Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, kini Aska dan juga Evelyn sudah sampai di depan rumah Nuraa. Rumah megah dengan nuansa putih yang membuatnya terlihat sangat elegan. Pagarnya pun menjulang tinggi seolah-olah memutuskan untuk menyendiri dari hiruk pikuk dunia luar.
Satpam yang mengetahui ada mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Nuraa, ia langsung keluar dari pos jaga.
Melihat pagar rumah Nuraa terbuka perlahan, Aska dan juga Evelyn bersama-sama keluar dari dalam mobil.
"Selamat pagi, Pak," sapa Aska, sopan.
"Pagi, Pak... ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam tersebut.
"Ini, kami mau ketemu sama Nuraa, apa Nuraa nya ada di dalam?"
"Oh non Nuraa, ada di dalam, bentar ya saya konfirmasi dulu ke dalam."
Saat hendak berbalik, untuk menelpon bi Sarti dari telpon yang ada di pos jaga, Evelyn menahan satpam tersebut, memegang lengan pak satpam.
"Gak usah, Pak... kami sudah mengabarkan ke Nuraa kok kalo mau datang, bukain pagarnya aja pak, Nuraa udah nungguin kita soalnya."
Satpam Nuraa terdiam tampak seperti orang yang sedang berpikir.
"Pak, kok ngelamun, buruan buka pagarnya." Evelyn menepuk lengan pak satpam.
Satpam Nuraa pun berlari kecil ke arah pagar dan membuka pagar tersebut.
"Kenapa harus bohong Eve...," protes Aska.
"Kalo gak gitu, pasti kita gak bisa ketemu Nuraa, kaka gak denger tadi? Satpam Nuraa bilang mau konfirmasi dulu, kalo Nuraa tau yang datang masih ada hubungan sama Vivi, kaka pikir Nuraa masih mau ketemu sama kita?"
"Iya ya kamu bener juga, ternyata adik kaka pintar juga ya," puji Aska tulus.
Mobil Aska pun mulai melewati pagar tinggi rumah Nuraa yang sudah terbuka lebar.
Sementara itu... Nuraa yang baru saja keluar dari dalam rumahnya, menatap heran ke arah mobil yang sedikit lagi akan sampai ke halaman luas di depan rumah Nuraa.
Nuraa mengerutkan kedua alisnya ketika melihat 2 orang yang keluar dari mobil tersebut.
"Ada perlu apa mereka ke sini ya?" tanyanya dalam hati.
Aska dan juga Evelyn berjalan perlahan menghampiri Nuraa yang diam mematung, seolah-olah memang sedang menunggu kedatangan keduanya.
Seiring derap langkah Aska yang semakin dekat dengan Nuraa, bersamaan dengan itu juga jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetaran, pandangan matanya seperti buyar dan hanya berfokus pada Nuraa saja.
"Ternyata Vivi cuma berani main belakang ya! Sampe untuk ketemu aku aja gak berani," sindir Nuraa.
"Kalo kalian kesini untuk membahas soal pernikahan Vivi, sebaiknya kalian pulang aja, aku gak ada waktu untuk ngebahas hal gak penting!" ujarnya acuh.
Aska menyenggol lengan Evelyn dengan sikutnya, memberikan kode agar adiknya tersebut yang berbicara, Aska merasa gugup di depan Nuraa, bahkan keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya.
Evelyn mendengus pelan sebelum akhirnya berbicara dengan Nuraa.
"Apa rumah kamu terkunci dari luar, sampe kita harus bicara di luar kaya gini?" cibir Evelyn.
Berbeda dengan Vivi dan Aska, Evelyn memang bar-bar.
"Hmm... yaudah ayo masuk," balas Nuraa.
Nuraa mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.
Nuraa bergantian menatap Aska dan juga Evelyn, alisnya berkerut merasa heran dengan keduanya, katanya ingin bicara, tapi sudah 2 menit mereka duduk, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya.
"Apa kalian ke sini cuma mau numpang duduk?" tanya Nuraa.
Aska berdehem untuk menetralisir kecanggungannya berbicara dengan Nuraa.
"Nuraa Azura Anastasya, ayo kita menikah," ucap Aska dengan satu tarikan napasnya.
"Haaa?" Nuraa membuka lebar mulutnya mendengar ucapan dari kakak angkat mantan sahabatnya tersebut.
Sementara Evelyn menepuk jidatnya sendiri, Evelyn menunduk menutupi wajah dengan kedua tangannya ia merasa malu dengan Nuraa karena kelakuan kakaknya tersebut.
"Oh ya Tuhan... kenapa KAU harus menciptakan pria di samping ku ini sebagai kaka ku," keluh Evelyn.
"Apa aku gak salah dengar?" tanya Nuraa.
"Gak, kamu gak salah dengar Nuraa, ayo kita menikah," jawab Aska lagi.
Evelyn semakin menenggelamkan wajahnya, bisa-bisanya ada seorang pria yang mengajak menikah seorang wanita seperti membeli kacang di pasar.
"Apa di mata kalian aku terlihat begitu menyedihkan?" tanya Nuraa lagi.
"Kalo kalian pikir aku menyedihkan, kalian salah! Aku gak butuh di kasihani! Simpan saja empati kalian itu!" tegas Nuraa.
"Raa aku kebelet pipis, toiletnya di mana?" tanya Evelyn tiba-tiba, sontak saja hal tersebut memecah ketegangan dan juga kecanggungan diantara Aska dan juga Nuraa.
"Lurus aja, nanti di depan sana, kamu belok ke kiri, cari aja," jawab Nuraa.
"Anterin dong, nanti kalo aku ke sasar gimana? Kalo masuk ke kamar kamu gimana? Entar dikira aku nyolong lagi," balas Evelyn.
"Yaudah ayo aku antar, kalian ini buang-buang waktu aku aja," sungut Nuraa.
Nuraa dan Evelyn pun berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Aska sendirian di ruang tamu, selepas kepergian Nuraa, Aska menghela panjang napasnya.
"Kamu yakin gak mau balas pengkhianatan Vivi? Kalo aku sih bakalan balas," oceh Evelyn.
"Kamu bisa pake kak Aska untuk balas Vivi," ujar Evelyn lagi.
"Itu toiletnya, kamu kebelet pipis, kan?" Nuraa menunjuk ke arah toilet yang di maksud.
"Telinga kamu masih berfungsi dengan baik kan, Raa?" cibir Evelyn.
"Masih lah, kamu pikir aku congean apa!"
"Kalian tuh aneh banget, apalagi si kaka kamu itu, tiba-tiba datang dan ngajakin nikah, apa Vivi yang minta kalian ngelakuin ini?"
"Buat apa? Barter gitu?! Emangnya aku apaan!"
"Terus tadi kamu bilang soal pake kak Aska buat balas Vivi, apa hubungannya dengan kak Aska? Sebenarnya di sini yang adik angkat itu kamu apa Vivi sih?"
"Bisa-bisanya kamu minta aku memanfaatkan kaka kamu sendiri untuk membalas pengkhianatan Vivi ke aku."
"How come?! Kalian aneh, aku justru lebih ke ngerasa di hina sama kalian."
"Kalo aku jadi kamu ya, aku bakalan ambil kesempatan ini sih, gak akan aku sia-sia in," Evelyn memprovokasi Nuraa.
Nuraa semakin merasa aneh dengan ucapan Evelyn.
"Kasih aku alasan kenapa aku harus ambil kesempatan ini buat balas si Vivi?"
"Dan apa hubungannya dengan kak Aska? Bukannya terlihat lebih masuk akal kalo aku berbalik jadi duri dalam pernikahan Kevin dan juga Vivi ya?"
"Aku rasa begitu cara membalas penghianatan Vivi," ujar Nuraa.
"Gak mempan kalo kamu balas kaya gitu, tanpa kamu jadi duri juga, aku yakin sih si Kevin gak akan semudah itu move on sama kamu."
"Justru kalo kamu nerima tawaran kak Aska, kamu menang telak!"
"Aku punya cara sendiri untuk membalas Vivi, kamu gak perlu repot-repot untuk hal itu, aku gak butuh bantuan kamu," tegas Nuraa.
"Okey, tapi kalo kamu berubah pikiran, kamu bisa hubungin aku, faktanya bakalan aku kasih tau kalo kamu setuju," balas Evelyn.
Evelyn berbalik arah meninggalkan Nuraa yang diam mematung, membiarkan Nuraa tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sementara Nuraa berpikir keras berusaha menemukan jawabannya sendiri akan ucapan Evelyn yang baru saja ia lontarkan.
Bersambung...