Saat ia terbangun pertama kali ia mendapati dirinya telah melakukan perjalanan waktu kezaman kuno. Yang lebih membuat dirinya terkejut ia tidak hanya terlempar kezaman biasa, tapi zaman Ajaib yang membuat dia sangat takjub.
"Mereka bukanlah manusia biasa, tapi manusia serigala?"
Saat ia masih belum terbiasa untuk hidup dizaman ini cobaan malah datang silih berganti. Abella tidak hanya harus membatu kakaknya yang tiba-tiba kehilangan kekuatannya, tapi dia juga harus menghadapi kegilaan pangeran dari bangsa jin. Belum lagi para siluman dan Iblis yang selalu memburunya.
Gadis yang dulu dianggap lemah entah sejak kapan menjadi keinginan semua orang.
Mampukah ia menjalani hidup barunya?
Simak terus cerita author ya, semoga membantu pembaca terhibur 🙏😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak yang terluka
Semua terkejut melihat kehadiran yang tak disangka-sangka, pangeran Aldert. Mengapa dia membatu mereka?
Saat mereka masih terdiam kaku semua musuh telah dipukul mundur oleh pangeran Aldert. Pria itu tidak tersenyum sedikitpun, rupanya yang menawan tapi terkesan dingin dan arogan membuat banyak suku yang menghindarinya.
Kekuatannya sangat luar bisa, sekali libas puluhan siluman itu dibuat terbang, Rey sampai terpana. Tapi ia juga sangat bersyukur mereka akhirnya mendapatkan bantuan, jika tidak ia tak yakin mereka semua bisa pulang dengan selamat.
Tapi Rey tahu diri, jika dibantu tentu harus berterima kasih. "Pangeran Aldert, terimakasih telah membantu kami."
Tidak ada jawaban, tapi sosok itu memberi anggukan singkat sebelum kembali menghilang seperti kabut asap.
Meskipun sosok itu telah pergi, tapi Rey masih diam kaku. Mengingat Aldert adalah bangggsa jin yang tidak suka mencampuri urusan suku lain, tapi hari ini berkenan membatu mereka. Ia jadi bingung antar senang atau tidak.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kembali!"
***
Cahaya jingga mulai menyinari bumi dari timur, sebentar lagi mata hari akan terbit. embun pagi membuat suasana terasa sejuk, apalagi angin ikut berhembus pelan, dinginnya seakan menusuk tulang.
"Tuan muda Oscar telah kembali,"
Seharusnya itu kabar bahagia, tapi wajah semua orang terlihat sendu dan penuh kasihan. Abella tak mengerti, ia yang tengah membantu para wanita yang menjadi korban pertempuran semalam tak tahu jika kakak pemilih tubuh ini telah kembali.
"Nona Abella apa anda tidak kembali untuk melihat tuan muda Oscar?"
"Oh?" abella tak mengerti kenapa ia harus melakukannya, "apa terjadi sesuatu?"
"Tuan muda kembali dengan penuh luka, dia tidak sadarkan diri. Kepala suku dan juga istrinya menangis tiada henti."
Abella terpegur. Ia tak menyangka melintasi waktu akan berada di dunia yang penuh bahaya ini. Ia ingat tadi malam orang-orang terluka oleh musuh, dan hari ini kakaknya yang terluka sampai tak sadarkan diri.
"Tolong antarkan aku kesana,"
Pria tadi mengangguk, "baiklah."
....
"Lukanya terlalu parah. Meskipun aku mengobatinya kemungkinan dia sadar sangat kecil, kita hanya bisa berdoa pada Tuhan untuk memberinya keajaiban."
Dukun suku menggeleng lemah. Sehebat apapun ilmu pengobatan ia tak mungkin bisa melawan takdir tuhan.
"Tidak mungkin!" Adriana kembali menangis, "tolong selamatkan putriku tuan."
Dukun suku menggeleng lemah, "ingin diobati juga tidak tahu apa yang mau di obati, Nyonya. Luka ditubuhnya terlalu banyak, tapi kita bisa mengobatinya berlahan sampai kembali sembuh, tapi luka jiwa kita tidak bisa melakukan apapun."
Seseorang yang telah terkena serangan ilusi dari siluman memang sangat sulit untuk di obati, terlepas dari imajinasi yang diciptakan membuat orang yang terkena serangan akan menganggap mimpi sebagai dunia nyatanya.
Itulah mengapa orang-orang dari suku seperti mereka tidak mau berurusan dengan bangsa siluman.
Tapi tidak tahu mengapa belakangan Bangsa Siluman sangat menargetkan suku Serigala. Meskipun misteri itu belum mereka ketahui, tapi mereka tentu saja tak bisa berdiam diri saja saat suku mereka diporak porandakan.
"Tuan Dario, maafkan hamba."
Tuan Dario menarik nafas panjang, melihat keadaan putranya membuat ia sangat sedih. "Ini bukan salahmu, Felix. Tapi ini takdir putraku. Meskipun begitu aku percaya, suatu hari dia pasti akan sadar kembali. Aku percaya padanya,"
Percaya pada orang sekarat. Tentu saja kata-kata ini hanya untuk menguatkan diri keluarga saja, orang-orang langsung menatap kasihan.
Abella yang baru datang juga tertegun sejenak dan setelah mendengar semua ucapan dua orang itu.
Ia tak berani mendekat, meskipun ingin. Ia merasa suasana terlalu tegang membuatnya tak nyaman. Ibunya menangis, ayahnya bersedih, dan orang-orang yang menonton menatap kasihan.
Ia merasa asing sendiri.
"Abella...,"
Suara panggilan membuat gadis itu tersentak, suara itu seakan terdengar di dalam telinganya. Saat ia berusaha mencari sumber suara ia tak menemukan siapapun di sampingnya.
"Aku merasakan seseorang memanggil ku, tapi kenapa tak seorangpun yang membuka mulut mereka. Tidak ada orang di sampingku juga?"
sekali lagi ia mengedarkan pandangannya, tapi tetap saja ia tak menemukan sosok itu. Jadi ia pikir mungkin hanya salah dengar saja.
Melupakan apa yang baru terjadi, ia memilih mendekati ayah dan ibunya. Ia terlalu penasaran melihat siapa kakaknya, ia juga ingin melihat seberapa parah luka yang terjadi.
"Ayah, ibu?"
Keduanya langsung menoleh setelah menyadari keberadaan putrinya. Adriana menarik lembut tangan sang putri lalu berkata, "Lihatlah kakakmu, Abella. Dia tidak mau membuka matanya untuk kita, sekarang apa yang harus ibu lakukan untuk membangunkannya." ujarnya di sela isak tangis yang tak terbendung.
Abella dapat melihat wajah yang cukup tampan terbaring pucat diatas ranjang batu. Perasaan sedih langsung menyeru dalam dadanya, mungkin perasaan alami seorang adik melihat kakaknya terluka.
"Ibu... Bagaimana? apa dia benar-benar..." ia tak berani melanjutkan ucapannya.
"Tidak, nak. Kakakmu pasti akan bangun, kita hanya bisa menunggu. Asalkan jantungnya berdetak dan masih bernafas ibu akan selalu menunggu,"
Melihat ibunya yang tak berhenti menangis Ia segera memeluknya. Abella ingin membatu, tapi ia sadar ilmu pengobatannya di kehidupan dulu tidak akan cocok bila dibawakan di zaman antah berantah ini.
Kecuali luka-luka itu, mungkin nanti ia bisa membatu. Tapi berhubung orang-orang masih banyak mengerubungi rumah mereka, ia tak berani bertindak gegabah.
Setelah beberapa saat semua warga desa diminta untuk bubar, dukun suku juga telah pergi setelah meningalkan sedikit obat untuk Oscar. Begitu juga dengan Tuan Dario, meskipun sedang sedih ia juga tak bisa tinggal lebih lama.
Kampung telah dihancurkan, jadi ia harus memberi perintah untuk warga desa kembali membangun rumah-rumah mereka. Sebagai kepala suku ia tidak bisa berhenti walaupun sesaat, jika tidak ia akan membuat kaumnya sensara.
.....
"Ibu, apa orang-orang seperti kita tidak punya penyembuhan abadi?"
"Apa masalahmu, nak?" tanya Adriana balik, ia tak mengerti dengan pertanyaan putrinya.
"Aku pernah dengar, seseorang yang mempunyai kekuatan dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Tapi mengapa orang-orang kita tidak?"
Adriana menggeleng sedih. Ia tahu putrinya hilang beberapa memory jadi dia menjelaskannya, "kita bukan bangsa jin, nak. Bahkan Bangsa Siluman saja tak memiliki kekuatan itu, lalu bagaimana bisa kita punya."
"Benarkah? Aku pikir Siluman bisa melakukannya."
"Kita hanya punya kekuatan merubah wujud, lalu kekuatan besar seperti serigala untuk bertahan hidup di hutan liar. Begitu juga dengan bangsa siluman, mereka di beri kekuatan oleh tuhan hanya sekedar merubah wujudnya dan kelebihan mereka adalah memiliki ilmu spiritual yang mampu membuat ilustrasi untuk menyesatkan bangsa lain." Ujar Adriana.
Lalu ia melanjutkan, "tapi kedua itu tidak membuat kita hebat. Jika terluka tetap saja terluka dan merasakan sakit, jika tidak bagaimana mungkin kita bisa mati. jikapun sakit kita hanya bisa mengobati dengan tangan sendiri, tidak ada sihir atau apapun"
Sekarang Abella mulai mengerti. Apa yang ia tonton di film dulu semuanya belum tentu benar, kenyataannya tidak ada kehidupan yang benar-benar luar biasa.
Tapi dari semua yang ibunya jelaskan ia tertarik dengan sesuatu.
"Jika Bangsa jin tidak bisa terluka, lalu bagaimana dengan cara mengalahkan mereka?"
Tangan Adriana yang sibuk memberi obat pada luka Oscar seketika dibuat berhenti karena pertanyaan putrinya.
"Mengapa kamu ingin tahu?"
Abella mengangkat bahu, "tidak ada. hanya berjaga-jaga jika suatu hari bertemu dengan mereka."
"Abella...." Adriana meletakkan obat ditangannya, lalu beralih mengusap wajah sang putri, "semua orang memiliki nyawa pasti bisa terluka dan ibu tidak bilang mereka tidak bisa terluka. jadi... meskipun mereka bangsa jin tetap saja bisa terluka, tapi bonusnya mereka bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan kekuatan spiritualnya."
"Jadi mereka juga bisa mati?"
Adriana jadi terkekeh kecil melihat pertanyaan-pertanyaan random sang putri.
"Tentu saja bisa, anakku. Hanya saja kehidupan mereka tidak sama seperti kita, mereka mampu hidup ratusan bahkan ribuan tahun." ujarnya pelan, " mereka juga sangat tertutup, mereka tak suka ikut campur dengan urusan duniawi seperti kita ini."
"Tapi Rey bilang kakak dan kawanan lain selamat karena dibantu oleh seseorang yang...."
"Berhentilah membahasnya, nak." Suara Adriana sedikit meninggi menghentikan ucapan putrinya. sepertinya ia mulai tak suka dengan pembahasan itu.
Seketika Abella menjadi bungkam, ia tak lagi berani bertanya.