Tak pernah terbayangkan olehku usaha bapakku bangkrut,sehingga semua yang kami miliki habis dalam sekejap. Bapak terpukul membuat beliau terpuruk dalam keputusasaan,sementara ibu sibuk mengejar ambisinya untuk bisa menjadi seperti dulu lagi.
Aku Raya Anggraini...sebagai anak paling besar,mau tidak mau aku harus mengambil alih tanggungjawab bapak untuk mencari nafkah demi masa depan adik-adikku.
Sementara tunanganku yang kujadikan tempat bersandar justru mengkhianatiku.
Sedangkan ibuku selalu saja menyalahkanku atas putusnya pertunanganku itu,lalu mencoba mencarikan jodoh dari kalangan orang-orang kaya demi melancarkan ambisinya.
Aku merasa dijual oleh ibuku,aku merasa seperti barang dagangan yang ditawarkan kepada pria-pria yang memang sudah mapan secara finansial.
Sanggupkah aku menjalani semua ini?
Kuatkah aku menghadapi tekanan-tekanan dari ibuku?
Dan siapakah akhirnya yang akan menjadi jodohku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musibah
Sesaat kami terdiam dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Ada rasa lega karna telah mengungkap satu kejujuran,tapi musibah yang tengah menimpa keluarga kami,haruskah aku cerita padanya? Mas Bahar menarik nafas lalu membuangnya pelan,seolah dia sedang menguasai emosinya.
"Bagaimana dengan hubunganmu dengan Yusuf? Dan siapa dia? Kenapa dua kali dia terus yang mengantar Pak Hadi kerumahmu" ucapnya dengan raut muka penuh amarah dan kebencian.
Aku meraih tangan Mas Bahar,karna sepertinya api cemburu tengah menguasai hatinya.
"Aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak seperti halnya yang lain yang ada disana...Mas Denis,Mas Rudi,Mas Iskhak,Mas Aan,Mas Bambang dan Mas Yusuf...tak ada yang berbeda,karna mereka semua sangat baik dan sangat perhatian padaku. Lagi pula wajar jika Mas Yusuf mengantar Pak Hadi,nggak cuma ke rumahku tapi memang Mas Yusuf selalu nganter Pak Hadi kemana-mana...karna mereka kan ayah dan anak" kisahku
"Katakan padaku diantara mereka yang paling baik di matamu pasti Yusuf...iya kan?" ucapnya sinis.
"Lho mas kok tau...Mas Yusuf itu memang sangat baik,perhatiannya ke Raya memang terlihat paling banyak dibanding dengan yang lain. Biarpun dia terlihat cool,tapi ngobrol dengannya memang paling seru dibanding dengan yang lain. Dan satu lagi,dia tu selalu melindungi Raya dari apapun."
Hihihi...aku sengaja membesar-besarkan diskripsiku tentang Mas Yusuf di depan Mas Bahar.
"Apa kau masih kurang mendapat perhatian dariku,hingga kau menikmati perhatian laki-laki lain?"
"Mas terlalu sibuk di kampus...bertemu dengan mas aja paling cuma seminggu sekali atau dua kali" jawabku yang masih dalam rangka memprovokasinya...hehehe...
"Besok aku akan pulang lagi,aku akan meminta abah dan umi untuk mempercepat pernikahan kita"
"Ih ogiah...umur Raya baru 18 tahun,masih banyak tugas menanti yang harus Raya selesaikan. Apalagi dalam situasi keluarga yang seperti sekarang ini" ucapku sambil menunduk.
Sesaat aku diam...Astaghfirulloh,aku keceplosan.Semoga Mas Bahar tidak memperhatikan omonganku yang terakhir,tapi terlambat...matanya terlanjur fokus padaku.
"Apa maksudmu Raya...situasi keluarga yang seperti apa? Apa keluargamu sedang dalam masalah? Akh...aku baru inget,saat bertemu dengan bapak tadi pagi,aku juga merasa ada sesuatu yang sedang terjadi,wajah bapak tampak muram...Ada apa sebenarnya Raya...jangan pernah ditutup-tutupi lagi" katanya cemas.
"Aaa...ah enggak...lupakan saja...keluarga kami baik-baik saja kok."
Mas Bahar memegang kedua bahuku dan menatapku intens. Sudah bisa ditebak,jika aku menyembunyikan sesuatu dan dia perlakukan aku seperti itu,air mataku pun tak mungkin bisa di tahan lagi untuk tidak keluar. Aku menangis...akh rapuhnya aku...hiks hiks hiks...Mas Bahar menarik tubuhku dalam pelukannya,membuat aku semakin terisak didadanya.
"Kau sudah janji kita akan melandasi hubungan ini dengan kejujuran kan? Tapi kenapa baru saja kita sepakat,kamu sudah melanggarnya. Ceritakan semuanya padaku" ucapnya dengan nada lembut.
Aku melepaskan diri dari pelukan Mas Bahar,ku seka sisa air mata yang menetes di pipi dibantu oleh Mas Bahar. Ku benahi tempat dudukku dan kutarik nafas pelan sekedar mengumpulkan kekuatan.
"Keluarga kami sedang terkena musibah...Usaha bapak bangkrut...seluruh aset bapak habis karna kena tipu rekan bisnisnya...hiks hiks hiks"
Aku tak bisa menahan air mataku yang kembali menetes,teringat betapa sedihnya kami sekluarga menerima cobaan ini. Sambil terisak kuceritakan semuanya,dari mulai ibu yang masih sulit menerima kenyataan kebangkrutan bapak,pertengkaran ibu dan bapak yang berujung ibu jatuh pingsan dan obrolanku bersama bapak malam itu. Aku masih terisak,Mas Bahar pun memberikan air mineral kepadaku.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Entah...Belum ada yang terpikirkan oleh Raya,biarpun Raya mampu menghibur bapak tapi sebenarnya otak Raya kini buntu,tak mampu berpikir apa-apa" ucapku sedikit frustasi
"Akh...kamu ini...kenapa masalah sebesar ini masih saja kamu sembunyikan dariku,sedangkan kita kan sudah berjanji untuk saling berbagi,biarpun kita belum menemukan solusinya tapi setidaknya dengan bercerita,bebanmu akan sedikit berkurang" ucapnya.
Akh...kata-katanya memang selalu membuat aku merasa nyaman.
"Mas...apa yang akan mas lakukan setelah mas tau keluarga Raya sudah tidak seperti dulu?" tanyaku hati-hati.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu?"
"Raya takut mas malu...kita sudah tak sepadan lagi mas. Apa kata saudara dan teman-teman mas nanti. Bagaimana juga tanggapan abah,umi dan Mbak Mia jika tau keluarga Raya sudah tak seperti dulu lagi."
"Raya...kau terlalu berlebihan jika punya pikiran seperti itu. Jatuh bangun dalam dunia bisnis itu biasa. Untuk apa kita memikirkan omongan-omongan orang lain...harta tidak akan dibawa mati Raya. Aku kenal keluargaku...aku yakin,keluargaku tidak akan mepermasalahkan status sosial keluargamu sekarang."
"Kapan keluargamu akan pindah rumah?"
"Mungkin sebulan lagi...masih nunggu sebentar lagi rumah disana siap ditempati."
"Kita pulang sekarang?"
"Boleh nggak kita liat sunset dulu?"
"Tentu saja boleh...Apapun yang kamu inginkan,asal kamu bahagia dan nggak sedih-sedih lagi...Kamu harus percaya bahwa aku tidak akan meninggalkanmu,apapun yang terjadi" ucapnya sambil mencium pucuk kepalaku.
"Saking seriusnya cerita,sudah lewat waktu ashar kita belum sholat...Kita cari masjid atau musholla dulu baru kita kesini lagi untuk liat sunset ya..."
Aku mengangguk patuh,dan kami pun segera mencari tempat ibadah terdekat.
Karna kami benar-benar menikmati indahnya sunset,membuat kami pulang sedikit terlambat. Sampai di rumah,adzan isya' baru saja selesai berkumandang. Untungnya kita tadi sempat berhenti di masjid untuk menjalankan sholat maghrib dulu,jadi kita tidak meninggalkan sholat.
"Baru sampai ya...kalian pasti capek,apalagi Mas Bahar kan baru saja pulang dari Pekalongan...Kalian mandi dulu terus kita makan malam bareng...Ibu masak sayur asem-asem kesukaanmu lho mas..." ucap ibu.
"Terimakasih bu...maaf jadi merepotkan. Kalo gitu saya mandi dan sholat isya dulu bu..."
Ibu memang sangat sayang dengan Mas Bahar...ibu seolah yakin 100% bawa Mas Bahar akan menjadi bagian dari keluarga kami.
"Bapak kemana bu...kok nggak keliatan dari tadi..." tanyaku ketika sampai di meja makan.
"Pergi ke rumah Pak Tabik...beliau yang akan membeli rumah kita. Raya...kamu sudah cerita tentang musibah yang menimpa keluarga kita kepada Mas Bahar?" tanya ibu.
"Sudah..." jawabku singkat.
"Lalu bagaimana reaksinya?"
"Ibu bisa liat sendiri kan,Mas Bahar biasa-biasa saja...nggak berubah" jawabku.
"Alhamdulillah kalo gitu...nggak salah ibu punya calon mantu"
Ibu tersenyum puas...wajahnnya tampak sumringah,nggak muram seperti kemarin...
"Sudah selesai belum mas mu sholatnya...cepat ajak makan,keburu dingin makanannya" kata ibu lagi.
Tanpa mengiyakan perintah ibu,aku segera menyusul Mas Bahar yang baru selesai sholat isya di ruang sholat kami.
Sebenernya aku sedikit risih melihat perlakuan ibu kepada Mas Bahar yang menurutku sedikit berlebihan. Padahal hati kecilku masih meragukan kelangsungan pertunangan ini.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
g lebay...sesuai realita di masyarakat
buat lanjutannya ya Kaka
kita tunggu lho..
semangat terus thor trus berkarya ya ❤❤❤
aku suka critanya😊
lanjut dong thor😢😢
mampir juga yuk di Mr. mafia or Mr. Psychopath?
Salam semangat
saya nyimak terus