Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Sekte yang Terlupakan
Kabut pagi perlahan menyibak, meninggalkan embun di rerumputan desa kecil itu. Udara masih menyimpan sisa-sisa hujan semalam, bercampur dengan aroma tanah basah dan asap tipis dari tungku kayu rumah-rumah penduduk. Desa itu tampak damai, seolah pertarungan malam lalu hanyalah mimpi buruk yang lewat begitu saja.
Namun bagi Tetua Qingyun, tubuh renta yang kini bersandar pada sebilah pedang, malam itu meninggalkan bekas luka yang jauh lebih dalam dari sekadar benturan pedang atau tusukan belati. Luka itu bukan hanya di tubuh, melainkan juga di dalam hatinya—bekas dari sumpah yang harus terus ia jalankan.
Lin Feng masih tertidur di dalam rumah Kepala Desa, wajah mungilnya tampak tenang meski semalam tangisannya pecah memecah keheningan. Qingyun berdiri di halaman, menatap jauh ke arah gunung yang puncaknya tertutup kabut. Pandangan itu menyeretnya kembali pada masa lalu—pada tempat yang kini hanya tinggal bayangan dalam ingatan: Sekte Qingyun, sekte yang kini hanya tinggal nama.
***
Dulu, berabad-abad lalu, Sekte Qingyun pernah berdiri tegak di salah satu puncak gunung tertinggi di wilayah tengah. Aula besarnya menjulang dari batu-batu kuno, dindingnya dipenuhi ukiran naga dan phoenix, simbol kehormatan serta kekuatan. Ribuan murid berlatih setiap hari, suaranya menggema di lembah seperti nyanyian semesta.
Sekte Qingyun terkenal bukan hanya karena kekuatan bertarung murid-muridnya, tetapi juga karena filosofi mereka: “Kesetiaan pada pedang, kesetiaan pada dunia.” Pedang bagi mereka bukan sekadar senjata, melainkan jalan hidup, simbol keadilan dan pengorbanan.
Namun, di antara semua pusaka sekte itu, ada satu yang menjadi jantung sekaligus beban: Pedang Naga Langit.
Pedang itu diyakini ditempa dari sisik naga langit yang jatuh ribuan tahun lalu. Legenda berkata, siapa pun yang mampu menyatu dengan pedang itu akan menguasai kekuatan naga, menundukkan angin dan badai, bahkan menembus takdir. Karena itulah, pedang itu selalu menjadi incaran sekte-sekte lain, kerajaan, bahkan klan iblis yang bersembunyi di balik bayangan.
Tetua Qingyun masih mengingat masa mudanya. Ia hanyalah murid kecil di sekte itu, tetapi setiap hari ia melihat betapa megahnya kehidupan di dalamnya. Guru-guru kuat, murid-murid berbakat, dan aturan yang jelas membuat sekte itu tampak abadi.
Namun, semakin besar nama Sekte Qingyun, semakin besar pula ambisi yang menggerogotinya dari dalam. Para tetua berselisih, sebagian ingin menggunakan Pedang Naga Langit untuk memperluas kekuasaan, sementara sebagian lain ingin tetap menjadikannya pusaka yang hanya dijaga, bukan dipakai.
Di sanalah retakan pertama muncul.
Qingyun muda, meski masih murid tingkat rendah, bisa merasakan kegelisahan itu. Ia tahu, suatu saat sekte itu akan hancur bukan karena musuh dari luar, tetapi karena keserakahan dari dalam. Dan ramalannya benar.
***
Bertahun-tahun kemudian, saat Qingyun sudah menjadi penjaga pedang, perpecahan itu pecah menjadi tragedi. Seorang tetua yang ambisius, yang mengincar posisi pemimpin sekte, diam-diam bersekutu dengan klan iblis. Malam itu, dengan dalih rapat besar para tetua, ia membuka segel ruang penyimpanan Pedang Naga Langit.
Pertarungan besar pecah. Murid-murid saling membunuh, aula megah terbakar, dan langit gunung dipenuhi cahaya pedang serta teriakan. Qingyun sendiri berusaha mempertahankan pedang itu, tapi ia hanya seorang penjaga, bukan pemimpin.
Ia berhasil menutup segel kembali, tetapi dengan harga mahal: ratusan murid tewas, banyak tetua gugur, dan nama Sekte Qingyun tercoreng. Dunia luar tidak tahu persis apa yang terjadi—yang mereka tahu hanyalah sekte itu tiba-tiba menghilang dari panggung dunia.
Sejak saat itu, orang-orang mulai menyebutnya “Sekte yang Terlupakan”.
***
Qingyun selamat, tapi harga yang harus ia bayar adalah berat. Rambutnya yang kala itu masih hitam berubah putih hanya dalam satu malam. Sejak hari itu, ia meninggalkan gunung, membawa sumpah untuk tetap menjaga rahasia Pedang Naga Langit agar tidak jatuh ke tangan yang salah.
Bagi dunia luar, ia hanyalah seorang tetua pengembara. Tidak ada yang tahu ia adalah salah satu saksi hidup dari tragedi yang meruntuhkan Sekte Qingyun. Tidak ada pula yang tahu bahwa murid-murid baru yang ia latih hanyalah sebagian kecil dari penerus sekte yang runtuh itu.
Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis muda—muridnya yang terakhir, yang kelak menjadi ibu Lin Feng.
***
Di halaman rumah Kepala Desa, Qingyun menutup mata sejenak, merasakan angin lembut yang bertiup dari lembah. Namun, dalam hatinya ia tahu bahwa angin itu hanyalah sementara. Badai besar sedang mendekat.
Musuh-musuh yang dulu ingin merebut Pedang Naga Langit tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya menunggu waktu. Dan kini, ketika ia sudah renta dan sektenya tinggal kenangan, mereka datang kembali.
Lin Feng, bayi kecil itu, bukan hanya anak dari murid yang ia sayangi. Ia adalah simbol terakhir dari Sekte Qingyun, satu-satunya pewaris darah yang masih bisa melanjutkan warisan sekte yang terlupakan itu.
Qingyun tahu, jika ia gagal melindungi bayi itu, maka Sekte Qingyun akan benar-benar lenyap dari sejarah, terkubur selamanya dalam debu waktu.
Kepala Desa datang menghampirinya pagi itu, membawa secangkir teh hangat.
“Orang tua,” katanya pelan, “semalam aku melihatmu bertarung. Kau bukan orang biasa. Tapi aku juga melihat sesuatu, kesedihan yang sangat dalam. Apa sebenarnya yang kau bawa bersama bayi itu?”
Qingyun menatap teh di tangannya, uapnya berputar perlahan, seakan menari bersama kenangan lama.
“Aku membawa masa lalu yang sudah hancur,” jawabnya lirih. “Sekte yang dulu agung, kini tinggal abu. Aku tidak bisa menyelamatkannya. Tapi, aku masih bisa menyelamatkan masa depan.”
Kepala Desa mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dalam hatinya, ia tahu orang tua itu sedang membawa beban yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan.
Hari itu, desa kembali pada rutinitasnya. Para petani pergi ke ladang, anak-anak berlari di jalanan tanah, dan perempuan menjemur pakaian di bawah matahari. Namun, bagi Qingyun, ketenangan itu hanyalah topeng tipis.
Ia tahu, musuh akan datang lagi. Tiga orang berjubah hitam yang semalam ia lawan hanyalah permulaan. Di balik mereka, ada kekuatan yang jauh lebih besar, kekuatan yang sudah lama mengincar pedang dan kini, bayi yang sedang tertidur di dalam rumah itu.
Qingyun menggenggam tongkatnya erat. “Selama aku masih hidup, mereka tidak akan mendapatkannya.”
Malam berikutnya, Qingyun bermeditasi di bawah pohon besar di tepi desa. Angin malam bertiup pelan, membawa suara jangkrik dan desir daun. Dalam keheningan itu, ia seakan mendengar kembali suara muridnya yang sudah tiada.
“Guru, tolong, lindungi anakku”
Air mata menetes di pipi keriputnya. Ia menengadah, menatap bintang-bintang yang bertabur di langit.
“Lin Feng, kau bukan hanya anak dari muridku. Kau adalah harapan terakhir sekte yang terlupakan ini. Aku tidak tahu apakah kau akan cukup kuat suatu hari nanti, tapi aku akan memastikan kau punya kesempatan untuk mencoba.”
***
Pagi berikutnya, kabut tipis menyelimuti desa. Qingyun menatap jalan tanah yang menuju ke arah selatan. Ada perasaan aneh di hatinya, seakan sesuatu sedang menunggu di kejauhan.
Ia tahu, untuk melindungi Lin Feng, ia tidak bisa selamanya tinggal di desa ini. Dunia terlalu luas, musuh terlalu banyak. Ia harus mencari sekutu, atau setidaknya tempat yang bisa menjaga bayi itu lebih lama.
Dan pikirannya pun terarah ke sebuah wilayah yang pernah ia dengar: Wilayah Han.
Wilayah itu terkenal dengan banyaknya yatim piatu akibat perang yang berkepanjangan. Namun di sana juga tersembunyi keluarga-keluarga sederhana yang masih menjaga nilai-nilai lama. Tempat itu mungkin bukan benteng kuat, tetapi bisa menjadi awal perjalanan Lin Feng.
Tetua Qingyun menghela napas panjang. “Mungkin, sudah saatnya aku menuju Han. Di sana, mungkin takdir akan mempertemukan Lin Feng dengan orang-orang yang tepat.”
Pagi itu, desa masih sibuk dengan kesederhanaannya. Tak ada yang tahu bahwa di sudut kecil dunia, seorang bayi mungil tengah dipersiapkan untuk membawa warisan sekte yang terlupakan.
Tetua Qingyun berdiri di depan rumah Kepala Desa, menatap Lin Feng yang digendong oleh seorang ibu desa dengan wajah penuh kasih. Senyum tipis terukir di bibirnya, meski matanya menyimpan ribuan kekhawatiran.
“Lin Feng, mulai hari ini, kau bukan hanya anak dari ibumu. Kau adalah pewaris dari sekte yang hilang. Dan takdir akan membawamu ke tempat bernama Han.”
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa