NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewi Takdir

Reinkarnasi Dewi Takdir

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Iblis / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: ShinZa_17

Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.

Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.

Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?

ikuti kisahnya dalam bab berikut ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Setibanya di kediaman lotus, aroma bunga mawar segar langsung menyambut mereka. Udara di kediaman terasa lebih hangat karena cahaya matahari masuk melalui jendela yang terbuka.

Bahkan burung-burung kecil masih berkicau di kejauhan, seolah menyambut anggota baru di kediaman lotus.

Dengan masih menggendong rubah kecil, Ling Xi berucap lembut pada pelayannya. "Shu Li, tolong kamu ambilkan alas yang empuk untuk dijadikan kasur bagi rubah kecil ini, dan letakkan di dekat ranjangku."

"Baik, putri," jawab Shu Li.

Setelah itu, Shu Li pun langsung bergegas menyiapkan alas empuk serta selimut kecil didekat ranjang, dan kemudian membantu Putri Ling Xi menurunkan rubah kecil itu dengan penuh hati-hati.

Ketika di letakkan di alas kasur, rubah kecil itu menggeliatkan tubuhnya dengan pelan, matanya menatap ke sekeliling dengan penuh waspada.

Namun, begitu menatap wajah Ling Xi, tingkat kewaspadaannya sedikit mengendur.

"Tempat ini... terasa hangat dan juga nyaman," bisik sang rubah dalam hati.

Ling Xi yang mendengar itu pun tersenyum tipis, tak lupa ia juga mengelus kepala rubah itu dengan lembut. "Kau akan aman di sini. Jadi beristirahatlah dan aku akan memastikan lukamu sembuh sepenuhnya."

Sedangkan rubah kecil yang di elus kepalanya pun merasa malu, karena belum pernah ada seorang pun yang mengelusnya seperti itu. Dan ini pertama kalinya ia merasakan kehangatan dan itu pun dari seorang anak kecil.

"Shu Li, tolong kamu ambilkan daging untuk rubah kecil ini makan," ucap Ling Xi pada pelayannya.

"Baik, putri. Kalau begitu hamba permisi dulu," jawab Shu Li dan langsung pamit menuju dapur istana.

Saat Shu Li pergi mengambil makanan, Ling Xi pun membuka balutan perban pada perut sang rubah.

Ketika melihatnya, ia bersyukur karena lukanya sembuh dengan cepat.

Sambil mengusap kepala rubah, Putri Ling Xi berucap dalam hati dan hanya bisa di dengar oleh sang rubah. "Rubah kecil, kita lakukan kontrak setelah makan malam saja ya, kalau sekarang kamu lebih baik istirahat dulu sambil menunggu makanan datang."

"Baiklah, tapi entah kenapa, aku merasa kalau malam ini akan ada kejadian tak terduga," ucap sang rubah dalam hati.

"Kamu jangan khawatir, aku pasti akan melindungimu," balas Ling Xi.

"Oh iya, aku tidak mungkin memanggilmu rubah ekor sembilan terus. Bagaimana jika aku memberimu nama? Apakah kamu mau?" tanya Ling Xi.

"Baiklah, aku mau. Tapi, nama apa yang cocok?" tanya rubah itu pada Putri Ling Xi.

"Bagaimana jika namamu, Bai Hu?" tanya Putri Ling Xi.

"Itu nama yang bagus. Aku suka," jawab rubah itu yang sekarang bernama Bai Hu.

"Syukurlah kalau suka. Mulai sekarang, aku akan panggil kamu Bai Hu," balas Ling Xi.

Dengan masih mengusap kepala sang rubah, Putri Ling Xi kembali berucap, "Sekarang kamu istirahat dulu sambil menunggu makanan datang."

Tak berselang lama kemudian, tiba-tiba pintu kediaman di ketuk.

Tok! tok! tok!

Suara ketukan pintu di kediaman lotus. "Permisi, nona. Saya Shu Li," ucap Shu Li.

"Langsung masuk saja, Shu Li," balas Putri Ling Xi dari dalam.

Shu Li yang mendapat perintah itu pun langsung masuk ke kediaman lotus. Ia melihat nonanya tengah mengelus kepala sang rubah.

"Ini Putri, daging untuk rubahnya," ucap Shu Li.

"Terima kasih, Shu Li," jawab Putri Ling Xi.

"Oh ya, Putri. Anda di suruh yang mulia kaisar dan permaisuri untuk makan malam di ruang makan istana," ucap Shu Li yang teringat perintah dari pelayan permaisuri.

"Baiklah, nanti aku ke sana," balasnya. "Oh iya, Shu Li. Nanti ketika aku makan malam, tolong kamu jaga Bai Hu untukku ya. Aku takut nanti ada yang masuk ke kediaman ku tanpa izin," lanjutnya.

"Baik, Putri. Shu Li menerima perintah," jawab Shu Li.

Setelah itu, Ling Xi pun bersiap-siap pergi menuju ruang makan istana.

Setelah siap, ia pun kembali mendekati Bai Hu. Sambil menatapnya, Ling Xi berucap dalam hati, yang hanya dapat di dengar oleh Bai Hu. "Bai Hu, aku pergi makan malam dulu. Shu Li akan menjagamu selama aku pergi."

"Pergilah. Mereka pasti sudah menunggumu," jawab Bai Hu.

Tatapan Ling Xi pun beralih pada pelayannya, Shu Li. "Shu Li, aku titip Bai Hu ya."

"Baik, Putri. Saya akan menjaga Bai Hu dengan baik," jawab Shu Li sambil tersenyum.

Ia pun pergi dari kediamannya menuju ruang makan istana.

Setelah sampai, kasim pun langsung berucap dengan suara lantang. "Putri Ling Xi tiba."

"Terima kasih paman kasim, jangan lupa setelah ini minum air agar tidak sakit tenggorokan." ujar Putri Ling Xi.

"Baik, putri. Terima kasih," jawab kasim dengan senyuman.

Ling Xi pun menganggukkan kepalanya dan masuk menuju ruangan.

"Salam ayahanda, salam ibunda," ucap Ling Xi.

"Salammu kami terima. Duduklah," ucap Kaisar Qin Lun.

"Terima kasih, ayahanda," jawab Putri Ling Xi.

Setelah semua duduk, makan malam pun di mulai. Mereka pun makan dengan penuh khidmat. Hanya suara sendok berdenting yang terdengar.

...****************...

Setelah acara makan malam selesai, Ling Xi pun dengan ragu mengungkapkan keinginannya.

"Ayahanda, ibunda, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ucap Ling Xi sambil menatap mereka satu persatu dengan suara yang sedikit gemetar.

"Apa itu? Bicaralah sayang," tanya Permaisuri Mei Lin.

"Jadi, begini. Tadi pagi aku menemukan seekor rubah ekor sembilan di taman. Namun, ketika aku menemukannya, rubah itu terluka di bagian perut. Aku pun berinisiatif untuk merawatnya hingga ia sembuh. Namun, baru setengah dupa, aku merasakan perasaan sayang pada rubah itu. Jadi, ayahanda, ibunda, apakah boleh aku memeliharanya dan menjadikannya hewan kontrakku?" punya Putri Ling Xi dengan wajah memelas.

Kaisar Qin Lun dan Permaisuri Mei Lin saling bertukar pandang. Keduanya sudah mengetahui bahwa putri mereka memiliki hati yang lembut dan memiliki naluri kuat yang jarang dimiliki oleh anak seusianya.

Permaisuri Mei Lin tersenyum tipis, lalu bertanya dengan lembut, "Rubah ekor sembilan... apakah ia berbahaya bagimu, sayang?"

Ling Xi menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, ibunda. Justru ia sangat jinak... dan ia juga tidak menunjukkan adanya niat buruk. Justru ia tampak takut dan kesakitan ketika aku menemukannya."

Kaisar Qin Lun menyandarkan tubuhnya, wajahnya mulai menunjukkan tatapan yang lebih serius.

"Ling Xi, apakah kau tahu bahwa rubah ekor sembilan bukanlah makhluk biasa? Ia merupakan hewan kuno. Dan apabila kau ingin menjadikannya hewan kontrakmu, maka itu berarti mengikatkan sebagian kekuatan spiritualmu dengannya."

"Aku tahu, ayahanda." Putri Ling Xi pun menunduk, namun kini suaranya terdengar lebih mantap. "Tapi... entah kenapa, aku merasa bahwa ia sudah ditakdirkan untuk bersamaku. Dan selain itu, ada sesuatu pada dirinya yang tidak membuatku takut."

Seketika keheningan singkat mulai memenuhi ruang makan. Yang terdengar hanya suara kursi yang berderet pelan.

Permaisuri pun melangkahkan kakinya pelan dan duduk di samping sang putri.

Sambil membelai rambut sang putri, Permaisuri Mei Lin tersenyum lembut dan berkata, "Jika itu kemauanmu dan jika rubah itu tidak mengancam keselamatanmu, ibunda tidak keberatan."

Kaisar Qin Lun pun mengangguk. "Baiklah. Setelah makan malam ini, ayahanda akan mengirimkan dua penjaga bayangan untuk memastikan tidak ada orang yang diam-diam memasuki kediamanmu. Jika rubah itu ingin membuat kontrak denganmu, kami tidak akan menghalangi."

Putri Ling Xi yang mendengar itu pun, matanya langsung menunjukkan binar bahagia. "Terima kasih ayahanda, ibunda!"

Namun, Kaisar Qin Lun menambahkan lagi dengan nada yang sedikit lebih berat, "Tapi ingat satu hal, Ling Xi. Hewan seperti rubah ekor sembilan sering menjadi incaran banyak pihak. Maka dari itu, kau harus lebih berhati-hati. Jika kau ingin memulainya... maka lakukanlah dengan penuh kewaspadaan."

Putri Ling Xi mengangguk serius, "Baik, ayahanda. Aku mengerti."

to be continued...

1
Ita Xiaomi
Auto shock 😁
Ita Xiaomi
Lg digendong 😁
Alia Chans
🌹✍️👈😉
Mamah Nissa
wooow
🌹Widian,🧕🧕🌹
permaisuri dan raja sudah setuju....jadi aman kau berteman dengan rubah dan membuat kontrak .
🌹Widian,🧕🧕🌹
putri Lin xi akhirnya punya teman meskipun seekor rubah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥: done... aku kurang ngerti bola jadi pusing/Cry//Pray//Pray/
total 1 replies
Senja
😍 keren banget
SANG
Semangat, jangan kendor, pantang mundur👍💪
SANG
Lanjutkan aksimu Thor👍💪
SANG
Like, iklan plus komentar👍💪
ANDANA
semangat kk
SANG
Lanjutkan aksimu👍💪
SANG
Lanjut👍💪
SANG
Semangat👍💪
SANG
Seri ceritanya👍👍....
SANG
Mampir Thor👍
SANG
Aku kasih like, beserta semangat.
SANG
Aku kasih suka, ya thor
Dewi Payang
Xue Yun Jun, daku kehilangan satu iblis ganteng nahhhhh🙈🙈🙈🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!