8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.
Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.
Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.
Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.
Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7. kenyataan
"nyonya,dari tadi nyonya belum makan sedikitpun. Makan dulu yah nyonya,mau saya ambilkan dari rumah atau saya beli di kantin?"tanya mbak art.
Di rumah sakit itu,Eveline hanya di temani oleh supir dan satu art rumah. Itupun yang bisa masuk di dalam ruangan hanya Eveline saja, sedangkan kedua pelayan nya hanya bisa menemani di luar.
Karena yang bisa menunggu Sera di dalam hanya dua orang, karena Sera belum sadar. Tadi dokter sudah datang dan memeriksa, ternyata ada indikasi jika Sera terlalu banyak menghirup asap rokok hingga membuatnya semakin parah dan belum sadar sampai sekarang.
"Nyonya juga harus mengingat kesehatan nyonya, nanti kalau nyonya ikut sakit gimana nyonya."
Eveline pun tersadar,dia tak mungkin harus merawat Sera dengan keadaan yang tak baik baik saja.
"Ya sudah,aku ke kantin dulu yah bi, titip Sera."
"Iya non."
Sera pun pergi ke kantin rumah sakit,tak banyak yang dia beli. Hanya sebungkus roti dan satu gelas kopi, itupun Eveline tidak memakan di tempat.
Dia terus terusan mengingat Sera,bahkan satu menit Sera tak ada di pengawasan nya pun, pikiran Eveline terus mengarah ke Sera.
Karena tak fokus,dan terburu buru Eveline sampaintak sengaja menabrak seorang laki laki hingga kopi nya tumpah sedikit ke jas yang di pakai oleh laki laki itu.
"Astaghfirullah,maaf mas saya gak sengaja."panik Eveline.
"Iya iya gak papa mbak."
Merasa begitu familiar dengan suara itu, Eveline pun mendongak.
"Rion."
"Eveline."
"Kamu ngapain disini eve?"tanya Rion.
"Mata kamu bengkak gitu,abis nangis?"tanya Rion sangat perhatian dan terlihat khawatir.
"Sera di rawat."jawab Eveline.
Seketika Rion kaget. "Sakit apa Eve?"
"Pneumonia,dan sekarang masih belum sadar."
"Astaga,ayo aku mau lihat Sera."Rion ketara sangat panik saat mengetahui jika Sera yang tengah di rawat.
Eveline pun membawa Rion ke ruangan Sera. Rion menatap nanar ke arah Sera yang berbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Dengan pelan Rion mendekat lalu mengusap pelan kepala Sera. "Cepat sadar dan sembuh sayang,om menunggu kamu. Kamu anak hebat."ucap Rion,dengan mata yang berkaca kaca.
Eveline pun menatap nanar ke arah Sera. "Kenapa bisa kayak gini Eve?"tanya Rion.
Eveline pun membawa Rion ke sopa,dan disana Eveline menceritakan semuanya. mulai dari dokter yang mendiagnosis jika Sera mempunyai penyakit pneumonia dan gejala awal Sera.
Eveline juga menceritakan jika sebelum Sera di bawa ke rumah sakit,Sera terpapar asap rokok Aldric hingga membuat nya semakin parah.
Tentu Rion terlihat marah,walau Aldric sahabat nya sedari kecil namun mengetahui kejadian ini membuat Rion marah.
"Lalu sekarang Aldric dimana? Kamu udah telpon dia?"tanya Rion.
"Semalam aku udah telpon dia,tapi—"bibir Eveline serasa berat ingin menceritakan semuanya.
Ucapan Aldric semalam masih begitu membekas di hati dan pikirannya. Namun walau begitu Eveline menceritakan nya juga.
Rion mengepalkan tangannya,mendengar cerita Eveline. Emosi nya semakin memuncak.
"Aldric bre*sek."gerutu nya dalam hati.
"Gak papa,aku akan temani kamu jaga Sera disini."
Eveline menggelengkan kepalanya. "Gak usah,aku bisa kok jaga Sera sendiri disini. Kamu pasti banyak kerjaan."
"Jangan larang aku untuk menjaga dan merawat Sera Eve,kerjaan aku bisa sekertaris aku yang handle. Sera juga udah aku anggap anak sendiri,tolong jangan larang aku."
Eveline pun terdiam dan mengangguk. "Makasih Rion."
Rion pun tersenyum. "Aku akan selalu ada untuk kamu dan Sera,kalian masih punya aku." Rion lalu merentangkan kedua tangannya.
Eveline pun mendekat dan memeluk tubuh Rion, kemudian menumpahkan air matanya di pelukan Rion.
Sorenya,Tasya. Teman Eveline datang untuk menemani Eveline menjaga Sera. Eveline duduk di kursi dekat ranjang Sera,dia tak pernah beranjak dari sana.
Sedangkan Rion dan Tasya duduk di sofa. Eveline sedari tadi terus menggegam tangan Sera, menunggu Sera tersadar dari alam bawah sadarnya.
Sedangkan Rion dan Tasya kini sedang bermain ponsel,lebih tepatnya Rion sedang mengerjakan pekerjaan sedangkan Tasya sedang mencari hiburan lewat gawai nya.
Di tengah keheningan itu,tiba tiba Tasya berucap.
"Laki laki bren*sek."ucap Tasya yang mampu membuat Eveline dan Rion menoleh ke arahnya.
"Kenapa?"tanya Rion.
Tasya langsung memperlihatkan isi dalam gawai nya pada Rion. Melihat itu Rion langsung tersulut emosi,raut wajahnya langsung berubah, tangannya terkepal kuat. Dia berdiri lalu keluar dari ruangan Sera entah pergi kemana.
Sedangkan Eveline hanya bisa melihat kepergian Rion. "Ada apa?"tanya Eveline.
"Ini kelakuan suami yang selalu lu bangga banggakan,ini kelakuan suami lu yang lu pertahanin dan perjuangkan hah! Bahkan saat anaknya lagi sekarat dia masih bisa bisanya ngerayain ulang tahunnya,hah!"Tasya memperlihatkan dalam sebuah postingan Instagram.
Terlihat Aldric tengah merayakan ulang tahunnya bersama dengan rekan rekan kantor dan teman nya di sebuah restoran. Lebih tepatnya Aldric yang di berikan suprise.
Eveline terdiam melihat nya,hatinga mencolos melihat itu. "Ayo tunjukin dimana surat kawin lu,kartu keluarga lu. Sekarang gue bawa ke pengadilan agama."Tasya tak bisa lagi membendung rasa kesal dan marahnya.
Selama berteman dengan Eveline,dan Eveline menikah dengan aldric tak pernah sekalipun dia mendengar kehidupan rumah tangga sahabatnya selayaknya keluarga.
Sudah berulang kali juga Tasya menyuruh Eveline untuk berpisah dengan Aldric,namun teman nya itu tetap keukeuh mempertahankan pernikahan ini bahkan sampai delapan tahun lamanya.
"Lu masih mau mempertahankan pernikahan anj*g ini hah? Liat tuh kelakuan suami lu itu, keterlaluan bang*at. Dasar laki laki anj*Ng, b4b1,bapak g0b10k,bapak br3n9s3k."segala sumpah serapah Tasya keluarkan untuk laki laki bernama Aldric itu.
Muak sudah Tasya dengan laki laki itu,ingin rasanya menghantarkan nya kedalam neraka.
Eveline hanya bisa diam tak mengatakan apapun, pikiran,hati,semuanya sedang berantakan bahkan lidahnya sudah tak mampu mengeluarkan bahkan hanya satu katapun.
"Lu mau mikir apa lagi ve? Kurang sakit lu selama ini? Pake otak lu pake ve. Dia udah nyakitin lu sedalam ini,lu masih mau bertahan sama dia."
"Tapi-"
"Tapi apa? Sera? Belum jelas kejadian sekarang membuka mata lu,bahkan Sera kayak gini juga gara gara laki laki itu ve. Lu masih mau beralasan bertahan hanya untuk Sera? Gila lu ve."Tasya mulai terbawa emosi,suaranya mulai meninggi.
"Buka mata lu lebar lebar Eveline,dia udah buat lu menderita. Okey dulu gue nahan buat lu gak pisah sama dia,beralasan karena untuk kebahagiaan Sera,biar Sera gak kehilangan sosok ayah. Tapi lihat ve,bahkan saat kalian masih bersama aja Sera udah kehilangan sosok ayah,bahkan lebih parah Sera ngerasain sakit dari sosok ayah itu. Kurang apa lagi ve? Dia udah nyakitin lu sama Sera sedalam ini. Lu mau tambah bikin sera menderita dalam hubungan kalian yang toxic ini hah!"
"Walau lu bertahan gak akan ada yang bahagia di sini ve,liat Sera dia udah terluka lu masih mau membuat dia terluka. Sera gak pernah bahagia dalam rumah nya ve,lebih baik lu pisah sama dia. Udah gak ada alasan lain lagi,dia bahkan gak akan pernah berubah ve."
Eveline hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar semua ucapan dari Tasya,yang memang sangat realite.
Tasya terdiam sejenak, memperhatikan Eveline yang sangat menyedihkan. Pelan pelan dia menurunkan nada bicaranya.
"Kali ini gue gak main main ve, pikirkan semuanya dengan baik baik. Selamanya hubungan ini gak akan sesuai dengan yang lu harapkan,masih banyak laki laki yang siap membahagiakan lu sama Sera. Percaya sama gue ve,lu akan mendapatkan laki laki yang bisa memberikan apa yang lu harapkan selama ini."ucap Tasya penuh kelembutan,kini dia memeluk tubuh Eveline yang rapuh.
Dan dipelukan itulah Eveline tak bisa lagi menahan air matanya,menangis tersedu di pelukan Tasya.
Hello gays,maaf yah baru bisa update lagi. makasih yang udah doain author cepat sembuh,kalian jaga kesehatan juga yah.
info update author post di Ig @H.alwiah_putri.writers
See you next chapter gayss
smoga segera launching adikmu