lent Residue mengisahkan pernikahan tanpa cinta antara Nathan Ryu, seorang putra mahkota Ryu Corp yang memilih mengabdi sebagai Kapten Pasukan Khusus, dan Alveera Mayra, dokter magang idealis yang terpaksa setuju menikah demi menyelamatkan posisi keluarganya di dunia medis. Hubungan dingin mereka yang penuh jarak diuji ketika mereka bertemu di zona konflik Distrik Marvella, di mana Alveera baru menyadari bahwa suaminya yang kaku adalah "malaikat maut" yang paling ditakuti di medan perang. Namun, bara konflik yang sesungguhnya baru dimulai saat mereka kembali ke pusat kota; Nathan harus menjabat sebagai CEO untuk melindungi Alveera dari sabotase bisnis, tepat saat mantan kekasih Nathan muncul kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERETAKAN DI BALIK TEMBOK MARMER
Malam itu, badai mengguyur pusat kota dengan ganas. Di dalam mansion keluarga Ryu yang luas, suasana terasa lebih dingin daripada suhu di luar. Alveera Mayra duduk di sofa ruang tengah, menatap kosong ke arah perapian yang menyala. Kata-kata Nathan di kantor tadi masih terngiang, berputar-putar seperti sembilu yang menyayat hatinya.
“Kau adalah residu dari kegagalan finansial ayahmu!”
Suara pintu utama yang terbuka berat mengejutkan Alveera. Ia menoleh dan melihat Nathan Ryu masuk dengan langkah yang tidak stabil. Jas mahalnya basah kuyup, rambutnya berantakan, dan wajahnya sepucat kertas. Nathan mencoba melangkah menuju tangga, namun ia terhuyung dan harus berpegangan pada pilar marmer untuk tetap tegak.
Alveera segera bangkit, insting dokternya mengalahkan rasa sakit hatinya. "Nathan?"
Nathan tidak menjawab. Napasnya terdengar pendek dan berat. Saat Alveera mendekat dan menyentuh keningnya, ia tersentak. Kulit Nathan terasa membara.
"Kau demam tinggi, Nathan! Kau harus istirahat," ujar Alveera cemas, mencoba memapah lengan suaminya yang kekar.
"Jangan... sentuh aku," gumam Nathan parau, mencoba menepis tangan Alveera dengan sisa kekuatannya. "Aku... baik-baik saja."
"Kau tidak baik-baik saja! Kau baru saja mengoperasi selama berjam-jam setelah berhari-hari tidak tidur di Marvella. Tubuhmu bukan mesin!" Alveera tidak peduli pada penolakan itu. Ia merangkulkan lengan Nathan ke bahunya, memaksa pria itu untuk bersandar padanya.
Dengan susah payah, Alveera membawa Nathan ke kamar utama. Begitu sampai di tepi ranjang, Nathan ambruk. Kesadarannya mulai menipis. Alveera dengan cekatan membuka sepatu bot, jas, dan kemeja suaminya yang basah kuyup.
Saat kemeja itu terlepas, Alveera tertegun. Di punggung Nathan, selain bekas luka lama, terdapat memar kebiruan yang besar akibat hantaman reruntuhan tenda di Marvella tempo hari—saat Nathan melindunginya. Ternyata selama ini Nathan menahan rasa sakit yang luar biasa demi menjaga citra CEO yang tak terkalahkan.
Dan di sana, di pangkal lehernya, tato mawar berduri itu tampak memerah, seolah ikut meradang bersama demam yang menyerang tubuhnya.
Alveera mengambil baskom air hangat dan handuk kecil. Ia mengompres dahi Nathan dan mulai membersihkan luka memar di punggungnya dengan salep medis. Gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menangani porselen yang rapuh.
Dalam igauan demamnya, Nathan mulai meracau. "Maaf... maafkan aku... mawar itu... aku tidak bisa menyelamatkannya..."
Alveera membeku. Suara Nathan terdengar sangat hancur, jauh dari sosok Kapten yang ditakuti. "Nathan? Siapa yang tidak bisa kau selamatkan?"
"Valerie... mawar merah... darah..." Nathan menggelengkan kepalanya dengan gelisah. Tangan kekarnya mencengkeram sprei hingga urat-urat di tangannya menonjol.
Hati Alveera mencelos. Bahkan dalam kondisi tidak sadar pun, nama wanita itu yang keluar dari bibir Nathan. Namun, ada yang aneh. Suara Nathan tidak terdengar seperti kerinduan, melainkan ketakutan yang mendalam.
Tiba-tiba, tangan Nathan menyambar pergelangan tangan Alveera, menariknya hingga Alveera jatuh ke dada bidang suaminya yang panas. Mata Nathan terbuka sedikit, namun tatapannya kosong, tertutup kabut demam.
"Jangan pergi," bisik Nathan lirih, hampir tidak terdengar. "Tetap di sini... jangan biarkan aku sendiri di kegelapan ini."
Alveera terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Nathan yang paling rapuh. Pria ini bukan lagi CEO yang arogan atau Kapten yang dingin. Ia hanyalah seorang manusia yang hancur oleh masa lalunya sendiri.
"Aku di sini, Nathan. Aku tidak akan pergi," bisik Alveera lembut. Ia memberanikan diri mengelap keringat di leher Nathan, tepat di atas tato mawar itu.
Sepanjang malam, Alveera tidak beranjak. Ia terus mengganti kompres dan memantau suhu tubuh Nathan. Menjelang fajar, demam Nathan mulai turun. Alveera yang kelelahan akhirnya tertidur dalam posisi duduk di samping ranjang, dengan tangan yang masih menggenggam jemari Nathan.
Saat cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik tirai, Nathan membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat, tapi kesadarannya sudah kembali. Ia menoleh dan melihat Alveera yang tertidur pulas dengan wajah kelelahan.
Nathan menatap tangan mereka yang bertautan. Ia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Secara tidak sadar, jempolnya mengusap punggung tangan Alveera dengan lembut. Namun, saat ia melihat tato mawar di cermin di depan ranjang, rahangnya kembali mengeras.
Ia menarik tangannya dengan kasar, membuat Alveera terbangun dengan terkejut.
"Kau sudah bangun?" tanya Alveera serak, mencoba memeriksa kening Nathan lagi.
Nathan menepis tangan Alveera dan segera bangkit dari ranjang, meskipun tubuhnya masih sedikit limbung. "Apa yang kau lakukan di sini? Di mana pelayan?"
Alveera terdiam, rasa sakit hati itu kembali datang. "Aku merawatmu semalaman, Nathan. Kau pingsan karena demam tinggi dan luka di punggungmu meradang."
Nathan meraih kemeja bersih dan memakainya dengan terburu-buru, menyembunyikan memar dan tatonya. "Aku tidak memintamu merawatku. Jangan mengira karena kau melihatku lemah semalam, kau bisa mengatur hidupku."
"Nathan, setidaknya katakan terima kasih! Aku istrimu!"
Nathan berhenti di depan pintu, membelakangi Alveera. "Istri karena kontrak, Alveera. Jangan pernah lupa batasan itu. Siapkan dirimu, Valerie akan datang pagi ini untuk membahas proyek riset. Jangan tunjukkan wajah kuyu seperti itu di depannya."
Nathan melangkah keluar, meninggalkan Alveera yang terpaku di tengah kamar yang luas itu. Air mata Alveera jatuh setetes demi setetes. Ia baru menyadari bahwa merawat luka fisik Nathan jauh lebih mudah daripada menyentuh hatinya yang telah membatu karena mawar berduri itu.
---