Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUTAN
Bila Lisa penyihir, dia akan mengutuk Dini berubah menjadi kodok karena telah mengajaknya naik turun lift pagi-pagi buta. Mumpung Lisa belum sarapan katanya, jadi dia tidak akan sesakit itu kalau harus muntah. Dini memegang lengan Lisa ketika berada di lift, agar Lisa tidak berdiri di pojokan sambil memegang besi pegangan di dalam lift. Setelah mereka turun ke lantai dasar, mereka naik lagi sepuluh menit kemudian. Waktu sepuluh menit itu digunakan Dini untuk mengajak Lisa jalan-jalan mengitari taman kecil tepat di depan parkiran mobil Gedung Lima, fungsinya untuk menyegarkan otak Lisa sehabis ketakutan dalam lift. Begitu mereka sampai di dalam unit apartemen Haris, yang baru disadari Lisa bernomor 10D, Lisa memuntahkan isi perutnya yang kosong. Hampir tidak ada yang keluar, hanya cairan berwarna putih kekuningan. Kata Dini itu cairan lambungnya.
" Kenapa aku jadi lapar ya?," tanya Lisa sambil menyeka mulutnya dengan tisu.
Dini tersenyum padanya. Dia sudah duduk di meja bar di dapur. Di hadapannya ada empat bungkus makanan yang diam-diam dipesannya tadi.
" Sudah pasti begitu. Nah, duduklah!," Dini menepuk kursi di sebelahnya, menyuruh Lisa duduk disana. " Ayo kita sarapan."
Mereka sarapan sambil mengobrol ringan. Kebanyakan mereka bercerita tentang kegiatan masing-masing selama ini hingga melantur kemana-mana.
Hana dan Hamza bangun pada pukul delapan hari itu. Semalam mereka begadang menonton kartun bersama Dini. Lisa sampai marah-marah. Segera setelah mandi, Hana dan Hamza sarapan disuapi Lisa.
Agenda pagi itu adalah mengenalkan Lisa seluk beluk apartemen ini dan mengajarinya menggunakan peralatan disana untuk kegiatan sehari-hari. Dini menjelaskan, selain dapur dan ruang keluarga, ada empat kamar disana : kamar tidur Haris, ruang binatu, kamar tidur Lisa, dan anak-anaknya, dan ruang kerja Haris. Semula kamar tidur Lisa adalah kamar tamu, digunakan Haris bila ibunya, Dini atau saudaranya datang berkunjung.
Pertama, Dini mengajak melihat kamar tidur Haris terlebih dahulu. Dia membuka pintu kamar tidur Haris dan pandangan Lisa tertuju langsung pada foto besar berbingkai putih berpelipit emas yang terpajang di kamar itu. Itu foto Handi dan Haris. Mereka sedang berpelukan bahu, tertawa lebar dan begitu lepas. Mereka memakai setelan favorit mereka dan mengenakan helm proyek. Haris memakai kemeja polos berwarna biru langit dan helm kuning, sedangkan Handi memakai kemeja putih dan helm putih. Foto itu benar-benar mendominasi dinding dengan wallpaper berwarna abu-abu terang. Lisa ternganga. Dia bergerak mendekati foto itu dengan tangan terentang ke depan seakan hendak menggapainya. Dia terhanyut dengan wajah Handi yang sangat dia rindukan, mendadak dia menangis terbawa suasana. Dia baru sadar ketika kakinya terantuk pinggir kasur Haris.
" Itu hanya foto," kata Dini menyadarkannya.
Lisa mengusap kedua katanya. Air matanya mengalir begitu saja.
" Kayaknya pasien terapiku bertambah satu lagi nih," Dina berusaha menghibur Lisa dengan mengelus bahunya.
" Ini...," Lisa menunjuk foto besar itu.
" Iya, itulah penyebab Haris sulit mengikhlaskan kepergian Handi," kata Dini.
" Kenapa Haris memasang foto Handi sebesar ini? Itu membuatku sakit hati. Aku yang istrinya saja ngga punya foto Handi sebagus dan setampan ini, kenapa Haris punya?"
Dini melongo. Antara pikiran Dini dan Lisa benar-benar tidak nyambung. Dini tertawa terbahak-bahak.
" Ya ampun, Lisa, kupikir kamu kenapa. Hahahaha....," kata Dini memegangi perutnya.
" Coba bayangkan! Bukannya memajang foto kamu atau keluarganya, dia malah memajang foto Handi. Handi itu istrinya atau gimana? Apa jangan-jangan Haris itu ngga normal? Masa dia mencintai Handi?"
" Hush, Haris laki-laki normal," jawab Dini masih menahan tawanya.
" Mana ada laki-laki normal yang memajang fotonya dengan laki-laki lain seperti ini? Handi seperti pasangan hidupnya aja," Lisa masih ngedumel.
Dini masih saja tertawa terbahak-bahak. Mau tak mau Lisa juga menertawakan kata-katanya yang sangat tidak masuk akal. Mereka tertawa sampai puas, Dini bahkan menangis setiap kali Lisa mengomel bagaimana Haris sungguh keterlaluan dalam hal mencintai persahabatannya dengan Handi.
Mereka melanjutkan tujuan awal mereka. Dini menunjukkan seluruh kamar Haris yang tipenya hampir sama dengan kamar Lisa. Ada tambahan pintu disana selain pintu menuju kamar mandi. Pintu itu menuju ruang ganti baju. Alih-alih menggunakan lemari pakaian, Haris membagi ruang kamar sebelah kamarnya untuk membuat satu ruangan berisi seluruh pakaian dan aksesorisnya. Dasar orang kaya!
Sebelah kamar Haris adalah ruangan seukurna setengah kamar Haris yang berisi mesin cuci, gantungan baju, meja setrika baju dan peralatan bersih-bersih lainnya. Ruangan ini sebetulnya kamar yang disekat Haris menjadi ruang binatu dan wardrobe pribadinya. Peralatan bersih-bersih bukanlah kemoceng dan alat pel, tetapi mesin vacum cleaner dengan segala macam pipa penyedot yang tidak bisa dibedakan Lisa. Dipastikan tidak satu semut pun tersisa dengan vacum cleaner macam itu.
Dini akhirnya menjelaskan tentang segala hal yang ada di dapur. Mulai dari kulkas yang ada dispenser di pintunya, kulkas macam itu hanya dilihat Lisa di drama korea saja; kompor bio gas, pemanggang, oven yang semuanya jadi satu, tak lupa exhausted fan di atasnya agar ruangan tak berbau ketika memasak; alat pembuat kopi otomatis, tinggal memasukkan biji kopi maka kopi akan mengucur ketika ditekan tombolnya; ada juga alat-alat dapur biasa seperti mixer, blender, rice cookerdan microwave khusus menghangatkan makanan. Lisa sedari tadi menggeleng-gelengkan kepalanya. Pertama, dia tidak bisa mengingat bagaimana menggunakan semua peralatan canggih itu satu per satu. Kedua, Lisa tidak bisa habis pikir berapa banyak uang yag dikeluarkan untuk membuat peralatan canggih seperti itu. Ketiga, untuk apa orang kaya membeli peralatan seperti ini kalau mereka bisa menyuruh orang lain mengerjakan pekerjaan rumah untuk mereka. Lisa tak bisa memikirkan alasannya dengan jelas karena dia bukan orang kaya.
" Gimana? Sudah paham?," tanya Dini setelah dia menjelaskan panjang lebar.
" Ngga," jawab Lisa dengan polos.
" Ha?," teriak Dini. " Ya ampun, Lisa, bibirku sudah dower nih! Apanya yang kamu ngga paham?"
" Ngga paham harus mulai dari mana. Aku ngga yakin hafal semua fungsi barang-barang tadi. Hahaha....," jawab Lisa.
Dini tertawa kecil. " Ah, dasar." Dia mengeluh sekaligus tertawa. " Kamu ini benar-benar."
" Aku paham apa yang harus aku lakukan. Aku cuma ngga yakin aku ingat bagaimana caranya menggunakan semua barang-barang disini. Aku kan orang desa. Tolonglah dimaklumi."
" Baiklah, Gadis Desa. Harusnya kamu tadi bawa buku catatan waktu aku menjelaskan tadi, supaya ingat," kata Dini menyunggingkan sebelah bibirnya.
" Iya, Madam. Saya salah," jawa Lisa sambil mengangkat tangannya seperti tanda menyerah, kemudian mereka tertawa lagi.
****
Dini duduk di meja bar sambil menyeruput kopinya. Dia menonton Hana dan Hamza yang sedang bermain ular tangga bersama Lisa. Mereka ribut sekali ketika ada yang mendapat mata dadu enam, naik tangga dan lebih heboh lagi bila ada yang turun tangga. Hamza tadi menangis pelan saat pionnya berdiri di gambar ular super panjang. Lisa dan Hana tidak bisa membuatnya berhenti menangis hingga akhirnya Lisa merelakan pionnya dialihkan kepada Hamza.
Senang sekali ada anak kecil di rumah seperti ini. Ada suara-suara, keributan, teriakan yang memenuhi rumah dan membuat seisi rumah terasa hidup. Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan bila ada anak-anak di rumah, walau hanya menonton TV bersama. Dini sedang membayangkan berapa anak yang akna dia miliki bersama Haris kelak dan bagaimana rupa mereka, pasti cantik dan tampan. Haris berwajah tampan, dengan kulit putih bersih, matanya besar dan bulat, hidung mancung, dan bibir super tipis, badannya tinggi besar dan tegap. Sedangkan Dini bertubuh mungil dengan tinggi hanya 155 centimeter, berwajah bulat dengan mata kecil cenderung sipit dan hidung mancung kecil, kulitnya juga putih bersih tak bernoda sama sekali dan bodinya langsing.
Dini tersentak dari lamunannya saat handphonenya bergetar. Ada pesan masuk. Sedari tadi, dia chatting dengan Haris. Haris menanyakan kabarnya dan bercerita sedikit tentang pekerjaannya.
Kamu kemana? Kamu ngga biasanya loh kayak gini. Kenapa kamu ngga ada kabar sama sekali?, begitulah isi chat Haris. Selama Dini bersama Lisa dan anak-anaknya, dia memang jarang berkomunikasi dengan Haris. Bermain bersama Hana dan Hamza membuatnya lupa diri. Dia menikmati segala kegiatannya selama dia cuti dari pekerjaan dan bergumul dengan Lisa dan anak-anaknya.
Aku sibuk, Sayang, jawab Dini singkat. Dia tersenyum sendiri. Tumben sekali Haris mengkhawatirkan dirinya.
Memang apa yang kamu lakukan? Aku pergi ke Rumah Sakit, tapi katanya kamu cuti. Aku pergi ke apartemen kamu, kamu ngga ada. Aku tanya Ibu, katanya kamu juga ngga mengabari ibu beberapa hari ini. Kamu dimana? Lagi apa? Kamu ngapain?, balasan dari Haris panjang dan lebar, kesannya Haris juga merindukan Dini.
Kamu kangen aku kah?, tanya Dini menggoda Haris.
Agak lama Haris membalasnya sehingga Dini mengalihkan pandangannya dari handphonenya ke permainan ular tangga yang seru di hadapannya.
Apa aku ngga boleh mengkhawatirkan calon istriku?😒
Dini benar-benar gemas dengan balasannya. Dia senyum-senyum terus. Tanpa Dini sadari, Lisa mengetahui dirinya yang sedang salah tingkah dan senyum-senyum sendiri.
Kamu kangen aku kan?😋, Dini membalasnya lagi.
Iya..iya..aku kangen. Sekarang katakan kamu dimana? Aku akan jemput kamu. Ayo kita makan malam, jawab Haris seolah tak sabar.
Aku ada di apartemen kamu. Ke sini aja!
Mungkin perlu beberapa menit bagi Haris mencerna jawaban Dini. Apartemenku? Ngapain kamu disana?
Rahasia! Nanti kamu akan tahu sendiri. Kamu ke sini aja ya! Bawa makanan juga!
Okey, aku akan tiba disana satu jam lagi, balas Haris dan dia mengakhiri percakapan itu.
" Hoi, daritadi senyum-senyum terus. Dikira gila loh nanti," Lisa menepuk bahu Dini.
Dini malah memukul bahu Lisa dengan keras. " Ih, sembarangan ngomong!"
" Aduh..duh..duh...," Lisa meringis memegang bahunya. " Habis daritadi kamu duduk sendirian tapi senyum-senyum terus."
" Jangan pedulikan aku!," jawab Dini sambil tersenyum.
" Tapi fix ngga gila ya kamu?," goda Lisa.
Dini sudah berdiri hendak memukul Lisa ketika Lisa melesat pergi sambil tertawa, kembali menuju anak-anaknya yang masih bermain ular tangga. Lisa kembali duduk di meja ruang keluarga dan melanjutkan permainannya dengan Hana dan Hamza, dimana Hamza sudah menang secara ajaib. Hamza bersorak sorai kegirangan dan menari di atas sofa. Dini terkejut melihat si kecil Hamza yang pendiam manjadi ceria. Dia tersenyum lebar melihat kelakuan mereka bertiga anak beranak.
****
Haris kesal karena khawatir. Sudah tiga hari Dini absen dari hadapannya. Entah mengapa hatinya tidak tenang. Mungkin dia terbiasa dengan kehadiran Dini selama ini. Dia kadang merasa terganggu bila Dini mendadak datang ke kantornya atau ke rumahnya pada saat dia sibuk atau tidak mood, tapi bukan berarti dia mengacuhkan Dini. Dia mencintai Dini, itu sudah pasti dan jelas itu adalah alasan utana yang membuatnya sedemikian cemas. Tidak ada yang salah dengan perasaannya, Dini kan calon istrinya, sudah sepatutnya dia khawatir kan? Justru Dini yang salah karena tidak memberinya kabar.
Haris berusaha mengirim pesan kepada Dini tapi tidak ada jawabannya, pesannya hanya dibaca. Haris sudah kesal. Dia kemudian bertanya kepada ibunya," Ibu tahu ngga Dini ada dimana?"
" Memangnya Dini ada dimana?," tanya Bu Nani balik.
" Ibu, aku ngga lagi tebak-tebakan. Aku bertanya ke Ibu," sahut Haris kesal.
" Ya ampun, Ris, jangan marah dong!," kata Bu Nani geli. " Ibu ngga tahu dimana Dini. Memangnya ada apa dengannya?"
Haris menatap ibunya dengan curiga." Apa? Kamu pikir Ibu berbohong?," tantang Bu Nani.
" Ibu memang sedang berbohong," kata Haris.
" Haris, Ibu ngga tahu dimana Dini! Buat apa sih Ibu berbohong?," padahal Bu Nani memang sedang berbohong. Beliau tahu bahwa Dini sedang menjalankan misi pertama menjemput Lisa dan anak-anaknya, namun beliau tak mungkin menyampaikannya kepada Haris. Beliau merasa lucu Haris mengkhawatirkan Dini. Seharusnya hal itu wajar mengingat Dini adalah kekasih anaknya selama lima tahun ini, tapi Haris bukanlah tipe manusia yang romantis kepada perempuan. Jadi bila kini Haris kebingungan mencari Dini, itu adalah hal romantis yang pernah dilakukannya terhadap Dini.
" Ada apa dengan Dini? Kamu habis bertengkar sama Dini?," tanya Bu Nani lagi.
" Ngga, Bu."
" Mungkin Dini sibuk banyak pekerjaan. Kamu sih yang kurang peka. Harusnya kamu itu banyak perhatian ke Dini!"
" Kok Ibu malah ceramah sih?," sahut Haris sebal.
" Loh, apa yang Ibu katakan kan benar!"
" Ya sudah deh, Bu. Niatnya bertanya tapi malah dapat ceramah!," keluh Haris sambil ngeloyor pergi.
" Hei, Haris!," teriak Bu Nani. Beliau menatap punggung Haris pergi menjauh sambil tersenyum.
Sudah habis akal, Haris mendatangi Rumah Sakit tempat Dini bekerja sambil membawa rangkaian bunga. Dia sudah biasa datang ke Rumah Sakit ini dan setiap dia datang, secara otomatis dia masuk ke ruangan praktek Dini. Dini adalah dokter spesialis anak. Jadwal praktek poli kliniknya adalah hari Senin sampai dengan Rabu pada pukul 14.00 sampai dengan 19.00, sedangkan hari Kamis sampai dengan Sabtu pada pukul 07.00 sampai dengan 12.00, hari Minggu Dini libur total kecuali pasien dalam kondisi yang sangat membutuhkan penanganan segera, Dini pasti segera berangkat meskipun dia libur. Itulah mengapa, Dini sangat sibuk. Di sela-sela kesibukannya, dia masih bisa mengunjungi Haris, mengerecokinya dengan nasehat-nasehat dokter dan menggodanya sampe Haris marah. Aish...tampaknya benar kata Bu Nani, Haris lah yang kurang memperhatikan Dini, Haris mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Maka di sinilah dia sekarang. Berbekal buket bunga kecil berisi bunga entah apa berwarna ungu cantik, warna kesukaan Dini. Haris hanya berharap Dini akan terkesan dan menyukainya.
Haris membuka pintu ruangan praktek segera sambil berteriak," Hai, Dini Sayang...", ketika pemandangan di dalam ruangan membuatnya terpaku. Ada dokter Amalia, dokter anak selain Dini di Rumah Sakit ini sedang berada di ruangan itu dan memeriksa seorang anak laki-laki yang matanya merah dan berumbel. Sang ibu dari anak laki-laki itu berada di samping tempat tidur memegangi kaki anaknya. Suster Rika, asisten Dini juga ada di sana sedang memegang map tebal. Mereka semua memandang Haris dengan terkejut. Haris langsung menutup pintu dengan keras gara-gara hal tersebut. Ya ampun, betapa malunya dia saat ini. Mukanya pasti merah seperti kepiting rebus. Dia mengusap mukanya dan sekali lagi mengecek kalender dan jam tangannya. Ini benar hari Rabu dan pukul 17.00. Dia juga menoleh lagi ke pintu ruangan dan dilihatnya di sana juga tertera nama dr. Andini Miraswati, spesialis anak, nama panjang Dini. Kenapa yang di dalam justru dokter Amalia? Apa matanya yang salah? Ah, setahun ini otaknya sudah salah letak, jangan lagi matanya yang rabun. Haris sudah memegang gagang pintu ketika pintu terbuka. Haris langsung melepaskan tangannya dan terpental ke belakang beberapa langkah.
" Pak Haris?," kata Suster Rika.
" Sus, yang di dalam tadi Dini atau dokter Amalia?," tanya Haris bodoh.
" Dokter Amalia, pak..."
" Dini dimana?," sela Haris tak sabar.
" Dokter Dini sedang cuti sejak kemarin, Pak. Memang Bapak ngga tahu?"
Haris mengernyitkan dahinya. Si dokter penuh dedikasi itu mengajukan cuti? Tanpa sepengetahuan Haris? Oke, Dini memang belum menjadi istri sah Haris, tetapi Dini tidak pernah menyembunyikan sesuatu apa pun kepada Haris. Kok sekarang dia berubah?
" Cuti?," ulang Haris.
" Iya, Pak," jawab Suster Rika.
" Cuti apa? Kemana dia?"
" Kurang tahu, Pak. Tiba-tiba dokter Dini mengajukan cuti, katanya ada sesuatu hal yang penting yang mau beliau lakukan."
Mendadak?! Melakukan sesuatu yang penting?! Perasaan Haris campur aduk. Kesal, khawatir, curiga dan cemburu menjadi satu. Siapa yang tahu Dini sedang apa sekarang? Dan dengan siapa dia? Bisa jadi dia sedang bersama laki-laki lain?
Malam itu sepulang dari Rumah Sakit, Haris berbaring di kamarnya sambil memegang handphonenya. Pesannya kepada Dini masih belum dibaca! Ya Tuhan, dia benar-benar marah. Dia mencoba menelpon Dini tapi handphonenya bahkan tidak aktif. Hmm....sesuatu penting apa yang sedang dilakukan Dini sampai dia diabaikan seperti ini. Dia kan kekasih sekaligus calon suami Dini. Jangan-jangan Dini sedang selingkuh? Ataukah Dini mendadak memutuskan untuk menerima pinangan laki-laki lain tanpa sepengetahuannya dan menikah diam-diam?
" Arrgghhhh....," Haris berteriak sambil menjambak rambutnya. Haris hendak melempar handphonenya, tapi diurungkan sebab dia baru ingat handphone itu baru saja dibelinya dan harganya lumayan mahal. Sebagai gantinya, dia membanting handphonenya di kasur dan pergi tidur.
Keesokan harinya setelah penantian dua hari menghilang tak ada kabar, Dini akhirnya membalas pesan yang Haris kirim langsung tanpa jeda dan jawabannya hanya tiga kata : Aku sibuk, Sayang.
" Ya ampun, aku tahu kalau kamu sibuk!," teriak Haris. Sekretarisnya, Willy, melongok dari balik meja kerjanya. Diturunkannya kacamatanya ke bawah batang hidungnya untuk melihat dengan jelas, apakah bosnya mulai menunjukkan tanda-tanda gila.
Memang apa yang kamu lakukan? Aku pergi ke Rumah Sakit, tapi katanya kamu cuti. Aku pergi ke apartemen kamu, kamu ngga ada. Aku tanya Ibu, katanya kamu juga ngga mengabari ibu beberapa hari ini. Kamu dimana? Lagi apa? Kamu ngapain?, Haris langsung memberondong Dini dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sebal setengah mati.
Lagi-lagi jawabannya membuatnya mendengus, Kamu kangen aku kah?
" Oh, astaga!," Haris tertawa tak percaya. " Kangen katanya!" Willy lagi-lagi menengokkan kepalanya ke arah Haris. Di sudut pandang Willy, dia sedang melihat Haris marah-marah dengan handphonenya.
Haris mengirimkan jawabannya lagi, Apa aku ngga boleh mengkhawatirkan calon istriku?😒
Kamu kangen aku kan?😋
Haris membelalakkan matanya. Dia tahu bahwa Dini berusaha keras menggodanya seperti biasa. Dia memejamkan matanya sebentar sambil mendesah kesal. Bila Dini sedang menyelingkuhinya, dia harus mengakhirinya segera. Darimana Dini akan mendapatkan laki-laki muda, tampan dan kaya seperti dirinya? Haris membalas pesan Dini, Iya..iya..aku kangen. Sekarang katakan kamu dimana? Aku akan jemput kamu. Ayo kita makan malam.
Aku ada di apartemen kamu. Ke sini aja!
" Apa? Ngapain dia apartemenku?," Haris menjerit.
" Bos?," teriak Willy.
" Apa?," Haris membalasnya berteriak.
" Sudah level berapa gilanya?," tanya Willy menyebalkan.
" Kamu ini ngomong apa?," tanya Haris.
" Daritadi ngomong sendiri, ngomel sendiri, sekarang tanya-tanya sendiri. Sudah level berapa gilanya?," kata Willy.
" Sudah, diam kamu, Wil!," kata Haris. Dia mengirimkan balasan kepada Dini lagi, Apartemenku? Ngapain kamu disana?
Jawaban Dini berikutnya malah membuat Haris frustasi, Rahasia! Nanti kamu akan tahu sendiri. Kamu ke sini aja ya! Bawa makanan juga!
Haris mengernyitkan dahinya. Bawa makanan? Berarti benar dia sedang bersama seseorang! Laki-laki atau perempuan? Tapi kenapa di apartemennya? Tanpa sadar Haris memukul kepalanya sendiri. Willy sampai mendengar bunyi tuk dari tengkorak Haris.
" Bos!," jerit Willy.
" Apa lagi?," teriak Haris.
" Bos benar-benar gila ya? Sekarang memukul kepala sendiri? Apa perlu aku panggilkan Teh Dini nih?," Willy mengancam Haris. Dia sudah mengambil handphonenya. Willy tidak sepenuhnya ingin menelpon Dini. Dia selalu mengatakan demikian ketika Haris stres karena bosnya paling takut bila harus diseret ke dokter. Maka, kata-kata itu selalu menjadi senjata andalan Willy bila menghadapi kegilaan Haris.
Haris mengambil jasnya dengan marah, dia mengambil handphonenya membalas pesan Dini dengan singkat. Dia bilang dia akan datang dalam satu jam ke depan.
" Telpon saja dia dan katakan aku sudah benar-benar gila gara-gara dia," jerit Haris. Dia membanting pintu ruangannya ketika keluar.
Willy berjengit. Dia mengerjapkan matanya karena terkejut dengan kelakuan bosnya.
" Pak bos benar-benar sudah gila." Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya.
****
Haris sudah sampai di komplek apartemennya. Setengah berlari dia menuju unitnya di Gedung Lima. Dia membawa sebungkus roti kukus dan sekotak ayam panggang di tangannya, sesuai permintaan Dini. Dia menekan kombinasi angka kunci unitnya dan membuka pintu dengan cepat. Dia sudah tak sabar dengan siapa Dini menghilang selama ini. Kalau orang itu laki-laki, dia akan memastikan Dini dan orang itu habis tanpa sisa.
Tapi apa yang dipikirkannya sama sekali salah. Ketika Haris membuka pintu, suara pertama yang didengarnya justru suara Hana," Om Haris...!"
Haris sempat berpikir bahwa dia bermimpi mendengar suara Hana di kepalanya, namun dia benar-benar melihat Hana dan Hamza kecil yang berdiri menunggu di ruang keluarga. Bahkan ada Lisa juga disana. Dia berdiri bersama Dini hampir bersamaan. Lisa tersenyum, sedangkan Dini lebih lebar lagi senyumnya, disertai seringai jahil di sudut bibirnya.
Ini pasti pekerjaan Dini. Ini jelas Dini yang menjadi penyebab kedatangan Lisa, Hana dan Hamza. Entah mengapa kepala Haris menjadi limbung. Melihat keluarga Handi di hadapannya, melihat senyum Hana yang wajahnya mirip dengan Handi membuatnya kembali teringat akan Handi dan mimpi-mimpi buruknya. Tiba-tiba dia ingat wajah Handi yang berdarah-darah dan mencaplok kepalanya. Kemudian, Haris roboh. Dia jatuh pingsan.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰