf ya ikut nimbrung, soalnya Langit cerita kalau ikannya hasil tangkapan sendiri, jadi saya penasaran ingin mencicipi kelezatannya," ucap Dimas santai dan cerdas, membuat suasana langsung cair dan akrab.

" Nggih Mas, tamu itu berkah apalagi teman Mas Langit. Silakan duduk, anggap di rumah sendiri ya," sahut Bu Tita ramah.

Acara bakar-bakar pun segera dimulai. Api dari bara arang kayu menyala terang, memberikan cahaya hangat di tengah malam yang sejuk. Asap putih mengepul ke atas, membawa aroma ikan yang mulai matang. Suasana menjadi sangat akrab dan hangat. Mela, Rina, Sari, dan Yanto dengan antusias membantu membolak-balik ikan di atas panggangan, sesekali tertawa saat asap menembak ke arah wajah mereka.

Langit tak duduk diam. Ia segera bergabung di sisi panggangan, mengambil kipas anyaman bambu dan mulai mengipasi api agar bara tetap menyala merata. Gerakannya luwes dan terbiasa, seolah ia memang bagian dari keluarga ini. Pak Djarot duduk di sebelahnya, mereka kembali mengobrol seru soal laut, ikan, dan kejadian-kejadian lucu saat memancing tadi pagi.

Dari sudut mata Langit, ia terus mengawasi Dinara yang sibuk menyiapkan piring dan sendok. Ia melihat Dinara sedikit kesulitan saat mencoba mengangkat nampan berisi sambal dan lalapan yang cukup berat. Tanpa berpikir dua kali, Langit segera menyingkirkan kipas dari tangannya dan berjalan menghampiri wanita itu.

"Sini saya bantu, Mbak," ucap Langit pelan di samping Dinara, membuat wanita itu tersentak kaget.

Dinara menoleh dan mendapati wajah Langit begitu dekat dengannya. Napasnya tertahan sesaat.

"Eh, nggak apa-apa Mas, saya bisa kok," tolaknya lirih, meski genggamannya pada pinggiran nampan mulai terlihat gemetar.

Langit tersenyum, ia tak mempedulikan penolakan itu. Dengan mudah dan lembut ia mengambil alih nampan itu dari tangan Dinara. Jari-jari mereka sempat bersentuhan sekilas, dan ada getaran hangat yang menjalar cepat dari ujung jari hingga ke seluruh tubuh keduanya.

"Jangan memaksakan diri, mari aku bantu." bisik Langit pelan, hanya cukup terdengar oleh Dinara saja. Ada nada lembut dan perhatian yang begitu dalam di sana.

Wajah Dinara bersemu merah terang, ia menunduk dalam menahan senyum yang merekah di bibirnya. Ia mengikuti langkah Langit menuju meja panjang, rasanya seluruh dunia serasa berhenti berputar sejenak. Di tengah keramaian orang-orang yang tertawa dan berbicara, rasanya hanya ada mereka berdua saat itu juga.

"Terima kasih, Mas," ucap Dinara pelan saat Langit meletakkan nampan itu dengan rapi.

Langit berbalik menghadapnya, menatap wajah cantik yang diterangi cahaya remang lampu taman dan cahaya api panggangan. Ia mengusap pelan rambut hitam Dinara yang sedikit berantakan tertiup angin, gerakan yang begitu wajar namun penuh kasih sayang.

" Rambutmu berantakan," ucapnya sebelum Dinara protes.

Entah harus bersikap bagaimana, tapi makin lama Dinara merasakan jika sikap Langit sangat jauh berbeda ketimbang dulu. Jangankan bersikap manis seperti ini, bicara saja ketus dan tidak mau menatap muka.

Bohong kalau ia tidak kesemsem dengan sikap Langit yang begitu manis kelihatannya. Tapi Dinara harus menahan diri, jangan sampai Langit menganggapnya sebagai janda gampangan.

Di sudut lain halaman, Dimas yang sedang duduk sambil menikmati sepotong ikan bakar diam-diam mengamati interaksi kedua manusia itu. Ia tersenyum lebar melihat bagaimana sorot mata sahabatnya berubah saat bersama Dinara.

 Dulu, saat bersama Wening, Langit juga memandang dengan cara yang sama: penuh cinta, hormat, dan perlindungan. Dan sekarang, ia melihat tatapan itu kembali, ditujukan untuk wanita lain. Itu tandanya Langit sudah sembuh, sudah siap membuka lembaran baru.

Dimas pun beranjak dari duduknya, berjalan santai mendekati Mela yang sedang asyik mengaduk sambal di pinggir meja. Mela yang merasa ada orang di sebelahnya menoleh dan tersenyum sopan.

"Seru bangeti ya suasananya di sini," buka Dimas memulai percakapan dengan nada ramah.

"Iya nih Mas, biasanya kalau malam minggu sepi, eh hari ini jadi ramai dan hangat begini," jawab Mela riang.

Dimas mengangguk, lalu menatap sekilas ke arah Langit dan Dinara yang kini sedang duduk berjarak agak jauh dari keramaian, saling bertukar senyum sambil sesekali mengobrol pelan.

"Kamu teman dekatnya Dinara ya?" tanya Dimas lagi.

"Iya Mas, kami sahabat dekat sejak masih SMA di Blitar. Sudah kayak saudara sendiri, apalagi waktu sama-sama merantau di Pemalang." jawab Mela.

Dimas menoleh kembali ke arah Mela, matanya menyelidik namun tetap ramah.

"Boleh saya tanya sesuatu soal Dinara? Saya ini sahabat dekatnya Langit. Dari dulu saya tahu betul watak Langit, dia itu orangnya tertutup. Langit jarang sekali mau dekat dengan wanita lain apalagi setelah istrinya meninggal. Tapi sekarang dia berubah semenjak kenal Dinara. Saya penasaran, wanita seperti apa sebenarnya Dinara itu sampai bisa membuat sahabat saya yang keras kepala itu luluh?"

Mela tersenyum paham, ia menatap Dinara dengan pandangan penuh kekaguman dan kasih sayang. Ia tahu persis perjalanan hidup sahabatnya itu.

"Dinara itu wanita yang luar biasa Mas," mulai Mela dengan nada serius namun lembut. "Mungkin kalau dilihat sekilas, dia cuma wanita biasa, sederhana, pekerja keras demi hidupnya. Dia pernah jatuh sangat dalam, pernah disakiti, dibuang, dan dicap buruk oleh orang-orang."

Mela menghela napas panjang, matanya sedikit berkaca-kaca mengingat penderitaan sahabatnya dulu.

"Tapi tahu apa yang dilakukan Dinara? Dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dia tidak mengemis haknya yang telah dirampas, karena ia tau kalau Allah pasti akan menggantikan dengan rejeki yang lebih besar-besar.

Dia memilih pergi menjauh lalu bangkit kembali, Dinara berjuang sendiri demi harga dirinya yang masih tersisa. Dia wanita yang sabarnya seluas samudra, yang tulusnya tak terukur. Dia tidak pernah meminta lebih, dia cuma butuh dihargai, dicintai, dan diperlakukan dengan lembut. Dan saya rasa Mas Langit melihat semua keindahan itu. Mas Langit melihat Dinara bukan sebagai wanita buangan seperti anggapan orang lain, tapi sebagai permata yang selama ini terpendam dan butuh seseorang yang mau mengangkat dan menjaganya."

Dimas diam mendengarkan dengan saksama. Kata-kata Mela menyentuh hatinya. Ia mulai mengerti sekarang. Ia mengerti kenapa Langit jatuh hati, kenapa Langit rela merendahkan diri, dan kenapa Langit berjanji akan menjaga wanita itu meski hanya dalam makna tersirat.

Dimas tau jika Langit pernah ada di posisi terendah. Langit sendiri pernah merasakan pahitnya hidup, lalu ia menemukan sosok yang senasib sepenanggungan, sosok yang hatinya indah meski lukanya banyak, sosok yang pantas mendapatkan kebahagiaan terbesar.

"Terima kasih ya sudah cerita sama saya, Mela," ucap Dimas tulus. "Sekarang saya paham betapa istimewanya Dinara untuk Langit. "

Mela tersenyum lega, hatinya senang mendengar hal itu.

" Dinara itu sudah cukup banyak makan pahit kehidupan, aku selalu berdoa semoga dia mendapatkan kebahagiaan. "

" Aamiin."

Malam itu berlanjut dengan penuh kehangatan, canda tawa, dan kebahagiaan yang nyata. Di bawah langit malam yang bertabur bintang, di tengah aroma ikan bakar yang lezat, dua hati yang sama-sama pernah terluka, perlahan menyatu dalam ikatan rasa yang tulus dan suci.

Pak Djarot duduk di sudut teras, mengamati semuanya dengan hati yang penuh rasa syukur. Ia menatap Langit yang sedang tertawa mendengar cerita konyol dari Ahmad, lalu menatap Dinara yang tersenyum bahagia di dekatnya. Ingatannya kembali pada percakapan mereka di kapal tadi, dan pada penjelasan Ahmad di dermaga sore itu.

" Ini makan ikan kerapunya, Mbak. Dapatnya tidak banyak karena kebanyakan cakalang. " ujar Langit memberikan sepotong ikan kerapu bakar ke piring Dinara.

" Terima kasih Mas."

" Mau udang juga? "

" Perasaan tadi nggak ada udang deh"

Langit tersenyum lalu membersihkan udang galah hingga tersisa dagingnya, setelah itu ia berikan pada Dinara lagi. Sungguh perhatian yang diam-diam diperhatikan oleh Pak Djarot dan Bu Tita.

" Aku yang bawa udangnya tadi, " ujar Langit.

" Kalau di laut bisa pancing udang nggak Mas? "

" Biasanya kita jala, biar sekalian dapat banyak. Kenapa memangnya? tertarik buat mancing di laut? "

" Emmm... boleh kapan-kapan ajak aku Mas? Aku juga penasaran bagaimana caranya mancing ikan di laut, selama ini kan aku cuma sortir ikan yang sudah siap aja. "

" Besok mau? mumpung kamu masih libur. "

" Sama bapak? " tanya Dinara.

" Berdua juga boleh"

" Ekhhhh"

1
rosita ambarwati
Masya Allah tabarakallah... Selamat & terima kasih utk Kak Attalla Faza. Novel ini sukses diselesaikan dgn apik, sederhana saja tanpa terlalu banyak bunga rampai. Tetapi tidak mengurangi keindahan & kesyahduan novel ini hingga bab terakhir. Mari berdoa utk Kak Attalla Faza juga para pembaca novel ini kelak mendapatkan kebahagiaan hidup tak terhingga yg kita nikmati dg penuh rasa syukur kpd Allah Azza Wa Jalla, Allah jaga & lindungi diri kita serta keluarga dari marabahaya, Allah mudahkan, lancarkan setiap urusan + rizki dunia wal akhirat kita & kita semua juga Allah beri akhir/episode penutup kehidupan yg husnul khotimah, aamiin 🤲🙏💖
Neny Tryana
bagus
diah larasati
cepet ya kak tamat nya
Feni Puji Pajarwati
semangat thor... karya2 TOP BANGET...
chie
suka dengan cerita nya
Sri Desika Arfianti
/Good//Good//Good//Good/
ɴᴏᴠɪ
kayaknya seh bakalan berlayar juga neh kapal Dimas sama Mela 🤭🤭
Ma Em
Akhirnya Dinara dgn Langit berakhir dgn bahagia bersama ketiga putra putrinya , begitu juga Mela sdh bahagia bersama Dimas serta kedua anaknya , mereka semua berakhir dgn happy ending , terima kasih Thor karena sdh membuat cerita yg bagus dan seru , semoga author selalu sehat dan bahagia serta sukses dgn karya karyanya 🤲💪👍 🥰
Attalla Faza: Aamiin.
doa yang sama buat kamu beb🩷
total 1 replies
ɴᴏᴠɪ
bagus deh kamu ambil keputusan itu, lagian kasian anak kamu punya ibu kayak gitu apalagi kakek dan nenek nya astaga
Achom
yeay DinLang MelDim udh bahagia sama pasangan masing² 🙂👏
kok udh tamat aj kk othor?😔☹️
salsa safiarahma
cerita kk selalu menarik
ɴᴏᴠɪ
Dim kan Mela bersandar di bahu kamu gak ada rasa gimana gitu, siapa tau dia jadi jodoh kamu 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
ya ampun masih panjang kasusnya, semoga Mela aman² aja seh ya
maria Yuddy
luar biasa bgs/Drool/
Attalla Faza
Dear Beb Kesayangan🩷
Terimakasih ya sudah membersamai Dinara dan Langit dari awal sampai akhir.

Sampai bertemu lagi di buku selanjutnya.
Sekarang saia sedang mempersiapkan buku baru di Tatangga Oren. love you all 🥰
Dwi Dwi: makasih Thor......kutunggu karya2 mu ....😍
total 15 replies
rosita ambarwati
Baarakallahu laka fil-mawhubi laka, wa syakartal-waahib, wa balagha asyaddahu, wa ruziqta birrah.
"Semoga Allah memberkahimu atas anugerah yang diberikan kepadamu, kamu mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga anak ini mencapai usia dewasa, dan kamu diberi rezeki berupa baktinya anak tersebut."
Aamiin 🤲 Selamat utk Dinara, mas Langit & kedua ortu atas kelahiran anak pertamanya 🙏💐🎊
nurul @zna
Welcome to the world, Baby Boy...😍😍
Selamat u Dinara n mas Langit dah resmi jadi Ortu... 🥰🥰
Ma Em
Indra tdk pernah hdp nya kekurangan karena setiap ada kesulitan sama pak Djarot langsung dibantu jadi tdk pernah berpikir untuk usaha yg serius , untung ada Langit yg menerangkan maksud tujuan pak Djarot dan Bu Tita jadi Indra tdk salah paham lagi .
Achom
wuihhh baby boy syelamat DinLang udh jd parents,sehat² kelen y 🤲🙂
Loly Askhara
Laila dan Indra ini sama sama gengsian dan pemalas, makanya hidupnya diuji terus, harusnya indar dns Laila itu sregep (rajin), tekun, telaten biar hidupnya maju berkah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!