"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ya.. Dia Fajar Yang Sama
Raina Pov
Detikan dari jarum jam di dinding kamarku, seakan mengisyaratkanku untuk terbangun. Bukan karena hal yang aneh, ataupun fikiranku yang masih penasaran dengan diary hitam di tasku yang Bunda Sinta berikan semalam.
Tapi.. inilah kode keras dari Allah, karena Allah tahu aku sangat membutuhkan tempat bercerita dan tempat mengaduh disetiap kebimbangan hatiku.
Kemudian, dengan sangat pelan aku keluar dari kamar menuju kamar mandi, aku tak ingin jika nanti Umi, Abi dan Mas Arkan terbangun karena suara brisikku.
Setelah bersuci, aku langsung menggelar sajadah dan menunaikan shalat tahajjud yang kemudian kulanjutkan dengan shalat istikharah, untuk meminta petunjuk kepada Allah, mengenai keputusanku nanti.
Ya Rabbana.. semua keputusan, dan semua tentang hidup hanya Engkaulah Zat yang Maha Tahu. Jika benar, dia adalah jalanku menuju keridhaan-Mu, mudahkanlah segala macam urusanku. Jika dengan diriku ia mampu berubah menjadi lebih baik, hamba mohon pada-Mu bimbinglah diriku – kataku lirih disela do’a panjangku.
Kemudian, aku kembali teringat dengan buku hitam di dalam tasku itu. Segera aku membukanya dan bermaksud membacanya.
Senyumanku mengembang, ketika aku melihat sebuah foto jadul yang terpasang di dalam cover buku ini. Bocah kecil manis yang tengah tersenyum menatap kearah kamera, lengkap dengan dua orang, yang ku fikir itu adalah Bunda Sinta dan Om Surya waktu muda.
Malik Fajar Admajaya.. di bawah foto itu juga tertulis sebuah nama, yang memiliki arti yang sangat indah 'Yang merajai waktu fajar'.
Tapi.. sebentar, agaknya aku pernah mendengar nama ini – kataku pelan. Seketika bayangan ‘pria es’ itu lewat di pikiranku. Mungkin kah dia pria yang sama? – kataku lagi.
Namun.. aku tidak mau peduli akan hal itu, siapapun dirinya, bukankah aku telah menerimanya? bahkan aku siap tanpa mengetahui nama dan wajah pemuda itu.
Di lembar pertama buku itu, aku juga membaca sebuah tulisan yang syarat akan sebuah makna yang cukup dalam.
“Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Namun, satu tulisan mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala.” – Sayyid Qutbh.
Dari kata-kata pertama yang ia tulis, aku sudah dapat memahami bagaimanakah kecintaannya pada sebuah tulisan.
Di lembar berikutnya aku banyak menjumpai bait-bait puisi yang indah yang dengan rapihnya ia tuliskan dalam sebuah goresan tinta hitam.
“Pengembara ini, harus siap menghadang derasnya ombak kehidupan yang pasti akan banyak sekali tantangan-tantangan yang mematikan yang menantinya menuju tujuan.” – Malik Fajar Admajaya.
Setiap puisi yang ia tuliskan di buku ini, sangat menyentuh siapa saja yang membacanya, tak terkecuali diriku.
Dan ada lagi kalimat indah yang ia tuliskan, yang kuduga mungkin kalimat ini ia ungkapkan untuk menunjukkan betapa istimewanya seorang wanita.
“Wanita.. makhluk istimewa, yang Tuhan ciptakan untuk di jaga. Makhluk istimewa dengan berbagai macam kelembutan. Selembut sutra, setegar baja, seindah mutiara.”
Sangat banyak pula kalimat-kalimat indah yang pemuda ini tuliskan, ia tampak sebagai seorang pria yang sangat lembut dan penyayang waktu dulu.
Di pertengahan buku ini, aku melihat sebuah amplop berwarna putih. Kemudian, aku langsung membukanya dan melihat banyak sekali foto di dalamnya.
Satu persatu foto itu kuamati, sepertinya ini adalah foto kenangan dari zaman pemuda itu masih di dalam kandungan Bunda Sinta dan juga foto disetiap tumbuh kembangnya.
Pikiranku kemudian terhenti, ketika melihat foto pertama dirinya di masa Sekolah Menengah Pertama. Dan benar.. ia tampak mirip dengan ‘pria es’ itu, namun masih dengan gaya yang penuh senyuman dan keramahan.
Kemudian, foto ketika Sekolah Menengah Pertama, yang semakin membuatku yakin dia adalah pria yang sama.
Sampai pada akhirnya, seluruh pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku terjawab. Ketika aku melihat sebuah gambar pria yang telah berubah, di gambar sebelumnya ia tampak tersenyum namun di gambar terakhir ini, ia tampak dingin sambil duduk diatas motor gede miliknya.
Jadi.. Malik Fajar adalah Kak Fajar? Astaghfirullah.. apakah mungkin, aku mampu bersama dengan dirinya? Melihatku saja ia tampak tidak suka, bagaimana mungkin kami akan hidup bersama nantinya? – batinku, yang sedikit ragu ketika memikirkannya.
Kemudian lamunanku terhenti karena suara Azan yang menyadarkanku. Dan tampak juga Umi yang tengah duduk sambil menyeka matanya, juga Abi dan Mas Arkan yang terbangun.
“Mi.. Abi sama Arkan mau ke Mesjid ya..” kata Abi dari ruang depan.
“Iya..” jawab Umi singkat.
Kemudian setelah azan, aku dan Umi langsung mengambil posisi, kali ini aku ditunjuk untuk menjadi imam bagi Umi.
Umi dan Abi selalu mengajarkan akan pentingnya menunaikan shalat tepat pada waktunya. Dan untuk Mas Arkan, Abi selalu mengajak Masku itu turut bersamanya untuk shalat di Masjid. Sedangkan untuk wanita, itu lebih baik shalat di rumah.
Setelah usai shalat berjama’ah dengan Umi, aku memberanikan diri untuk sedikit membicarakan tentang pemuda itu. “Mi.. ana mau cerita sedikit, boleh?”
“Boleh, mau cerita apa?” kata Umi tampak antusias dengan cerita yang ingin aku sampaikan.
“Tadi.. ana udah baca seluruh isi buku yang Bunda Sinta kasih ke ana---” kataku terjeda.
“Iya.. terus?” sambung Umi sambil masih sibuk membereskan mukenah miliknya.
“A.. ana pikir, ana kenal sama pemuda itu,” kataku sedikit ragu.
“Oh iya? Kenal dimana, dan bagaimana?” tanya Umi yang membuatku terkesiap.
“Namanya Fajar. Dia adalah senior ana di kampus mi.. bahkan di hari hari pertama kuliah, ada accident kecil. Kak Fajar nabrak tas ana, kemudian tanpa berkata apapun ia langsung pergi. Sifat dan sikapnya menunjukkan ketidak nyamanannya dengan kehadiran ana Mi," jelasku pada Umi. Kali ini aku sedikit merasa lega, karena sudah menceritakan tentang Fajar pada Umi.
“Setelah mengetahui itu semua, apa kamu akan mundur nduk?” tanya Umi padaku yang membuatku langsung terdiam.
“Gini.. Umi dan Abi, juga Sinta dan Surya.. sudah mendiskusikan ini sejak lama. Umi paham betul dengan sifat Fajar, dan bagus lah kalau kamu sudah sedikit mengenalnya. Satu hal yang harus kamu ingat nduk, manusia itu layaknya sekeping koin. Ia memiliki dua sisi berbeda, nah.. saat ini mungkin kamu sedang melihat sisi buruk dari Fajar. Terus.. apa kamu ndak mau, membalik koin itu?” jelas Umi dengan senyuman penuh semangat padaku.
“Jika nanti ana ndak sanggup Umi?” tanyaku lagi singkat.
“Apakah Allah memberikan cobaan untuk hamba-Nya melebihi kemampuannya? Tidak bukan?” Aku menggelengkan kepalaku mendengar pertanyaan Umi.
kemudian aku memeluk erat Umi, suatu saat nanti.. aku hanya ingin tumbuh menjadi seorang wanita seperti Umi.
...*****...
Setelah kepulangan Abi, Umi dan Mas Arkan, kemudian aku langsung bersiap-siap untuk pergi. Tentu saja aku akan masuk kuliah hari ini.
Setelah kejadian tadi malam.. kejadian singkat yang akan segera merubah segalanya. Merubah statusku, merubah kebiasaanku, merubah semua tentang apapun yang akan aku lakukan.
Tapi.. aku hanya heran dengan diriku sendiri, aku ragu dengan pernikahan ku nanti, tapi.. rasanya hatiku baik-baik saja dan tak pernah terlintas keburukan sedikitpun mengenai Kak Fajar di dalam fikiranku.
...-----♡●♡-----...
Have a nice day for us.🤗
.
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mampir di episode ini yah..
.
Semoga ada secuil, ilmu agama yang tersampaikan melalui untaian kalimat dalam tulisan ini🤗
Jangan lupa.. Like🖒, komen😀 dan vote yah buat support my dakwah way..
Jazakillah Khair💖..
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa