Setan itu banyak bentuknya. Tak kasat mata. Mengalir dalam setiap aliran darah manusia-manusia yang penuh dengan amarah, benci dan dendam. Dan inilah yang dialami oleh Marni. Pernikahan yang membuat kehidupannya hancur dan terjun ke dalam lubang penderitaan. Bukan hanya karena kemiskinan yang tak berkesudahan namun perlakuan suami yang tidak beradab. Akankah Marni tetap bertahan ataukah lari mencari kebahagiaan yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Penari dan Monyet
Marni merasakan badannya begitu sakit. Bahkan untuk membuka matanya saja, dia sepertinya tidak mampu. Namun ada suara-suara di luar sana yang tertangkap oleh pendengarannya. Suara percakapan seseorang wanita tua, entah dengan siapa.
"Kamu jangan sering datang kemari," ucap wanita tua.
"Den Jagat sedang pergi,"
"Aku lapar!"
"Akan aku ambilkan. Kamu jangan berisik! " tegur si Mbok.
Jantungnya berdebar, dia merasa gelisah. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Yang jelas, saat ini dia sangat ketakutan. Marni tetap memejamkan matanya sampai tidak ada suara orang lagi yang dia dengar.
Perlahan dia membuka matanya.
Tidak ada siapa-siapa. Marni melihat ada ikatan di lengan atasnya. Dia menyentuh lengannya itu, dengan nafas yang berat.
Sakit!
Marni ingat betul, darimana asalnya luka itu. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, namun juga hatinya.
"Rgh," Marni meringis pelan. Sedangkan matanya melihat ke segala arah.
Sreekk!
Marni hampir menabrak meja nakas yang berada di samping ranjang.
"Shh," Marni memegang meja itu. Sejenak dirinya berdiri mematung, barulah kaki nya yang lemah itu berjalan menyusuri kamar yang sangat luas.
Sedikit banyak dia mengingat kejadian sebelum dia berada di ruangan ini.
"Aku harus keluar," ucap Marni yang bergerak ke arah jendela. Dia tidak tahu ini jam berapa karena di sana tidak ada jam dinding. Tidak ada suara kokok ayam, tidak ada suara angin. Benar-benar hening.
Marni memegang daun jendela yang sangat berat, dia berniat untuk membukanya.
"Kamu ingin membawa masuk arwah-arwah lain, Nona?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja sudah membuka pintu kamar.
Marni seketika membalikkan badannya.
"Siapa kamu? Biarkan aku pergi, aku mohon," Marni memelas.
"Panggil saja Si Mbok!" ucap wanita tua dengan rambut peraknya yang digelung dengan tusuk konde.
"Kembalilah ke ranjang, biar aku merawatmu,"
"Tidak perlu. Aku hanya ingin pulang. Aku bisa merawat diriku sendiri," Marni menolak.
Si Mbok yang yang memakai kebaya dan kain jarik berwarna cokelat itu pun berjalan mendekat, sementara Marni pun bergerak menjauh ke arah lain.
"Kembalilah. Kamu belum cukup kuat untuk keluar. Aku akan menggantikan bajumu lagi, " ucap si Mbok yang secara tidak langsung, menjawab pertanyaan Marni tentang siapa yang menggantikan bajunya.
"Biarkan aku pergi. Aku akan berterima kasih padamu," Marni memohon, semakin dia bergerak, dia merasakan hujaman-hujaman rasa sakit pada tubuhnya.
"Tentu kamu akan pergi. Jika Tuan kami sudah mengijinkan. Duduklah,"
Si mbok datang mendekat dengan sebuah cangkir di tangannya.
"Minumlah, dan beristirahat," ucap si Mbok yang terus mendekat ke arah Marni. Namun Marni bergerak ke arah yang berlawanan.
"Tentu aku akan pergi dengan atau tanpa ijin!" Marni seketika keluar saat sudah mencapai pintu. Dia berlari saat kesempatan itu datang padanya.
"Kamu akan mendapatkan masalah besar!" teriak si Mbok.
Tapi Marni sama sekali tidak peduli dengan teriakan itu. Dia tetap pergi, menuruni tangga dengan tanpa alas kaki.
"Bu," suara seseorang yang tengah mengunyah makanan.
Deg deg deg!
Jantung Marni berdebar kencang, dia terus bergerak mencari pintu keluar.
Melihat bayangan manusia dari arah dapur, Marni kemudian menyembunyikan dirinya di balik lemari yang dipakai untuk menyimpan perabot-perabot antik.
Marni menutup mulutnya saat melihat seorang pria yang memakai pakaian serba hitam dengan pisau yang berlumuran darah.
"Bu?" Pria itu kembali memanggil.
Dengan tangan yang gemetaran, Marni membekap mulutnya dengan keringat yang membanjiri pelipisnya sementara matanya terus mengawasi.
Tap tap tap!
Pria itu melangkah saat melihat ada sesuatu yang aneh.
'Jangan!' batin Marni.
'Jangan! Jangan kemari!' Marni terus saja bicara dalam hati.
Mata pria itu menelusuri penjuru ruangan, dan tidak menemukan apapun disana. Dia berbalik dan berjalan ke arah belakang.
Melihat itu, Marni pun keluar dari persembunyiannya. Dia bergerak menjari jalan keluar sambil tangan satunya memegang lengannya yang terluka, ditambah beberapa bagian tangannya berwarna biru.
Matanya memancarkan sebuah harapan saat melihat sebuah pintu besar yang kemungkinan itu adalah pintu utama. Dia juga melihat sepasang sandal jepit yang berada di rak. Marni mengambil sandal itu secara perlahan.
Klek klek!
Marni memutar kunci.
"Mau kemana?" tanya Pria itu yang tiba-tiba muncul.
"Arrrkkkk!" Marni menjerit histeris saat melihat sebuah pisau daging yang diperlihatkan kepadanya.
Secepat kilat Marni membuka pintu. Dia berlari menjauh dari rumah yang besar itu. langit masih gelap. Pria itu tidak mengejarnya, dia hanya berdiri mematung di ambang pintu. Sedangkan Marni terus berlari, tanpa arah di tengah kegelapan dan tanah yang basah.
"Akr!" Marni memekik, dia terjatuh tersandung ranting pohon yang besar, yang mungkin ambruk karena tersapu hujan angin tadi.
"Hhh," Marni berusaha bangkit, dia berlari lagi dengan menyeret kakinya yang sakit.
Sreek srek srek!
Suara daun dan ranting yang terinjak oleh wanita yang tidak tahu harus berjalan kemana.
Marni yang berlari sesekali menengok ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Namun tiba-tiba...
Bruk!
Ada sesuatu yang menimpa dirinya.
Seketika matanya berkunang-kunang dan dia mendengar suara tawa menggelegar sebelum sesaat matanya terpejam perlahan.
Sampai beberapa saat Jagat kembali dengan sebuah lentera di tangannya. Dia melihat pintu rumah yang tidak tertutup rapat.
"Mbok?" panggil Jagat.
"Ya Den!" sahut Si mbok dari arah dapur.
Si Mbok yang semula berada di lantai dua, kemudian turun dan tidak mengejar Marni yang melarikan diri. Dan dia kini bingung saat anak majikannya telah kembali. Si Mbok menemui anaknya untuk mengusirnya.
"Kenapa, Den?"
"Kenapa pintunya tidak ditutup?" tanya Jagat.
"Mungkin Aden waktu keluar, Den. Karena saya daritadi ada di dalam rumah,"
Jagat yang mendapatkan jawaban itu pun kemudian berbalik, dengan alis yang bertaut, mengingat apakah memang dia yang tidak menutup pintu depan dengan rapat?
Langkah kaki Jagat menuju anak tangga. Dia terus naik sampai anak tangga yang terakhir. Dibukanya sebuah ruangan.
"Mbok!!" Jagat berteriak dari lantai atas.
Pria itu begitu marah saat tidak mendapati Marni di kamarnya.
"Dimana dia? " Jagat dengan nafas yang terengah -engah.
"Saya tidak tau, Den. Tadi ada disini, "
"Saya kan minta si Mbok suruh jaga. Kenapa si Mbok biarkan dia pergi?!!" bentak Jagat.
"Arrgh! " Jagat berbalik dan pergi meninggalkan kamar itu.
Sedangkan wanita tua itu hanya memandang majikannya yang sudah hilang dibalik pintu.
Angin begitu kencang, Jagat hanya membekali dirinya dengan sebuah lentera yang ditukar dengan senter kecil di tangan.
"Astaga. Kemana perginya wanita itu?! " ucap Jagat diiringi suara sepatu yang beradu beradu dengan tanah yang basah. Wajahnya basah oleh tetesan rintik gerimis.
Sementara Marni tersadarkan oleh sebuah alunan gambang yang menyapa telinganya.
Gambang itu makin lama makin jelas diiringi suara gelang keroncong yang seirama dengan suara musik tradisional.
"Menarilah! Bangunkan Arwah-arwah leluhur kita! " suara laki-laki paruh baya.
Crek crek crek
Terlihat dia orang dengan selendang dan kemben berwarna merah meliuk-liukkan badannya. Menari seirama dengan ketukan alat musik. Namun yang membuat mata Marni terbelalak, dia melihat seekor monyet yang duduk di atas kepala si penari tadi.
"Astaga! " Sontak saja Marni terbangun melihat pemandangan yang ada di depannya.