Capella Starheart!
Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.
Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.
Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.
Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?
(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2: "VENOM"
Previous Episode:
Capella, Ibunya, dan Tim si adik menjengkelkannya memutuskan pindah dari kota lama di wilayah bawah dan meninggalkan kehidupan lamanya di suatu kota layang bernama Star Colossus. Tapi izin mereka tidak diketahui pemerintah. Dengan cara ilegal menjalin koneksi dengan pihak lain yang disebut sebagai The Heaven, mereka bertiga melalui perjalanan panjang penuh ketegangan. Sampai akhirnya... Merekapun sampai di perumahan Harmonia dan tinggal di salah satu rumah yang ada di sana, sesuai arahan dari pihak The Heaven. Sejauh itu mungkin terasa aman-aman saja... tanpa menyadari satu momen ketika seseorang menargetkan mereka di perbatasan kota layang. Dan satu orang misterius lainnya lagi.
_________
[BAB 1: Back To School]
Waktu itu hari yang melelahkan. Capella lebih banyak beristirahat dari biasanya.
Kecuali Tim yang bahkan masih asyik bermain VR saat waktu padahal sudah menunjuk pukul sepuluh malam. Anak seumurannya harusnya sudah berada di kamar dan tidur, dan bukannya masuk ke kuil kuno dengan banyak jebakan.
Sedangkan Ibunya lebih sering sibuk terus mengurus sesuatu di laptop nya yang entah apa sampai hampir seminggu terakhir ini.
Capella mencoba tidak mau menggangu. Mungkin hanya urusan pekerjaan barunya.
Tapi... lupakan hari-hari itu!
Anggap saja masa membiasakan diri di rumah baru mereka, dan semua teknologi canggih yang cukup memusingkan tapi juga cukup membantu setiap tugas mereka. Seperti Ibu mereka, yang sangat terbantu karena kehadiran si Romi.
Dan sekarang, Dia dan keluarganya baru saja memasuki hari kelima di Star Colossus.
Sinar matahari buatan menyelinap melalui tirai otomatis di kamarnya. Capella yang masih tertidur sedikit menggeliat di atas ranjangnya saat dia terhanyut dalam suatu mimpi. Kelopak matanya bergetar ikut merespon yang tidak nyata.
Di mimpinya.. Dirinya sedang berjalan bersama satu orang perempuan yang jauh lebih tinggi darinya. Seseorang itu menggandeng tangan kecilnya, membawanya menelusuri lantai mall yang hampir dipenuhi pengunjung lain.
Mimpi yang hanya sepotong itu lalu terputus tiba-tiba saat jam weker digital di kamarnya berbunyi.
Tit Tit Tit Tit...
Matanya sontak langsung terbuka lebar seperti orang terkejut.
Tapi itu hanya sebentar sebelum matanya yang masih mengantuk mulai berkedip dan sedikit memejam lagi.
Matanya masih berat, kepalanya masih berdenyut pelan semenjak perjalanan panjang sebelumnya_ naik dari kota bawah ke Star Colossus, kota layang yang mengambang di antara sisa-sisa peradaban lama. Dia mengusap wajah, matanya masih bingung menyesuaikan kondisi sekitar kamar saat sebelum dirinya berbalik ke arah jam weker yang masih berbunyi di atas lemari laci di sisi sebelah ranjang.
Tit Tit Tit Tit...
Tanpa melirik ke arah bunyi, Tangannya tepat menyambar_ menampar lemas atas jam weker itu dan bunyinya langsung terhenti. Tak!
"Mhh..," Capella mengerang. Arah hadap baring tubuhnya berbalik ganti sendiri ke arah satunya lagi sebelum... dia baru menyadari ada sesuatu yang sudah dekat mampang di sisi sana.
Otaknya belum bisa sepenuhnya merespon apapun di sekitarnya. Matanya yang sempat terbuka sedikit saat berkedip sudah menangkap objek itu tapi dia kembali memejamkan mata.
Tapi itu hanya sesaat.
Hanya jeda sedetik saat kembali memejam, matanya langsung terbuka sepenuhnya. Benar-benar terbuka lebar sampai rasa kantuknya instan terasa lenyap seketika.
Tanpa suara tanpa apapun...hanya wajah robot metalik gelap menatapnya dengan sepasang mata merah menyala. Begitu dekat dengan wajah Capella.
"Kyaa!!" Capella menjerit pendek!
Tubuhnya spontan beranjak setengah bangun, sebelum otaknya sepenuhnya dapat memproses sosok kerangka logam yang seakan sudah semalaman ikut tidur bersamanya.
Dirinya tidak takut, hanya terkejut. Itu dua hal berbeda.
Dan saking terkejutnya, Capella juga sampai melesatkan tangannya cepat tanpa pikir panjang. Meninju mantap tepat di wajah si... apapun itu yang membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Ah!" Suara melengking dari bawah samping tempat tidur tepat saat tinjuan Capella mengenai tepat di wajah kerangka logam tadi. Robot itu terguncang, lalu dengan dramatis roboh ke lantai dengan suara berderak. Dari samping tempat tidur, sesorang keluar dengan menyembulkan kepalanya terlebih dulu.
Itu ternyata Tim. Dan robot tadi juga ulahnya.
Matanya menangkap gerak panik Kakak perempuannya yang buru-buru mencari sesuatu, sebelum tangannya akhirnya mengambil bantalan kepala dan mengangkatnya tinggi-tingi. Tapi satu tangannya memeluk erat kedua kakinya yang ditekuk rapat_ membuat celana pendek tidurnya semakin berkerut naik.
Tanpa menyadari rasa sakit di tangan kirinya, "TIM!" Protes Capella. Melempar bantal yang tadinya ingin dilempar kepada sosok tadi tapi tidak jadi, setelah dirinya akhirnya tahu siapa dalang dibaliknya.
Tim reflek menundukan tubuhnya menghindari lemparan bantal dari kakak perempuannya yang nyaris saja pas mengenai wajahnya.
Melesat melewati atas kepalanya. Sesaat kembali menghilang ke balik tepi ranjang tempat tidur sebelum kemudian kembali muncul menegakan kembali tubuhnya.
Capella menarik napas dalam-dalam, jantungnya masih berdebar kencang. "KAU INI!" desisnya. Tim hanya tertawa puas melihat ekspresinya.
"Bagaimana kau bisa ma... Dan apa itu?! Dari mana kau dapat?!" Lanjutnya. Wajah Capella semakin mengerut saat matanya bergeser, melihat Tim mengambil kembali kerangka logam yang hanya setengah tubuh atas dari lantai.
Benda yang ditinjunya tadi.
Bahan logamnya sebenarnya palsu_ hanya lapisan tipis di luar rangka plastik, tapi detailnya cukup mengesankan untuk sebuah mainan.
"Rahasia! Sahut Tim. Tangannya diposisikan pada beberapa pegangan kendali sederhana di bawah setengah badan kerangka itu.
"Ikutlah denganku jika kau ingin hidup!" Tim lalu menirukan ciri khas suara berat dari salah satu film lawas robot pemusnah, sambil menggerakkan bagian-bagian tubuh pada robot itu dengan pergerakan kaku dan bunyi-bunyi derit engsel yang serat. Rahang kerangka robot bergerak terbuka dan tertutup menyesuaikan kalimatnya dan tiruan suaranya yang terlalu dipaksakan. Antara mirip atau malah jadi terdengar lucu.
Capella menggeleng, tapi sudut mulutnya mulai terangkat.
"Hentikan itu!" Jari telunjuknya menunjuk serius, "Tim, ini kamarku! Wilayahku! Aku perempuan... dan kau laki-laki!"
"Kau tidak boleh masuk kesini!"
"Kau masih kecil! Lihat?! Kecil seperti ini!" terus sambungnya. Kedua jarinya memberi jarak sejengkal_ menggambarkan ukuran_ seberapa kecilnya dia.
"Oh.. Berarti nanti kalau aku udah gede boleh tidur di sini ya Kak?" balas Tim, alis-alisnya bergerak naik turun.
Pipi Capella sontak memerah. Kalimat balasan tidak terduga dari Tim membuatnya membeku di tempat untuk sesaat.
"Tim.. Aku bersumpah akan menunjukan video itu lagi jika kau tidak keluar dari kamarku sekarang juga!" Suaranya berubah lebih berat dan ditekankan. Tubuhnya bergeser lebih ke tepi ranjang dengan fokus wajahnya yang tidak teralihkan sedikitpun.
Bulu kuduk Tim langsung berdiri. Pikirannya kembali mengingat yang waktu perjalanan saat di dalam mobil.
Adiknya tidak lagi merespon.
Matanya membesar dan buru-buru langsung berpaling pergi dari sana saat mendengar anacaman dari Capella.
Menjauh dengan robot kerangka di tangannya yang seperti boneka Ventriloquist itu.
Langkahnya kikuk saat dia berjalan cepat ke arah pintu di belakangnya.
"..Oya! Mamah manggil!" Ucap Tim singkat. Berhenti sejenak dan berbalik menghadap Capella dari ambang pintu sebelum kemudian dia kembali berpaling pergi. Tim cepat-cepat menjauh dari sana_ melesat keluar dari kamar Capella.
Capella hanya berkedip pada arah pintu yang masih terbuka dengan raut wajah masam, sebelum kemudian... pandangannya baru bergeser ke sudut samping ranjang kasurnya.
Robot Zero terlihat diam di sana seperti pajangan_ kepala oval nya mendongak memandang langsung kepadanya yang masih di atas ranjang.
Proyeksi mata pixel nya tidak berkedip sama sekali, seolah berbinar melihat sesuatu yang jauh lebih indah dibandingkan Motherboard-nya sendiri.
"Kamu ya yang bantu Adikku masuk?!" Bisiknya dengan nada ditekankan lebih. Jejeran atas dan bawah giginya merapat.
Tidak ada respon.
Masih tidak ada respon.
Sampai...
"PENGKHIANAT! PENGKHIANAT! PENGKHIANAT!... ."
Tiba-tiba dia menjerit. Suaranya bahkan lebih keras dari yang kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi.
Belum robot itu sampai mengulang kalimat yang sama untuk kelima kalinya, Capella lekas mengambil jam weker dari atas laci meja di samping ranjang kasur tadi, dan melemparnya mantap sampai tepat mengenai kepala Zero.
PLANG!
Benturan jam weker sampai membuat Zero instan terjengkang kebelakang. Tubuhnya yang seperti kaleng biskuit terkapar di lantai.
Kreeeekeek... Sraaaak...
Bunyi statis rusak saat Zero tidak merespon untuk sesaat. Masih terkapar di lantai dengan layar mata yang menunjukan animasi loading jam pasir yang terus dibalik. "Memuat Ulang" Tulisannya seperti itu. Sebelum kemudian layar pada matanya kembali normal seperti semula dan tubuhnya kembali bangun dengan lincah menggunakan kedua kaki roda mini tank nya.
Dia juga tidak meneriaki sebutan "Pengkhianat" itu lagi, dan malah langsung berpaling pergi menjauh dari Capella_ menyusul Tim yang tadi sudah melesat keluar duluan.
...
...
Tenaganya belum sepenuhnya pulih. Tapi dia mencoba berjalan dengan pakaian tidur yang masih dikenakannya. Bahkan rambutnya belum sempat disisir dan terlihat seperti benang kusut.
Capella menuruni tangga spiral dengan langkah berat. Tangga itu kembali mengeluarkan nada-nada piano setiap kali diinjak_ fitur mewah yang seharusnya membuatnya terkesan seperti saat awal kedatangannya atau hari lain setelahnya_ tapi sekarang hanya mengingatkannya pada deretan tuts piano tua di rumah lama mereka.
Di dasar tangga, aroma kopi menyergap hidungnya.
Ibunya, Margaret, duduk membungkuk di depan layar laptopnya. Semoga saja Ibunya itu tidak berarti habis begadang semalaman.
Posturnya tegang, kedua bahunya naik sedikit lebih tinggi seperti biasa ketika dia sedang berkonsentrasi. Di latar belakang, TV menayangkan kartun lawas yang seharusnya mengisi keheningan, tapi Capella tahu ibunya sama sekali tidak memperhatikan.
Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, sesekali berhenti untuk menyeruput kopi dari cangkir keramik bergambar bunga-bunga yang sudah retak di salah satu pinggirnya_ salah satu benda dari rumah lama yang dibawa ibunya ke sini. Benda warisan.
Masih berdiri di tiga anak tangga terakhir di bawah, "Mah," Capella memanggil pelan, tapi Margaret tidak bereaksi. Dia menghela napas dan lebih mendekat, sengaja menginjak lantai yang memicu nada piano lebih keras.
Kali ini berhasil.
Ibunya menoleh, wajahnya terlihat sedikit lebih tua di bawah cahaya biru laptop. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
"Ah, kamu sudah bangun," ucap Margaret sambil menegakan postur tubuhnya di sofa ruang keluarga sana. Dari kejauhan, Capella bisa melihat kilatan dokumen asing di layar sebelum semuanya bergeser jadi gambar-gambar ruangan mewah. Ibunya tersenyum, tapi matanya tidak ikut bersinar. "Sayang, Aku punya kabar baik. Kamu akan bersekolah lagi."
Capella mengerutkan kening. "Hah?! Tapi aku belum... ." Dari sudut matanya, tas sling bag miliknya sudah terisi di dekat kaki Ibunya_ sela antara meja dan sofa.
"Tidak apa, Sudah kuurus semuanya," Margaret menyela, tangannya menggeser arah layar laptop di atas meja tadi ke arah Capella yang spontan melangkah mendekat. Matanya menyipit untuk memastikan ketika jari Ibunya mengetuk dan menggesek permukaan touchpad.
Di layar, muncul hologram brosur digital V-E-N-O-M yang berputar perlahan, menampilkan gedung Akademi megah yang tampilannya lebih mirip kastil besar tapi bergaya futuristik. "Virtual Evolution Network Of Minds! Salah satu yang terbaik di Star Colossus. Dan... ," Ibunya berhenti sejenak, "... Ini gratis! Biayanya sudah ditanggung. Betapa beruntungnya kita!"
Capella terpaku tidak merespon. Kata "Gratis" itu membuatnya curiga.
Capella menunduk memijat keningnya sebentar sebelum kepalanya mendongak ke arah TV besar di atas dinding sana. Kartun di layar sedang menunjukkan adegan robot truk merah yang sedang berduel sengit melawan robot putih bersenjata meriam canon besar di lengan kanannya_ yang terlalu kuat setelah memiliki gabungan kekuatan dari para kaki tangannya.
Capella tidak mengenal kartun itu.
Kartun yang mungkin tadi sempat ditonton oleh Tim tapi malah cepat bosan karena bukan seleranya yang terlahir pada masa sekarang.
"Akademi?!" Pandangannya lalu turun lagi kepada Ibunya. Alis matanya dinaikan tinggi.
Mengangguk cepat, "Ya!" Ibunya tersenyum manis.
Di balik mereka, Tim berlari cepat dari pintu halaman belakang. "Aku juga mau sekolah!" teriaknya, Ibunya dan kakak perempuannya sontak menoleh padanya dan mengikut pandang pada Tim yang mendekat.
Tidak tanggung-tanggung, Dia langsung melompat naik dari belakang senderan sofa, dan bokongnya langsung mendarat sempurna tepat di samping Ibunya. Tubuhnya sedikit memantul.
"Tidak, sayang. Kamu tetap belajar daring. Hanya dua jam sehari, seperti biasa." Suara ibunya lembut tapi tegas sambil memandangnya fokus, sebelum arahnya kembali fokus pada anak perempuannya lagi.
Capella memperhatikan bagaimana jari-jari Tim mencengkeram pinggiran sofa. Dia tahu kalau adiknya menyimpan keinginan untuk bertemu anak-anak lain seumurannya secara langsung_ seperti dirinya. Tapi sepertinya dia belum bisa mendapatkan kesempatan itu, bahkan sejak masih tinggal di kota lama wilayah bawah.
Wajahnya samar menunjukan campur aduk antara sedih dan kecewa yang tertahan.
"Cap Sayang.. Siap-siaplah, kelas mereka dimulai jam sembilan!" Gegas Ibunya tapi dengan cara pandang yang tetap lembut. Menyadarkan Capella yang sempat memperhatikan cara ekspresi wajah Tim tadi_ Wajah sedih yang tidak disadari Ibunya.
"Sembilan pagi? Hari ini juga?!" Capella menatap ibunya dengan mata membesar. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul 07:46.
Tangannya secara refleks meraih rambutnya yang masih kusut. Aku bahkan belum mandi! Bauku mungkin akan seperti mayat hidup di luar sana!"
Ibunya hanya mengelah nafas sabar. Jari telunjuknya kembali menekan touchpad dan menunjukan sesuatu kepada Capella. Menunjukan baris pesan undangan dari sistem surat VENOM. Permintaan langsung dari Akademi sana. "Cap, Mereka sangat bersikeras. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa," ucapnya sambil mengetuk-ketuk permukaan meja dengan kuku-kukunya yang setengah panjang.
Capella menggaruk lengannya yang tiba-tiba gatal. "Tapi Mah... ."
"Romi sedang masak sarapan pagi Tim, dan juga kamu!" Margaret menyela dengan nada yang lebih naik, wajah dan matanya tidak berpaling sedikitpun dari Capella.
"Romi siapa?" Capella mengerutkan dahi.
"Robot pelayan cantik kita! Siapa lagi?" Matanya melirik ke arah robot Maid yang sedang sibuk di dapur_ tubuh porselennya yang mengkilap kembali bergerak di atas rel roda tersembunyi di balik gaun pelayan kakunya.
"Tunggu... Mama memanggilnya Romi?" Capella menyipitkan mata. Gadis itu ingat betul nama resmi robot itu R-0M1. Kode yang ada di sisi dada lapisan porselennya.
Margaret tiba-tiba sibuk merapikan rambutnya yang padahal sudah rapi. "Ya! Romi, kamu tahu... lebih mudah diucapkan."
Di dapur, robot Maid bergaya Victoria itu berputar dengan sempurna, membawa nampan berisi telur mata sapi dan roti panggang. Space buns pink porselen pucatnya yang hanya tersambung engsel mesin tipis terlihat bergoyang kesembarang arah setiap dia bergerak. Seperti Bobblehead !
Keluar dari balik dapur terbuka itu dengan cepat, "Sarapan siap, Nyonya Margaret," suaranya yang datar kurang ekspresi itu lagi. Dia menaruh dua piring makanan di atas meja makan sana.
Capella memperhatikan bagaimana ibunya samar sedikit tersentak saat robot itu menyebut namanya_ seolah ada yang salah dengan pemanggilan itu.
"Terima kasih, Ro_ " Margaret tercekat, lalu cepat-cepat mengoreksi diri, "R-0M1" Saat Capella menatap padanya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Kedua tangannya yang mantap di pinggang_ membuat baju tidur rumahan hitam jenis Camisole-nya itu berkerut pas membentuk postur pinggang rampingnya.
Robot Maid mereka membeku sepersekian detik, matanya berkedip terlalu lama sebelum akhirnya mengangguk dan berbalik kembali ke dapur.
Dan entah apa dia salah lihat atau apa... Capella sepertinya melihat sedikit percikan statis melompat dari sambungan lehernya.
Semoga saja kepalanya tidak tiba-tiba putus saat menyajikan makanan di depan mereka kedepannya nanti. Mengingat suatu momen ketika robot kurir makanan di kota bawah waktu itu, yang kepalanya tiba-tiba patah ke belakang dan berguling di jalanan saat ada anak-anak yang sedang bermain permainan era lama.
Jeritan mereka melengking pas melihat itu. Momen lucu dan mengerikan disaat bersamaan.
"Oya Cap, Lokasi sudah Ibu kirim ke tabletmu ya?!" Margaret menutup laptopnya dan lekas beranjak dari sofa. Jari-jari tangannya berusaha merapikan kerutan di bagian lengan jaketnya saat dia berpaling menuju rak tempat barang-barangnya ditaruh.
"Ibu berharap bisa mengantarmu tapi...," Gumam samar Ibunya, hampir tidak terdengar oleh Capella. Tangannya sibuk mencari-cari sesuatu tapi berujung hanya tas selempang hitam pipih usang yang diambilnya.
Laptop diselipkan masuk ke dalam tas, "Jangan terlambat!" bisiknya dari sana, matanya melirik ke jam holografik yang terus berdetak di dinding. Capella memperhatikan bagaimana ibunya menarik napas dalam-dalam sebelum menekan tombol kecil pada alat di pergelangan tangan_ sebuah proyektor mini yang langsung memunculkan peta tiga dimensi di atas punggung tangannya. "Ibu harus pergi. Mereka hanya memberi waktu tiga puluh menit untuk interview ini."
Capella hampir tidak sempat membuka mulut ketika Ibunya melesat cepat. Margaret mengambil bola garasi portable, dan sudah pergi ke arah luar pintu depan rumah dengan tas selempang yang hanya khusus untuk ruang laptop yang dibawanya.
Meninggalkan aroma parfum beraroma anggur yang terlalu tajam.
Di tengah jalan, ibunya berbalik sejenak, "Tim sayang, habiskan makananmu!"
"Apa nggak ada lauk lain?!" Tim meratapi sarapan pagi yang penuh kesederhanaan di depan meja makan, tidak seperti waktu kemarin dengan hidangan Pie Apple dan Makaroni Keju.
"Makanlah apa yang ada!" Suara tinggi dari jauh. Ibunya membuka kedua daun pintu kaca lebar-lebar dan keluar dari rumah. Sebagian udara dan sejuk di luar langsung menghembus masuk ke dalam... menyatu dengan suhu dari pendingin ruangan yang sepertinya tak akan pernah libur.
Masih memperhatikan Ibunya pergi di telan cahaya dunia luar rumah... Dapur tiba-tiba riuh dengan suara logam berderak.
Tim sedang mencoba memanjat R-0M1 seperti pohon natal, kaki-kakinya yang kecil menggantung di pinggang robot Maid yang lebih ramping dibandingkan dengan tubuh wanita sungguhan. "TIM! TURUN!" suara Capella menggelegar di ruangan yang tiba-tiba hening.
R-0M1 berkedip dua kali, lalu dengan lembut mengangkat Tim seperti boneka sebelum menurunkannya dengan hati-hati ke lantai sepetti benda yang mudah pecah.
"Tapi aku nggak mau telur! Atau roti itu...," rengek Tim, tangan mungilnya menunjuk lurus-lurus ke arah kedua lauk di atas piring di meja makan tadi.
Jika Romi atau R-0M1 itu punya kesadaran atau perasaan, ucapan Tim tadi pasti akan membuatnya sedih. Tapi dia hanya memandang Tim dengan ekspresi datar. Matanya hanya berkedip beberapa kali saat sistemnya berusaha memahami tingkah Tim yang hampir tidak mau mendekati makanan yang sudah dibuatnya.
"Kalau Mama bilang makan ya makan Tim!" Capella menghela napas sambil melirik pada jam lagi_ 07:58. Masih ada waktu, tapi perutnya mulai sedikit mual pas baru duduk di kursi makan. Tapi dia tetap memaksakan diri. "Sudahlah. Aku nggak punya waktu jadi Babysitter."
Capella mulai menyendok telur dengan gerakan cepat, hampir tidak mengunyah sebelum menelannya.
Dari sudut matanya, ia melihat R-0M1 bergerak kikuk mencoba mengejar Tim yang melesat dari dapur ke ruang tengah dengan robot kerangkanya tadi. Karena roda bawah robot Maid itu terjebak di rel penghubung antar ruangan, membuatnya hanya bisa bergerak maju-mundur atau memutar badan.
Robot itu sekarang sedang berusaha menahan Tim yang mencoba memanjat lemari dapur berisi makanan ringan.
Capella tidak menunggu Romi untuk membantunya mempersiapkan diri. Membiarkan nya dengan Tim agar adiknya tetap sibuk dan tidak mengganggunya di pagi itu.
Dia berusaha menyingkat waktu.
Capella selesai dengan sarapan paginya yang masih menyisahkan setengah dari rotinya. Bukan karena waktu, melainkan sesuatu yang membuat tenggorokannya tidak mau lagi menelannya. Setidaknya sekarang Gadis itu tahu kenapa si Tim adiknya enggan untuk memakannya.
Tidak ada yang salah dengan telurnya, tapi Roti panggang itu... menurutnya mungkin agak terlalu keras, hambar, dan terasa sedikit pahit bercampur asin di bagian pinggiran. Insting Tim benar. Selai buah yang melumuri roti hampir tidak berguna.
Walau gitu Capella tidak mau mengeluh.
Dia meminum habis segelas airnya dalam sekali tegukan cepat, lalu langsung naik ke kamarnya lagi dan mempersiapkan diri apa adanya tanpa mempedulikan suara gaduh dari lantai bawah. Entah apa yang dilakukan Tim lagi... tapi kedengarannya seperti ada pertarungan sengit antara Tim dan Robot Maid nya.
Menata diri di depan cermin.
"Ah.. Tim.. ," Gumam samar Capella, Tangannya menyentuh permukaan cermin di permukaan pintu lemari pakaian_ yang otomatis langsung memindai telapak tangannya sebelum pintu itu terbuka. Tangannya yang lain langsung menyambar setelan pakaian seperti yang biasa dikenakannya saat berpergian_ walaupun dia jarang sekali keluar rumah.
Bahkan untuk hari-hari pertama di Star Colossus, dirinya baru mengenakan jaket itu untuk yang kedua kalinya setelah hari awal kedatangan.
Pakaian yang sama dan ada beberapa cadangan yang serupa.
...----------------...
Bawahannya sudah dikenakan rapih tapi Jaket ungu asimetris one sleeve tergantung seadanya di pundaknya saat dia berusaha merapihkan rambut dan mengenakan bando dengan jejeran duri kecilnya itu lagi.
"Oke..," Menghela nafas rileks saat memandang penampilannya yang hampir lengkap.
Di depan cermin meja rias, dia mengkaitkan kalung ke belakang lehernya dengan asesoris liontin bintang perak dengan bentuk empat ujung cabang besar dan empat cabang kecil_ sama seperti motif gambar bintang pada jeansnya, sebelum matanya bergeser pada sebuah botol parfum kecil yang tergeletak di rak.
Benda yang jelas bukan miliknya.
Tanpa pikir panjang, ia menyemprotkannya ke leher dan pergelangan tangannya. Aromanya aneh; seperti bau susu fermentasi atau yogurt. Bau yang seharusnya tidak enak, tapi entah bagaimana justru membuatnya merasa lebih... siap, sebelum jaket itu akhirnya ia kenakan.
Tangannya berusaha memastikan ikatan kedua sabuk yang mengikat jaket di sekitar pinggangnya saat TV di dinding tiba-tiba menyala sendiri dengan suara gemerisik statis. Orb animasi di tengah layar mengeluarkan gelembung-gelembung kecil yang membentuk pola aneh_ hampir seperti sebuah pesan.
Capella mengernyit mendekatkan diri.
Bukan untuk mengurus permasalahan aneh pada layar itu, tapi melainkan bertujuan mengambil tabletnya yang berada di meja bawah_ tepat jarak lurus di bawah ketinggian dari layar TV tadi.
Dia pun langsung berbalik dan berjalan keluar dari kamarnya.
Turun kembali ke ruang utama...
"Tim!!" teriaknya pelan. Berjalan mendekati sofa dan meraih tali tas hitam selempang sekolah -Kapuas-Sling Bag bergaya Korea unisex stylish junior company- yang langsung dikaitkan nyaman di sebelah bahu. Semua yang sudah disiapkan Ibunya ada di sana. Katanya begitu.
"Awas ya kalau nanti rumah berantakan~"
Tim menyembulkan kepalanya sedikit dari balik sofa tempat ia bersembunyi dari Romi atau R-0M1 yang sedang memutar tubuhnya_ memindai setiap ruangan dengan sepiring sarapan pagi milik Tim di tangan kanannya yang sama sekali belum tersentuh sedikitpun.
"Shh...," Tim menaruh telunjuk di depan bibirnya sebelum seluruh kepalanya kembali turun bersembunyi di balik punggung senderan sofa.
Capella tidak bisa terus di sana lebih lama lagi.
Dia berpaling meninggalkan Tim dan menuju halaman depan rumah_ mendekati pintu yang sudah dibiarkan terbuka oleh Ibunya tadi. Udara buatan Harmonia yang terlalu segar menyergap wajahnya lagi.
Di belakang, Zero atau Z-E-R-O melesat cepat mendahului Capella dan berhenti di tepi ambang pintu.
Memandang pada Capella, "Boop!" Proyeksi pixel mata robot kecil itu berkedip sekali.
"Selamat menikmati hari, Dasar kaleng biskuit pengganggu konsentrasi!" Robot itu melambai cepat dengan salah satu tangan kecil bercapitnya.
Capella cuek. Terus berjalan keluar pintu depan melewati Zero yang hanya mengikut pandang padanya, tapi telinganya tetap menangkap suara kecil dari dalam rumah sebelum akhirnya terkubur oleh suara alam buatan di luar.
…
…
…
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥